The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
We're Friends Now?


__ADS_3

Sore ini, Xennora menunggu di halte bus dekat firma hukum tempat Bhiyan bekerja karena pria itu berjanji akan mentraktir dia dan dua sepupunya dalam rangka gaji pertama Bhiyan sebagai Jaksa berlisensi. Mengenai Cathleen yang tiba-tiba berteriak saat di kelas tadi, Xennora yakin untuk tidak menganggap gadis itu teman setelah ini. Memalukan, ingin rasanya pindah ke tempat duduk yang lain yang berjauhan dengan Cathleen.


Di seberang sana, Julian yang baru keluar dari toko perhiasan dan bersiap untuk menyebrang tiba-tiba tertegun begitu mengetahui keberadaan seorang gadis berambut brunette sepundak yang tengah duduk di halte bus seberang jalan. Saat lampu merah, Julian Spontan berlari sampai menabrak beberapa orang yang berjalan berlawanan arah dengannya.


Aa’ Bhiyan


|Aa udah keluar nih, kamu di mana?


^^^ You^^^


^^^Bentar, A. Aku ke sana sekarang, ini aku di halte seberang|^^^


Tepat setelah Xennora berdiri karena melihat Bhiyan keluar dari Firma Hukumnya, seseorang menarik dan memeluk Xennora yang membuat gadis itu terkejut. Aska yang melihatnya dari kejauhan pun terkejut. Setahu nya, Xennora belum memiliki pacar. ‘Mungkin baru jadian.’ Pikir nya.


“Xennora… Aku udah cari kamu ke mana-mana…” Isak Julian yang masih memeluk Xennora. Ternyata apa yang ia dengar dan lihat tadi bukan hanya halusinasi ataupun kebetulan. Ini benar-benar Xennora…


Lima detik kemudian, Xennora sadar lalu melepas paksa pelukan Julian dan menamparnya. Julian terkejut lalu mundur satu langkah. Ini terlalu cepat, apa yang salah? Gadis di depannya ini memang benar Xennora, Julian tidak mungkin berhalusinasi saat ini.


“Kamu siapa? Peluk orang sembarangan… Denger ya kak, mas, atau apapun itu. Saya Mahasiswi Fakultas Hukum, dan saya tidak segan untuk menggugat kakak atas kasus pelecehan.” Tukas gadis itu membuat Julian lebih terkejut lagi.


“Ini aku, Ra… Kakak kelas kamu… Julian Matteo Kayden…”


“Julian? Aku gak punya kakak kelas yang namanya Julian Matteo Kayden. Jangan ngaku-ngaku deh mas, satu-satunya kating ku yang namanya Julian itu ya Julian Bhiyantara. Oh… Kakak ini yang ke kelas tadi pagi ya? Yang diteriakin Cathleen?”


Julian tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan Xennora karena sejujurnya Julian masih tidak mengerti akan semua ini. “Ra, gak lucu…” Ujar Julian seraya terkekeh.


“Siapa juga yang ngelawak…”


“Sen, siapa? Pacar kamu?” Tanya Bhiyan yang kini sudah berdiri di samping Xennora. “Tapi tunggu bentar… Kamu anaknya Pak Azkari Kayden kan?” Tanya Bhiyan memuat Xennora menatapnya seakan bertanya ‘Siapa?’.


“Pemilik perusahaan KayChief Group…. Masa kamu gak tau?” Jawab Bhiyan menyadari ekspresi yang diberikan Xennora. Jawaban Bhiyan tentu membuat gadis itu membelalak terkejut.


“Oh iya kah?! Nah ini berarti tambah aneh kan. Mana mungkin aku punya kakak kelas orang terkenal gini. Udah, yuk A. Kita pergi aja, pamit ya kak. Kurangin halusinasi…” Pamit Xennora seraya menyeret Bhiyan untuk pergi dari sana.


