
Ayo cepatlah oei, aku sudah lapar sekali.
Suara Duta memegang perutnya. Bayi pria itu tiba-tiba keroncongan melihat kebab hangat-hangat kuku memanggil-manggil padanya, yang membuat para bodyguard dan orang dewasa lainnya terheran-heran.
Apa begitu ekspresi orang yang menunggu hujan petir.
Dalam hati mereka khawatir, apakah Baby Duta mau buang air besar.
"Buruan baca mantramu Choi," Sevi merengek mewek.
"Siap-siap ya," ujar Choi mengarahkan telunjuknya mulai konsentrasi lagi setelah beberapa kali tertunda.
Wahai kebab yang ada di dalam keranjang gerobak penjual, aku minta kalian patuh padaku datanglah kemari segera mendarat mulus di atas….
Choi memutar wajahnya keliling mencari tempat yang steril, tidak ada...
"Oh,"
Seru kelima bayi melirik sana sini mencari alas untuk menampung kebab.
"Buka jaketmu Duta, kamu punya lebih lebar dan panjang dari jaket kita!" Ketua Sebi memerintah lantang saudara kembarnya.
"Hah, baiklah."
Walaupun terpaksa Duta melepaskan jaketnya, setelah itu dibuka lebar dibantu pegang oleh Sebi dan Sevi. Karena Choi dan Moni akan membaca mantra jadi mereka tidak perlu ikutan.
Semakin orang dewasa dibuat heran.
Kenapa malah membentangkan jaket.
Dewa melirik asistennya, pegang! itulah maksud lirikannya diartikan Baim.
Walaupun bingung asisten Dewa itu manut begitu juga kedua bodyguard Dewa ikut memengang dari pada bengong gak ada kerjaan, lagian posisi mereka juga lebih dekat pada ketiga bayi aneh itu jadi tidak ada salahnya membantu.
Dari sambungan langsung jarak jauh yang terhubung melalui air peachnya, terdengar suara Big bos. "Barus, apa-apaan itu. Kenapa mereka menampung hujan pakai jaket?" Bram bertanya suara kencang.
Kepala keamanan itu terkejut mendengar suara Big Bos memekak di telinganya. "Saya juga kurang mengerti Bos! Baru kali saya terlihat bodoh di depan bayi," jawab Barus apa adanya.
"Hais," keluh Bram.
"Santai Pa," ujar Choi.
Karena Barus tepat berdiri di belakangnya jadi bayi penyihir itu bisa mendengarkan suara Papanya, begitu juga Bram senang rasanya mendengar suara bayinya.
"Choi, kamu jangan buat Papa dan Mama khawatir!" Jeritnya di telinga Barus, jantungnya hampir melompat keluar karena senang mendengar suara bayinya.
"Hais," keluh kepala keamanan itu tak berdaya membiarkan telinganya jadi alat mediasi.
"Yups, jangan berisik dulu ya Pa. Choi harus konsentrasi sekarang."
Semua bayi membulatkan mata dan mulutnya.
Papa bisa melihat kita, memungkinkan ayah juga.
__ADS_1
Isi pikiran mereka.
Hm, tenang saudara-saudari!Aku ulangi membaca mantra, kali ini serius ya. Fokus semua?..
Isi pikiran Choi yang langsung diangguk oleh keempat bayi lainnya.
"Hum."
Wahai kebab yang sekarang berada di keranjang penjual, patuhlah padaku datanglah, dan mendarat dengan damai di atas jaket Duta.
Dalam pikiran Choi.
"Wingardium leviosa, wus!" Berkata lantang lalu,...
Cring!
Orang dewasa melongo melihat dari atas langit yang turun bukannya hujan air tapi hujan kebab bab bab bab jatuh marlabab.
Baim dan Kedua bodynya Dewa sampai mengeluarkan tanaga menampung banyaknya kebab yang menimpa jaket Duta.
"Hah."
Barus dan para bodyguardse yang telah siap ''siaga satu' dengan pistol di tangan buat jaga-jaga kemungkinan yang terburuk, jadi terduduk lemas di aspal.
"Oh no!" Alisha mencampakkan payungnya, dikutip lagi oleh Dwi sambil tersenyum geli, hihi.
"Hehe," tawa kelima bayi.
"Yes," pekik mereka segera berebutan.
