The Crane Dan Lima Bayi Kembar

The Crane Dan Lima Bayi Kembar
Bab. 72


__ADS_3

"Yes," ucap Choi setuju dengan tekad Kakaknya.


Bagus Moni, kamu akan jadi pengusaha sekaligus penyihir yang sukses di kemudian hari. Mengenai setan, siluman ataupun roh-roh jahat kita akan melawannya dengan kekuatan doa kepada Tuhan yang maha esa.


Ucap pikiran Sebi ikut senang dan bangga pada keputusan Moni.


Thanks Sebi.


Ucap pikiran Moni semakin bertambah keyakinan.


Hm. "Siap-siap Mon!" Suara Sebi lantang memerintah sebagai ketua kelompok yang tegas.


"Siap ketua!" Balas Moni juga lantang.


"Yes," seru keempat bayi lainnya memberi semangat pada Moni.


"Nah Pepa Arjit jangan marah-marah nanti cepat tua, tunggulah sebentar lagi paket tamu-tamu akan segera tiba." Alisha berkata pada Adiknya kemudian menutup panggilan.


Ck ck ck.


Barus dan bodyguardse menggelengkan kepala kagum, senang menjadi karyawan WJ grup yang punya ahli waris dari dua bayi penyihir.


"Hidup seperti di dalam dunia fantasi, apakah aku tidak sedang bermimpi sekarang?" Tanya satu dari mereka.


Plak!


Barus menampar wajahnya, semua yang melihat terkejut dan kasihan. "Maaf, apakah kamu merasakan sakit?" Tanya kepala keamanan itu pada orang yang ditamparnya.


"Itu sakit sekali Bos," jawab Bodyguardse mengusap pipi kirinya.


"Aku juga penasaran apakah ini nyata, karena kamu merasa sakit sekarang aku percaya bahwa semua ini bukan mimpi." Barus berkata santai.


"Hahahaha," yang lain jadi berani tertawa.


"Kalau merasa tersinggung kamu boleh balas menamparku," kata Barus memberikan wajahnya.


"Tidak bos! Tidak apa-apa, saya ini pria kuat tidak akan sakit jiwa maupun raga kalau cuma ditampar, hanya hampir gila memikirkan ada Bayi bisa memanggil hujan dan petir."


"Hahahaha," kembali Barus dan anak buahnya tertawa, karena mereka juga sama hampir gilanya.


*


Dari jet pribadinya.

__ADS_1


"Tuan Muda, apakah anda juga mempunyai kemampuan sihir?" Tanya satu kru memandang takut pada Bram.


"Kalau punya, aku tidak perlu naik pesawat kan. Melakukan apa saja tinggal baca mantra," jawab Bram menyandarkan duduknya.


"Mungkin saja anda tidak menyadarinya," kata yang lainnya.


Hm, seringai Bram.


"Cukup bayinya saja yang penyihir, bapaknya tidak usah," jawab Kiara.


Humph.


Bram menatap gak senang mendengar ucapan si istri. "Kenapa aku gak boleh punya kemampuan sihir?" Tanyanya.


"Tidak punya sihir saja kamu sudah keren sayang, aku tidak bisa tahan kalau kamu tambah keren lagi." Kiara menggombal suaminya.


Bram tersenyum dari telinga ke telinga. "Oh, sayangku." Hampir saja Bram menyedot bibirnya, kalau gak ingat banyak orang yang menyaksikan disekitarnya.


"Jangan menggoda Kiara, kau tau aku juga tidak tahan melihatmu walaupun hanya diam tidak melakukan apa-apa."


Cis.


Kiara membuang muka, terlihat di layar lebar Moni sedang berdiri di tengah jalan dikawal oleh Dewa dan Barus.


"Pria yang berdiri di belakang Moni yang tadi menangkap Baby Choi itu sangat tampan, siapa sih dia, sayang? Coba kamu tanya Barus siapa namanya," kata Kiara pada suaminya.


Ternyata yang diajak bicara sedang melotot padanya, ups.


"Tampan?" Pria pencemburu itu berseru marah memandang istrinya.


"Tapi masih lebih tampan kamu sayang, jangan marah ya cup cup cup." Kiara merayu suaminya.


"He!" Bram menepis tangannya, keki.


Bisa-bisanya di depan batang hidungku memuja pria lain, bagaimana kalau di belakangku.