Ternyata tidak ada yang berubah… Perkataan gadis itu masih semenyakitkan dulu…


...***...

__ADS_1


“Dia pacar kamu?” Tanya Bhiyan ketika mereka sudah di rumah dan bersiap untuk memakan semangkuk bakso ditemani Silvana dan Rakha yang kebetulan sama-sama sudah menyelesaikan mata kuliah mereka. Xennora menggeleng lalu menyuapkan sesendok bakso yang sangat cocok dimakan saat cuaca dingin seperti ini.


“Dia siapa?” Tanya Silvana tidak mengerti.


“Tadi ketemu kembaranku.” Jawab Bhiyan ngaco, namun Silvana sudah tahu siapa orang yang dimaksud.


“Julian Kayden?” Yep, kesamaan nama depan itu terus membuat Bhiyan ngaku-ngaku kalau dia itu kembaran anak sulung keluarga Kayden. Silvana sampai bosan mendengarnya.


“Heem. Pacarnya Xennora loh Van…”


“Enggak ih, ngaco.” Kesal Xennora membuat Bhiyan terkekeh.


“Ngomong-ngomong Sen… Pembagian kasus harusnya udah diumumin kan?” Tanya Bhiyan.


“Iya, aku dapet kasus 27/2/19…” Jawab Xennora membuat Bhiyan tertegun.


“Oh, kasus bunuh diri kemarin-kemarin itu?” Tanya Theo membuat Xennora mengangguk lemas.


“Kenapa lemes gitu? Harusnya bangga dong dapet kasus yang gampang. Tinggal bikin penyelidikan TKP doang.” Ujar Silvana.


“Gak sesimpel itu Van… Aku rasa itu bukan kasus bunuh diri biasa…” Balas Bhiyan membuat Xennora menatapnya setuju.


...***...


Vinca pulang ke apartemennya. Selalu seperti ini… Di dunia ini, dia tidak memiliki Siapapun. Setiap orang yang datang, mereka akan pergi kemudian. Pada akhirnya, Vinca akan sendirian… Lagi. Apalagi setelah kepergian Ibunya empat tahun yang lalu. Ya, tepat setelah tuduhan Vinca terhadap Xennora. Sepertinya ini yang namanya karma instan, setelah acara pemakaman sore harinya, Vinca diajak tinggal bersama nenek dan kakaknya. Ia tidak punya Ayah. Dari lahir ia tidak punya seorang Ayah, yang literally merawat dan menjaganya. Tidak ada sosok itu.


Vinca tinggal beberapa bulan bersama nenek dan kakaknya, tapi dia masih tahu diri. Akhirnya setelah ia lulus di salah satu SMA di Bandung, ia pun mencari pekerjaan. Salah satunya jadi baby sitter atau pengasuh anak-anak yang usianya berkisar antara dua sampai enam tahun. Dengan uang hasil kerja keras sendiri, Vinca mencari kosan yang dekat dengan Kampusnya. Kebetulan, pamannya akan pindah ke Sumatra karena urusan pekerjaan. Beliau menitipkan apartemennya kepada Vinca dan bisa dibilang Vinca menjadi pemilik sementara apartemen itu entah sampai kapan.


Kehadiran anak-anak di rumahnya memang sangat menyenangkan. Membuat suasana rumah itu ramai dan terasa hangat. Tapi tetap saja, pada akhirnya Vinca akan sendirian. Jika hal itu terjadi, Vinca akan menyendiri. Ia akan mengurung diri di kamar, tanpa khawatir akan ada yang menginterupsinya untuk menyuruh ini itu. Sendirian tidak seburuk itu… Sampai kau menyadari kalau kau butuh seseorang untuk mendengarkan ceritamu. Seseorang yang dapat memberimu kata-kata penyemangat, seseorang yang dengan suka rela membagikan cerita mereka, seseorang yang dapat dijadikan tempat berkeluh kesah, dan seseorang yang dapat memelukmu tanpa alasan…


Saat kalian sadar akan hal itu… Kalian juga akan tahu betapa buruknya sendirian. Betapa sepinya ruang dan waktu, betapa lelahnya pikiran, betapa terasanya air mata yang mendesak untuk keluar.


