
Tega sekali si Paman nikah tidak memberitahu keponakannya.
"Kamu masih ingin pergi melihatnya?" tanya Sora, prihatin dengan nasib temannya.
"Kita disini saja ya..bagaimana kalau Nona Sora mengajak Nona Kireni bermain lagi." Baim yang jawab, memohon pada Sora.
"No, tidak bisa begitu Baim!" Sora menggoyang-goyang telunjuknya di depan Baim.
"Bagaimanapun Kireni sangat menyayangi pamannya, kenapa si Paman malah menikah diam-diam. Dalam hal ini Paman telah bersalah maka harus diberi pelajaran," tegas Sora.
Gleg, Baim menelan ludah susah payah. Kalau dia tidak tau siapa Sora sudah disumbatnya mulut anak itu, geram kali soalnya.
🎶Apa artinya malam minggu,🎶
Baim bernyanyi dalam hati mencegah darah tingginya jangan sampai naik.
"Ayo Kireni, aku antar." Sora menarik tangan Kireni, terbit rasa kasihan dihatinya. Bagaimana kalau Om Ze yang menikah diam-diam, ih! Sora tak sanggup membayangkan, bisa nangis darah batinnya.
Walaupun Kireni menangis hebat kelima bayi tidak berani lagi menertawakannya, paham bahwa ini masalah sangat-sangat sensitif.
"Ayo kak Kiren, kasi pelajaran pada Paman Dewa." Bayi-bayi memberi dukungan pada Kireni.
"Ayo...ayo..ayo beri Paman pelajaran," teriak bayi-bayi memberi semangat.
"Ayo," ajak Sora melihat Kireni diam bergeming, wajahnya kebanjiran. Air mata bercucuran, hais.
"Hiks, hiks, uuuu...uuu." Kireni terisak sedih. Mula-mula mewek kemudian tiba-tiba..."uwaaaaa, aaaaa...aaaa."
"Uwaaaaa, aaaaa." Kelima bayi ikutan nangis, membentuk koor paduan suara menyedihkan bagi siapa saja yang mendengarnya.
"Astaga!"
Sitters dan para bodyguard serentak terkejut, kalang kabut mendiamkan anak asuhnya masing-masing.
Masalah!
Dalam hati mereka. Sudah lama bayi-bayi tidak pernah menangis, ngakunya sudah dewasa jadi gak boleh cengeng.
"Hais." Keluh mereka bersamaan.
Karena Baby Moni and Choi minta hadiah ulang tahun pertama mereka ikut sama Nena (Grand Mother) ke Jkt, kesempatan Tuan muda Bram dan Nyonya muda Kiara ke Eropa.
Bagaimana kalau mereka mendengar bayi-bayinya nangis, bisa batal acara bulan madu.
__ADS_1
Harap para sitters semoga saja tidak terjadi, karir mereka dipertaruhkan soalnya.
"Cup cup cup!"
Sitters sibuk mendiamkan anak asuhnya masing-masing.
"Hiks, hiks," isak Sora jadi gak tahan mendengar tangis kesedihan Kiren yang dimeriahkan oleh tangisan kelima bayi.
Teman baik yang baru dikenalnya itu ternyata baru saja jadi korban penghianatan dari laki-laki yang dipanggil Paman. Sora paling ngerti artinya mencintai, karena dia juga punya Om Ze yang tinggal jauh di Amrik gak pernah mau nelpon dengan alasan sibuk. Selalu dia yang ngalah, demi cinta kita aku rela berkorban judulnya.
"Sudahlah Nona Kiren jangan menangis lagi, lihat bayi-bayi jadi ikutan menangis melihat Non Kiren menangis."
Baim membujuk Nona kecilnya kasihan, menyalahkan si Bos yang gak mau berterus terang.
"Dasar!" gerutunya.
Sebenarnya Kiren dapat melihat jelas keadaan Ball Room lantai empat, dimana Dewa duduk di samping seorang wanita cantik.
"Uwaaaaa...aaa," tangisnya lagi semakin sedih melihat wanita itu menggenggam jemari pamannya. Sora memeluk temannya, seolah ingin memberinya kekuatan.
"Uwaaaaa..aaa," disusul kelima bayi sebagai pengiring paduan suara biar lebih dramatis.
Sitters dan para bodyguard semakin panik melihat kehadiran Nyonya besar bersama Manager Arjit.
