
Diantara yang berkerumun ada wajah yang tidak asing di mata Dewa, Paman Kireni itu dan semua yang ada di dalam Limo menyaksikan kerusuhan yang terjadi sepanjang jalan Protokol.
Mengintai melalui jendela Mobil jenis rayben, bisa melihat keluar tapi dari luar tidak bisa melihat ke dalam.
Menyedihkan sekali.
Kata pikiran Sevi si bayi paling sensitif, sedih.
Aku ingin menolong tapi gak punya energi lagi.
Pikiran Choi.
Aku masih lelah.
Pikiran Moni.
Aku gak punya mantra.
Pikiran Sebi selalu kesal jika teringat belum punya bacaan mantra, merasa dirinya benar-benar tidak berguna.
Bukankah kak Kiren melarang kita tiga baby Lara menggunakan sihir, jadi tidak perlu terburu-buru mencari bacaan mantra.
Pikiran Duta memandang Kakak cantiknya.
Mendengar kelima bayi diam-diam Kireni membaca pikiran setiap orang-orang yang berada di sekitar mobil khususnya dan di sepanjang jalan protokol semuanya, menggunakan mantra gadis penyihir itu memberi apa yang paling mereka butuhkan.
Cring!
Keajaiban pun terjadi, kelima Bayi melongo.
Hebat sekali, Kak Kiren tidak pingsan saat menggunakan mantra.
Suara pikiran Choi takjub.
Harus sering-sering latihan kan Kak Kiren.
Kata pikiran Sebi agak sedih, karena ia tidak diperkenankan membaca mantra bagaimana bisa lancar kalau tidak dilatih.
Hm, itu karena aku dari Bangsa Peri asli sedangkan kalian manusia biasa yang mendapatkan transferan energi.
Jelas Kireni.
Wah, apakah energi yang kami miliki bisa habis?
Tanya pikiran Moni, Kireni berpikir sejenak.
Sepertinya selagi masih ada aku si pemilik, energi kalian akan terisi ulang secara otomatis karena kita telah terkoneksi dalam satu pikiran. Aku belum tau apakah hubungan itu bisa diputuskan atau tidak, karena pil hitam emas yang tidak sengaja ku minum berusia jutaan tahun lebih. Jadi energi yang kita miliki baru habis setelah jutaan tahun waktu langit.
Jelas gadis Peri itu.
Oh my God.
Wow.
__ADS_1
Emagine.
Fantastis.
Kelima bayi tidak bisa tidak gembira, jantung hampir melompat keluar.
Jutaan tahun waktu langit berapa tahun waktu Bumi Kak kiren?
Tanya Sebi.
Satu hari di langit 1 tahun di Bumi.
O
Kelima bayi membuka mulutnya lebar, begitu juga sora.
Kalau usia kita ditetapkan 60 tahun di Bumi itu artinya di langit kita hanya 60 hari dong?
Moni si ahli menghitung berkata.
Yups.
Angguk Kireni memandang ke jalan Protokol dan yukurlah berangsur-angsur keadaan kondusif dan aman terkendali.
"Lihat bayi Penyihir menolongku," kata salah satu dari mereka. Dirinya yang semula cuma pakai kolor, seketika mendapat baju bagus yang tidak mungkin pernah terbelinya.
"Iya aku juga," kata yang tadinya cuma pakai sarung, begitu juga yang tidak berpakaian sama sekali. Mereka yang terjebak akibat mantra kemarin, semua mendapat pakaian yang bermerek dengan kantong penuh uang yang lebih dari cukup.
*
Tidak terkecuali Claudia dan Sonia, mereka berada di dalam mobil yang kemarin mereka gunakan saat terjebak macet.
"Mak, akhirnya lu balik!" Ucap Claudia sangat senang bertemu Sonia, dia tidak terlalu memikirkan lingerie yang dipakainya berubah jadi gaun panjang dan sopan. Bodo amat pikirannya hanya pada Dewa.
"Iya neng! Padahal lu dah pesan tiket," jawab Sonia juga senang bertemu anak emasnya walaupun lagi enak-enaknya tidur dibangunin, setidaknya dia tidak perlu repot ke Bandara besok pagi yang menurut berita akan dipadati turis lokal maupun dari mancanegara. Bisa dipastikan akan ada kerusuhan di sana sini. "Kenapa kita jadi kembali ke mobil ini?" Tanyanya.
