
Jadi yang ini juga tidak bisa melihatku, baiklah. Bagaimana dengan yang lain, Baim dan kedua bodyguard.
Kireni lalu mengitari Mansion sengaja lewat di depan penghuni rumah besar itu, tetap tidak satupun dari mereka ada yang melihatnya.
Waduh! Kenapa kelima bayi dapat melihatku, Sora bisa mendengar suaraku. Paman Dewa juga melihatku bahkan ketika aku bersembunyi di dalam selimut kabut Mengyue.
Masih penasaran, Kireni memindai Baim dan dua bodyguard. Kelihatan mereka sedang tertawa-tawa di ruang bermain, ternyata mereka lagi game online.
Hm, ayo kita lihat bagaimana reaksi mereka.
Kireni masuk ke ruang bermain lewat di depan ketiga pria, sama! Tidak ada dari mereka yang melihatnya, padahal Kireni berdiri tepat di depan layar LED yang selebar dinding, hm.
Kenapa bisa begitu, hm nanti jumpa Mengyue aku tanya saja.
Meninggalkan ruang bermain Kireni mengendap ke kamarnya, Dewa masih terpejam. Kesempatan dia cepat-cepat masuk ke wujud manusianya.
Hah, selamat.
Ucap dalam hati Kireni lega setelah ia didalam wujud kasarnya, membuka sedikit kelopak mata lalu ngintip dari celahnya.
Ah!
Kireni kaget melihat mata Dewa yang terbuka, tatapan mereka bertemu, o~ow.
"Nyam nyam nyam, hoaam!"
Kireni akting haus lalu pura-pura nguap, menggeliat melepaskan dirinya dari pelukan Dewa. Memutar tubuhnya membelakangi Pamannya itu.
Dewa membuka mata lebar tak percaya dengan apa yang dilihatnya seketika membalik tubuh Kireni menghadapnya, memeluk erat gadis kecilnya.
Cup cup cup cup cup!
Seluruh wajah dikecup penuh dengan liur, Kireni gelagapan. "Aaa, Paman!!!" Jeritnya mencoba melepaskan diri.
"Syukurlah, kamu sudah bangun hiks hiks," isak Dewa berurai air mata.
"Kenapa paman menangis, seperti menangisi kematian saja. Aku kan cuma tidur," ujar Kireni.
"Tidak Kiren, ini air mata bahagia karena kamu telah kem, eh bangun." Dewa hati-hati mengatur bicaranya agar Kireni tidak curiga bahwa dia telah menyadari keanehannya. "Mimpi apa tadi?" tanya Dewa mengalihkan, penasaran banget kemana Kireni pergi.
Hm, Kireni mengerut dahi. "Mimpi?" Tanyanya terdengar seperti gumaman.
Apa itu mimpi.
Dalam hatinya, Dewa menahan senyuman. "Biasanya manusia tidur itu jiwanya berkelana, jalan ke tempat yang jauh, bisa juga terbang ke awan itu namanya mimpi karena raganya tidak ikut kemana-mana," jelas Dewa.
Gleg.
Kireni tersedak meneguk liurnya, raut seperti maling ketangkap makan di rumah orang yang dibobolnya.
Bagaimana paman tau aku ke awan dan melakukan perjalanan jauh.
__ADS_1
Teringat sesuatu. "Kamu lapar, ayo kita makan." Dewa mengajak Kireni bangun tak mau membahas tentang mimpi.
Benarkah Kiren tidak tau mimpi, apa dia memang tidak pernah tidur. Mungkinkah dia dari jenis makhluk yang hibernasi...
"Ahh!"
Jerit Kireni tiba-tiba Dewa mengangkatnya, membawanya keluar kamar duduk di meja makan utama.
Di ruang bermain, Baim melompat kaget saat terlihat layar CCTV yang terpampang di dinding ruangan, Pak Dewa sedang di meja makan utama lantai dua bersama Kireni.
"Aku pergi dulu!"
Baim melempar stik game di tangannya, lari tunggang-langgang naik ke lantai dua.
"Astaga!"
Kedua bodyguard melihat ke layar monitor CCTV, mereka putuskan berhenti bermain. Membereskan ruangan kembali siaga mengawasi Mansion, melalui layar monitor.
*
"Bos," sapa Baim mengatur nafasnya.
Dewa menoleh, begitu juga Kireni. "Kenapa kamu lari seperti di kejar setan, Baim?" tanya Dewa yang sedang memanggang roti dan daging.
