
Kelima bayi mandi bebek cebar-cebur selesai secepat kilat, biasanya tahan lima jam berendam di bathtub tapi ini baru lima menit tidak sampai, berpakaian langsung gegas ke lantai tiga.
Belum sempat membereskan pakaian kotor maupun yang bersih berserakan di lantai kamar dan juga handuk di kamar mandi, Sitters dan Bodyguards kucar-kacir mengejar anak asuhnya masing-masing.
Hais.
Hanya bisa mengeluh dalam hati namun ada waktunya mereka terhibur juga dengan tingkah lakunya.
Di depan kamar Dewa bayi-bayi berdiri, berbaris rapi dari tengah Sebi, di kirinya ada Moni dan Sevi disebelah kanannya ada Lara Dutta dan Baby Choi.
Sebi menghitung mundur dalam pikirannya.
Tiga
Dua
Satu
Dor dor dor, dor dor dor.
Serentak menggedor. "Kak Kiren! Kak Kiren!" Serentak memanggil.
Penghuni Mansion belakang dari lantai satu sampai lima semua bisa mendengar, apalagi yang di lantai tiga
"Astaga!"
Ketenangan hidupku dalam sepuluh tahun ini jadi terganggu karena bayi-bayi ini.
Baim ngedumel dari kamar sebelah melompat dari tempat tidurnya, keluar membuka pintunya.
Cklekk!
"Pak Dewa baru saja tertidur, bisa tidak kalian jangan mengganggu!" Katanya sambil menahan amarah.
O
Kelima pasang mata memandangnya siaga.
"Baim, kamu juga disini?" Tanya Sebi.
Tersenyum menyeringai. "Maaf telah mengecewakan kalian tapi dimana ada Pak Dewa di situ ada Baim," sinisnya.
Mempunyai tampang lucu dan menggemaskan serta punya kemampuan sihir tidak membuat Baim terpesona pada kita.
Kata pikiran Sebi, lagi-lagi melihat aura permusuhan di wajah asisten Dewa itu.
Iya, ingin rasanya aku melemparnya pulang ke negaranya.
Choi geram.
Jangan Choi, kamu tau efeknya apa kan.
Moni memperingatkan kembarannya.
Kalau cuma satu orang aku rasa gak akan pingsan sama seperti waktu memanggil kebab.
Jawab Choi yakin dengan kemampuannya telah jauh berkembang.
Iya, kamu hebat Choi.
Seru Moni bangga.
Pesan Kak Kiren jangan sembarang menggunakan mantra, kita harus menurutinya karena energi kita ini berasal darinya. Kalian gak mau kan Paman marah dan kita tidak dibolehkan berteman dengannya.
Isi pikiran Sevi yang memang selalu bijaksana diangguk setuju oleh kelimanya.
Sekarang apa?
Tanya Sebi.
Baim memandang bayi seolah memiliki rencana jahat untuk memulangkannya ke kampung halaman, "kalau bukan karena Pak Dewa, tidak mungkinlah Kiren ada disini. Kalian mau menyingkirkan aku assisten kesayangannya, coba saja. Hanya ingin kalian tau, aku adalah orang yang ikut membawa Kiren dari Negara J," kata Baim sombong tidak sudi diintimidasi oleh bayi baru lahir.
"Iya tau, untuk itu aku masih mengampuni kamu!" Kata Sebi ketus melototin baim.
Kecuali Papa Bram, dia adalah bayi yang tidak takut apapun kecuali kejatuhan harga dirinya itu baru rasanya nyesek banget.
Gleg.
__ADS_1
Asisten Dewa itu meneguk liur takut, ternyata bayi-bayi mengajak musuhan dengannya.
Tidak boleh takut kalau mau punya harga diri.
Dalam hati Baim. "Dengar, urusanku disini menjaga Pak Dewa dari pengganggu tidak terkecuali kalian. Pak Dewa dari kemarin malam belum tidur menjaga kalian hujan-hujanan belum lagi mengerjakan pekerjaan kantor, sementara kalian sudah tertidur sangat lama. Bagaimana kalau tunjukkan rasa terima kasih dengan membiarkan beliau istirahat, lagian Kiren juga masih tidur. Kalau tidak percaya lihat saja dengan kemampuan sihirmu itu Choi Moni!" Baim tak kalah ketus.
Hum.
Kelima bayi saling pandang teringat memang begitu kenyataannya.
