The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
Real Copycat


__ADS_3

“Apa lagi…?!”


“Gue mau nanya sesuatu. Kesini bentar napa?!”


“Ck, gak tau ya kalau gue lagi sibuk?”


“Ngerjain skripsi doang? Udah di sini aja!”


“Gak mau, males.”


“Tumben, waktu SMA rasanya kalau denger nama Xennora langsung angkat kaki. Sekarang masih berhasil gak nih?”


“… Emang Xennora ada di sana?”


"Haha, masih berhasil kayaknya. Xennora masih pergi, bentar lagi ke sini deh. Buruan ish ada yang mau gue tanyain!”


“Dih, kasar amat jadi pengacara.”


Setelah itu Julian memutuskan panggilan itu lalu bersiap menuju kampus. Ia memang sedang berada si rumah saat si berisik Cathleen meneleponnya. Dengan kaos putih, celana jeans, dan jaket kulit berwarna hitam, ia mengambil tas nya lalu pergi ke basement untuk menaiki mobilnya.


Belakangan ini ia tidak bisa fokus mengerjakan skripsi nya karena kejaran banyak wartawan. Julian biasanya mengerjakan skripsi di luar apartemen karena ia mudah bosan, tapi sekarang tidak bisa, karena kemanapun ia pergi, pasti ada saja wartawan yang terus mengikutinya.


Lihatlah, bahkan di gerbang depan kampus sudah terdapat enam sampai delapan wartawan yang tengah bersiap walaupun Julian bisa saja tidak datang ke kampus hari ini. Mereka berdiri setelah melihat kedatangan mobil Julian. Spontan, Julian langsung sedikit mempercepat mobilnya menuju parkiran kampus sehingga pak satpam juga bisa dengan cepat menutup kembali gerbang kampus.


Setelah mengucapkan terimakasih, Julian pun berjalan menuju ruangan tempatnya kemarin diinterogasi. Julian memang tidak sepenuhnya mengerjakan skripsi di rumah, itu karena pikirannya terus melayang ketika mengingat obrolan Ibu nya dengan Bunda Carissa. Yang Julian tangkap di sana adalah Bunda Carissa yang ingin cepat-cepat bertemu dengan putrinya, Xennora. Selebihnya Julian tidak tahu karena obrolan Ibunya dengan Bunda Carissa cukup random.


Setelah mengetuk pintu, Julian ditarik masuk ke dalam. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Cathleen. Rasa-rasanya jiwa Julian ditarik keluar dari raganya. Tarikan gadis itu sangat kuat dan cepat, Julian tidak mengerti lagi.


“Jelasin ini apa.” Ujar Cathleen tajam. Julian yang masih setengah sadar hanya dapat memandang layar laptop di depannya bingung.


Sebuah rekaman kamera pengawas memperlihatkan seorang pria berjas mirip sekali dengan Julian mulai dari potongan rambut belakang sampai tinggi dan bentuk badan yang membelakangi kamera. Tak lama ada dua orang berjas lain yang menghampirinya dengan menggunakan kacamata hitam. Pria mirip Julian tadi mengedarkan pandangannya was-was lalu memberikan amplop yang terlihat cukup tebal untuk mereka, seraya memerintahkan mereka untuk segera pergi. Latar tempat itu terlihat seperti di dekat apartemen Julian. Lebih tepatnya di basement apartemen Julian.

__ADS_1


Julian terlihat bingung walaupun ia menonton video itu sampai akhir. “Maksudnya?”


Cathleen menghela napas kasar. Vinca, Fikri dan Risa tidak bisa menyela jika sudah seperti ini. “Itu lo kan?! Jangan pura-pura gak tau!”


“Kedua laki-laki berjas ini kemudian masuk ke kantor KayChief Group lalu pergi ke ruangan IT di mana para karyawan sedang diliburkan karena memperingati hari ulang tahun perusahaan. Tapi mereka bisa dengan mudah masuk ke perusahaan yang bisa mengartikan jika mereka adalah karyawan KayChief Group. Kejadian itu terjadi di hari sabtu, sehari sebelum nya adalah hari ulang tahun KayChief Group. Di tengah keramaian pesta, mereka juga masuk ke ruangan IT yang jelas sedang tidak ada siapa-siapa.” Jelas Fikri tenang.


“Jadi mereka udah dua kali masuk ke ruangan IT Perusahaan? Terus apa hubungannya sama gue?” Julian clueless.


“Laki-laki berjas yang ngasih amplop sama mereka berdua itu mirip sama kakak…” Balas Vinca yang menunduk, Julian menatap gadis itu dalam. Masih ada sedikit dendam dan kemarahan di dalamnya.


“Terus sekarang kalian curiga sama gue?”


“Jujur aja nih Ju… Tugas ini satu-satunya harapan kita biar gak ngerjain skripsi… Kalau gagal…” Cathleen menggantungkan ucapannya. Jujur saja dia memang sudah lelah, ingin rasanya langsung wisuda dengan tenang.


