The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab. 11


__ADS_3

"Saya sudah pernah jadi santapan ular Tuan, menurut tim penyelamat saya ditemukan di dalam perut anakonda dalam keadaan pingsan dan masih bernyawa. Mungkin karena itu hewan pemangsa lainnya jadi gak doyan karena sejak saat itu tidak ada lagi hewan melata yang mau memangsa saya, mereka semua jaga jarak. Demikianlah sampai sekarang saya masih hidup." Supir perahu menceritakan kisah hidupnya.


Hm.


Begitu dalam hati Dewa antara percaya gak percaya, akhirnya perahu mendekat juga ke tepi pohon.


Benar-benar berkabut, tapi untungnya cahaya putih masih ada.


Senyum Dewa.


*


Kireni masih asik menari sambil membayangkan wajah Pangeran Poenix, memeluk gulungan kertas gambar yang didapatnya dari Mengyue.


Ya Tuhan, Pangeran sangat tampan. Aku ingin sekali bertemu dengannya.


Dalam hati Kireni memohon, tiba-tiba tatapannya terpaku pada penampakan perahu di atas air yang melaju perlahan ke arahnya. Saat melihat siapa yang ada di atas perahu.


Wah cepat sekali dikabulkan.


Seru Kireni kegirangan menghentikan tariannya, ada Pangeran di depan matanya kini.


Mengyue mana, Mengyue! Aduh, bagaimana ini.


Kireni gelisah, bingung mau bersembunyi atau tidak.


Apakah aku tidak sedang bermimpi, Pangeran datang menemuiku, oh. Kelihatannya Pangeran bisa melihatku, akan tetapi tempat ini sangat berbahaya bagi manusia fana.


Kireni khawatir mengalihkan tatapannya memandang ke dalam air, apakah ada hewan melata yang mengikuti perahu Pangeran. Ia berdiri di pinggiran pembatas selimut kabut Peri Mengyue, terlihat beberapa kawanan ular yang mengikuti dari bawah perahu. Namun segara ngacir begitu melihat bayangan Kireni.


Aduh! Hampir saja Pangeran jadi santapan ular.


Kireni merasa jantungnya terasa mau berhenti berdetak tak sanggup membayangkan, jika sekiranya ular-ular itu memangsa Pangerannya.


Mereka adalah kawanan ular yang sok berani, tidak percaya akan adanya hantu di hutan rawa sebelum melihat dengan mata kepalanya sendiri.


Karena kepo akhirnya menyesal deh, ntar malam bakalan gak bisa tidur neh terbayang-bayang wajah hantu ah.


Dalam hati ular-ular ikut meringkuk di samping buaya Kepala Preman yang sekarang sedang meriang ketakutan.


Beberapa kawanan buaya juga ada yang sok berani, beramai-ramai mereka bergandengan tangan. Dipimpin oleh wakil Kepala Preman, sudah lama dia ingin jadi ketua.


Akhirnya tibalah saatnya kudeta, hehe.


Ia mengajak beberapa ekor buaya pengikutnya, mengendap di perahu manusia muntahan Anakonda yang menjijikan. Melihat ada satu manusia lagi yang ikut ke pohon angker, "siapa pemuda tampan yang ikut dengan di manusia muntahan itu?" Tanya seekor buaya pada wakil kepala preman, mereka memberi julukan pada si manusia perahu sebagai muntahan anakonda.


Uweek menjijikkan!


Walaupun lapar sampai mau mati tidak ada dari mereka yang mau memakan daging si manusia perahu, mereka hilang selera melihatnya serasa makan muntahan.

__ADS_1


"Mungkinkah mereka mau menangkap si hantu," jawab yang lainnya.


"Baguslah kalau begitu, biar kampung kita aman. Sebaiknya kita jangan mengganggu, biarkan mereka menangkap si hantu dulu baru kemudian kita mangsa si pemuda," ujar satu buaya yang sudah keluar air liurnya melihat Dewa.


"Dasar kamu tidak tau berterima kasih! Sudah ditolong mengusir hantu, kamu pula mau makan penolongmu!" Wakil kepala preman Buaya menghardiknya.


"Hehe, sepertinya daging pemuda itu sangat lezat."


"Gebukin dia!" Wakil kepala Buaya preman memerintah pada yang lain.


Karena kepala preman lagi shock tak berdaya, sekarang waktunya wakil naik pangkat jadi ketua, siapa yang membangkang harus segera dibantai.


Hehe, sekarang aku berkuasa, tidak lama lagi akan diangkat jadi kepala


Dalam hati wakil kepala preman.


Bagaimanapun aku perlu berterimakasih dengan adanya gosip hantu ini tapi bagaimana mau melawannya. Aku juga penakut, hihi.


Manusia perahu menyadari air Rawa bergoyang, berusaha menahan perahunya agar tidak oleng.


Ada apa buaya-buaya itu berantam sesama sendiri, mungkinkah mereka berebut daging Tuan ini?


Dalam hatinya membawa Perahunya menepi.


