The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab. 12


__ADS_3

Hum.


"Tetap lakukan pengawalan pada si pemuda pemberani, aku khawatir si gadis hantu berniat memakannya. Kita harus standby menolong si pemuda jangan sampai pingsan seperti si manusia muntahan anakonda."


Kata Wakil kepala preman sambil waspada dan siaga juga dari serangan spesies ular berbisa yang siap mengacau jalannya transportasi, bukan rahasia lagi Bangsa ular sudah lama ingin berkuasa di hutan rawa.


Hehe, tidak bisa selagi ada saya bangsa Buaya.


"Karena aku lebih berani dari si Kepala preman, sudah seharusnya kalian memilihku pada pemilihan ketua periode berikutnya," wakil kepala preman tak lupa mempromosikan diri.


"Tentu saja wakil Kepala, anda lebih pantas jadi Ketua." Buaya-buaya serentak mendukung wakil ketua.


Hehehe, senyum wakil kepala preman.


Ah, tidak sia-sia aku memberanikan diri.


*


Perahu mereka sudah hampir sampai ke tepian jembatan. "Kamu pegangan yang kuat ya." Dewa berkata pada Kireni sambil mengayuh dayungnya.


"Iya," angguk Kireni terpesona melihat ketampanan Pangeran Poenix dalam wujud fana.


Pangeran jangan khawatir, aku akan melindungimu dari makhluk-makhluk jahat itu.


Dalam hatinya sambil tetap memantau para buaya dari dalam air dan berapa jenis ular yang mengintai serta mengikuti perjalanan mereka diam-diam.


Akhirnya sampai juga ke tepian jembatan perlintasan, beruntung sepi karena hari juga sudah senja. Para pengunjung sudah banyak yang pulang karena batas kunjungan hanya sampai sore hari, Malam hari daerah hutan rawa ditutup untuk manusia.


Baim dan rombongan Sarimon yang berdiri dipinggir jembatan perlintasan terpelongo melihat Dewa dan siapa yang dibawanya. Kenapa supir perahu telah berganti dengan gadis kecil yang cantik.


Mana Bangau?


Sesama mereka memandang heran pada wujud Kireni lebih indah dari gadis-gadis cantik yang pernah mereka lihat.


"Baim, tunggu apa!" seru Dewa dari bawah jembatan di atas perahu yang ditumpanginya. "Malah bengong," marah Dewa.


Oh.


Baim tersadar. "Maaf bos, saya akan membantu anda naik silahkan pegang tangan saya."


Ck, decak Dewa.


"Pertama-tama kalian tahan dulu perahunya biar gak oleng," marah Dewa pada pria-pria yang terbengong memandang pada Kireni sehingga tidak ada yang mengacuhkannya.


Mendengar Dewa. "Ayo tahan perahunya!" Segera Baim memerintah pada semua orang.


"Baik, Tuan!" Bodyguard dan anak buah Sarimon serentak bergerak menahan perahu.

__ADS_1


Baim memberikan tangannya pada Dewa, namun Dewa mengangkat naik Kireni duluan baru kemudian dirinya. Mereka pun berhasil menapakkan kaki di atas jembatan dengan sukses, tinggallah si supir perahu. Urusan itu diserahkan pada anak buah Sarimon, kenapa dia pingsan tidak ada yang bertanya.


"Darimana anda menemukan gadis kecil ini, Bos?" tanya Baim.


Tak lupa Sarimon menguping karena ia juga sama penasarannya seperti yang lain.


"Namanya Kiren, dialah cahaya putih yang ku lihat itu Baim. Kalian sih, mata picek gak nampak ada anak orang butuh pertolongan," marah Dewa.


Beberapa menit saja aku sudah marah berkali-kali.


"Maaf Pak Dewa, apa anda yakin dia anak manusia?" tanya Sarimon memandang ada yang aneh pada sosok Kireni tapi tidak tau apa. Warna pakaiannya putih bersih bersinar seperti iklan sabun cuci padahal baru dari rawa tidak membuatnya lusuh. Sungguh tidak masuk akal, alas kakinya juga bersih seolah tidak pernah menginjak tanah. Wajah imut, bibirnya imut, hidung imut. Susu imut nyaris tak ada yang bisa dimutmut.


"Maksud kamu apa kalau bukan manusia?" Dewa melotot pada Sarimon. "Tidak lihat dia seperti manusia lalu seperti apa?"


"Tidak apa-apa, ya sudah kalau memang anak manusia," jawab Sarimon.


"Buat pengumuman pada siapa saja yang kehilangan anak minta mereka menemui saya!" Titah Dewa.


"Baik Pak Dewa, bagaimana kalau kita bawa dia ke kantor kehutanan?" Usul Sarimon.


"Hm, begitu juga boleh." Dewa setuju.


"Hai, gadis kecil. Kamu datang dengan siapa?" Lanjut tanya Sarimon pada Kireni.


