The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab.50


__ADS_3

Tidak ada satupun mainan yang menunjukkan ada bayi perempuan di kamar ini, semua mainan model permainan anak laki-laki.


Duta mengajak Kireni bermain mobil-mobilan yang ada papan seluncurnya, keempat bayi perempuan langsung ikut bergabung. Saat Duta mengajak Kireni bermain Lego, bayi perempuan datang membuat rusuh. Apa saja yang Duta mainkan bersama Kireni, tidak ada satu bayi perempuan pun yang rela membiarkannya bahagia berdua bersama Kakaknya itu.


Sehingga bayi laki-laki itu naik darah tinggi. "Hei, kalian perempuan-perempuan, jangan ganggu aku bersama Kak Kiren!" Jeritnya marah..


"Duta kamu jangan pelit dong, kita kan saudara. Kakakmu adalah kakak kami juga," sela Choi yang semakin ngefans sama Kireni sejak dia jadi penyihir. Kalau bukan karena dukungan Kireni, Choi tidak tau kalau ditubuhnya ada darah penyihir kan..


"Beri aku setengah jam berdua dengan Kak Kiren, ayo kalian pergi sana!" Duta mengusir semua bayi perempuan dari lokasi bermainnya yang sudah dipatok tidak ada yang boleh melangkahi.


"Jangan ada yang melewati garis ini!" Berkata tegas. "Ayo Kak Kiren, jalankan mobilnya!" Suara Duta bersamaan dengan suara sitter.


"Bayi-bayi waktunya mandi sore."


O.


Mendengar kata mandi kelima bayi pandang-pandangan tidak terkecuali Duta.


Hatinya jadi galau mau memilih, karena mereka sudah sepakat bahwa acara mandi selanjutnya akan dilaksanakan di kamar mandi Hotel WJ tapi masalahnya di Mansion ada Kireni.


"Iya, kita saja yang pergi. Duta bersama Kak Kireni kita bersama burung Abadi," usul Moni yang kesal tidak dibolehkan main dengan Kireni.


Gleg, Kireni meneguk ludah.


Jadi karena itu mereka mau mandi di Hotel, bagaimana sekarang...


Dalam hatinya geli melihat bayi-bayi, semua dipikirkan dengan teliti.


"Duta, kamu ikut tidak? Bawa saja Kak Kiren," Choi yang enggan berpisah dari Kireni menjadi serakah. Dia mau burung, dia juga mau Kireni.


"Kak, Kiren. Ikut ya ke Hotel," ajak Sevi setuju banget atas usul Choi.


Duta memandang kakak cantiknya berharap dia mau diajak. Duta juga mau bertemu burung, kalau ada Kak Kireni juga. Alangkah bahagia hidupnya jika memiliki keduanya sekaligus.


"Nanti mau tanya Paman dulu," jawabnya. "Kalian juga belum tentu dibolehkan ke Hotel." Lanjut kata Kireni.


O, kelima bayi saling pandang.


"Ayo Sebi kamu yang katakan pada Nena! Bukankah kamu ketua kelompok merangkap juru bicara," perintah Sevi.

__ADS_1


Sebi paling tidak suka ditekan dengan sesuatu yang telah menjadi tugasnya, karena dia adalah orang yang bertanggung jawab. "Baiklah! Tidak bawa-bawa jabatan juga aku pasti mau mengatakannya," balasnya sedikit ketus.


Berdiri dihadapan sitters. "Kami mau mandi di Hotel WJ, cepat beritahu pada Nena Alisha!" Perintah Sebi pada mereka.


Ha!


Sitters saling pandang lalu salah seorang dari mereka keluar menghadap bodyguard. "Pak Body, bayi-bayi maunya mandi di hotel WJ," lapornya pada Ketua bodyguard yang berjaga di depan pintu kamar bayi.


Bodyguards sudah diberitahu masalah di Jkt pusat termasuk Hotel WJ yang sekarang lagi shutdown, bagaimana membawa bayi kesana sekarang.


Bodyguard masuk ke kamar Bayi. "Anak-anak, sebaiknya mandi disini saja ya. Hari sudah mau gelap, besok saja mandi di hotelnya." Bodyguard mencoba memberi pengertian pada bayi-bayi.


Tapi bayi-bayi mana perduli, tidak ada alasan tidak kalau mereka sudah berkehendak.


