The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
Truth


__ADS_3

"Yes! Tim kita menang Vin!!" Seru Edwin yang langsung berdiri diikuti Ervin. Lalu mereka berpelukan dan melompat dengan sangat lincah, menghiraukan tatapan kesal dari tim lawan.


"Males ah, gue mau main VR dong Ju. Pinjem hehe," ucap Leo yang pasrah dengan kekalahannya. Sejenak Julian menatap sekitar, mencoba menemukan letak barang yang dicarinya, namun kemudian ia teringat saat ia dan Sofia memainkan alat itu di ruang rekreasi tempat mereka berkumpul tadi.


"Bentar, gue ambil dulu." Pamit Julian lalu bangkit dan pergi dari kamarnya.


Saat memasuki ruang rekreasi, pemandangan pertama yang ia lihat adalah Vina terbaring di karpet dengan bantal sofa sebagai alas kepalanya. Serius? Padahal suhu di ruangan ini sekitar 15°C, apa dia tak merasa kedinginan? Melihat Vina tertidur mengingatkannya pada Xennora yang tadi katanya ingin tidur juga. Kata Edwin sih Xennora belum tidur sama sekali karena terus berkutat di meja belajar nya, entah sedang melakukan apa, Edwin tak melihat.


Julian mendekati sofa tempat Xennora tidur. Di sebelah sofa itu terdapat meja kecil dan dua VR diatasnya. Julian berjongkok di depan Xennora, blazer coklat yang tadi dipakainya kini dijadikan selimut, padahal bahannya tipis. Ia sedikit merasa bersalah telah membawa Xennora sepagi ini.


Pukul 03.27 tadi seseorang menelepon nya. Dengan suara yang disamarkan, orang tersebut mengancam Julian. "Aku akan membunuh kalian satu persatu, tepat sebelum pertunjukan. Lihat saja." Setelah itu telepon dimatikan oleh si pelaku. Dengan banyak pertimbangan, Julian pun memutuskan untuk menjemput teman-temannya satu persatu. Setidaknya, akan lebih aman bila mereka bersama.


Julian memperhatikan wajah yang terlelap itu, tak ada tatapan datar, atau bahkan tatapan benci disana. Yang ada hanyalah wajah seorang gadis yang dicintainya selama bertahun-tahun. Bahkan mengencani puluhan gadis tak membuat perasaannya pada Xennora hilang, atau memudar. Perasaannya masih sama, bahkan sepertinya semakin besar. Ini aneh, padahal Julian sudah mewanti-wanti dirinya agar tidak jatuh terlalu dalam pada pesona gadis di depannya.


Julian selalu berpikiran negatif mengenai Xennora. Lebih tepatnya, ia selalu berusaha berpikiran negatif mengenai gadis itu. Dan ucapan Vina tak sepenuhnya salah, ia menuduh Xennora agar setidaknya ia sedikit lebih membenci gadis itu, sehingga perasaannya tak sedalam ini, bahkan mungkin akan hilang. Andai Xennora meng-iya-kan tuduhannya saat itu, Julian tak dapat membayangkan apa yang sedang terjadi sekarang. Andai Xennora benar berpacaran dengan Fadhil, andai Julian terus berusaha keras membenci Xennora, andai julian tidak menyerah akan prinsipnya untuk terus membenci Xennora, andai ia tak pernah menyukai Xennora, andai Xennora sangat membencinya, dan andai... Ia dan Xennora tak pernah bertemu, semuanya akan sangat berbeda.


Kata andai itu, terdengar sangat tidak diinginkan.


Kini Julian sudah lelah, ia lelah membohongi perasaannya sendiri. Ia lelah mencoba membenci orang yang dicintainya. Mau disangkal bagaimanapun, Julian masih mencintai Xennora.


Setelah memantapkan hatinya, Julian tersenyum lalu mengacak rambut Xennora pelan. "Sleep well," Julian pun berdiri lalu mengambil dua VR di meja. Tak lupa, ia menaikkan suhu ruangan menjadi 23°C. Setidaknya itu suhu normal dan tak terlalu dingin.


...❄❄❄💙❄❄❄...


"Udah siap?"


"Udah. Eh, Eireen mana?"


"Dia ngambil handphone nya dulu," Jawab Xennora yang baru keluar dari rumah. Sudah Herina duga, gaun hitam dengan bahu terbuka itu sangat cocok dengan Xennora. Apalagi rambutnya yang disanggul dengan poni tipis dan kalung perak. Tubuh Xennora juga proporsional untuk ukuran murid SMA, menambah kecocokannya dengan gaun itu.


Sudah pukul lima sore, Rani bilang ia akan memberitahukan rencana Deandra pukul setengah enam nanti. Sehingga mereka akan bersiap di sekolah saja dan menyusun rencana lebih rinci. Nazril dan Antha juga menyusul ke rumah Julian lengkap dengan pakaian berwarna hitam. Dress code kali ini memang wajib memakai pakaian berwarna hitam. Entah itu kaos, kemeja, jas, gaun, dan setelan terpisah lainnya. Tak ada yang tahu mengapa ketua teater memilih warna hitam, mungkin ada hubungannya dengan cerita yang akan dipentaskan nanti.