"What the hell," pekik Sabit takjub tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Benar-benar ajaib, aku akui kamu memang bayi penyihir Choi." Berkata Sabit segera mencomot satu kebab untuknya.
"Eh jangan dimakan dulu, tunggu setelah dibayar." Suara Moni.
Mendengar itu Sebi dan bayi-bayi tidak ketinggalan Sora meletakkan lagi kebabnya. "Buruan Mon, lapar nih." Ujar Sevi.
"Oke," jawab Moni mengambil sikap membaca mantra tante Harmoine, segera meluruskan tangannya ke arah jalan Baru.
Wahai uang yang ada di dalam brangkas, patuh lah dan bayarkan kebab ke masing-masing penjual yang kebabnya tiba-tiba hilang akibat mantra Choi..
Dalam pikirannya.
"Confundus Charm, wus!"
Berkata lantang sambil kelima bayi mengikuti jalan pikiran Moni, setelah yakin uang sampai ke penjual barulah mereka menyerbu lagi kebab saling berebutan.
Terduduk lemas di samping Dewa, Dewa memeluk gadis kecilnya.
Kakak, jadi mereka benar-benar punya kemampuan sihir.
Dalam pikiran Kireni mengeluh pada kedua Kakaknya, Kedua Kakak mengangguk kemudian menarik nafas berat, hah!
Sepertinya kamu dalam masalah yang besar Kiren.
__ADS_1
Ujar Kakak ketiga, Kakak Kedelapan menunjuk raut khawatirnya.
*
Kita lihat suasana di tengah jalan Baru.
Semua penjual kebab pinggir jalan melongo saat dagangannya tiba-tiba hilang dari tangan pembeli saat mereka menyerahkan kebabnya, sementara uang belum diterima.
Pembeli yang telah lama menunggu, ikut melongo tapi tidak marah malah berteriak. "Hei, ada bayi Penyihir di sekitar sini!"
"Ha, mana? Mana bayi penyihir?" Suara dengungan para pembeli dan orang-orang yang kebetulan lewat.
"Mungkin kebabnya telah dipulangkan ke Kampung halamannya di negara Arab Turki, Pak!" kata seorang pembeli pada Penjual yang bengong seperti sapi ompong.
Mendengar itu, "uwaaaaa," teriak semua penjual kebab, tidak ada dari mereka yang kebabnya tidak dicolong.
"Malam-malam dibela-belain jualan sampai hampir dini hari malah tekor, dasar bayi penyihir sialan!" Marah salah satu penjual.
Lalu tiba-tiba.
Criiing!!!
Uang lembaran-lembaran merah jatuh di gerobak masing-masing penjual, lebih dari harga biasa kebabnya sebanyak sepuluh kali lipat.
O
Mata semua penjual dan pembeli yang belum mau beranjak kembali melongo, mereka berkerumun berdesakan mengelilingi penjual kebab. Setiap gerobak dipenuhi oleh masyarakat yang penasaran ingin menyaksikan keajaiban.
"Alhamdulillah. Walau kebab hilang tapi uang datang melimpah," ucapan syukur dari salah satu penjual.
"Alhamdulillah," ucap penjual lainnya.
"Maafkan ucapanku tadi ya Bayi Penyihir, ternyata anda sangat baik budi."
Penjual yang tadi marah dan mengumpat mencium uangnya, bersyukur karena malam ini ia mendapat untung yang banyak.
"Alhamdulillah," ucapnya.
*
Di ujung jalan Baru.
Kelima bayi makan kebab sambil tertawa-tawa, mulut penuh saos. Walaupun pedas siapapun tidak memperdulikannya, malah enak rasa di lidah mereka. Kesukaan makan pedas diturunkan dari Mama kelima bayi-bayi imut itu yang juga penyuka makanan pedas.
Nainai Dwi yang menurunkan rasa pedasnya kepada Mama kelima bayi merasa sangat senang, Ibu dari Mama Kiara itu ikut menemani cucu-cucunya makan kebab pedas level petir.
"Astaga, bukankah ini terlalu pedas untuk bayi-bayi?"
Tanya Alisha yang merasa mulutnya saja sebagai orang dewasa panas, bagaimana mungkin bayi berusia satu tahun santai-santai saja.
"Nena! Ini namanya Kebab Petir viral," jawab Sebi yang sempat membaca di gerobak penjual menuliskan nama dagangannya.
***tbc
__ADS_1
Like, komen and share. 🙏