Dewa terpana dengan apa yang dilihatnya, bukan bangau cantik tapi bayangan seorang gadis kecil berselimut kabut. Wajahnya bercahaya, rambut panjang sepinggang ikal mayang. Leher jenjang serta tungkainya yang langsing, gaun yang dipakainya berbeda dari manusia pada umumnya.


"Kamu tunggu disini, biar saya sendiri yang pergi melihatnya," titah Dewa.


Dipaksa turun juga aku gak akan mau, takut pindah alam. Lebih baik di perahu, soalnya kabut disini berbeda dengan kabut biasa. Lagian tidak ada siapa-siapa di sana, biar saja dia lihat sendiri.


Dalam hati supir perahu melihat ke bawah perahunya ada buaya mengintai mereka.


Dewa berjalan ke arah gadis kecil yang juga sedang menatapnya. "Hi, sedang apa kamu di sini sendirian?" Tanya Dewa setelah dekat pada gadis itu.


Karena mereka dibatasi selimut kabut peri Mengyue, si manusia perahu tidak dapat melihat Kireni yang berdiri tepat di depan Dewa. Manusia perahu bergidik, mendengar Dewa benar-benar bicara pada kabut.


Benarkah ada orang tapi aku tidak melihat siapa-siapa, hii.


Bulu kuduk supir perahu berdiri mekar.


Tuan ini benar-benar melihat ada makhluk tak kasat mata dibalik kabut itu.


"Pangeran," gumam Kireni melebarkan bola matanya.


Dia berbicara padaku, oh pangeran bisa melihatku.


Kireni memandang Pangeran benar-benar takjub.


Ya Tuhan, apakah ini nyata?

__ADS_1


"Ayo naik ke perahu," ajak Dewa mengulurkan tangan, Kireni mundur satu langkah.


"Jangan takut, aku datang menolongmu. Di sini banyak ular dan buaya, ayo pegang tanganku." Dewa lembut membujuk Kireni, Kireni terbuai dengan kelembutan suara Dewa.


Pangeran impianku.


Tak jemu memandang wajah Kireni yang seperti bidadari yang turun dari langit, Dewa telah jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang gadis kecil. Pemuda tampan itu tidak curiga sedikitpun pada wujud Kireni.


Gadis kecil di hutan sendirian, apa mungkin anak manusia?


Kireni bingung, Mengyue telah berpesan tidak boleh keluar dari pembatas alam tapi ini adalah kesempatannya bertemu pangeran.


Bagaimana sekarang.


"Siapa namamu gadis kecil?" Tanya Dewa hati-hati, agar Kireni tidak takut padanya.


"Kiren," jawab Kireni.


"Oh, nama yang bagus. Ayo, Kiren kita pergi dari sini. Beri tahu dimana rumahmu, aku akan mengantarkan kamu pada keluargamu."


Aduh gimana ya, Mengyue lama amat sih perginya. Baiklah, aku duluan saja mengikuti Pangeran.


Kireni memegang tangan Dewa, perlahan tubuhnya ditarik keluar dari kabut barulah kelihatan jelas wujudnya semakin cantik di mata Dewa.


Manusia perahu shock hampir jatuh, kalau dia tidak berpegangan kuat pada perahunya.


Benar-benar ada orang di balik kabut, bagaimana bisa sebelumnya aku tidak melihatnya.


Dalam pandangan Supir perahu, Kireni menjelma muncul tiba-tiba seperti makhluk gaib, cring!


Memikirkan itu, otaknya gak kuat mencerna akhirnya si supir perahu pingsan tak sadarkan diri.


Astaga!


Dewa dibuat kesal Kireni dibawanya naik ke perahu, pria tampan itu tidak memperdulikan si supir yang pingsan tergeletak di lantai dasar perahu.


Dirinya sendiri yang mendayung perahu perlahan-lahan, bertambahnya satu penumpang membuat perahu kelebihan muatan.


Kireni menggunakan mantra untuk meringankan tubuh mereka, mengendalikan perahu jangan sampai tenggelam. Gadis Peri itu duduk manis di depan Dewa, senyuman tak lepas dari bibirnya. Di alam Peri jangan harap dia bisa satu perahu dengan Pangeran.


Di alam manusia dapatkah aku memilki cintanya?


Kireni memandang ke iris mata Pangerannya, Dewa juga tak bisa berpaling dari senyuman Kireni. Saling mengagumi keindahan wujud manusia di depan mereka masing-masing.


Buaya-buaya dipimpin oleh wakil ketua preman mengawal perahu dari gangguan anakonda, Sanca maupun Kobra yang mengancam keselamatan jiwa pemuda tampan.


Mereka mengikuti Dewa sampai separuh jalan, takut sesuatu yang buruk terjadi pada si pemuda pemberani.


"Wakil ketua! Pemuda itu sangat hebat, tidak pingsan ketakutan seperti si manusia muntahan anakonda. Dirinya berhasil membawa si gadis hantu keluar dari Rawa," kata seekor buaya.

__ADS_1


***tbc.


Like, komen and Share 👍


__ADS_2