
Sekarang saatnya jam istirahat pertama. Xennora baru saja dari ruang musik untuk membawa catatannya yang tertinggal sebelum pergi ke lab Perdata tempat mereka kumpul. Namun saat di koridor 12 Perdata 2 untuk menaiki tangga, ia melihat seorang pria sedang mengerjakan tugas di depan kelasnya. Ditemani seorang perempuan yang sedang memandangi pria itu di sampingnya.
Xennora melihat ke arah mereka dengan pandangan aneh dan bingung. Lalu senyum jahil tercetak di wajahnya sebelum ia menghampiri mereka. Tanpa rasa bersalah, Xennora duduk di antara mereka yang masih ada sedikit ruang, menyebabkan perempuan tadi sedikit bergeser agar tidak sempit.
"Kalian... Lagi ngapain? Hehe" tanya Xennora tak tahu diri sambil melihat Fadhil dan perempuan di sebelah kanan Xennora bergantian.
Fadhil yang sedang mengerjakan tugas pengamatan di sebelah kiri Xennora menatap gadis itu sambil terkekeh lalu kembali menulis. Sedangkan gadis di sebelah kanan Xennora menatapnya tak suka dan sedikit sebal.
"Lagi ngerjain tugas nih Sen." Jawab Fadhil ramah yang dibalas senyuman oleh Xennora. Lebih mirip senyuman psycho sebenarnya.
"Wey adiknya Leo Ellery, ngapain disini?" Ucap Leo yang baru keluar dari kelasnya, 12 Perdata 1 bersama Edwin, Julian dan Ervin.
"Ganggu orang pacaran." Jawab Xennora sekenanya sambil berdiri. Tak sengaja, tatapannya jatuh pada Julian yang sepertinya enggan menatapnya ataupun Fadhil.
"Dosa, dek." Ucap Ervin.
Lah, lebih dosa pacaran lah dari pada ganggu orang pacaran?
"Udah udah, ayo pulang sister. Disini bukan tempatmu." Ujar Edwin sambil menarik lengan seragam adiknya itu. Mau tak mau Xennora pasrah lalu mengikuti langkah kakaknya menuju tangga untuk ke atas.
"Ck, lepasin ah." Ujar Xennora sambil melepaskan tangan Edwin yang masih menariknya. Setelah lepas, Xennora pun mempercepat langkahnya lalu masuk ke lab Perdata. Disana, ia sudah menjumpai Herina yang sedang berkutat dengan ratusan lembar jurnal sekolah di depannya.
Herina tersenyum kepada Xennora, yang ia balas dengan senyuman juga. Setelah membuka sepatunya, ia duduk bersila di atas karpet tebal yang ia dan kedua kakaknya bawa tadi pagi.
__ADS_1
Selang beberapa detik, Edwin dan Julian masuk tanpa Leo dan Ervin yang sepertinya pergi ke kelas Vinca untuk memulai misi mereka. Edwin pun duduk di sofa yang berada di depan Herina lalu mulai membaca beberapa keterangan murid yang pindah sekolah.
"Mana Vina?" Tanya Edwin pada Herina di depannya.
"Tadi sih sempet kesini, ngambil jurnal sekolah yang isinya sejarah sekolah ini. Terus izin baca di kelasnya aja. Yaudah gue izinin asal jurnalnya jangan sampai hilang atau rusak." Jelas Herina. Edwin pun mengangguk lalu kembali membaca data siswa.
Sedangkan Xennora diam, lalu menatap Julian yang masih berdiri di sampingnya. Merasa diperhatikan, tatapan Julian pun teralih dari Edwin dan Herina menjadi Xennora yang duduk di sampingnya.
"Apa?" Tanya Julian tanpa suara. Xennora menggeleng dengan senyum yang terpaksa.
Xennora pun beranjak untuk duduk di depan komputer yang ada di sudut ruangan. Ia menyalakan komputernya lalu memasangkan USB yang berisi rekaman CCTV tadi pagi. Tanpa diminta, Julian mengikutinya lalu berdiri dibelakang Xennora sambil memperhatikan gadis itu mengetik sesuatu.
Xennora mengulang kembali rekaman CCTV tadi pagi, namun hasilnya masih sama. Rekamannya telah dihilangkan. Xennora mengulang rekaman tadi untuk ketiga kalinya, sampai ia menyadari sesuatu.
"Eh, itu bukannya CCTV yang rusak? Tapi lampunya nyala. Berarti... Udah diperbaiki?" Tanya Xennora lalu melihat ke samping yang membuatnya terkejut. Kini, jarak mereka sangat dekat sampai Xennora menahan napasnya lalu berusaha memundurkan wajahnya. Namun Julian sepertinya tak sadar, pria itu masih memperhatikan komputer di depannya.