"Bersama kakakku Mengyue," jawab Kireni suara kecil dan lembut di telinga semua orang yang mendengarnya.


"Lalu dimana kakakmu sekarang?" Tanya Sarimon lagi.


"Hais, kakakmu itu telah berbohong padamu gadis kecil. Bagaimana caramu ke pohon itu?"


Aduh, bagaimana ini.


Kireni beringsut menjauh dari Sarimon bersembunyi di belakang Dewa. "Sudahlah Sarimon kamu menakutinya, biar petugas saja nanti yang bertanya!" sergah Dewa.


"....." Sarimon terdiam tidak berani berbicara lagi.


Dewa membawa Kireni naik ke mobil terbuka. "Baim, kita ke kantor kehutanan!" Perintahnya.


"Baik bos," jawab si Asisten.


Kireni duduk di samping Dewa merasa senang tangannya gak lepas digenggam Pangeran impiannya itu.


Sampai di kantor kehutanan tidak ada siapa-siapa bahkan Satpam juga tidak ada. "Sarimon!" Panggil Baim. "Bagaimana kerja pegawai kehutanan, kenapa tidak ada yang bertugas berjaga malam?"


Sarimon takut-takut memandang wajah dingin Dewa melihat ruangan kantor kosong melompong.


Kemana mereka biasanya ada beberapa yang tinggal makan malam. Hais, kenapa saat bos dagang mereka semua pada kabur.

__ADS_1


Dalam hatinya. "Ada Pak Dewa tapi nanti jam delapan malam baru datang lagi."


"Lalu kenapa tadi kamu usulkan datang kemari?" Baim menghardiknya.


"Maaf, besok saja Pak Dewa kemari lagi."


"Ck ck ck," decak Dewa.


"Tidak ada yang becus! Kalau ada kesalahan lagi siap-siap dipecat!" Baim.


"Langsung ke penginapan, Baim!" Dewa mengajak asistennya pergi dengan perasaan marah.


"Baik bos," jawab Baim.


"Silahkan Pak," ujar Sarimon memberi jalan bagi tamunya kemudian memerintah anak buahnya. "Kalian antarkan Pak Dewa ke penginapan."


Setelahnya Sarimon melirik ke balik jeruji besi, tidak ada seorang tahanan pun di dalamnya, hais.


Beruntung Pak Dewa tidak ingat mengenai si penembak liar, kalau dia bertanya gak tau mau menjawab apa.


Dalam hatinya menarik nafas lega segera meeting dengan anak buahnya yang tersisa. "Dengar baik-baik, Tuan Sirobune Hikado mau Pak Dewa dilenyapkan dari muka bumi!"


Gleg.


Apa!


"Tapi bos! Beliau putra dari Bos besar TC grup," kata beberapa orang yang keberatan berhadapan dengan kriminalitas. "Kita belum pernah berurusan dengan nyawa manusia apalagi disuruh melenyapkan jiwa orang penting."


"Tidak ada tapi-tapi, selama ini kita mendapat uang tambahan yang tidak sedikit dari Hikado and co. Pak Dewa ingin mengakuisisi mereka, kalian mau kehilangan pekerjaan juga! Bagaimanapun nama kalian akan ikut terseret, musuh Hikado musuh kita juga, mengerti!" tegas Sarimon.


Hais, anak buah Sarimon menggerutu. "Tapi bagaimana caranya biar tidak ketahuan, ini pekerjaan diluar tanggung jawab kita Bos. Kenapa tidak bayar pembunuh profesional?"


"Dimana ada? Aku belum pernah berurusan dengan pembunuh bayaran. Tuan Sirobune juga terpaksa karena perusahaannya mau diakuisisi. Ah, Pak Dewa sih cari masalah sendiri," sungut Sarimon.


"Cari seorang model seksi untuk menaruh racun pada makanan ataupun minumannya pada acara dinner nanti. Malam ini juga dia harus mati, paling tidak masuk rumah sakit." Tuan Sirobune tiba-tiba telah hadir diantara mereka, beberapa orang berbadan tegap mengikut di belakangnya.


"Tuan," sapa Sarimon menunduk hormat padanya begitu juga dengan anak buahnya.


"Dimana mau mencari model seksi malam-malam begini, bos?" tanya anak buah Sarimon.


"Sarimon! Kalian digaji untuk apa, kenapa otak gak dipergunakan!" Hardik Sirobune.


"Maaf bos, apa kita perlu membunuh?" tanya Sarimon.


"Ini perintah dari atasan Sarimon! Kalian mau berumur panjang atau mau mati juga karena tidak becus bekerja!"


"Tidak bos, mau umur panjang," jawab Sarimon dan anak buahnya ketakutan.

__ADS_1


***tbc


Like, komen and Share, jumpa lagi 👍 .


__ADS_2