"Kita langsung ke Nena saja kalau begitu," kata Sebi.


"Kalau tidak diijinkan pakai jurus menangisi saja," usul Sevi.


"Tunggu! Biar aku yang atasi masalah ini," Choi maju kehadapan bodyguard.


"Aku akan menyihir kalian jadi kodok jika tidak mau membawa kami ke Hotel WJ!" Baby Choi berkata lantang seketika mengarahkan telunjuknya pada ketua bodyguard.


"Ee.. tunggu!" Tahan Kireni menutup mulut Choi.


"Ampun Nona Choi!"


"Maaf Nona, jangan baca mantra ya. Kasihanilah sitters."


Ketua Bodyguard berteriak sampai bersujud saking takutnya disihir jadi kodok oleh Baby Choi, begitu juga kelima sitters.


Huh!


Hah!


Menarik nafas lega mereka mengelus dada, beruntung ditahan oleh Kireni tidak jadi di kutuk jadi kodok. Namun air mata sudah sempat menetes di pelupuk mata sitters.


Hais, senjata makan Tuan.


Dalam hati Kireni merasa dirinya telah masuk ke dalam lubang semut, gatal semua tubuhnya terutama mulutnya. Ingin rasanya membaca mantra penghilang ingatan pada bayi-bayi agar tidak membahas masalah burung.

__ADS_1


Tapi bagaimana kalau aku salah mantra, kelima bayi jadi bodoh dan otaknya menjadi tidak berfungsi ah.


Keluh dalam hati Kireni. "Bagaimana kalau kita permisi dulu pada Nena Alisha, meminta baik-baik pasti akan diijinkan dan tidak dicap jadi anak yang nakal," usul Kireni belum mau membuka tangannya dari mulut Choi.


Bisa bahaya kalau sampai ketahuan bahwa Choi hanya Bayi Penyihir gadungan.


Cklekk!


Brakk!


"Iya, begitu saja."


Sora datang mendobrak pintu menjadi terbuka sebagai Dewi penolong. Setelah urusannya selesai dengan Sabit ia kembali ke kamar bayi mau mengajak Kireni main ke kamarnya.


Kakaknya itu juga tidak mau kehilangan kesempatan ikut ke kamar bayi, dia juga mau tebar pesona pada gebetan yang cantiknya minta ampun.


"Kamu tidak boleh asal menyihir orang, Choi. Nanti jadi bumerang pada dirimu sendiri, harus benar-benar di saat yang mendesak benar-benar dibutuhkan. Untuk keselamatan diri contohnya, membantu orang yang butuh pertolongan. Bukankah begitu Harry Potter idolamu juga, kamu tidak mau dicap seorang Bayi Penyihir jahat kan!"


Sora menegur Choi tapi sangat menusuk di hati Kireni. Merasa kata-kata itu ditujukan untuknya yang suka gak sabaran ingin membaca mantra jika ada yang tidak sesuai di hatinya.


Memandang kagum pada Sora, tumben banget adiknya itu otaknya benar tapi lebih tak jemu lagi Sabit memandang Kireni.


Ini baru tipe aku banget, aku juga mau jadi pahlawan di depannya.


Dalam hati Sabit sekalian dia juga mau protes pada Baby Choi.


Karena ulah bayi ini guru Lee nya sampai terlempar pulang ke kampung halamannya di Korea Selatan.


Hm, sinisnya. "Kamu tau tidak Choi, gara-gara mantramu sekarang grup WJ dan Hotel mengalami kerugian besar."


O.


Mendengar kata kerugian Moni si Bendahara tidak bisa tidak perduli, menoleh menatap Sabit lalu gantian menatap Choi. Kedua mereka merasakan adanya sinyal bahaya yang sedang mengancam kehidupan masa-masa bayi mereka yang lagi seru-serunya bermain.


Gawat! Calon-calon kena jual lah dirinya dan Choi, siap-siap nikah bayi.


Dalam hati Moni mendadak merasa memang ada yang salah, begitu juga Choi manarik paksa tangan Kireni yang menutup mulutnya. "Kerugian apa?" Lanjutnya bertanya penasaran kerugian apa yang menimpa perusahaannya, dia tidak mau dong masih bayi sudah dinikahkan oleh Nena Alisha.


***tbc

__ADS_1


Like, komen and share 👍.


__ADS_2