As expected, kini Julian juga terkesiap menyadari jarak mereka yang lumayan dekat. Bahkan tadi Julian tak menyadari jika kepalanya berada satu centimeter di atas bahu Xennora.
Setelah sadar, mereka berdua mengalihkan pandangannya ke arah yang berbeda sambil membasahi kerongkongannya. Bahkan Julian sudah berdiri tegak sambil pura pura terbatuk membuat Edwin dan Herina yang sedang berdiskusi menatap mereka aneh.
"Pada kenapa sih?"
"Gapapa.... Gapapa kok, gapapa."Jawab Julian membuat Edwin semakin curiga. Namun tak mau ambil pusing, Edwin pun kembali melanjutkan diskusi nya.
__ADS_1
Setelah sedikit agak tenang, Xennora menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu mematikan komputer dan mengambil USB nya kembali. Kemudian Xennora berdiri lalu menarik lengan Julian untuk pergi ke ruang CCTV lagi. Xennora pikir, ini saatnya serius jangan melibatkan perasaan apalagi masalah pribadi. Intinya, ia hanya ingin masalah ini cepat selesai lalu kembali ke kehidupan sebelumnya yang tenang.
Bagaimana dengan Julian? Don't ask him. Pria dengan nama tengah Matteo itu tentu terkejut. Namun ia menyadari sesuatu. Kini, bukan saatnya untuk melibatkan perasaan apalagi urusan pribadi. Julian juga ingin masalah ini cepat selesai lalu kembali menjalankan masa-masa sekolah dengan tenang.
Same thinking, same hope, same wishes, and same feeling.
...❄❄❄💙❄❄❄...
"Lo yakin Vin? Sepi banget disini gila." Komentar teman Vina, Rani ketika mereka telah sampai di depan aula belakang sekolah.
Setelah membawa jurnal sekolah di gedung 2, ia kembali ke kelasnya untuk menyimpan jurnal itu di tasnya. Vina berniat membacanya saat jam pelajaran sejarah nanti. Dan kebetulan temannya yang berambut hitam panjang itu sedang malas ke kantin. Jadi, sekarang mereka sedang berada di aula belakang sekolah yang terbengkalai tersebut, akibat dari rasa penasaran Vina dengan tempat ini.
"Yakin lah, paling di dalam cuma ada meja sama kursi yang rusak." Balas Vina santai sambil mendekati pintu aula.
Sedangkan di dalam aula tersebut, seorang siswi yang menggunakan seragam batik hitam putih, masker dan rambut yang tergerai bebas sedang sibuk dengan suntikan kecil dan botol kecil berisi cairan tak berwarna di kedua tangannya. Dia tersenyum licik di balik maskernya. Ruangan itu gelap karena penjaga sekolah memutus akses listrik kesana. Hanya ada cahaya remang-remang yang masuk, penyebabnya adalah jendela yang berdebu sehingga cahaya terhambat.
Setelah ia memindahkan cairan itu ke suntikan, ia menutup dan menaruh suntikannya di meja yang ada di hadapannya. Ia menatap dinding yang berada sedikit jauh darinya dengan tatapan kosong, ia tahu jika ada orang di luar ruangan itu.
Vina mendekati pintu, tangannya terangkat perlahan menuju knop pintu. Rani menatap sekitar dengan cemas, pikirannya melayang entah kemana. Salah satunya, takut jika disana ada makhluk halus atau semacamnya. Vina menarik knop pintu itu kebawah, lalu berusaha membuka pintu, namun tak bisa.
Pintunya terkunci.
"Aahh... Pake dikunci lagi." Gumam Vina sebal. Gadis yang notabene nya adik Ervin tersebut berusaha melihat ke dalam lewat jendela. Namun nihil, debu yang ada di dalam aula terlalu tebal. Vina tak dapat melihat apa-apa. Ia pun mendengus kecewa, lalu kembali mendekati sahabatnya yang masih berdiri agak jauh dari aula.
__ADS_1
"Dikunci Vin?" Tebak Rani. Vina mengangguk lemas lalu mengajak gadis itu untuk kembali ke kelas, niatnya sih ingin memulai membaca jurnal yang ia bawa tadi. Rani setuju, mereka pun pergi dari area belakang sekolah.
Tak lama, seorang siswi dengan rambut lurus sebahu ditambah poni keluar dari aula. Setelah memastikan tak ada orang disana, ia melihat suntikan kecil di tangan kanannya, lalu ia simpan di saku rok. Suntikan itu sudah diberi tutup khusus dengan ukuran pas. Siswi itu pun membuka maskernya lalu segera pergi dari aula belakang.