"Itu juga yang gua mau cari tahu Mak, kita dekati Limousine itu yuk! Gua yakin pasti ada Dewa di dalamnya dan juga si bayi Penyihir," ajak Claudia, dirinya sudah gak sabar ingin bertemu dengan suaminya.
O~ow.
Pikiran bayi-bayi.
Waduh gawat.
Pikiran Kireni.
Jangan biarkan mereka menemui Paman Kak Kiren.
Seru kelima bayi
Baiklah.
Kireni segera menggumamkan mantra kabut Peri Mengyue untuk menutupi Limo dari pandangan orang-orang.
__ADS_1
"Yes," pekik kelima bayi.
Yang mengundang tanya di hati Baim. "Apanya yang yes," gak tahan ia bertanya juga.
Hehe, kelima bayi nyengir.
Kamu tidak perlu tau Baim.
Dalam pikiran mereka.
Lalu terlihat mata dan mulut Claudia juga Sonia terbuka lebar menyaksikan Limo tiba-tiba menghilang di depannya, begitu juga dengan orang-orang yang disekitar mereka.
"Alhamdulillah."
Ucap mereka bersyukur pada Tuhan yang Maha Kuasa, bayi penyihir tidak marah bahkan sebelum menghilang masih sempat memberi mereka hadiah.
*
Di hotel WJ, tamu-tamu yang semula marah-marah seketika tercengang, karena mereka juga terkena efek dari mantra Kireni saat membantu orang-orang yang berada di jalanan.
Mereka juga mendapatkan pakaian ganti yang bagus dan bermerek mahal, serta uang yang banyak di saku celana dan baju mereka.
Arjit yang semula kewalahan menarik nafas lega, begitu juga staf Hotel yang tidak ikut dipulangkan. Mereka diharuskan lembur membantu Arjit mengurus kedatangan tamu-tamu, baik tamu-tamu baru maupun tamu-tamu lama yang dipulangkan.
"Hahaha, Tuan Arjit. Maafkan saya khilaf," ucap satu orang dari tamu yang dipulangkan.
"Iya, saya juga. Saya harap masih bisa menginap barang semalam dua malam," kata tamu yang lainnya.
"Saya juga, boleh tidak kita diperkenankan bertemu dengan bayi Penyihir viral?" Tanya satu tamu sok akrab mengedip mata padanya.
Mendengar itu. "Haha," tertawa hambar. "Boleh saja, tapi tarif kamar naik menjadi tiga kali lipat sesuai dengan harga kamar untuk tamu-tamu besok yang telah membooking terlebih dahulu," jelas Arjit tanpa sungkan.
O
Mereka meraba kantong masing-masing apakah cukup.
"Ha!" Semuanya membelalak.
Berbeda dengan orang-orang yang berada di jalanan mendapatkan mata uang dollar dan euro, yang dibagi-bagikan Kireni khusus untuk tamu-tamu Hotel WJ adalah mata uang paling mahal sedunia yaitu Dinar Kuwait.
Mereka berebut mengantri di kasir ingin membayar harga kamar masing-masing. "Maaf Tuan-tuan dan Nyonya-Nyonya, silahkan tukar dulu uang anda ke Dollar, Euro ataupun Poundsterling. Karena kita tidak menerima uang Dinar disini." Kata kasir menolak tegas menutup counternya, meletakkan papan besar bertuliskan, Online Reservation Only.
Tamu-tamu berhamburan ke money Changer terdekat hendak menukarkan uangnya.
"Hahahaha," tawa Arjit segera menyambut tamu-tamu yang sudah mulai berdatangan. Tamu baru tiba dari airport langsung dijemput bus pariwisata sebagai bonus pelayanan khusus dari Hotel WJ.
"Yang sudah reservasi silahkan mengantri disini," kata Arjit ramah.
Dirinya tidak gengsi turun tangan langsung menghandle bagian penerima tamu.
***tbc.
Like komen and vote 🙏.
__ADS_1