
Kireni sudah satu hari berada di Mansion kota Reklamasi, ternyata Dewa tidak membawanya ke Apart.
Semenjak sampai Kireni paling suka berada di kolam dari semua tempat indah yang ada satu lagi kamar Dewa tentunya.
Kenapa begitu?
Karena ia merasa seperti di danaunya di alam peri, persis sama. Bagaimana Dewa kepikiran mendesign tempat yang mirip dengan danaunya, apakah dia pernah pergi ke sana?
Dan ternyata Mansion lebih luas dari Villa penginapan negara J dan lebih megah seperti sebuah istana kerjaan langit, pelayan-pelayan bertaburan di setiap sudut. Kireni merasa seperti di alamnya sendiri, banyak bunga-bunga serta ada kolam ikannya.
Kireni tidak makan ikan hidup, tapi dia mengajaknya ngobrol. Ikan-ikan senang berteman dengannya, seorang manusia yang bisa berkomunikasi dengan mereka untuk pertama kali dalam sejarah perikanan.
Masalahnya adalah semalam saat tidur, Kireni tak mau berpisah dari Dewa. "Paman," rengeknya gak mau pergi dari kamar Dewa.
Hais, walau senang tapi gak boleh dibiasakan batin Dewa. "Kalau begitu kita tidur di kamar kamu," ajak Dewa ngalah membawa Kireni ke kamar gadis itu yang persih di seberang kamarnya.
Nanti kalau sudah nyenyak aku bisa pindah.
Di kamarnya Kireni tidur membelakangi Dewa, takut kelihatan matanya kedip-kedip setelah berapa lama terdengar dengkuran halus dari hidungnya artinya sudah pulas dong.
Dalam hati Dewa, pelan-pelan dia keluar dari kamar Kireni, tapi alangkah terkejutnya dia saat pagi bangun tidur ada Kireni di sampingnya terpejam dengan gadget di tangan.
Astaga, kapan dia masuk dan bagaimana caranya? Bukankah pintunya dikunci, no way.
Dewa merinding membayangkan, Makhluk apa yang telah dibawanya masuk ke dalam hidupnya dan sialnya dia takut kehilangan.
Hm, Dewa manarik nafas membuangnya pelan sebelum beranjak ke kamar mandi.
Dia tidak tau kalau sepanjang malam Kireni tidak tidur, asik main gadget sambil memandangi wajahnya.
Selesai mandi Dewa keluar dengan sopan tidak berani cuma handukan, Kireni masih terpejam. Dia tidak tau gadis kecilnya hanya pura-pura, Dewa mengusap pipi bening. "Kiren," panggilnya.
Ahhh," Kireni pura-pura menggeliat, semalam dia sempat browsing tabiat manusia fana saat mau tidur, sedang tidur sampai bangun tidur, jadi sekarang dia praktekkan hihi…
"Mau bangun gak? Sudah pagi, paman mau pergi kerja."
Pergi!
Spontan Kireni duduk mendengar kata pergi. "Naik pesawat?" tanyanya dengan mata cerah tidak mirip dengan orang yang baru bangun tidur.
Ck, Dewa berdecak geli melihat ekspresi Kireni. "Tidak kemana-mana hanya di ruang kerja, masih di Mansion juga kan banyak Ruangan," jelasnya.
Oh, "Ya deh aku bangun. Mau main di kolam," ujarnya.
"Masih pagi," tahan Dewa saat Kireni hendak turun dari kasur. "Kamu balik ke kamarmu kemudian mandi lalu ganti baju. Tunggu paman berpakaian lalu kita sarapan."
__ADS_1
Oh iya, jangan lupakan sarapan kalau mau terlihat normal. Semalam sudah buang air banyak dan baunya minta ampun, uwek.
Hal yang palin jijik bagi Kireni adalah kotorannya kenapa bau banget, tidak seperti di alam peri bentuknya bulat-bulat dimakan jadi obat bagi cacing-cacing abadi.
Turun dari kasur berdiri di samping Pamannya, baru nyadar ternyata tinggi Kireni seketek Dewa.
"Oke," jawabnya menyatukan jari jempol dan telunjuknya bentuk O, ala-ala manusia lalu keluar dari kamar Dewa.
***
"Kamu sudah empat jam berenang, apa gak dingin Kiren?"
Empat jam lamanya Dewa meeting, empat jam juga Kireni di dalam air menurut laporan Pengawal yang bertugas mengawasinya.
"Enggak lho," jawab Kireni.
