
Tentu saja Choi bukan penyihir, yang harus membaca mantra itu gadis kecilku ini.
Dalam hati Dewa terdiam tidak tau mau jawab apa.
"Nena kenapa tanya Paman, yang tau itu Kak Kiren." Sevi yang tadi diam menyahut.
"Kamu jangan bawa-bawa nama Kak Kiren, yang penyihir itu Baby Choi!" Duta memarahi Sevi gak senang Kakak cantiknya selalu dipojokkan bayi-bayi perempuan.
"Tapi hanya Kak Kiren yang bisa melihat di tubuh Choi dan Moni ada darah keturunan penyihir!" Sevi mempertahankan pendapatnya. "Apa kamu tidak ingat, setelah bertemu Kak Kiren kita jadi mahir mengemudi mobil balap tanpa nabrak, uweek." Lanjutnya tak lupa mengejek Duta.
Bodyguard yang tadi diam mendengarkan, manggut-manggut. "Bisa jadi awal mula keanehan ini saat balap mobil Nyonya, tiba-tiba remot tidak berfungsi. Laporan tenaga IT tidak ada masalah dengan kontrol panelnya," sambung Ketua bodyguard.
Huh! Terdengar Kireni menarik nafas berat.
"Bagaimanapun Choi harus membaca ulang mantra untuk mengembalikan keadaan ke situasi semula!" Moni berkata tegas.
Kireni memandang Dewa, dia takut salah lagi sembarangan mengambil keputusan.
Dewa memandang gadis kecilnya kasihan, walaupun punya kemampuan tapi jiwanya masih polos.
"Saya sih setuju saja kalau Choi membaca mantra ulang," jawab Dewa memandang Kireni.
"Selain masyarakat ekonomi lemah tidak pusing mikirin ongkos balik ke Jkt, alasan lainnya adalah karena selagi jalanan masih lengang. Kalau besok kemungkinan orang mulai beraktifitas lagi, makin ramai numpuk kendaraan di jalan, bertambah macet."
Dewa yakin bahwa mereka semua hanya pulang ke kampung halamannya seperti Arjit dan Walikota serta Mr. Lee guru Sabit.
"Tapi kenapa Kireni yang kalian mintai pendapat, bukankah penyihir itu kamu Choi serta mahkluk yang di kamar mandi hotel?" Tanya Sora sependapat dengan Duta.
Choi berpikir keras mencari jawaban apa yang tepat tanpa melibatkan Burung Abadi.
Bisa jadi sihirku memang darinya.
Dalam hati Choi teringat si Burung pernah datang dan menghilang di depan mata mereka secara ajaib.
"Aku lebih percaya diri kalau ada Kak Kiren."
Jawabannya yang langsung diangguk setuju oleh keempat bayi lainnya, mereka punya pemikiran yang sama.
Rahasia mengenai Burung Abadi cukup kita saja yang tau.
Begitu isi pikiran mereka terkoneksi.
__ADS_1
"Ayolah Kak Kiren beri Choi semangat," tambah Moni menyentuh lengan Kireni menggoyang nya lembut memohon demi perusahaannya.
"Iya Kak Kiren! Ayolah beri Choi semangat dan dukungan seperti kemarin saat berada di Limousine," mohon Sebi.
Kireni memandang bayi-bayi, terus terang sekarang dia takut mengeluarkan mantranya lagi tapi keadaan sudah sangat kacau.
Sepertinya memang harus membaca mantra ulang, hah.
Dalam hati Kireni membuat keputusan. "Aku akan memberi dukungan," jawabnya lemah memandang Dewa, Pamannya itu tersenyum mengangguk setuju.
"Apakah kita bisa kembali ke hari kemarin?" Tanya Sevi.
O
Semua mata sekarang melihat ke Lara Sevi.
"Untuk apa kamu mau kembali ke hari kemarin Sevi?" tanya Sabit. "Ada-ada saja, tidak perlu!" Tegasnya sambil melirik Kireni.
Aku harus terlihat keren di matanya.
Dalam hati Sabit. "Kamu mau dunia lebih kacau lagi? Sekarang Ayah Yudi dan Mama Laras dalam perjalanan, terbang di atas awan naik pesawat. Bagaimana kalau terlempar entah kemana, kamu siap jika tidak punya Ayah dan Mama?" Lanjut tanya Sabit menakuti Sevi.
"Sabit!" Alisha menegurnya.
