
Selanjutnya sungkem ke orang yang lebih tua, hanya kepada Tuan Santoso dan Nyonya, Dewa memberikan rasa hormatnya. Sedangkan kepada paman-paman dan tante-tante lain yang dituakan juga, dia buang muka pura-pura gak tau.
Gak ada akhlak.
Dalam hati Arya kesal, karena dia sebagai kakak kandung juga merasa direndahkan. Harusnya Dewa yang menghormat padanya malahan dia yang harus menunduk pada adik ipar, hah!
"Selamat ya Pak Dewa," ucapnya dipaksa tersenyum. "Maaf atas keterlambatan saya sehingga batal ikut ke negara J," lanjutnya pasang tampang sedih.
"Hm," jawab Dewa mengangguk seadanya.
Huh, sabar.
Dalam hati Arya, setidaknya jabatan Managernya di perusahaan Dewa tidak terancam.
Mengingat IQ nya yang dibawah rata-rata, bersyukur dia masih diterima bekerja di TC grup. Keahliannya sebagai pencari nasabah itu juga karena dia banyak pergaulan, Papanya saja tidak mau memberinya jabatan di perusahaan keluarganya.
Kan terlalu.
Florentina juga kesempatan salaman dengan Dewa, ternyata ketampanannya bukan isapan jempol. Baru kali ia punya kesempatan bertatap muka, kalau dia yang menikah dengannya matipun tidak akan menyesal.
"Selamat ya Pak Dewa," ucapnya.
"Terimakasih," jawab Dewa menarik ujung bibirnya.
Oh, Florentina meleleh.
Hanya Sonia yang bersikap biasa saja, dia kan seleranya Baim yang lebih berotot. Karena sering ngobrol di telpon, jadi tumbuh benih-benih cinta dihatinya.
Tapi dimana dia, kenapa gak hadir di nikahan bosnya?
*
Nyonya Santoso menangis haru saat pasangan baru sungkem padanya. "Selamat ya Dewa sayang," ucapnya senang bisa cipika cipiki dengan menantu tampannya, menjadi tidak perduli pada Claudia dan juga tatapan sinis dari Santoso, suaminya.
Bisa awet muda kalau terus bisa berdekatan dengan menantuku ini.
"Terimakasih Nyonya," jawab Dewa.
"Panggil Mama dong," ralat Nyonya Santoso semakin sok akrab melebihi suaminya. Tadi aja dia ngejek Santoso, taunya sekarang termakan cakap sendiri.
"Iya Ma," jawab Dewa sambil berusaha melepaskan tangannya yang digenggam erat oleh mertuanya itu.
Nyonya Santoso pecinta drama kolosal asal negara C jadi senang dengan karakter Kireni yang cantiknya bak putri dari kerajaan langit, kisah tentang dewa-dewi abadi. Nyonya Santoso jatuh cinta pandangan pertama pada Kireni, langsung ngefans.
Semoga Claudia bisa hamil dan melahirkan cucuku secantik anak itu.
__ADS_1
Dalam hatinya. "Nak Dewa, Mama mau tanya bolehkah?" tanya Nyonya Santoso gak sabar pengen tau mengenai gadis kecil yang dilihatnya, cantik banget soalnya.
"Mama," sergah Claudia menggeleng cepat.
Dia tau maksud Mamanya tapi jangan sekarang kalau mau kepo. Gak malu apa masih banyak tamu, harga dirinya dipertaruhkan. Lagian Dewa juga gak nganggap hal itu penting untuk dipublikasikan, kenapa Mama yang sibuk ah! Claudia semakin cemberut, memandang Nyonya Santoso.
"Mau bertanya apa?" tanya Dewa juga paham betul apa maksudnya.
"Oh tidak apa-apa, nanti saja," jawab Nyonya Santoso kecewa, gak senang mendapat tatapan tajam dari putrinya.
Hah! Claudia menarik nafas lega.
Karena tadi sempat melihat Nyonya Santoso saat ia masih bersama Kireni di lantai satu, kemungkinan mau menanyakan itu dalam hati Dewa. Tidak biasanya Nyonya Santoso agresif seperti ini, biasanya cuek dan terkesan pendiam.
