The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
Confess


__ADS_3

"Achoo! "


Xennora kembali menatap pantulan dirinya di cermin rias. Napasnya terdengar bimbang membuat Antha yang sedang bermain dengan Julio menatapnya aneh. Dilihat penampilan Xennora dari atas ke bawah, tak ada yang aneh. Rambut brunette bergelombang Xennora yang panjang terlihat rapi, ditambah jepit rambut berbentuk bunga putih dengan mutiara ditengahnya, dan tiga buah kristal kecil yang menggantung. Riasan yang natural dan anting yang senada dengan jepit rambut nya. Melihat wajah Xennora seperti ini saja sudah nyaris sempurna menurut Antha. Kenapa gadis itu harus merasa gugup?


Penampilan Xennora lebih seperti bidadari, benar-benar terlihat seperti itu karena ia memakai pakaian serba putih. Kemeja berbahan tipis tanpa lengan yang sepertinya satu stel dengan blazer elegan yang bahannya lebih tipis lagi, yaitu sifon. Ditambah rok sedikit diatas lutut berwarna putih yang berbahan jeans. Dan jangan lupakan heels setinggi sembilan centimeter dengan warna senada.


Satu kata untuk Xennora, sempurna.


"Lo beneran gak akan ikut Ta?" Tanya Xennora menatap pantulan Antha dari cermin.


"Enggak lah, ini kan acara mama lo. Kok gue harus ikut? Lagian, habis kelas tari gue harus les dua jam lagi. Bunda daftarin gue les, padahal belum gue iya-in." Curhat nya membuat Xennora tersenyum tipis.


"Gue berangkat sendiri nih?" Tanya Xennora sekali lagi.


"Iya Ra, yaampun. Buruan, mumpung om sama tante lagi keluar kota. Ini kesempatan lo pinter, kapan lagi kan ketemu sama mama kandung lo?" Antha mencoba meyakinkan Xennora yang terlihat sedang menimang keputusan.


"By the way, kak Leo sama kak Edwin mana? Sepi banget nih rumah." Tanya Antha.


Xennora berdiri lalu mengambil handphone nya di nakas dan memasukkannya ke tas selempang warna putih. "Kerja kelompok mereka, tadi pagi ada yang ngetuk pintu bar bar banget ternyata kak Herina sama temennya ngajak kakak gue kerkom. Padahal gue niatnya mau bangun jam delapan." Ucap Xennora yang dibalas anggukan dari Antha.


"Udah siap? Yuk berangkat." Ajak Antha.


...❄❄❄💙❄❄❄...

__ADS_1


Xennora memperlihatkan undangan dari handphone nya kepada security. Setelah itu ia memasuki ballroom dengan gugup. Saat melihat Carissa dan mempelai pria disampingnya, Xennora terdiam. Memperhatikan Carissa dan Irfan yang tengah tersenyum di pelaminan pada puluhan kamera di depan mereka yang berasal dari berbagai acara infotainment.


Xennora bahkan baru melihat ibunya secara langsung kali ini. Ia sering melihat Carissa di televisi atau alat elektronik lain seperti Hanphone dan laptop, tapi tak pernah terpikirkan sekalipun ia akan menemui Carissa langsung seperti ini. Ia bahkan melupakan fakta bahwa disekitarnya terdapat banyak publik figur yang mendatangi pesta tersebut.


Xennora menatap ibunya rindu. Dalam hati ia menyangkal, Carissa saja meninggalkannya saat ia berusia Empat bulan, apa yang harus dirindukan? Xennora tertawa kecil, meremehkan dirinya sendiri, mentertawakan dirinya sendiri. Tiba-tiba, Carissa menjatuhkan pandangannya pada Xennora membuat gadis itu sedikit terkesiap. Perlahan, Xennora tersenyum tipis membalas senyuman ibunya. Setelah itu, Xennora mengakhiri kontak mata mereka lalu pergi dari sana dengan mata yang berkaca-kaca dan memilih pergi ke toilet membuat Carissa tersenyum kecewa melihat kepergian putrinya itu.


Seharusnya ia tetap bersama dengan putrinya, seharusnya ia tetap menahan diri, seharusnya Xennora bersamanya, seharusnya.... Ia tak memilih karirnya.


...❄❄❄💙❄❄❄...