Kegemarannya menari di samping kolam lalu nyemplung, nyelam tapi gak sambil minum air. Ingin rasanya mengejutkan Dewa menari di atas permukaan air kalau tidak teringat pesan Mengyue.
Tidak boleh membuka rahasia alam bangsa Peri.
Dewa tidak bisa bertanya langsung pada anak itu, takut Kireni pergi dan tak pernah kembali. Harus mencari tau sendiri tapi jadi penasaran karena tidak mendapatkan kesimpulan yang benar.
Berjam-jam betah di dalam air, bibir gak biru kulit gak keriput. Begitu naik ke darat rambutnya cepat kering kembali normal bersinar dan bergelombang.
Walau heran Baim juga malas mikir aneh-aneh, mendapatkannya juga dengan cara yang aneh apanya yang heran. Bayangkan saja di tengah rawa di dalam kabut dan hanya Dewa yang mengetahuinya.
"Memangnya Baim sudah selesai meeting?" tanya Kireni.
"Sudah dong," jawab Baim senang. Sejak ada Kireni hubungannya dengan Dewa jadi tidak terlalu kaku, sedikit santai seperti seorang teman. "Kita buat tim biar lebih seru," lanjutnya.
"Oke," jawabnya, Kireni naik ke darat dibantu Dewa segera membalut tubuhnya dengan handuk kering berlengan dan ada tali untuk ikat pinggang.
Anehnya, gambar Bangau tidak ada yang melihat kecuali dirinya. Saat di negara J Dewa bertanya pada Baim mengenai gambar di punggung gadis kecil itu, bisa-bisanya Baim bilang dia halu karena dia tidak melihat gambar apa-apa.
"Punggung Kiren, adalah punggung termulus yang pernah saya lihat Bos," jawab Baim saat itu.
Hampir saja Dewa menggeplak palanya, kalau gak mikir Baim jauh lebih tua darinya.
Dert dertt.
Ponselnya berbunyi saat melihat kontak, "angkat!" Dewa melempar ponsel pada Baim.
Baim tidak heran, kebanyakan memang panggilan di ponsel Dewa dia yang angkat.
Tapi ini calon istri lho, masa dia juga yang angkat. Suami macam apa itu, kalau gak suka kenapa mau menikah.
__ADS_1
Dalam hati Baim kemudian menggeser tombol hijau.
"Hallo,"
"Baim, berikan telpon pada calon suamiku!" semprot Claudia di telinganya.
Etdah!
Baim menjauhkan ponsel lalu menempelkannya lagi. "Pak Dewa masih meeting Nona, tidak boleh diganggu." jawabnya masih alasan yang sama jika Claudi yang nelpon.
"Kenapa Dewa tidak pulang ke Apart Baim, bukankah dari kemarin sudah kembali dari negara J?" cecar Claudia suara ketus.
Belum jadi Nyonya udah songong, gimana ntar kalau sudah sah.
Baim jadi kesal. "Tidak tau Nona, saya hanya mengikuti perintah. Tempat tinggal Pak Dewa bukan cuma di Apart, sebaiknya anda mengerti posisi kalau masih mau jadi istrinya," jawab Baim.
Tup, memutus panggilan.
Suaminya gak perduli kenapa gua harus...hehe rasain lu.
Baim terkekeh, sementara di ujung sambungan. "Brengsek! Aaaaaarhhh!" Claudia menjerit melempar ponselnya ke kasur, karena kalau ke ubin bisa hancur. Claudia sangat menghargai barang-barang yang dibeli dengan hasil jerih payahnya.
Suara teriakannya sampai ke ruang tamu dimana Sonia sedang menonton drama.
Ha, maksa banget mau sama Dewa.
"Lu udah tau sifat Dewa jadi harus sudah siap dengan segala konsekuensinya Neng." Sonia menghampiri Claudia ke kamarnya.
"Kesel tau dicuekin!"
"Iya gua ngerti tapi mau gimana lagi, hanya bisa sabar seperti selir menunggu digilir."
"Anjrit!" Maki Claudia.
Hehe, tawa Sonia. "Maksa mendaki gunung salju, ya siap-siap membeku."
"Aaargghh!" Jerit Claudia menutup wajahnya ke bantal.
"Lu harus ubah strategi deh, setelah menikah ikutin cara Dewa. Cuek dibalas dengan Cuek."
Sonia minta digampar.
Dalam hati Claudia. "Kapan gua buntingnya kalau gitu, ah! Ada-ada aja kasih usulan gak banget."
***tbc.
__ADS_1
Like komen and share 👍.