The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab. 66


__ADS_3

"Aku juga," sambung Moni.


"So do I," tambah Duta.


"Me too ah!" Sevi mengangkat jempolnya pada Choi.


Keempat bayi berjanji akan membantu Choi dengan energi masing-masing.


Baca niatnya dalam hati aja Choi, baca mantranya barulah suara kencang.


Kata Sebi ikutan mengangkat jempolnya.


"Oke," jawab Choi mengikuti kedua saudaranya mengangkat jempol.


Dalam pandangan orang dewasa, kelima bayi sedang mengangkat jempol dengan pandangan serius ke arah pertengahan jalan Baru.


*


Bram yang mendapat sinyal dari Barus langsung melompat dari kasur bergegas ke depan layar Led yang ada di ruangan khusus di dalam pesawat pribadinya, diikuti oleh Kiara yang tidak mau ketinggalan ingin menyaksikan Bayi kecilnya membuat keajaiban.


Beberapa pengawal dan kru berdiri di belakang bos mereka, senang mendapat kesempatan menonton live Bayi Penyihir membaca mantra dan itu anak majikan mereka. Dalam hati berharap semoga bisa melihat langsung Bayi ajaib itu saat tiba di tanah air nanti.


"Wow!"


Ucap mereka takjub melihat wajah imut Beby Choi di depan layar yang sedang meluruskan telunjuknya ke satu arah.


Deg deg deg.


Bunyi detak jantung tidak bisa dikendalikan.


"Bos," panggil Yudi melalui sambungan langsung jarak jauh.


Asisten setia itu juga telah siaga di depan layar monitornya yang juga dikerumuni oleh kru pesawat yang juga penasaran ingin menyaksikan.


"Its time Yudi, bagaimana prosedur keselamatan Bayi?" Tanya Bram pada asistennya itu.


"Su-udah dalam posisi siaga satu Tuan Muda, selanjutnya serahkan pada Tuhan yang maha kuasa."


Yudi menjawab suaranya bergetar, belum pernah dia segugup ini, "maaf Bos," ucapnya malu.


"Aku juga gemetar Yudi, bukan kamu saja." Ujar Bram.


Kelihatan di layar, Big bosnya itu memeluk istrinya. Nyonya muda juga balas memeluk Bos Brama.


Tatapan Yudi pada ketiga Bayi Lara, air mata haru mengalir di sudut matanya. Ketiga bayi itu adalah hasil karyanya, dalam hati Yudi bersyukur pada Tuhan yang telah memberi kepercayaan padanya menjadi ayah dari anak-anaknya yang istimewa.


Laras yang duduk di sampingnya menggenggam tangan suaminya. "Semua akan baik-baik saja," bisiknya di telinga Yudi.


Deg deg deg.

__ADS_1


Bunyi suara jantung tak dapat dikendalikan melihat di layar kaca dengan jelas wajah imut Baby Choi dan bayi-bayi lainnya dikawal bodyguard dengan pistol di tangan mengarah ke jalan baru.


*


Di negara I, Baby Choi dan keempat bayi telah siap sedia. Bukan rahasia lagi kehadiran dua Pangeran Bangau bagi mereka, Dewa dan juga Sora.


Kedua kakak Kireni itupun nekad turun menginjakkan kaki di tanah Bumi fana, ingin membuktikan langsung dari dekat prosesi pembacaan mantra Baby Choi.


Bertemu pandang dengan Dewa, kedua pangeran dari Bangsa Bangau Abadi itu menunduk hormat padanya.


Dewa tentu saja terkejut, ingin menyapa, dirinya tidak tau harus berkata apa. Percuma juga kan dia tidak bisa mendengar suara dari kedua jelmaan Burung itu.


Mulut kedua burung itu komat-kamit seperti sedang berbicara padanya, namun Dewa diam saja. Mengangguk pun tidak, takut dikira gila oleh Baim yang berada di dekatnya.


Sora yang duduk di samping Dewa diam-diam tersenyum kepada kedua Kakak teman barunya yang tampan, kedua Bangau itu juga tersenyum tapi memandang ke arah Kireni bukan ke arah Sora. Cis, gadis kecil itu memajukan bibirnya.


*


Sebelum membaca mantranya Baby Choi minta ijin dulu melalui telepati pada Om Harry agar diperkenankan menggunakan mantra miliknya.