"Nena,"
Kelima bayi memanggil nenek mereka yang baru datang dengan Pepa (Grand Father) Arjit. Kedua orang dewasa itu lega, melihat bayi-bayi dari dua orang petinggi grup WJ itu menangis setelah sekian lama.
Sitters dan para bodyguard terdiam menunduk, takut disalahkan gak becus ngurus anak asuhnya.
"Maaf Nyonya," ucap Baim menunduk hormat.
Dia mengenal baik Nyonya besar keluarga WJ itu tapi si Nyonya gak taulah, kenal apa enggak pada Baim.
"Anda asisten Pak Dewa yang sedang acara di Ball Room lantai empat kan?" tanya Manager Arjit, yang terkenal ramah dan tidak sombong.
"Benar Tuan," jawab Baim.
"Kenapa anak asuh anda menangis?" tanya Arjit.
Sebenarnya dia sudah tau apa penyebab bayi-bayi menangis atas laporan anak buahnya yang diatur diam-diam mengawasi dari jauh, hanya ingin konfirmasi lebih jelas. Kan harus dengan orang yang terkait dan lebih mengetahui duduk persoalannya.
"Paman Kak Kiren yang bernama Dewa, menikah diam-diam di Ball Room lantai empat Pepa...uuuu,"
__ADS_1
Lara Sebi yang jawab sambil menangis prihatin, dia suka gak tahan kalau ada masalah di depan mata, suka ikut campur bicara duluan merasa dirinya yang paling ngerti kejadiannya.
Alisha masih gak ngerti kenapa bayi-bayi keluarga Wijaya cepat sekali kemajuan pertumbuhannya dibandingkan bayi normal pada umumnya. Masih umur setahun sudah bisa berkomunikasi dengan orang dewasa. Dari segi pemikiran, berjalan, berlari dan berbicara sangat lancar bahkan mereka sudah ahli menggunakan komputer canggih milik asisten Yudi. Maka Ayah dari tiga baby Lara itu sering pusing melihat data-data penting perusahaan yang masih belum sempat dikerjakannya tiba-tiba sudah selesai dianalisa.
Ini bukan bayi dari komik Manhua atau manga kan?
"Bukankah banyak wartawan yang shoot, artinya gak diam-diam dong." Arjit mencoba mengurai dimana salahnya.
"Apa sih Pepa! Ka Kiren kan bukan wartawan, dia itu keponakan tersayang! Kenapa tidak diikutkan dalam acara malah disuruh bermain disini bersama kita," jelas Sebi kesal atas kelambatan berpikir Pepa Arjit.
"Bagus dong! Kalau Kak Kiren ikut acara, bagaimana dia bisa bermain dengan kalian? Seharusnya kalian gembira bukannya ikut membantunya menangis,"
"Aaaa," kelima bayi ternganga, saling pandang dengan pipi merah dan basah.
Benar juga, bukankah disini mereka diuntungkan. Dengan adanya Kiren, satu lagi keahlian mereka bertambah yaitu nyetir gak pake nabrak. Bahkan Lara Sebi sudah berangan-angan saat usianya dua tahun dia sudah punya surat ijin mengemudi mobil balap formula one.
Kelima bayi satu pemikiran, terkoneksi seolah di otak mereka terinstall sebuah aplikasi grup chat.
Mendengar Arjit, Alisha pengen menggeplak pala adiknya itu, sialnya udah tua sudah punya cucu lagi.
"Hais, Arjit! Kalau gak bisa menyelesaikan masalah jangan memperkeruh keadaan," gak tahan Alisha mengomeli adiknya.
Hehe, "Bagaimana kalau Pepa traktir kalian makan es krim terlezat buatan koki Hotel WJ yang terkenal?" tawar Arjit.
"Mau!!!!" suara kelima bayi.
Astaga!
Alisha menahan kesal melihat Arjit gak ngerti ada anak lain yang sedang sedih.
"Kiren, mau pergi melihat Paman kah?" tanya Alisha membujuk anak cantik itu. Sejak pertama melihat, Alisha gak bosan-bosan memandanginya.
"Hm," angguk Kireni sedih, Sora bantu mengusap air mata temannya.
"Baim yang antar saja," ujar Baim.
Sudah ketahuan ini, apalagi yang harus ditutupi.
"Aku ikut menemani Kireni ya Ma," kata Sora pada Alisha, sekalian dia mau melihat Paman tampan si pengkhianat.
"Boleh," jawab Alisha.
***tbc.
__ADS_1
Like, komen and share 👍.