"Barusan bilang aku keren, dasar plin plan," gerutu Bram tidak memperdulikan.


"Sayang maafkan aku, marahnya ditunda dulu ya. Aku mau fokus menyaksikan Moni membaca mantra," ucap Kiara mengatup kedua tapak tangannya, memandang Bram dengan tatapan memelas.


"Kau dihukum selama dua bulan memimpin permainan!" Bram berkata tegas kembali fokus ke layar lebar.


Ha! Asik-asik itu aja yang ada dipikiran suamiku ini.

__ADS_1


"Hihi," senyum kru dan karyawan di belakang mereka.


*


Dini hari di negara I.


Keadaan pertengahan jalan Baru terlihat sepi, hujan deras membasahi Bumi. Sesekali bunyi petir kekuatan sedang terdengar dari langit.


Dewa, Barus dan beberapa bodyguards mengawal di belakang Moni, di bagian depan ada Baim dan beberapa bodyguards juga. Sisa lainnya memblokade jalan dengan formasi seperti sebelumnya, mereka semua memakai mantel hujan agar tidak terlalu basah disebabkan air yang turun sangat deras.


Tak ayal Moni merasa deg degan, dia tau setelah ini ada konsekwensi yang harus ditanggungnya yaitu kehilangan kesadaran dirinya untuk beberapa saat.


Berani, Baby Monisha Wijaya harus berani. Ini adalah tanggung-jawabmu sebagai ahli waris utama perusahaan keluarga grup WJ.


Dalam hatinya yang bisa didengar oleh saudara-saudarinya.


Bagus Mon, aku akan selalu memantau**mu.


Pikiran Sebi memberi semangat pada Moni sambil mengambil pelajaran jika nanti dirinya juga diharuskan membaca mantra, dia telah siap menghadapi segala konsekwensinya yang ternyata tidak main-main, yaitu terkurasnya energi belum lagi adanya roh jahat dan siluman yang mengintai.


2 in.


Sevi setuju dengan isi pikiran Sebi, bayi paling culun di kelompoknya itu membuang rasa takutnya. Nekat menentang hujan petir demi memberi dukungan moril pada saudarinya.


Dari jet pribadi yang ditumpanginya Mama Laras merasa khawatir pada Lara Sevi yang penakut berubah menjadi pemberani, berbeda dengan Ayah Yudi yang merasa bangga atas perubahan mental bayi perempuannya. Walaupun bayi Big Bos lebih hebat tidak membuatnya cemburu, karena Pria yang bisa membaca pikiran itu tidak terlalu menyukai bayi-bayinya terlibat dengan alam gaib


Menyadari tidak ada Duta dan Kireni. "Anak lanangmu itu sedang mabuk kepayang Mama Laras, dia tidak mau jauh dari calon menantumu walau jarak seinchi," sindirnya.


"Haha." Laras tertawa hambar.


*


Kireni sengaja tidak ikut ke Pertengahan jalan Baru, Peri Bangau itu cukup memantau dari jauh agar lebih meyakinkan Alisha dan yang lainnya bahwa disini dia hanyalah manusia biasa yang takut hujan dan petir.


Sekalian ia ingin melindungi Choi siapa tau ada siluman jahat yang mengintainya, bayi manusia biasa itu kini lemah diharuskan tinggal di mobil bersama Duta yang tetap tidak mau jauh dari kakak cantiknya ditemani Dwi dan Alisha.


Sora tidak mau ketinggalan ikut hujan-hujanan menyaksikan Moni membaca mantra, sebagai Kakak merangkap tante yang kemungkinan punya kemampuan juga sudah tentu dia khawatir. Sora ingin memastikan keselamatan bayi kakak angkatnya itu, begitu juga Sabit telah siap dengan kameranya.


"Siap Mon!" Suara Sebi lantang di tengah derasnya hujan.


"Siap!" Jawab Moni juga lantang, Pengawal Barus memegang sebuah payung yang lebar melindungi dirinya.


Dari tempat duduknya tak lupa Kireni membungkus setiap kamera CCTV yang ada sepanjang jalan Baru maupun tempat yang dapat menangkap gambar ke arahnya dengan kabut Peri, agar proses membaca mantra luput dari pantauan layar Dinas Tata kota maupun instansi terkait lainnya.

__ADS_1


***tbc


Like komen and share, 🙏


__ADS_2