Ekspresi Julian menjadi lebih santai saat ini. Namun tidak dapat dipungkiri jika pikirannya masih berkecamuk. Julian duduk di salah satu kursi di sana. Bahkan mereka melupakan tiga orang di ujung sana yang tengah memperhatikan mereka seakan sedang mendapat tontonan gratis.


“Bukan gue. Gue masih waras. Gue masih punya pikiran buat ngehapus semua rekaman kamera keamanan. Apalagi yang ada di perusahaan KayChief. Gue bisa dengan mudah ngehapus itu semua.” Ucap Julian santai.


“Aku bilang juga apa…” Gumam Risa tenang.


“Siapa lagi kalau bukan peniru terbaik alias fans gue?”


...***...


“Hey kata siapa?” Malah Radit yang terlihat sangat syok, sedangkan Angelyna malah menunduk diam, matanya terlihat berkaca-kaca. Ternyata dia salah.


“Seenggaknya ciri-ciri jasadnya memenuhi kriteria korban antrovitoksin.” Balas Xennora tidak peduli. Lalu kembali mengalihkan atensinya kepada Angelyna yang tiba-tiba jatuh pingsan saat Xennora baru akan menenangkannya karena pasti informasi ini akan membuatnya lebih syok lagi.


“Ya ampun… Gimana dong?” Tanya Xennora panik seraya menahan kepala Angelyna supaya tidak kesakitan terbaring di lantai.


“Kita bawa ke Rumah Sakit aja.”

__ADS_1


...***...


Xennora terus duduk dan bergumam. Kakinya tidak bisa diam membuat Raditya bingung bagaimana cara menenangkan gadis itu. Xennora hanya takut jika Angelyna terlalu stress sampai membuatnya kehilangan ingatannya. Seperti kasus yang dialami oleh Xennora, bahkan sampai sekarang ia masih belum bisa memulihkan ingatannya walaupun Xennora pergi ke dokter dengan rutin.


Ditambah Angelyna kan satu-satunya saksi mereka yang dianggap paling jujur. Tentu akan sangat merugikan jika gadis itu kehilangan ingatannya. Apalagi mereka belum sepenuhnya bertanya pada Angelyna tentang kejadian saat itu.


Dokter sebenarnya sudah selesai memeriksa keadaan Angelyna, beliau mengatakan jika gadis itu memang pingsan karena rasa cemas dan takut luar biasa sehingga detak jantungnya melambat dan tekanan darah pun menurun secara mendadak. Hal ini yang membuat Radit sedikit skeptis. Memangnya apa hal yang buruk dari mengetahui penyebab sebenarnya kematian Kirania? Gadis itu tahu jika Kirania sudah meninggal, tapi sepertinya dia tidak pingsan seperti ini. Apa yang salah? Tapi sepertinya Angelyna tahu sesuatu tentang antrovitoksin itu. Tidak semua orang mengetahui racun antrovitoksin. Siapapun yang mengetahuinya bukan orang biasa di sini.


“Sen, udah dong… Kan dokter sendiri udah bilang kalau gak ada hal serius.” Ucap Radit kesekian kalinya yang kini berhasil membuat gadis itu menghela napas lalu bersandar di kursi. Sepertinya dia sudah sedikit tenang.


Xennora melihat jam tangannya, sudah pukul 12 lebih, dan dia sendiri belum sarapan. Di kafe, ia hanya memesan secangkir kopi dan di rumah Angelyna ia mendapat secangkir teh. Xennora rasa dokter Gandhi akan kembali agak lama, jadi ia bisa pergi sarapan sekaligus makan siang. Sepertinya tadi ia melihat penjual kue tradisional di dekat Rumah Sakit. Lumayan, untuk ganjal perut.


“Dit, makan yuk? Aku belum makan…”


“Jam segini belum makan? Ngerasa gendut?”


“Ck… Iya tau aku kurus…”


...***...


“Mungkin kita bisa sekalian aja bunuh mereka? Dua temen lo itu emang payah…” Ujar seorang pria yang sedang melamun sambil memainkan pisaunya di ruangan yang sedikit gelap itu. Hanya ada pencahayaan dari sebuah lampu redup.


“Ya mau gimana lagi? Cuma merka yang bisa dijadiin skandal untuk rencana pelarian gue. Gue setuju mereka emang payah. Jadi kalau kita ketangkap, gue yakin mereka juga dapat hukuman karena membela terdakwa. Tapi gue gak akan ketangkap sih ya hahaha…”


“Kayaknya lo yakin banget kak?”


“Iya lah. Gue udah jebak Emily. Liat aja.”


“Tapi… Kayaknya gue bakalan nargetin Jaksa cantik itu…” Ujar pria yang sebenarnya tampan itu seraya menunjuk tiga foto. Foto Xennora, Julian Bhiyantara, dan Raditya, dan Ayuna.


“Kayaknya lo lupa satu target lagi.” Balas wanita yang usianya lebih tua sambil berjalan ke arah adiknya membawa sebuah foto lalu meletakkannya tepat di samping foto Xennora.

__ADS_1


“Julian Kayden hm? Him again?"


“Sure my little brother. Xennora Fachrunaldo, Julian Bhiyantara, Raditya Akarsana, Ayuna Ilmi, dan Julian Kayden…”


__ADS_2