
Disusul Sabit mepetin Kireni alasan mau memberi ruang bagi Arjit, padahal dia suka empit-empitan dengan ceweknya. Terasa deg deg ser di dalam dada, oh indahnya cinta pertama.
"Ah, lega." Arjit masuk ke jok belakang bersempit-sempit.
"Astaga!" Ucap Alisha Menggelengkan kepalanya melihat manusia susun delapan.
"Ya Allah."
Ikutan nyebut memandang Orang yang duduk masing-masing memangku satu orang, Dwi memandang kasihan pada tubuh kecil Kireni yang tergencet diantara tiga pria. Diantara semua wajah Sabit yang paling cerah.
Cis.
Mendengus melotot pada Kakaknya yang tersenyum sumringah, Sora pasrah duduk di pangkuan Arjit seperti bayi. "Kenapa kamu gak pangku Kiren sekalian!?" Ketusnya pada Sabit.
Mau banget lah...
Dalam hati Sabit tersenyum mesum. "Tidak masalah asalkan orangnya tidak keberatan," jawabnya santai.
"Ngimpi!" Semprot Duta di wajah Sabit. "Kamu jangan ganggu Kak Kiren, Paman Dewa sudah merestuiku menjadi kekasihnya!" Berkata tegas, Duta memeluk di leher Kireni posesif.
"Ih, bayi gak boleh pacaran!" Sabit mencibir pada saingan cintanya.
"Siapa saja boleh!" Ketus Duta pada Sabit. "Cinta tidak memandang usia, iya kan Kak Kiren?" Duta memandang Kakak cantiknya, mata berbinar penuh kekaguman pada Kireni.
"Hm iya," jawab Kireni mencium kening Duta.
"Uweek!" Duta tersenyum senang, mengejek Sabit dengan wajah penuh kemenangan.
"Hahahaha." Tidak ada yang tidak tertawa kecuali Dewa, Paman Kireni itu tiba-tiba merasa cemburu pada bayi yang baru lahir sudah merasakan cinta lawan jenis. Dirinya seumur hidup belum pernah merasakan yang seperti perasaannya sekarang sebelum ia bertemu Kireni.
Aish dasar.
Keluh dalam hati Sabit sengaja merapat ke Kireni memberi sinyal-sinyal cinta pada ceweknya, di hatinya tidak merasa khawatir karena dia pasti menang melawan Duta yang masih bayi dan juga Dewa kan cuma Paman ini.
Hm.
Kireni mendesah canggung duduk di dekat Sabit, perasaan aneh yang berbeda dengan perasaannya terhadap Paman Dewa.
Aku juga punya perasaan yang sama sayang.
Jawab dalam hati Sabit mengerti kegelisahan Kireni, semakin sengaja dipepet.
__ADS_1
Merasa agak-agak risih gimana gitu, Kireni menyadarkan kepalanya ke bahu Dewa. Dewa seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta.
Ada yang muda ngapa pilih yang tua sih Kiren.
Dalam hati Sabit merasa cemburu, dia tidak tau Kireni sudah gelisah semenjak dari Mansion memikirkan masalahnya sendiri ditambahin lagi dengan masalah cinta segitiga, hah!
"Bagaimana sekarang, apa yang akan dilakukan oleh Bayi penyihir untuk mengembalikan keadaan?" tanya Arjit mencairkan suasana yang tiba-tiba senyap seperti ada hantu yang sedang lewat.
"Choi dan Moni akan bekerja sama," jawab Sebi si juru bicara.
O
Mulut dan mata Arjit membulat mendengar Sebi, si bayi serba tau ia memberinya julukan. "Memangnya Moni juga bisa sihir, kenapa Pepa tidak tau?" tanya Arjit memandang Moni di pangkuan Alisha.
"Wow Moni ternyata diam-diam berisi," sambung Sabit kagum pada kelima bayi, banyak banget rahasianya hidup mereka. Yang dikamar mandi Hotel juga masih belum terpecahkan, kejutan apakah itu. "Siapa lagi diantara kalian yang bisa sihir selain Baby Choi dan Baby Moni?" Tanyanya penasaran.
Ketiga Baby Lara menggeleng. "Mereka berdua lah dalang dari kerusuhan ini," jawab Duta.
Bayi laki-laki itu masih kesal pada perempuan-perempuan yang telah membuat wajahnya terpampang di semua media.
"Kami tidak sengaja ya, please jangan asal bicara!" Moni marah melotot pada Duta dituduh sebagai dalang kekacauan.