Hah! hah! hah! hah!
Baim belum sanggup bicara. Soalnya dia tadi sok sokan lari seribu, padahal lari seratus juga nyampe ya kan.
Cis, dengus Dewa. "Kamu harus banyak olah raga biar staminamu kuat, Baim..Baim!"
"Hai Baim," jawab Kireni seperti orang asing yang baru bertemu.
"Ayo sini bantu memanggang, aku mau buat burger untuk Kireni," ajak Dewa.
"Bagaimana kalau minta koki memasak makanan lagi," tawar Baim.
Karena jatah makan Kireni yang tadi sudah dingin nunggu anak itu tidur gak bangun-bangun, terpaksa disimpan lagi.
"Tidak apa Baim, aku makan burger buatan Paman saja," jawab Kireni.
"Ada stik sapi, Nona harus coba. Kentang bakar, potato wedges, rebusan wortel buncis pake saus, mayo, keju lada hitam dan itu sangat lezat," pamer Baim dengan mengeluarkan lidahnya menjilati bibirnya.
Sapi
Kireni berpikir-pikir. "Baiklah, bawa sapinya kemari." Pinta Kireni merasa penasaran.
Bagaimana rasanya sapi dia belum pernah nyoba, karena di alam peri Bangau abadi saja gak makan sapi apalagi Bangau fana di Bumi.
Itu terlalu besar, seharusnya jadi santapan buaya ataupun anakonda.
Batin Kireni gak masuk akal juga, bagaimana cara Baim membawa sapi ke meja makan.
__ADS_1
"Baim, burger juga dari daging sapi." Dewa menegur asistennya.
Hehe. "Saya perhatikan walaupun makan banyak, Nona Kireni gak pernah muntah. Hanya langsung buang air jadi ampas makanan gak numpuk diperutnya, jadi anda jangan khawatir," jelas Baim kekeh mau memberi makan Kireni stik daging sapi terlezat yang pernah dimakannya baru tadi.
Baim juga memperhatikan Kireni sedetail itu, dan dia merasa itu biasa saja, hm.
"Ya sudah ambil sana!" Titah Dewa.
"Baik, bos!"
Baim ke panggilan interkom menekan nomor dapur lantai satu. "Bawakan stik sapi, tiga porsi," katanya sesaat kemudian, tup sambungan diputus.
"Kenapa tiga porsi, saya kan sudah makan," Dewa mengingatkan, apa si Baim lupa.
Hehe. "Untuk Nona Kiren dua porsi, satu lagi untuk saya." jawab Baim santai.
Ck, decak Dewa.
"Dua porsi?" Kireni membelalak. "Bukan itu terlalu banyak! Satu ekor saja hampir sebesar meja ini," ujar Kireni merentangkan tangan di meja depannya.
Dewa dan Baim pandangan-pandangan mendengar perkataan Kireni.
O...apa ada yang salah dengan ucapanku?
Dalam hati Baim, Dewa buang muka. Urus sendiri itulah maksudnya.
"Kita tidak makan sapi hidup Kiren, sapinya sudah disembelih. Dipotong-potong jadi beefstik lalu dipanggang seperti itu," tunjuk Baim ke daging burger di panggangan Dewa.
"Mana?"
Penasaran Kireni berdiri menghampiri Pamannya, mengerut dahi. "Sapinya cuma sekecil ini? Yeah Baim, dua porsi sudah pasti kurang! Pesan dua ratus porsi sekarang, cepat!"
Gleg, Baim meneguk ludah.
"Masalah," gumamnya gak habis pikir dimana silapnya kenapa akhir-akhir ini mulutnya sering jadi harimau yang memangsa dirinya sendiri.
Fruufht.
Dewa senyum ditahan melihat ekspresi Baim.
*
Malam hari waktu menunjukkan angka 23.45wib di Mansion Dewa, Kota Reklamasi.
"Pak Dewa, Nyonya Claudia berkali-kali menghubungi saya." Baim melapor pada bosnya, mereka hanya berdua di ruang kerja.
Dewa meninggalkan Kireni di kamarnya agar tidak mendengar pembicaraan, walau ia gak yakin bisa menyembunyikan apapun dari anak itu.
Hm.
"Besok saja aku akan mempertemukan mereka Baim, katakan padanya."
__ADS_1
***tbc.
Like komen and share, 👍