The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
Deandra's Revenge


__ADS_3

Di saat-saat terakhir, Xennora menemukan kapak di sudut ruangan dekat pintu. Cathleen dan Vina sudah terkulai lemas. Eireen, Kaina dan Raina pun masih sibuk mendobrak pintu walaupun kekuatan mereka melemah.


"Minggir." Interupsi Xennora sambil mengangkat kapak membuat mereka bertiga otomatis mundur. Dengan tiga pukulan, ia berhasil merusak bagian lubang kunci sehingga pintu sudah dapat dibuka. Xennora melempar kapaknya asal lalu membopong Vina bersama dengan Eireen untuk keluar. Sedangkan Kaina dan Raina membopong Cathleen.


Mereka terjatuh beberapa meter di depan aula. Suara batuk tak henti-hentinya terdengar. Rambut dan gaun mereka kusut, acak-acakan. Pementasan terburuk sepanjang masa.


Karena terlalu lemas dan menghirup banyak gas, mereka semua pingsan di sana. Tanpa mengetahui seorang pria yang mendekati mereka seraya tersenyum miring.


"Pintar juga kalian." Gumamnya lalu membawa keenam gadis itu satu persatu menjauh dari kawasan belakang sekolah.


...❄❄❄💙❄❄❄...


"Di scene kedua ini, Eireen daritadi pakai penutup wajah ya..." Ucap Sofia.


"Wajar lah, ceritanya kan dia jadi hantu." Balas Edwin.


"Iya juga, tapi suaranya waktu nyanyi agak beda sih. Jadi lebih berat suaranya."


Edwin mengangguk menyetujui. Di depan sana, Eireen dikelilingi arwah bergaun putih yang terus berjalan melingkar. Gerakannya gelisah seakan para arwah yang mengelilinginya itu akan melukainya secara bersamaan. Backsound untuk scene ini pun terdengar sangat menakutkan sekaligus menegangkan membuat semua orang menonton dengan serius.


"Aaaaaaaa!!" itu teriakan Ratna, tokoh yang diperankan oleh Eireen. Para arwah yang berputar mengelilinginya berhenti dan musik pun berhenti membuat semua orang terdiam dengan tegang. Para arwah yang mengelilingi Ratna tiba-tiba berjongkok, namun tak ada siapapun di tengah-tengah mereka membuat penonton terpekik bingung.


Tak lama musik kembali berputar disusul cahaya merah dari beberapa lampu di belakang panggung. Seseorang bergaun putih melayang di antara arwah yang mulai berbaris di belakang. Tak lama ia turun, tergeletak pingsan di depan barisan para arwah itu.


"Kesalahan, keserakahan, ketidaksadaran, kesembronoan, kesombongan, serta kebodohan. Seperti rasa bingung memilih yang baik dan yang benar, serta penyalahan terhadap yang telah terjadi. Kehidupan... Juga tidak akan lengkap tanpa penyesalan."


Dengan terdengarnya suara seorang pria dewasa yang sumbernya entah dari mana, Ratna perlahan bangkit lalu duduk dengan keadaan masih menunduk. Ia sudah tidak memakai penutup wajah. Tapi tetap saja wajahnya belum terlihat dengan jelas karena rambut panjangnya yang Sofia yakini adalah sebuah wig.


"Kau ku beri kesempatan kedua. Untuk memperbaiki apa yang telah kamu rusak. Jika kesempatan ini tidak kau gunakan dengan baik, maka itu artinya kau memang tidak pantas berada di dunia ini. Perbaiki apa yang telah kamu rusak, hindari apa yang akan kamu rusak."


Suara tadi kembali terdengar, sepertinya itu suara dari Tuhan. Tak lama lampu padam, menyisakan beberapa lampu remang-remang yang hanya menyorot Ratna.


Tiba-tiba, Ratna tertawa. Yang awalnya terdengar pelan menjadi semakin keras, membuat semua orang bingung termasuk para anak teater yang berperan sebagai arwah. Bagian ini benar-benar tak ada di naskah, hal ini juga bukan sebuah improvisasi.


"Loh kok gini?" Tanya Via, sang ketua teater di belakang panggung bersama wakil dan sekretarisnya.

__ADS_1


"Improvisasi?" Tanya sang wakil membuat Via menggeleng kuat.


"Gak mungkin, harusnya dialog Ratna itu ngomong kalau dia nolak kesempatan kedua itu. Tuhan marah terus ngehukum Ratna sampai dia gak sadarkan diri. Dan gak ada yang namanya ketawa-ketawa." Ujar Via tegas sambil melihat naskahnya kembali.


Mereka bertiga menatap cemas ke arah panggung. Ini semua diluar kendali mereka. Dan mereka sama sekali tak memiliki cara untuk menghentikan Deandra... Yang tengah berperan sebagai Ratna untuk menggantikan Eireen yang tiba-tiba menghilang.


15 menit sebelumnya...


"*Oke Eireen, siap-siap ya... Lima menit lagi mulai scene kedua." Instruksi Via seraya melihat naskah di tangannya.


"Kak! Eireen gak ada!"


"Apa?! Kemana dia?!"


"Gak ada yang tau kak. Gak ada yang liat Eireen pergi..."