Tak lama, Eireen keluar lalu mengunci pintu lengkap dengan dress hitam selutut dan sepatu balet berwarna senada. Rambut lurus nya diikat menyisakan beberapa helai rambut depan yang tergerai.


"Apa kita gak terlalu formal? Anak-anak kelas bilang mereka mau pakai kaos aja sama jeans." Celetuk Vinca.


"Iya sih..." Nazril menyetujui.


"Udah gak apa-apa lah, berani beda itu keren." Balas Leo.

__ADS_1


"Yaudah ayo berangkat, yang sekelompok harus semobil. Sekalian bikin rencana." Ucap Edwin.


Ervin, Vinca, Leo dan Vina di mobil Edwin yang kini merangkap menjadi milik Leo. Julian, Sofia, Edwin dan Eireen di mobil Julian. Dan Xennora, Nazril, Herina serta Antha di mobil milik Nazril.


"Na, lo gak keberatan ikut kegiatan ini? Lo murid baru loh, udah disuguhin kejadian-kejadian kayak gini." Tanya Xennora yang duduk di sebelah kursi kemudi.


Terdengar, Nazril terkekeh pelan. Tatapannya masih terfokus pada jalanan. "Enggak lah, Ra. Gue tertarik kok sama kegiatan kalian, kayak mission impossible gitu hahaha..."


Xennora tersenyum mendengarnya. "Ya udah karena di kelompok kita cowoknya cuma Nana --ekhm, Nazril, gimana kalau kak Herina sama Antha yang ngurusin CCTV? Gue sama Nazril yang keliling sekolah. Biar gak mencurigakan, gue sama Nazril keliling setiap jeda pentas. Tapi kalian harus tetap stay di ruang keamanan. Hubungi kita kalau ngeliat hal yang mencurigakan."Jelas Xennora sambil berbalik untuk memberikan satu walkie talkie pada Herina, dan satu jam tangan berwarna silver pada Antha.


"Ya, rencana yang bagus. Lagipula, gak akan ada siapa-siapa di ruang keamanan. Kata Bu Raya, security cuma di tugaskan di depan aula dan seluruh guru pasti ada di aula," Ucap Herina.


"Pak Harto juga pernah bilang, gak semua staf sekolah bakalan hadir. Paling cuma wali kelas. Jadi, kemungkinan ada guru yang jalan-jalan di koridor itu kecil banget." Sambung Antha.


"Bagus kalau gitu. Tapi tetap hati-hati ya. Sekarang gak ada waktu buat menikmati acara. Gue harap, rencana kita berhasil," Balas Xennora.


...❄❄❄💙❄❄❄...


"Gimana? Udah ada pesan dari dia?" Tanya Ervin. Mereka telah sampai di sekolah dan kini berada di lab perdata tempat mereka selaku berkumpul.


"Belum --oh! Dia ngetik!" Seru Vina memperhatikan handphone nya.


RevaneaEmillio


^^^Kirania^^^


^^^Ah.. Vina... |^^^


^^^Rencananya ya... |^^^


^^^Bentar|^^^


^^^Kirania^^^


^^^Jadi... Kak Deandra bakalan nyulik beberapa orang yang terbilang.... Penting? |^^^


^^^Guru pengecualian|^^^


^^^Gue lagi ngobrol sama kak Deandra, dia gak tahu kalau gue ngasih tau rencananya sama lo|^^^

__ADS_1


RevaneaEmillio


|Oh ya? Bagus deh


|Orang Penting? Contohnya?


^^^Kirania^^^


^^^Ketua OSIS yang baru, Alvin. Sama anak paling populer di SAN High School, Cleine Anandari.|^^^


RevaneaEmilio


|Ok, thanks


|Eh tapi, kan kak Deandra sibuk tampil di pentas. Jadi, siapa yang bakalan ngejalanin rencananya?


^^^Kirania^^^


^^^Sama-sama |^^^


^^^Kakak kedua gue|^^^


RevaneaEmilio


|Kakak kedua lo?


^^^Kirania^^^


^^^Iya. Dia yang bakalan bawa anak-anak itu ke aula belakang. Dan... Oh my god! Di puncak acara mereka bakalan ngelepasin gas Fluorin! Please kalian harus nyelamatin semua orang!|^^^


^^^Kirania^^^


^^^Udah dulu ya Vin, kak Deandra curiga. |^^^


^^^Good luck. |^^^


"Well done..." Gumam Deandra. Di sudut ruangan, Rani menangis dengan mulut yang tertutup kain dan tangan yang terikat di belakang. Kakinya juga diikat namun ia tetap mencoba melepaskan diri.


Tentu saja, yang mengetikkan semua pesan itu bukan Rani, namun Deandra. Alvin dan Cleine? Pfft... Selain mereka populer, tak ada hal berguna lain yang akan menjadi alasan mereka dijadikan korban.

__ADS_1


Ia yakin mereka akan lebih fokus mencari dimana gas itu disimpan. Cari saja. Tidak akan ada yang bisa menemukannya, kecuali dia. Dengan begitu, Deandra dan Devan akan lebih leluasa 'mengatur' semuanya supaya berjalan dengan sangat baik.


__ADS_2