
"Instruksi, kak!" Celetuk Sofia.
"Hah? Iya? Ada masalah?" Tanya Edwin.
"Kak Julian sama Xennora gapapa nih? Kalo nginget lagi kejadian dua tahun yang lalu...."
...15 Januari 2013...
”Acara ulang tahun Leo dan Edwin”
*Xennora, Sofia, Julian, Eireen sedang mendekorasi dapur rumah keluarga Fachrunaldo dengan beberapa balon helium dan pita. Untungnya, Rafael dan Narissa pergi ke luar kota beberapa minggu. Atau mungkin, sayangnya?
Herina memaksa Edwin untuk pergi ke perpustakaan dengan alasan mau pinjam buku. Sedangkan Leo, kelasnya ada pelajaran tambahan. Saat itu Leo dan Edwin memang tidak sekelas.
Di rumah keluarga Fachrunaldo itu, Sofia dan Eireen mendapat tugas untuk membeli perlengkapan dekorasi. Sedangkan Xennora dan Julian mendapat tugas untuk memasak makanan. Karena tidak ada satupun dari mereka berdua yang memiliki niat untuk memasak, akhirnya mereka membeli sedikit makanan pokok dan banyak dessert.
Mereka beli sendiri? Oh tentu tidak. Xennora meminta tolong pada asisten rumah tangga keluarga Fachrunaldo. Memang se mager itu.
Sekitar tiga puluh menit, Sofia dan Eireen pun sudah selesai berbelanja. Terdengar suara ribut dari dapur.
".... Gak usah sok tau deh!"
Penasaran, Sofia dan Eireen pun segera berlari menuju dapur dan seketika terkena culture shock melihat keadaan ruangan yang sangat sangat berantakan itu. Dan yang paling mencolok, Julian dan Xennora yang tengah berdiri berseberangan, terhalang oleh meja makan, sedang saling menjambak satu sama lain. Keadaan mereka tak kalah kacau dari dapur itu. Krim kue di wajah mereka, dan tangan yang kotor entah sudah memegang apa*.
"Heish... Nginget nya lagi juga aku udah merinding." Komentar Eireen.
"Bener juga. Tapi cuma mereka berdua yang gak tremor kalo berhadapan sama Pak Lukman... Heh kalian! Jangan berantem deh yaa, please bantuin gue kali ini ajaa..." Pinta Leo.
"Tetap berusaha walaupun agak maksa." Komentar Vinca.
Sedangkan Xennora hanya menghela napas seraya mengangguk malas.
...Day 2...
__ADS_1
Brakk
Sofia dan Eireen melempar tasnya di dekat tas milik Julian, Xennora, Edwin dan Leo yang juga sama besarnya. Paling isinya makanan ringan, power bank dan jaket. Di sebelahnya ada tas jinjing berisi selimut tipis dan bantal kecil. Niat memang.
"Vina, kak Ervin, kak Herina sama Vinca belum datang kak?" Tanya Eireen kepada Leo. Hanya mereka bertiga yang ada di sana, sedangkan yang lain pergi entah kemana. Mungkin ke kelasnya masing-masing.
"Belum, paling bentar lagi." Jawab Leo sambil sibuk menuliskan sesuatu di whiteboard.
"Oh iya kak, minggu depan pelantikan ketua OSIS baru kan?" Sofia membuka suara.
"Iya. Kalian mau pilih siapa?" Tanya Leo.
"Emm... Masih bingung sih kak, pokoknya ketua OSIS terbaik SMA SAN tetap kak Leo... Hehe." Puji Eireen sambil mengacungkan jempol untuk Leo.
"Bisa aja." Balas Leo tersenyum.
Pokoknya Leo kalau berhubungan sama jabatan plus status, bakalan langsung mode pencitraan.
"Kak Edwin dimana, kak?" Tanya Sofia karena sedikit aneh melihat Leo sendirian.
Tak lama, pintu terbuka menampilkan Xennora dengan seragam batik hitam putih dan rok span hitam selutut, ditambah ekspresi nya yang sedikit datar, seperti biasa. Rambut brunette nya diikat sebagian dari samping. Diikuti Julian di belakangnya dengan seragam batik yang sama dan celana berwarna hitam panjang yang tidak terlalu ketat. Ekspresi Julian juga nyaris sama dengan Xennora.
Kedatangan mereka yang bersamaan tentu mendapat tatapan aneh dari Leo, Sofia dan Eireen. Sejak kapan dua Tom and Jerry didepannya menjadi akrab?
"Darimana? Tumben berduaan. Masih pagi loh." Celetuk Leo membuat Xennora dan Julian mendelik kearahnya.
Xennora dan Julian pun duduk di sofa sebelum menceritakan kronologi nya secara detail pada Leo, Sofia dan Eireen yang sudah sangat penasaran.
