
Di alam Peri dia mendapat jatah satu kendi kecil perhari, tentu saja itu tidak cukup bagi Kireni. Lima kendi baginya barulah terasa ada efeknya, maka dari itu untuk menggenapi rasa hausnya anak paling kecil di keluarganya itu sering mengendap ke gudang arak milik keluarganya mengambil secara diam-diam.
"Beda dengan mencuri ya jadi please, jangan salah paham."
Semula Sora menolak, biar masih kecil dia tau hukumnya meminum arak itu akibatnya mabuk, tapi karena pikirannya kacau dan juga penasaran dengan rasanya, gadis yang sedang patah hati itu mencicip sedikit di ujung lidahnya. Ternyata rasanya enak dan manis seperti sirup buah yang biasa diminumnya, sirup buatan ibu Dwi yang biasa juga dipanggil koktail buah.
Walaupun manis dan enak rasanya di lidah dan juga di hati, tetap saja yang namanya arak sudah tentu membuat mabuk bagi siapa saja yang meminumnya tidak terkecuali Peri maupun Manusia biasa. Ternyata efeknya sama-sama mabuk, tidak di bumi tidak di Alam goib.
Karena mabuk itulah Sora sudah tidak sadar dengan apa yang masuk ke mulutnya, asinan katak disangka cumi kering, cacing masak kecap dikiranya jajangmyeon mie hitam dari Korea. Yang penting enak di lidah hajar semuanya.
Bruk!!!!
Akhirnya kedua gadis yang merasa dikhianati oleh pria yang mereka sukai itu ambruk tidak ingat apa-apa lagi.
*
Sepanjang malam Dewa merasa hampa, hatinya tiba-tiba kosong saat Kireni memilih tidur dengan temannya daripada dirinya.
Untuk pertama kali pula pria kesepian itu dilanda kesepian seumur hidupnya di dalam kesendirian, maka pagi-pagi dia langsung ke kamar Kireni yang ada di seberang kamarnya karena sudah tidak tahan ingin melihat wajah gadis kecilnya.
Cklekk !
Membuka pintu kamar yang tidak dikunci, keningnya berkerut heran dan kaget melihat Sora dan Kireni terkapar pingsan seperti mati tergeletak di lantai beralas karpet diatas meja ada dua kendi kosong berbau harum seperti bau sirup rasa melon.
Seharusnya ini tidak berbahaya.
Dalam hati pria tampan itu gegas menghampiri gadis kecil. "Kireni! Kiren!" Panggilnya menepuk-nepuk pipinya, terasa hangat.
Tentu saja Dewa merasa khawatir.
Apakah Kireni pergi meninggalkan raganya seperti sebelumnya dan membawa Sora bersamanya?
"Hais," keluh Pria kalem itu meraba nadi Kireni begitu juga nadi Sora, sama. Hanya dia tidak mengerti arti detak jantungnya yang berbeda dari manusia normal lainnya, yang penting sama dengan Sora ia sudah lega.
"Aaa!" Kireni menggeliat seperti biasa orang tidur, suara dengkuran halus dari hidung Sora.
Hah, syukurlah.
Mengangkat Kireni ke pangkuannya mencium bibirnya, untuk pertama kalinya Dewa melihat gadis kecilnya itu benar-benar tertidur.
"Bau minuman segar sedikit ada rasa permentasi, apakah ini sejenis arak lalu dari mana mereka mendapatkannya?".
__ADS_1
Ini botol arak jadul asal dari negara C, bagaimana ada disini.
"Baim!" Panggil Dewa.
"Iya Bos!" Suara Baim dari lantai bawah. "I am on my way!"
Lari seratus Baim sampai di kamar Kiren yang pintunya memang terbuka lebar.
"Kamu lihat ini darimana mereka mendapatkannya?" Dewa menunjuk dua kendi dia atas meja.
"Astaghfirullah, apa mereka mabuk?"
"Seharusnya tidak, karena dari dalam botol tidak ada tercium aroma arak," jawab Dewa.
"Sebentar Bos, saya akan bertanya pada kepala pengurus rumah tangga."