Satu orang… Setidaknya hadirkan saja satu orang yang dapat mendengar ceritanya… Vinca hanya meminta satu orang, apakah permintaan itu terdengar serakah?


“Haii, sorry aku ganggu malem-malem, tapi… Teh Silvana mau ngasih ini, katanya sih dia masak kebanyakan, tapi gak usah percaya. Dia cuma gengsi buat berbagi ke tetangga…” Ujar seseorang di seberang pintu.


“Xennora?”

__ADS_1


“Maaf, aku ganggu ya?”


“Eh, Enggak kok, ayo masuk dulu.” Ajak Vinca. Xennora pun Menurut, gadis itu duduk di sofa sedangkan Vinca tengah menuangkan berbagai macam makanan pemberian Silvana ke mangkuk miliknya. Agar mangkuk-mangkuk milik Silvana bisa langsung dicuci lalu dikembalikan kepada pemiliknya.


Baiklah, mari kita luruskan satu hal di sini. Semua tuduhan yang Vinca berikan kepada Xennora semata-mata karena ia diperintah oleh si gila Reydevan. Pria itu mengancam di telepon tepat setelah Vinca menaiki taksi di malam saat Julian baru selesai dengan operasi nya. Si gila itu mengancam akan membunuh satu-satunya orang yang Vinca sayang, Ibu nya. Itu sebabnya Vinca rela merusak hubungan pertemanan antara dia dan Xennora, bahkan antara dia dan yang lainnya. Nazril, Antha, Kak Herina, Kak Edwin, Vina, Kak Julian, Sofia, Kak atau Bang Ervin, Bang Leo, dan… Eireen. Ia menghancurkan semuanya.


Tapi ternyata tetap saja, Ibu nya akhirnya mati di tangan pihak mereka. Ya… Ibu kesayangannya itu, satu-satunya orang yang Vinca punya… Dibunuh begitu saja. Vinca marah, ia tidak rela semua kriminal itu dibiarkan hidup begitu saja. Mana kinerja Polisi yang bilang akan menangkap mereka? Mana hukum dan keadilan? Mana arti sebuah janji?


Karena itulah, Vinca akhirnya mendedikasikan dirinya untuk belajar segala tentang hukum. Ia berjanji, suatu saat ia akan memberikan hukuman paling berat untuk para kriminal itu. Bukan hukuman mati, ah… rasanya tidak seru jika hanya melihat mereka mati dalam beberapa detik. Vinca… Menginginkan hukuman yang lebih dari itu… Ia menginginkan penyiksaan. Jika boleh, izinkan Vinca untuk memberikan hukuman-hukuman penyiksaan paling sadis di dunia ini pada mereka.


“Hey… Cuci piring kok sambil ngelamun.” Kekeh seseorang di samping kanan Vinca membuatnya sedikit berjengit kaget.


“A Bhiyan bilang jangan cuci piring sambil ngelamun, nanti matanya merah.” Celetuk Xennora sambil membantu mengeringkan wadah yang sudah dicuci dengan menggunakan lap bersih.


Vinca terkekeh pelan. “Kok bisa bikin mata merah?”


Xennora mengangkat bahu nya tidak tahu. “Gak tau tuh, emang dasarnya aja A Bhiyan aneh. Mungkin takut sabunnya nyiprat ke mata kali ya?” Tebak Xennora membuat Vinca tertawa pelan. Jujur saja, ia masih canggung jika dihadapkan dengan Xennora.