"Maaf Ma," ucap Sabit mencibir pada Lara Sevi.
"Puas! Kamu yang oon aku juga yang dimarahi," ujarnya sinis pada adik bayinya itu heran. "Sebagai bayi pikiran kalian terlalu maju, ck ck ck." Sabit berdecak pamer kebijakan di depan Kireni yang sekarang sedang menatapnya.
"Kamu jangan berpikir untuk kembali ke hari kemarin Choi, itu akan mempengaruhi perputaran seluruh planet yang ada," jelas Kireni setuju dengan Sabit.
Lagipula Kireni tidak yakin, apakah dia punya kemampuan itu sebagai Peri muda.
Sabit senang satu pendapat, satu pemikiran dengan Kireni. Sudah beberapa kali mereka bertemu pandang, ada gelenyar aneh di hatinya.
"Baiklah, tapi dimana kita akan melakukannya Kak Kiren?" Tanya Choi semangat.
Sekali lagi kemampuan mantra sihirku kembali diuji kehebatannya, hahaha.
Dalam hati Baby Choi deg degan luar biasa, terus terang ia belum percaya bahwa dirinya adalah seorang Bayi Penyihir. Rasanya seperti mimpi hanya dengan jari telunjuk serta mengucap mantra, dirinya bisa membuat keajaiban.
"Kita ke Hotel WJ saja," celetuk Moni. Sekalian dia mau melihat keadaan pabrik es krimnya yang kemungkinan sekarang sudah hancur meleleh.
__ADS_1
"Iya setuju. Kita bawa baju ganti sekalian mandi di sana, yeee!"
Sambung Sebi bersorak senang, bisa jumpa Burung Abadi sekalian dia mau minta diberi kemampuan sihir seperti Choi.
"Oh, yes!" Sambut keempat bayi lainya serentak, setuju dengan pemikiran Sebi.
Oh no, jangan sampai ke Hotel WJ, bisa terbongkar rahasia diriku.
Dalam hati Kireni segera memindai lokasi yang paling dekat untuk mendeteksi semua letak kesalahan akibat Mantra pertama.
Jarak Mansion Nena Alisha ke Jalan Baru 20 menit perjalanan, dari Jalan Baru ke jalan protokol 20 menit. Jadi pas di tengah-tengah.
"Seharusnya dari jalan besar Baru sudah bisa," ujarnya memandang Dewa. Dewa mengangguk setuju, tersenyum pada gadis kecilnya yang misterius.
"Yeaaah!!" Kelima bayi kecewa mengeluh serentak, harapan bertemu Burung Abadi harus gagal malam ini.
"Tidak usah bikin heboh di Hotel!" Ketus Sabit pada bayi yang super aktif.
Mendengar itu Kireni merasa senang, tersenyum pada Sabit yang mendukungnya.
Sabit balas tersenyum lebih senang lagi. "Kalau tamu-tamu tiba-tiba protes lalu marah-marah, apa kalian mau maju bertanggung jawab?" Lanjut Sabit bertanya ketus, membuka bola matanya lebar menakuti adik-adik bayinya.
"Hum," geleng kelima bayi takut. "Uweek," ejek mereka serentak menjulurkan lidah pada Sabit.
Cis, dengus Sabit.
Pria remaja itu semakin penasaran pada Kireni, menurut informasi yang didapatnya dari Sora. Cewek cantiknya baru saja datang dari negara J, tapi sudah mahir dan sangat fasih berbahasa negara I.
"Sebaiknya kalau mau pergi jangan bawa Limousine Bos, agar tidak menarik perhatian masyarakat." Baim yang dari tadi diam jadi pendengar yang budiman memberikan usul.
Hm, angguk Dewa. "Kalau begitu segera keluarkan mobil dari Limo," titahnya pada si asisten.
Mendengar itu Alisha berkata pada Dewa. "Mengenai Mobil anda tidak usah repot, di garasi kita banyak koleksi. Urusan itu serahkan pada supir saya Samsir, katakan saja berapa dari pihak Pak Dewa yang ikut menemani."
"Aku ikuuut!" Pekik bayi-bayi langsung berdiri takut ketinggalan.
"Dasar pengacau," gerutu Sabit. "Diantara bayi cuma Baby Choi yang boleh pergi karena dia perlu membaca mantra," lanjutnya menggoda adik-adik bayinya yang langsung mendapatkan hujan mainan dari kelimanya.
***tbc.
Like komen anda share 👍.
__ADS_1