Tidak apa-apa Choi, Om gak masalah jika kamu ingin menggunakannya. Sure, Om tidak keberatan kalau itu untuk kebaikan ummat.


Sevi yang merasa perutnya lapar banget paling senang diantara semua mendengar jawaban pikiran dari Om Harry Potter.


Thanks ya Om.


Ucap dalam pikirannya.


Jawab Om Harry sebelum memutus sambungan.


Dah Om Harry.


Kelima bayi berbarengan senang banget bisa komunikasi dengan tokoh idola mereka.


"Siap-siap Choi," ujar Kireni mengingatkan bayi-bayi agar jangan membuang-buang waktu lagi.


"Yups," jawab Choi.


Bayi penyihir itu segera memusatkan pikirannya pada Kebab yang ada di keranjang gerobak penjual yang berbaris di sisi pertengahan jalan Baru, begitu juga kelima bayi mengikuti jalan pikiran Choi.


Walaupun banyak penjual Kebab sepanjang sisi jalan, tidak ada satupun yang tidak dikerubutin oleh pembeli. Sepertinya mereka juga lapar berat, antrian panjang hampir sepanjang kali Ciliwung.


Siapa cepat dia dapat.


Isi pikiran kelima bayi tidak sadar air liur yang jatuh di sudut bibir mereka, melihat saus kebab yang berlimpah.


Jangan lupa siapkan uangnya Mon.


Isi pikiran Sebi.

__ADS_1


Siap.


Jawab Moni dalam pikirannya segera mengembara mencari posisi dimana dia bisa mendapatkan uang kas, lalu memutuskan akan mengambilnya dari Bank terdekat yang dilihatnya.


"Ha!" Kening keempat bayi mengerut memandang Moni.


Itu namanya mencuri, Mon.


Protes pikiran Sebi.


"Hm," angguk Duta, Choi dan Sevi berbarengan. Mereka juga tidak setuju kalau harus mengambil sesuatu yang bukan hak milik mereka.


Hei, pinjam dulu sebentar bukan mau nuyul, ya. Aku kan bayi mana memegang uang kas, kalau kalian punya berikanlah padaku.


Ujar pikiran Moni membela dirinya, keempat bayi saling pandang.


Betul juga, kapan kita memegang uang kas. belum pernah seumur hidup.


Pikiran mereka bersamaan.


Baiklah untuk alasan ini diterima, asal jangan lupa kembalikan setelah kita punya uang, okey. Problem solve, lanjut...


Kata Sebi tatapan beralih ke Baby Choi.


Baiklah.


Angguk Baby Choi mulai memusatkan lagi pikirannya, konsentrasi tingkat Peri.


Wahai kebab yang ada di dalam gerobak penjual..


"E-eh sebentar dulu! Katanya tadi kalau mau memanggil hujan, Choi harus ke tengah jalan Baru?" Tahan Dewa mengganggu konsentrasi Choi dan kelima bayi.


"Yeaah!" Keluh kelimanya.


"Fruufht.


Sora yang duduk di samping Dewa menahan tawa, ia jelas-jelas tau bahwa bayi-bayi kelaparan itu bukan mau manggil hujan petir tapi memanggil hujan kebab.


"Jangan khawatir Paman! Dari sini juga bisa," jawab Sebi si juru bicara.


"Yang penyihir itu Choi, kenapa kamu yang menjawab?" Tanya Alisha ketus pada Sebi. Nenek muda itu gak bisa lembut lagi sekarang, tekanan darahnya sudah naik ke ubun-ubun.


"Nena mungkin belum tahu kalau Sebi itu ketua kelompok sekaligus juru bicara kita, kalau begitu kenalkan. Aku sebagai sekretaris dan Baby Moni sebagai bendahara," jelas Sevi. "Lara Dutta dan Baby Choi sementara masih anggota jadi statusnya masih di bawah kita-kita," lanjutnya.


Cis, dengus Alisha kesal mengetahui cucunya Choi si bayi viral ternyata tidak punya jabatan di dalam kelompok. "Lalu kenapa mulut kalian berliur?" Tanyanya lagi.


O~ow.


"Hehe maaf," ucap kelima bayi serentak mengusap bibir mereka masing-masing.

__ADS_1


***tbc.


Like komen and share 👍.


__ADS_2