
Xennora terbangun, sudah pukul setengah 7 dan belum ada yang bangun selain dirinya. Mungkin setelah beribadah subuh, mereka kembali tertidur. Xennora sedang halangan, jadi dia tidak bangun tadi. Ia meregangkan tubuhnya, seempuk apapun sofa itu, jika tidurnya dalam keadaan duduk tetap saja membuat badan pegal-pegal. Xennora mengucek matanya, namun ada yang aneh. Ia memandangi kedua tangannya. Padahal kemarin tangannya masih kotor dan Xennora tidak sempat mencucinya sampai ketiduran. Jorok emang tapi pikiran Xennora sedang kalut. Di pangkuan nya juga terdapat paper bag berisi kemeja putih dan rok tenis hitam. Style favorit Xennora walaupun terlihat formal.
Mengabaikan hal tadi, Xennora pergi ke toilet untuk mencuci muka dan berganti pakaian. Yang melakukan semua itu tentu Nazril. Ia yang terbangun pukul 2 pagi, setelah sholat tahajud Nazril membersihkan tangan Xennora menggunakan tisu basah. Di dekat rumah sakit juga ada toko baju yag buka 24 jam, Nazril tahu setelan favorit Xennora, ia tahu segalanya tentang gadis itu. Tapi Xennora tetaplah Xennora, seorang gadis yang tidak peka dan membawa segala situasi dengan cukup santai.
Setelah berganti baju, Xennora terdiam sedikit lama di depan cermin, menatap bayangannya sendiri. di toilet ini hanya ada dirinya, lagipula di sepanjang koridor juga Xennora tidak mendapati banyak orang jika bukan perawat. Setelah puas melamun, ia menghela napas lalu membasuh tangan dan wajahnya lalu kembali melamun, jika Julian belum bangun sampai Xennora menjenguknya nanti, maka ini semua memang salahnya. Payah sekali dia sampai tidak bisa menghentikan perbuatan Reydevan.
Xennora menggeleng pelan lalu mengambil dua lembar tisu untuk mengeringkan wajahnya. Ia merapikan rambutnya yang berwarna sedikit kecoklatan lalu mengikatnya. Walaupun dengan ekspresi yang lemas, ia masih terlihat menawan. Rambutnya bergelombang, terlihat elegan jika diikat. Ditambah setelan formal dan jam tangan. Jelas seperti gadis kantoran. Tidak akan ada yang menyangka jika sebelumnya gadis ini terlihat sangat kacau. Xennora baru sadar kalau jam tangan ini adalah GPS watch yang ia berikan kepada Nazril kemarin. Jadi kesimpulannya, Nazril yang menyiapkan semua ini.
Setelah selesai, Xennora terdiam beberapa saat di depan ruangan Julian. Ia menatap pintu itu ragu dan penuh harap. Setelah mengumpulkan niat, Xennora membuka pintu itu dengan pelan dan mendapati Julian yang masih belum sadar. Ah... Ini semua memang salahnya.
Dengan tangan yang menjinjing paper bag berisi bajunya yang kotor, Xennora mendekati Julian lalu duduk di kursi yang letaknya tepat di samping ranjang Julian.
"Pagi kak..."
'Kuno sekali." maki nya dalam hati seraya tersenyum miris.
Ekspresi Xennora berubah-ubah, ia terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Xennora menunduk sekitar dua detik untuk menenangkan dirinya. Apapun yang terjadi, apapun yang dia ucapkan, jangan sampai menangis, Xennora seharusnya sudah cukup menangis kemarin.
"Maaf..." Kata ketiga yang ada di pikiran Xennora keluar.
"Gue.... Gue...." Oke Xennora tidak bisa janji jika dia tidak akan menangis. Ia terdiam beberapa detik lalu melanjutkan kalimatnya.
"I still love you..."
__ADS_1
Arggh Xennora bisa gila jika terus seperti ini.
"Aku minta maaf... Karena selalu ngeremehin kakak. Cowok bego, cowok arogan, cowok aneh, cowok playboy... Maafin aku, kak. Kakak lebih dari apa yang aku pikirkan. Ah, bukan. Kakak itu... Enggak seperti apa yang ada di pikiran negatif ku. Honestly, semua sifat cowok yang jadi tipe ideal cewek tuh ada di kakak. Bahkan... Aku selalu nyesel kenapa dulu aku gak pernah ngeliat sisi positif seorang Julian Kayden... Haha... Kenapa..."
"Kenapa kakak gak bilang aja kalau suka sama aku? Hm? Kenapa di pendam sendirian? Aku... Aku bukan cewek peka, kak. Aku bahkan salah mengartikan semua tindakan kakak selama ini."
Tanpa sepengetahuan Xennora, Julian sebenarnya sudah sadar beberapa menit yang lalu, saat Xennora mengucapkan selamat pagi. Namun rasanya untuk membuka mata saja sangat sulit, tubuhnya masih terlalu lemah.