Saat pertama kali bertemu Xennora di kampus, ia sangat terkejut apalagi ketika mengetahui fakta kalau gadis itu adalah kakak tingkatnya. Padahal kan mereka seumuran. Vinca juga pernah meminta maaf saat itu, atas tuduhan tak beralasannya pada Xennora, tepatnya saat istirahat di hari pertama ospek. Anehnya, permintaan maafnya malah membuat Xennora terkekeh. Vinca sempat khawatir gadis itu akan merundungnya habis-habisan. Apalagi jabatan Xennora adalah kakak tingkatnya, tidak jarang ada banyak kakak tingkat yang bertindak semena-mena terhadap mahasiswa baru. Dan Vinca takut hal itu akan terjadi dalam kehidupan kampusnya.


Bisa dicatat, jawaban Xennora ternyata malah membuat Vinca terheran-heran karena sangat jauh dari ekspektasi. ‘Apaan deh? Baru kenalan udah minta maaf?’ Jawabnya sambil terkekeh, teman-temannya juga yang kini Vinca kenal sebagai Kak Raditya dan juga Kak Yuna. Dulu, Vinca memang memanggil Xennora dengan sebutan ‘kak’ juga. Namun kemudian gadis itu menepis dan bilang kalau mereka seumuran, jadi santai saja. Ya, tentu saja Vinca mengetahui itu…


Yang membuat Vinca heran, seberapa besar sih perubahan pada diri nya hingga membuat Xennora pangling? Dan fakta mengejutkan ia dapat lagi di tahun itu. Xennora hilang ingatan… Vinca sempat melihat di postingan Insta Leo, pria itu memposting foto Xennora dengan caption ‘Can u come back home? Don’t disappear, I’m sorry…’ itu sekitar seminggu kurang setelah pembagian ijazah kelas 12. Dan tentunya saat itu Vinca tidak mengetahui apa yang tengah terjadi.


Ia jelas-jelas ingin mengatakan pada semua orang yang mengenal Xennora bahwa gadis itu baik-baik saja, kalian harus datang ke sini, dia bersamaku, dia sangat merindukan kalian, dia… Merindukan rumahnya.


Tapi entahlah, rasanya mengirim pesan kepada Leo saja sudah membuat nyali nya ciut. Ah… Bagaimana kabar sahabatnya ya? Jurusan apa yang dia ambil… Vinca sangat merindukan Eireen. Sangat. Ini terdengar konyol namun Vinca merindukan bagaimana mengerikannya suara Eireen saat bernyanyi hahaha… Gadis itu pernah bilang padanya kalau ia ingin menjadi artist atau seorang aktris. Ia pasti tengah berusaha menggapai mimpinya itu.


‘Udah berhenti, Ca… Eireen pasti udah benci sama lo. Jangan ngarang, kasian—’


“Kamu gak kesepian tinggal sendiri di sini?” Tanya Xennora saat pekerjaan mereka sudah beres. Bahkan Vinca tidak menyadari itu.


“Enggak sih… Aku udah terbiasa.”


“Bohong.” Balas Xennora membuat Vinca menatapnya penuh arti. Kini, Xennora balik menatap Vinca tajam membuat gadis itu sedikit ketakutan. Kurang dari satu detik, Xennora mengubah ekspresinya jadi tersenyum lebar. “Kalau kamu kesepian atau butuh temen cerita, bilang aja. Toh ke apartemennya A Bhiyan gak bikin ngos ngosan kayak abis marathon.” Gurau Xennora sambil menata mangkuk-mangkuk milik Silvana.


“Udah ya, aku pulang dulu. Udah malem, gak usah di anter ke depan. Inget, kalau kamu butuh temen, cari aja aku! Aku bakalan datang.” Teriak Xennora dan tak lama, terdengar suara pintu yang ditutup. Vinca masih mematung di depan wastafel, kalimat yang Xennora ucapkan masih sama, sejatinya gadis itu tidak berubah. Hanya kepribadiannya saja yang berubah menjadi ceria dan sedikit lebih ekstrovert.

__ADS_1


If you need a friend, then just call me. I’ll be there…


__ADS_2