"Kalau tidak ada kekacauan ini, Choi tidak akan tau di tubuhnya ada darah keturunan penyihir ngerti Duta!" Sebi memarahi adik juteknya.
Dalam hati Sebi, sebagai ketua sudah tanggung jawabnya mengamankan anggotanya yang berseteru.
"Iya nih Duta dari tadi marah mulu, jutek. Bukannya cari solusi, mikir gimana jalan keluarnya!" Sevi ikut memarahi Duta adik lebih muda sepuluh menitnya itu, sebagai sekretaris dia juga harus berfungsi membantu ketua mengamankan anggota.
"Iya maaf, tapi lain kali kalian perempuan-perempuan berpikir dulu sebelum bertindak!" Duta menjawab ketus membela dirinya.
"Bagaimana sekarang, apa yang akan dilakukan oleh kedua penyihir?" tanya Sabit yang telah nyaman di samping Kireni.
"Turunkan hujan petir saja Choi, biar semua pada bubar." Usul Sora tiba-tiba.
Dia yang paling gak banyak bicara karena merasa bersalah membuat adik-adiknya jadi viral dan Jkt pusat jadi gempar, geram juga pada orang-orang yang berkerumun.
Tengah malam bukannya tidur istirahat malah keluyuran, kan jadi gak bisa bedain mana manusia mana hantu.
"Yes!" Semua bayi berteriak setuju.
Orang dewasa di dalam mobil yang diam mendengarkan tersenyum lega.
__ADS_1
"Iya! kenapa gak kepikiran," Alisha gembira seolah mendapatkan secercah cahaya dari kegelapan nasib perusahaannya.
"Wah Sora, kamu pintar juga," puji Sabit.
"Hehe," senyum Sora.
Masalahnya menurunkan hujan sudah ada Peri khusus yang bertugas menjaga awan, kalau diminta baik-baik pasti harus memberikan alasan aku bisa ketahuan. Semoga tidak ketara jika aku mencuri awan hujan sedikit untuk mengusir orang-orang.
Dalam hati Kireni juga memang itu ide yang tidak buruk juga. "Bagaimana Kak Kiren?" Tanya Moni meminta pendapatnya.
"Sepertinya ide yang bagus, kalian berbagi tugas saja. Choi memanggil hujan, setelah orang-orang yang berkerumun bubar gantian Moni yang membaca Mantra mengembalikan tamu-tamu hotel," usul Sebi.
"Iya benar, membaca satu mantra memerlukan tenaga yang tidak sedikit harus ada dua orang untuk tugas berikutnya. Baiklah, aku akan membaca mantra menurunkan hujan Mon," ujar Choi serius pada Kakak kembarnya.
"Oke sip, Choi! Bagianku yang mengembalikan tamu-tamu Hotel dan sekitarnya," jawab Moni, sekarang jantungnya deg degan.
"Jangan lupa nyetel volume petirnya lebih kencang Choi, hihi."
Sevi terkekeh membayangkan pasti lucu kayaknya melihat orang-orang kucar-kacir pulang kandang.
"Yups!" Baby Choi mengacungkan jempolnya.
Serius nih mau menurunkan hujan.
Batin Kireni memandang kedua bayi yang sudah bersiap-siap hendak membaca mantra.
"Menurut Kak Kiren, apakah sudah bisa melakukannya dari sini?" tanya Choi pada Kireni seperti biasa minta pendapat dulu.
Dia belum bisa memutuskan sendiri takutnya tambah parah, terbukti urusan memindahkan mobil aman atas kebijakan Kireni juga kan.
Ha!
Peri Bangau Abadi itu sedang berpikir mana yang lebih efektif mengusir manusia yang berkerumun, menggeser awan Cumulonimbus ataukah Altocumulus.
"Seharusnya dari pertengahan jalan Baru adalah lokasi yang paling strategis, kamu tidak mau kan membaca mantra sampai dua kali. Satu kali Jalan Baru satu kali lagi Jalan Protokol, bukankah itu sangat melelahkan Choi?"
Kireni memberikan penjelasan agar ia juga tidak perlu berkali-kali membaca mantranya
Baby Lara Duta di pangkuannya tak jemu memandang Kakak cantiknya, mengalungkan lengan di leher Kireni. Lebih baik jadi pendengar yang budiman menikmati pemandangan indah di depannya.
***tbc.
__ADS_1
Like, komen and share, 👍.