Sebaiknya memang kita jangan mengganggu.
Kata Choi.
Tapi aku sangat ingin menemui Kak Kiren.
Keluh Duta.
Hah, bukan kamu saja.
Kelimanya tertunduk lemas.
Kita ke kamar tante Sora.
Ajak Moni tiba-tiba ceria.
Untuk apa?
Tanya Sevi memandang Moni diikuti yang lainnya.
Pinjam tabletnya kita bangunkan Kak Kiren dengan Voice call.
Jawabnya.
Yes, Moni si bendahara kelompok memang jenius.
Pekik Sebi.
Ayo cepat!
Kata Duta segera berlari terlebih dahulu.
Cis.
Dengus Baim memandang kasihan pada Sitters dan bodyguardse yang ikut berlarian mengejar bayi-bayi.
"Yang sabar ya!" Teriaknya entah didengar entah tidak oleh kelima pasang pelengkap penderita itu.
Di dalam kamar Dewa membuka mata mendengar keributan kembali terpejam setelah tau ada Baim yang menghandle kelima bayi heboh itu.
Memandang pada Kireni yang masih terpejam. "Kiren," panggilnya suara lembut.
"Tidak ada respon, oh!"
Dewa kaget saat menyadari tubuh Kireni sangat dingin. "Baim!" Panggilnya cemas.
Baim dan Bodyguard yang mendengar suara panik Dewa, gegas ke kamar bosnya.
*
Guduk... guduk... guduk.
Suara langkah orang-orang berlarian di tangga.
Cklekk!
Pintu dibuka.
Gubrak!
Pintu dibanting.
Bruk!!
Duta melompat ke atas kasur, menghimpit Sora yang tertidur pulas.
"Sora, pinjam tabletnya!" Duta suara keras di telinga kakaknya.
__ADS_1
"Aaaa!"
Teriaknya kaget, kening bayi laki-laki itu berkerut merasakan tubuh Sora terasa dingin seperti balok es.
"Ada apa?" Tanya Sebi.
"Kak Sora sangat dingin seperti kulkas," jawab Bayi laki-laki itu.
O
Keempat bayi lainnya naik ke kasur. "Kak Sora!" Sebi mengguncang tubuhnya, "memang dingin."
"Tante," gantian Moni yang manggil.
Melihat Sora bergeming. "Ada apa dengannya?" Tanya bodyguard kemudian menyentuh kening Sora.
"Oh, matikan AC cepat!" Perintahnya pada salah satu anggotanya lalu membalut Sora dengan selimuti.
Apa yang terjadi dengan Sora.
Tanya pikiran Duta khawatir mengajak bayi-bayi dialog lewat telepati.
Kita membutuhkan Kak kiren membaca pikirannya.
Kata Sebi.
Apakah bisa membaca pikiran orang yang sedang tidur?
Tanya Sevi.
Untuk Kak Kiren sepertinya mungkin.
Jawab Sebi lagi.
Bagaimana kalau kita yang coba saja menjelajah ke alam mimpinya, seperti kita saat tidur saling berkomunikasi.
Usul Moni.
Tapi kita baru saja bangun, masa harus tidur lagi.
Jawab Sevi.
Apakah ada mode lain selain mode tidur koma, Choi?
Tanya Moni pada saudarinya yang diakui sepakat oleh mereka lebih tinggi ilmu sihirnya.
Tadi kamu juga yang menemukan mode itu menjelajah ke mimpiku.
Lanjut Moni.
Iya, kemungkinan masih ada mode lainnya.
Pikiran ketiga bayi lainnya setuju.
Hum, belum tau. Aku harus masuk ke laman pencarian dulu.
Jawab Choi sambil menjelajahi pikirannya sendiri.
Bagaimana dengan memanggil Kak Kireni dengan voice call, bukankah tadi rencana pertamanya itu.
Kata Duta.
Baiklah, coba cari tabletnya.
Kata Sebi. "Sitters and bodyguards tolong cariin tablet Kak Sora ya," mohonnya.
"Baik Nona," jawab mereka serentak.
Keempat bayi juga berpencar mencari tablet Sora, tiba-tiba.
Hei kalian ikuti aku.
Suara pikiran Choi.
"Ha!"
Keempat bayi segera mendekatinya, segera fokus mengembara ke dalam pikiran Choi sama seperti saat bayi penyihir itu membaca mantra.
__ADS_1
***tbc.
like vote dan hadiah, 🙏.