"Kalau kakak bilang sama aku dari awal, seenggaknya aku bisa berusaha balas perasaan kakak dari jauh-jauh hari. Maaf kak, tapi sekali lagi aku mau bilang... Kakak cowok bego. Kenapa yakin banget kalau aku gak akan suka sama kakak huh? Kan kalau kakak bilangnya saat aku udah suka sama cowok lain, aku gak bisa mastiin kalau aku bakalan nyoba untuk balas perasaan kakak."
Bagai dihantam ribuan benda yang sangat tajam, Julian benar-benar mengurungkan niatnya untuk memberitahu Xennora bahwa ia sudah sadar. Julian menenangkan dirinya, setidaknya ia tidak akan menganggap hal ini akhir dari segalanya. Tapi, ia juga belum siap untuk menatap wajah Xennora.
"Aku udah ngomong panjang lebar... Kakak tetap gak mau bangun?"
Xennora menghela napas, ia terdiam sebentar lalu pergi dari sana tanpa mengatakan apapun lagi. Setelah Xennora benar-benar pergi, barulah Julian mencoba membuka matanya. Ia melihat ke arah jendela kecil di pintu dan mendapati Xennora masih berdiri di sana, memunggungi nya. Tak lama pundak Xennora bergetar, kedua tangannya menutup wajah. Dia kembali menangis.
"Ja...ngan... Nangis....."
...❄❄❄💙❄❄❄...
Setelah mengetahui bahwa Rumah Sakit ini memiliki taman, Xennora segera pergi ke sana. Sebelumnya ia sempat menjenguk Edwin lalu berjalan-jalan di lantai dasar, tempat anak-anak dirawat, setelah itu ia menyadari bahwa di belalang gedung terdapat taman yang terlihat sangat sejuk.
Tujuannya tentu untuk menenangkan pikiran, apalagi karena kejadian-kejadian kemarin malam. Bicara soal itu, kira-kira sidang untuk vonis hukuman Deandra dan Reydevan diadakan kapan? Belum ada informasi dari group chat sekolah. Tapi anehnya lagi, Polisi belum menyuruh mereka datang sebagai seorang saksi sekaligus korban. Tapi mungkin saja Pak Hasan sudah mengurus semuanya.
__ADS_1
Satu-satunya informasi yang Xennora tahu adalah mengenai Rani yang juga dirawat di Rumah Sakit ini. Xennora belum menjenguknya, rasanya ia bisa saja membenci gadis itu mengingat hubungannya dengan para kriminal itu.
Dan mengenai Julian... Entahlah, sebenarnya Xennora tidak yakin jika Julian masih menyukainya sampai saat ini. Lima tahun itu waktu yang lama, manusia sekuat apapun tidak bisa menahan perasaannya selama itu, apalagi kalau orang yang lo suka itu bukan lagi enggak nganggap lo ada, melainkan benci sama lo. Dan lo bahkan tau itu. Apa gak nyesek?
Xennora bahkan tidak bisa memikirkan cara yang ampuh untuk menahan perasaan selama itu, yang membuatnya berpikiran yang tidak-tidak. Bagaimana jika Julian berbohong? Bagaimana jika sebenarnya Julian hanya bercanda? Bagaimana jika sesungguhnya Julian tidak pernah menyukainya? Bagaimana jika... Semua ini hanyalah tantangan yang diberikan oleh teman-temannya? Dan Xennora adalah sebuah korban dari tantangan itu.
Kata bagaimana itu, tidak ingin Xennora tambahkan lagi.
Tapi, itu memang ada benarnya. Julian tiba-tiba datang di awal semester dua tanpa kalimat menyebalkan seperti sebelum-sebelumnya. Dia... Tiba-tiba berubah. Perlakuan nya menjadi sedikit lebih manis, tentunya Xennora tidak menyadari hal itu.
Karena sibuk melamun, Xennora tidak menyadari di depannya ada sebuah tangga menurun. "Aduh..." Ringisnya. Kurang dari lima detik, seseorang mengulurkan tangannya untuk membantu Xennora.
Gadis itu tidak bisa melihat dengan jelas siapa pria di depannya. Terlalu silau, karena sinar matahari berada di belakang pria itu. Namun tak lama Xennora terperangah karena mengenal pria di depannya.
"Kak... Julian?" tanya Xennora pelan, ia masih tidak percaya dengan apa yang tengah ia lihat
Pria yang Xennora panggil Julian terlihat sedikit terkejut, namun kemudian terlihat sedih. "Ini gue Ra..."
Setelah itu Xennora sadar jika pria yang membantunya ini bukan Julian, melainkan Nazril. Lagipula Julian kan masih dirawat.
'Xennora... Mikir apa sih lo...'
"Eh... Maaf Na, pikiran gue lagi kacau." Xennora pun membalas uluran tangan Nazril lalu berdiri.
__ADS_1
"Kak Julian... Udah sadar barusan. Dia nyariin lo."
"Hah?"