The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
Kecurigaan Leo


__ADS_3

Leo duduk di kasurnya. Ia membuka tas yang berisi tiga buku yang ia pinjam dari perpustakaan tadi, salah satunya buku tentang psikologi yang langsung dia ambil. Leo membuka halaman buku itu, ia membuka halamannya asal, tidak berniat sedikitpun untuk membacanya. Setelah Leo selidiki, ada beberapa kata yang dilingkari dengan tidak rapi, menggunakan pensil. Ia tidak yakin Xennora yang melakukannya, Bahkan jika dalam buku nya ada sedikit coretan pun Xennora akan langsung mencari penghapus. Pena pengecualian tentunya. Yaa, gadis itu termasuk perfeksionis.


Antidepresan, Mood stabilizer, Kelainan pada otak, Alkohol, Halusinasi, Nikotin, Usahakan, Eating disorder, Rumah sakit, Epilepsi, dan yang terakhir… Yoga. Mungkin ini masih terbilang sedikit untuk ukuran buku dengan jumlah 47 halaman. Hanya 16 dari ribuan kata. Tapi ini cukup mengganggu, Leo pun beranjak untuk kembali ke perpustakaan, berniat komplain. Niat memang, Padahal sudah pukul setengah tujuh malam, tiga puluh menit lagi juga perpustakaan sudah tutup.


“Kak, kak… Kak Daffin ada gak, kak?” Tanya Leo sesampainya di Perpustakaan.


“Iya… Saya sendiri.” Jawab Daffin membuat Leo menepuk jidatnya.


“Oalah iya, saya lupa…”


“Ada keperluan apa ya? Sebentar lagi Perpustakaan mau tutup.”


“Saya ada keluhan, kak.” Balas Leo lalu menyodorkan buku tadi. “Ini penuh sama coretan kak, masa buku yang habis dipinjam tidak pernah diperiksa keadaannya?” Lanjut Leo membuat Daffin mengambil alih buku itu.


“Wah… Sepertinya yang satu ini kelupaan… Oh? Kalau tidak salah, waktu itu buku ini disimpan sama anak perempuan SMA yang baru aja pinjam…” Jelas Daffin seraya melihat kartu buku perpustakaan yang ada di lembar paling belakang buku.


“Permisi, kak. Saya ingin mengembalikan buku…”


“Oh ya…. Sebentar…”


“Sepertinya anda sedang sibuk, biar saya yang menaruh kembali bukunya…"


“Ya… Silakan. Sebelumnya tolong berikan cap dulu di kolom pengembalian, dan isi tanggalnya. Stempel nya yang berwarna biru.”


“Sudah, kak. Saya pulang dulu, lain kali saya akan meminjam buku di sini lagi.”


“Iya… Terimakasih, hati-hati di jalan.”


“Anak itu memang sering meminjam buku di sini, dan dia juga mengembalikan buku dalam keadaan semula. Makanya saya tidak curiga sedikitpun. Dan hari itu… Itu terakhir kalinya dia berkunjung ke sini. Sampai saat ini, dia belum datang lagi, untuk menepati janjinya.” Jelas Daffin seraya memperlihatkan kartu buku perpustakaan Kepada Leo.


“Xennora?”


“Iya, kenal?”


Leo mengangguk samar. Tunggu, ia memang tahu jika Xennora pernah meminjam buku ini, tapi tidak mungkin kan gadis itu yang terakhir kali meminjam dan malah mencorat-coret buku seperti ini? Itu berbanding terbalik dengan kebiasaannya.


“Ini ada yang salah deh, kak. Gak mungkin Xennora yang terakhir pinjam buku ini, pasti ada yang baca di sini kan?” Tanya Leo mencoba berpikir positif.

__ADS_1


Daffin pun mengecek daftar pengunjung dengan buku yang mereka baca dalam komputernya, namun nihil. Hanya ada tiga orang yang membaca buku itu, Daffin bilang hanya Xennora yang masih aktif berkunjung sedangkan dua orang lainnya entah kemana, sepertinya berkonsultasi dengan Psikolog.


Kini Leo berbaring di kasurnya, menatap langit-langit kamar dengan tatapan menerawang. Apa maksud kata-kata yang Xennora lingkari? Xennora bukan tipe orang yang berlindung dari kata ‘iseng’. Dia cukup serius untuk ukuran seorang gadis SMA. Ada beberapa kata yang mengganjal bagi Leo. Yaitu Anti depresan, Alkohol, dan Nikotin. Maksudnya apa coba? Kan Leo jadi mikir yang enggak-enggak.


Semua kata-kata itu punya makna tersendiri, Leo yakin itu. Oh, bisa saja Xennora stress karena saudari kembarnya meninggal, lalu dia terus merasa bersalah sampai saat ini, itu sebabnya gadis itu melarikan diri menuju semua hal yang tidak sehat itu? Bisa jadi. Tapi Leo perlu bukti sehingga dia bisa membicarakan hal ini dengan Xennora. Tapi Bagaimana cara Leo untuk mencari bukti? Xennora juga tidak mungkin langsung mengaku saat ditanya. Yang ada, gadis itu akan balik menyerangnya. Lagipula… Bisa jadi Xennora hanya iseng. Pernyataan ini sedikit lemah… Tapi entahlah, Leo hanya akan mempercayai ini.


“Ed, lo ngerokok?”


“Enggaklah gila, mana mungkin.”