Xennora berjalan-jalan di gedung satu, seperti yang sudah diketahui jika gedung satu diperuntukkan untuk siswa SMP. Sehingga kedatangan Xennora tentu tak luput dari tatapan para adik kelasnya. Sebenarnya tujuan utamanya kesini tak hanya sekedar berjalan-jalan, melainkan untuk pergi ke ruang keamanan yang berisi monitor-monitor CCTV di seluruh gedung sekolah. Xennora sudah cukup penasaran dengan Pelakunya.
Saat sudah di dekat ruang keamanan tersebut, seseorang dengan arah berlawanan juga mendekati ruangan yang sama yang akan Xennora masuki. Mereka berhenti tepat di depan pintu ruang keamanan lalu saling melempar pandangan satu sama lain.
"Mau kesini juga?" Julian yang pertama membuka suaranya.
__ADS_1
Xennora hanya mengangguk dengan kedua lengan dibelakang tubuhnya. Ternyata Julian sama penasarannya dengan Xennora. Mereka pun mendekati pintu lalu membukanya. Untungnya tidak dikunci, dan yang lebih beruntung lagi, tidak ada penjaga. Jadi mereka bisa mencari rekaman sepuasnya.
Setelah menyadari tak ada siapapun di sana, mereka cepat-cepat masuk lalu Xennora menutup pintu dan mendekati Julian yang telah duduk di depan salah satu komputer. Xennora pun berdiri di samping Julian, namun sedikit lebih ke belakang, arah pukul delapan.
"Jam berapa sih?" Tanya Julian dengan tagan yang masih mengetikkan sesuatu di komputer dengan cepat. Mereka bahkan melupakan rasa canggung yang sebelumnya menghantui pikiran mereka.
"Sekitar jam 8 lebih 15 menit." Jawab Xennora sambil mengingat-ingat. Julian pun mengetikkan waktu kejadian dan beberapa rekaman CCTV pun mereka dapat.
Menit ke 15 masih tak ada tanda-tanda keanehan. Menit ke 20 sampai 25, koridor masih kosong. Di menit ke 27, mereka melihat Sofia dan Eireen yang sedang berjalan dan masih berada di depan kelas 12 Pidana 2. Sedikit lagi...
Damn!
Rekamannya rusak. Entahlah, namun tiba-tiba layarnya menjadi hitam lalu hanya menampilkan gambar buram. Tak lama, kamera hidup lagi saat menampilkan Ervin yang tengah berusaha menggendong Sofia.
"Loh?" Xennora dan Julian bingung. Julian pun mencoba mengulang video di menit ke 27 namun tetap saja. Seakan rekamannya cacat dan memang tak bisa diperbaiki seperti pecahan puzzle yang hilang begitu saja.
Yakin jika teman-temannya tak akan percaya, mereka berdua pun menyalin rekaman tersebut di USB milik Xennora. Setelah itu, mereka pergi ke basecamp dengan pikiran yang masih melayang entah kemana.
"Wahh... Kok bisa..?" Komentar Leo tak percaya.
"Ternyata pelakunya lebih pintar dari dugaan gue." Gumam Eireen.
"Terus... Sekarang gimana?" Tanya Sofia pelan. Leo, Xennora, Julian dan Eireen terdiam. Mencoba memikirkan cara lain untuk mencari tahu.
Tiba-tiba pintu terbuka menampilkan Herina dengan tas sekolah dipunggungnya dan tas camping yang ia jinjing dengan susah payah. Begitu juga dengan Ervin dan Vina di belakangnya. Herina mengepang rambutnya yang berwarna hitam namun sedikit silver tersebut, sehingga terlihat seperti tokoh Elsa dalam serial Frozen. Herina memang keturunan China-Yunani, ibunya dari Yunani dengan warna rambut yang benar-benar Silver. Sedangkan ayahnya dari China namun juga keturunan Indonesia dengan warna rambut hitam.
Terkadang, Sofia juga sedikit iri dengan rambut milik Herina.
"Halo kakak-kakak kece... Vina datang..." Ucap Vina yang mengenakan seragam batik berwarna biru muda dan biru tua yang dikeluarkan dengan rok span berwarna putih. Rambutnya yang pendek masih dapat diikat.
"Hai!" Balas Sofia, Leo, Julian dan Eireen. Vina memaklumi kenapa Xennora tidak membalas sapaannya.
Tak lama, bel berbunyi mereka pun beranjak untuk pergi ke kelas masing-masing. Namun sebelum hal itu terealisasikan, Vinca membuka pintu dengan sedikit kasar membuat Ervin terkejut.
__ADS_1
"Wahhh... Untung gak telat." Ucapnya sambil menyimpan satu tas berukuran besar. Penampilan Vinca sedikit kacau dan sepertinya ia tak punya banyak waktu untuk mengeringkan rambut. Jadi rambutnya yang bergelombang itu sedikit basah. Ya, sedikit.
Mereka pun menggeleng melihat kelakuan Vinca yang setiap harinya begitu. Setelah itu, nereka pergi ke kelas masing-masing menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan misi.