Julian tersenyum pada siapa saja yang menyapanya dan kedua orang tuanya. Baru saja mereka datang, sudah disambut oleh pengantin. Alhasil mereka segera menyapa Carissa dan Irfan di pelaminan kecuali Julian yang izin pamit ke toilet. Lagipula ia tak mengenal dengan baik Irfan dan Carissa. Setelah itu, ia membenarkan dasinya di cermin lalu keluar dari toilet untuk segera menyusul Azka dan Kamila yang sudah duduk di salah satu meja.


Merasa familiar, Julian melihat seorang gadis yang membelakangi nya duduk sendirian. Rambut nya mengingatkan Julian pada seseorang. Setelah itu, Julian pun mendekati meja Azka dan Kamila yang terletak jauh di depan gadis itu. Julian melihat ke belakang, tepat dimana gadis itu duduk, dan benar saja. Dia Xennora.


"Temen..?" Azka terdiam sebentar, tak menyangka jika Julian memiliki teman disini. "Yaudah sana." Jawab Azka membuat Julian segera bangkit lalu duduk di depan Xennora yang sedang menunduk.


"Kok lo ada disini?" Tanya Julian membuat Xennora mendongak. "Sendirian lagi." Gumam Julian membuat Xennora terkekeh.


"Menghadiri undangan lah." Jawab Xennora sambil meminum soda nya.


"Sendiri?" Julian memastikan yang dijawab anggukan oleh Xennora.


Julian menghela napas setelah itu ia teringat sesuatu. "Oh iya Sen. Tentang kejadian di lantai B1 itu... Gue minta maaf ya. Jujur gatau kenapa gue bisa semarah itu..." Ujar Julian. Xennora masih terdiam menatapnya. Dan entah kenapa pikiran Julian kembali mengingat kejadian di ruang musik. Apa kejadian itu yang membuat Julian marah?

__ADS_1


Julian segera menggelengkan kepalanya menghilangkan dugaan yang ia buat. Lalu kembali menatap Xennora yang masih setia menatapnya.


Sekitar lima detik tatapan mereka saling terpaut. Hingga akhirnya Xennora mengakhirinya karena menyadari jika Carissa dan suaminya berjalan mendekati meja mereka. Menghela napas lelah, Xennora berdiri lalu mengambil tas miliknya yang berada di meja dan kemudian pergi ke tangga.


Julian terkejut melihat kepergian Xennora yang mendadak. Apa Xennora tak akan memaafkannya? Menepis pikiran negatif di otaknya, Julian pun segera pergi menyusul Xennora. Biar bagaimanapun, gadis itu belum menjawab pertanyaannya. Disisi lain, Carissa tersenyum kecewa melihat kepergian putrinya. Iya, Xennora adalah anak kandung Carissa dan Rafael.


"Sen! Xennora!" Panggil Julian pada Xennora yang tengah menaiki tangga. Di lantai dua, terdapat banyak kudapan baik manis ataupun asin. Xennora duduk di meja dekat pagar pembatas yang memperlihatkan pelaminan di bawah. Seorang pelayan pun datang lalu memberikan sepiring kecil anggur dan pudding. Julian yang telah sampai segera duduk di depan Xennora yang melihat ke bawah.


"Sen, gue minta maaf... Beneran. Buat kejadian-kejadian sebelumnya juga.... Maafin gue karena sering bikin lo kesel..." Ujar Julian membuat Xennora menoleh karena pria di depannya terus menggumamkan kata maaf.


"Alasannya?" Tanya Xennora membuat Julian yang sedang menunduk segera mendongak.


"Alasan....?" Tanya Julian tak mengerti.


Xennora mengangguk, "apapun yang lo lakukan pasti harus ada alasannya dulu kan?" Tanyanya membuat Julian terdiam.


"Ya... Ada..." Gumam Julian membuat Xennora tersenyum lalu bersandar di bahu kursi.


"Apa?" Tanya Xennora penasaran namun Julian sepertinya tak berniat menjawab Xennora.


"Apa ih kaaaak..." Paksa Xennora gemas karena pria di depannya tak kunjung menjawab. Julian menatap Xennora ragu, satu detik kemudian ia mengalihkan pandangannya membuat Xennora mendesah kecewa. Kalau soal permintaan maaf Julian sih, Xennora sudah memaafkannya dari lama. Lagipula ia tak terlalu mempermasalahkan Julian yang selalu menyulut amarah nya, hanya merasa kesal. Itu pun hanya sebentar.


"Gue... Suka sama lo."

__ADS_1


Akhirnya Julian membuka suaranya.


__ADS_2