“Lah, itu di tangan lo?”


“Gue ambil di deket pintu kamar Xennora.”


Atau mungkin… Leo akan mempercayai teori nya yang pertama?


...***...


“Eh ada apaan tuh kak?”


Julian yang sedang mengunyah churros nya langsung memperlihatkan sebuah brosur tepat di depan wajah Xennora, membuat gadis itu terkejut sampai memundurkan wajahnya dengan cepat. Karena kesal, Xennora memukul tangan Julian lalu mengambil brosur itu. Julian yang biasanya meringis Ketika dipukul, kini malah terkekeh melihat tingkah Xennora, karena ya… Pukulannya tidak sakit sama sekali. Kejadian seperti ini adalah yang ketiga kalinya. Terakhir kali, saat Julian memperlihatkan gelang milik Xennora tepat di depan wajah pemiliknya, beberapa minggu sebelum kejadian di sekolah waktu itu. Dan yang pertama…. Itu saat mereka berdua masih perang dingin. Sepertinya itu terjadi di semester pertama Xennora sebagai murid SMA.


“Eh sorry sorr—AHAHAHAHAHA LAWAK BANGET LO!” Julian tertawa Ketika Xennora menatapnya. Jujur, itu lucu menurut Julian. Beneran lucu, lawak, bukan imut.


Xennora terlihat menahan emosinya supaya tidak meledak-ledak. Setelah dirasa tidak bisa mengontrol emosinya kali ini… Xennora pergi meninggalkan mereka, Bahkan meninggalkan Antha yang buru-buru menyusulnya.


Julian bahkan masih mengingat wajah Xennora waktu itu, sampai sekarang. Entah mengapa, setiap melihat wajah Xennora bagaimanapun ekspresi yang dia tampilkan, itu terlihat menggelitik karena Julian terus mengingat wajah lucu itu.


“Festival musik mingguan?” Gumam Xennora.


“Iya, katanya setiap malam minggu ada festival musik. Semua orang bisa nyanyi di atas mimbar itu. Gratis, bahkan dapet souvenir.” Balas Julian setelah menghabiskan churros nya.


Xennora pun mengangguk lalu melihat orang-orang yang mengelilingi mimbar berukuran setidaknya 6x4 meter itu. Sepertinya belum ada partisipan lagi, karena dari beberapa menit yang lalu hanya ada dua orang penyanyi. Suara mereka indah menurut Xennora. Keduanya sama-sama memiliki falsetto yang menenangkan.


“Yuk.” Ajak Julian tiba-tiba sambil memegang tangan Xennora, bersiap untuk pergi entah ke mana.


“Ke mana?”

__ADS_1


“Ke depan sana. Ayo sumbangkan suara emas lo itu.”


“Enak aja, malu tau? Gue nyanyi di ruang musik aja pas gak ada orang.” Tolak Xennora.


“Gapapa, ada gue.”


“Lo… Nyanyi juga kak?”


“Iya lah. Makanya gue ngajak lo.”


“Emang lo bisa nyanyi?”


Julian terdiam sebentar, menampilkan wajah pasrah lalu kembali menatap Xennora. “Bisa.” Balasnya.


Bohong. Sepanjang Xennora bernyanyi, Julian itu tidak membuka mulutnya. Malahan yang menyanyikan part Julian justru pria yang bernyanyi pertama tadi, sedangkan Julian dengan santainya memetik gitar tanpa rasa bersalah. Tapi yang membuat Xennora lebih tidak nyaman lagi, banyak orang yang berbisik jika dirinya mirip salah satu diva dari Indonesia, Carissa Putri. Xennora tebak, mereka yang berpikiran seperti itu pasti usianya tidak jauh berbeda dengan Bunda nya.


“Yah… Padahal gue pengen banget nyanyi bareng lo, tapi cowok tadi keburu minta buat nyanyi sama lo.” Ujar Julian disela kesenggangan mereka setelah berjalan menjauhi kerumunan panggung. Ia memainkan souvenir berupa gantungan kunci yang diberikan oleh staf acara tadi.


“Bohong, orang gue denger sendiri lo bilang makasih sama dia.” Balas Xennora malas membuat Julian tertawa.


“Emang gue bilang apa gitu tadi?”


“Thanks ya udah nyanyi bareng…. Ekhm, temen gue.” Jawab Xennora sedikit salah tingkah.


“Apaan, lo gak denger apa yang gue ucapan berarti. Orang gue bilangnya ‘thanks udah nyanyi bareng pacar gue’.” Goda Julian yang memang begitulah kenyataannya.


“Bodo amat, lo kira gue bakalan baper kak?”


“Gue gak yakin sih, gue gak tau gimana cara baperin lo, Sen.”


“Gue gak gampang baper orangnya.” Balas Xennora percaya diri.


“Oh ya? Gue bilang ‘sayang’ baper gak? Dear? Honey? Darling? Chagi? Yeobo? Amore? Bee? Sweety? Baby?”


Xennora menjauh dari Julian, merinding.


“Gue udah punya banyak referensi. Tinggal pilih. Gimana?” Tanya Julian percaya diri membuat Xennora mendengus tertawa.

__ADS_1


“Cringe parah.” Komentar Xennora setelah menatap Julian aneh lalu pergi mendahului Julian yang tengah tertawa.


“Eh, ini yang barusan nyanyi ya? Boleh minta foto? Kamu mirip banget sama Carissa Putri.”


__ADS_2