Baim ke interkom memanggil koki kepala.
Dewa mengangkat Kireni ke kasur kemudian Sora, lalu menyelimuti keduanya.
Koki masuk menghadap. "Ya Tuan," sapanya menunduk hormat.
"Kendi ini dari mana mereka dapatkan?" Tanya Dewa tanpa basa-basi.
Tentu saja Dewa percaya dia juga belajar beberapa aksara termasuk aksara dari negara yang penduduknya rata-rata bermata sipit itu.
"Ya sudah kamu boleh kembali, masalah ini cukup sampai disini mengerti!"
"Siap Tuan," angguk kepala Koki meninggalkan Dewa dan Baim.
Dewa terduduk di sofa berpikir-pikir. "Jika memasang CCTV di kamar Kiren apakah itu tidak keterlaluan?" Tanyanya memandang Baim.
"Sepertinya tidak bos cuma agak kelewatan hehe," jawab Baim tidak takut lagi diomelin Dewa. Semenjak kepergian mereka ke negara J, keanehan yang tidak bisa diterima akal sehatnya selalu saja terjadi, itu yang membuat otaknya agak sedikit error.
Ck, decak Dewa. "Hah!" Menarik nafas seolah sedang memanggul dua karung beras.
Dewa memandang kedua gadis kecil yang tertidur di atas kasur, pulas seperti berharap tidak akan pernah bangun lagi.
"Saya pikir mereka mabuk Bos, bisa jadi bayi penyihir yang memberi arak buah pada kedua gadis itu." Baim.
"Hm," desah Dewa juga yakin.
__ADS_1
Tapi kenapa mereka minum arak, hal apa yang membuat mereka ingin mabuk. Apakah Kireni belum sembuh dari luka hatinya.
"Tuan." Seorang pelayan menyapa Dewa di depan pintu, kedua Baim dan bosnya itu menoleh bersamaan.
"Ada apa?" Tanya Baim mewakili Dewa.
"Di gerbang ada beberapa mobil, mengatakan mereka adalah orang tua dari bayi penyihir," jelas si pelayan.
"Oh." Dewa tertegun. "Apakah namanya Tuan Bramasta?" Kemudian bertanya.
"Benar Tuan," angguk pelayannya.
"Baim!" Dewa memanggil asistennya.
"Siap Bos." Baim mengerti segera keluar diikuti oleh pelayan.
*
Sebelum itu, tepat pukul 08.00 waktu negara I.
Pesawat pribadi yang ditumpanginya akhirnya mendarat dengan selamat, pengusaha nomor satu se Negara I itu disambut oleh Barus dan bodyguardse tidak ketinggalan Sabit dan gurunya Lee yang sempat dipulangkan telah ditarik kembali oleh mantra Baby Moni.
Bram menggandeng Istrinya turun dari pesawat, keduanya berdandan sangat high Class laksana bangsawan kerajaan dari benua Eropa.
"Selamat datang Tuan muda, selamat datang Nyonya Muda." Barus dan yang lainnya memberi hormat.
"Kak Brama, Kak Kiara selamat datang." Sabit mengulurkan tangan sungkem pada kedua orang yang telah mengangkatnya menjadi saudara itu.
"Terimakasih Sabit," ucap Bram menerima uluran tangan adik angkatnya sekaligus keponakan dari asisten pribadinya itu.
Tidak ketinggalan Lee yang baru ini pertama bertemu Big Bosnya. "Salam Tuan, salam Nyonya. Saya Lee seo jin guru bela diri Sabit," ucapnya memberi hormat sambil memperkenal dirinya.
"Salam," jawab Bram.
Lee memandang kagum pada wibawa Bram, memang seperti Wang atau Raja dalam bahasa negaranya. Begitu juga dengan Nyonya, cantik laksanakan Gongju atau putri kerajaan.
"Silahkan Tuan saya akan membawa anda langsung menemui Nona penyihir," kata Barus pada kedua orang penting itu.
Bram memandang Barus dibalik kaca mata hitamnya, ha!
***tbc.
__ADS_1
Like komen and share 🙏