Hm, ya sudahlah
***
Kireni senang mendapat teman baru, sejenak ia lupa pada pangerannya dan untuk apa dia dibawa kemari. Ternyata seru banget bisa main dengan teman baru yang seusia dengannya.
Sora juga sangat suka berteman dengan Kireni, merasa seperti memiliki kakak perempuan yang bisa diandalkan.
Dari pada si Kiara yang sombong, cuih!
Dalam hati Sora.
Kelima bayi lengkap dengan dodot masing-masing, minum susu bersama sitter masing-masing. Sebenarnya satu bayi satu sitter dan satu bodyguard, jadi di arena bermain ini lebih banyak penjaga dari pada anak yang bermain.
Hotel WJ adalah milik keluarga Wijaya, semenjak Bayi-bayi kembar dari Keluarga kaya itu suka main di arena balapan, wahana jadi bersifat privasi. Tidak ada anak lain yang boleh masuk, Kireni pengecualian karena mendapat fasilitas istimewa dari Dewa sebagai customer yang punya acara di Ball room nomor satu termewah di Jkt itu.
"Kiren, kamu sekolah dimana?" tanya Sora. Mereka sedang istirahat dipinggir arena sambil makan camilan yang dibawa Sora.
"Aku," Kireni bingung mau jawab apa.
Tidak mungkin Sora nanya tentang sekolahku di alam Peri kan, pastinya tentang sekolahku di Bumi.
"Belum ada, aku baru datang dari negara J," jawabnya jujur.
"Oh," ucap Sora membulatkan bibirnya.
"Itu siapa yang lagi nungguin kamu, pamanmu?" tanya Sora menunjuk Baim.
Kireni menoleh. "Bukan," jawabnya cepat.
oh iya.
__ADS_1
"Paman!"
Kireni tiba-tiba menjerit teringat Dewa. "Sora aku pergi dulu ya," pamitnya berlari ke arah Baim. Karena banyaknya bodyguard yang berjaga di arena, dia jadi bisa sedikit santai.
"Eee, ee tunggu," tahan Sora memegang tangan Kireni gerak cepat, dia gak mau kehilangan teman barunya itu. "Bagaimana cara menghubungi kamu, kalau aku rindu?" tanya Sora nada memelas.
"Panggil saja namaku," jawab Kireni buru-buru menyentak tangannya dari genggaman Sora, kemudian lari lagi mendatangi Baim.
"Hah!" Sora terbengong mendengarnya.
Memang bisa gitu panggil lalu datang, aku selalu manggil nama Om Ze gak ada tuh dia datang dari Amrik. Tidak bisa dibiarkan...
Sora mengejar Kireni lari seratus. "Aku harus mendapatkan nomor ponselnya!"
Kelima bayi yang lagi santai di dalam mobil masing-masing segera meluncur ke seberang arena dimana Kireni sedang bersama pria yang bersamanya.
"Baim, Paman dimana?" tanya Kireni dengan nafas yang ngos ngosan.
"Ada di Ball room lantai empat sedang bekerja, meeting dengan klien," bohongnya.
Sudah siap belum acaranya bos.
Dalam hati Baim mulai resah, perasaannya jadi gak enak saat Kireni merenung dirinya.
Apa dia bisa membaca ekspresi wajah, gleg.
Jakun Baim menggulung, dia juga merasa ada yang tidak biasa dengan Kireni tapi dia pura-pura gak tau. Karena si bos juga merasakan hal yang sama tapi belum menemukan jawabannya.
Sambil merenung Baim sekalian Kireni memindai lokasi gedung, mencari lantai Ball room yang dikatakan Baim. Terlihat memang ada keramaian, Dewa sedang duduk bersama satu perempuan.
Siapakah dia?
Dalam hati Kireni membandingkan, tinggi dan cantiknya seperti Mengyue.
Oh, tidak!
"Kiren!" panggil Sora saat ia mau teleportasi.
Aih, beruntung tidak jadi ketahuan.
Dalam hati Kireni lega kenapa dia sering gak berpikir dengan logika. Apa kata manusia jika melihatnya hilang tiba-tiba seperti hantu.
"Ya," jawab Kireni.
"Berikan nomor ponselmu," pinta Sora menunjukkan ponselnya.
__ADS_1
***tbc.
Like, komen anda share, thanks 👍.