Seseorang di sudut ruangan menunduk, menahan rasa gugup. Dia yang meminta Eireen mengantar Deandra. Dan dia sendiri tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya pada sang ketua.


"Aish bisa-bisanya... Yaudah ganti aja dulu. Siapa yang gak kebagian scene jadi hantu?!"


"Nara sama Deandra enggak."


Deandra memberikan tatapan intimidasi pada perempuan itu membuat Nara menelan ludahnya.


"Vi..."


Via menatap Nara, seakan bertanya 'apa?'


"G-gue... Kayaknya gak bisa deh. Udah lama gak ngafalin dialog Ratna. Deandra aja Vi."


Via menghela napas lelah. "Ck, yaudah lo aja." Final Via seraya menatap Deandra yang tengah tersenyum penuh kemenangan*.


Karena merasa takut, para anak teater meninggalkan panggung dengan tergesa-gesa meninggalkan Deandra seorang yang telah bangkit untuk berdiri. Para penonton mulai menjauhi panggung, termasuk kepala sekolah, dan beberapa guru lainnya.


"Bapak, ibu guru, dan adik-adik sekalian... Perkenalkan, saya Deandra Callena... Hadir di sini untuk memberikan hiburan tambahan di acara ini..."

__ADS_1


Saat Deandra berucap, tirai pun tertutup namun Deandra masih berpidato dengan suaranya yang lantang namun terdengar lembut. Sofia, Edwin dan Nazril terpekik setelah mengetahui jika orang yang ada di depan sana adalah Deandra, bukan Eireen.


"Saya juga kedatangan tamu malam ini... Tolong sambut mereka..." lanjut Deandra, tirai itu pun terbuka menampilkan Cathleen, Kaina, Raina, Xennora, Vina dan Eireen yang duduk dengan tangan terikat. Mereka telah sadar, Xennora memberikan tatapan tajam pada Deandra. Untuk kedua kalinya, Sofia, Edwin dan Nazril memekik terkejut.


"Kalau begitu, mari kita mulai. Saya punya beberapa buah pil. Sebagian dari pil itu mengandung Antrovitoxin level 1. Tidak akan membunuh siapapun kecuali dengan perut kalian yang akan sakit selama beberapa minggu. Salah satu dari kalian minum satu, sementara saya juga meminum sisanya. Bukankah itu adil?" Deandra menjelaskan permainan itu pada keenam tawanannya.


Tak lama, Devan datang dengan mangkuk kecil berisi pil, dan tujuh buah gelas berisi air mineral. Ia membagikan air mineral itu satu persatu pada Xennora dan yang lainnya, serta pada Deandra juga.


"Gadis pembully, dimulai dari lo."


Gadis pembully yang Deandra maksud adalah Cathleen. Dengan napas sesenggukan, Cathleen mengambil satu buah pil dengan tangannya yang masih terikat itu lalu meminumnya. Mereka semua diam, termasuk Cathleen sendiri. Tak lama ia menjerit kesakitan sambil memegangi perutnya. Deandra tersenyum licik lalu meminum pil nya, namun tak terjadi apa-apa yang artinya Deandra tak mengambil pil beracun.


Xennora terdiam, memikirkan cara yang dapat memecahkan permainan Deandra ini. Ia sedikit tak kuasa mendengar Vina menangis, untung saja gilirannya sebelum Vina dan Eireen. Pasti ada alasan Deandra tak mendapatkan pil yang beracun. Mustahil, semua pil itu berada di mangkuk yang sama. Bahkan Kaina dan Raina pun bernasib sama dengan Cathleen. Sekarang gilirannya, Xennora memandangi mangkuk itu.


Di seberang sana, Nazril sudah berdoa mati-matian agar sepupunya itu selamat.


Xennora terdiam, pasti ada hal yang dapat menjelaskan semua ini. Bahkan Deandra mengambil pil itu asal-asalan namun pilihannya selalu benar. Apa yang salah?


"Hei Nona, apa kau tak akan memainkan permainanku?"


Xennora menatap Deandra sinis, lalu tatapannya jatuh pada gelas di tangan Deandra. Oh sial mengapa ia baru menyadari hal itu?


Xennora pun mengambil satu buah pil lalu langsung menelannya tanpa bantuan air minum. Agak sulit memang tapi akhirnya berhasil. Deandra terlihat terkejut saat melihat apa yang gadis itu lakukan membuat Xennora tersenyum menang. Ternyata memang benar.


"Hei?!" pekik Deandra tak terima.


"Kenapa? Gue biasa minum pil langsung, tanpa disertai air minum. Gak dilarang... Kan?" tanya Xennora memancing amarah Deandra.


Nazril bernapas lega, beruntung memiliki sepupu yang pintar. Di sampingnya, Pak Hasan diam-diam mencoba memanggil polisi, namun Devan terlanjur menyadarinya dan langsung memberitahu Deandra.


"Bagi siapapun yang berniat memanggil polisi... Kalian harus tahu kalau jaminannya adalah nyawa kalian sendiri.... Bamm!!" Ujar Deandra lantang disertai tangan yang seakan menembak salah satu lukisan yang terbilang dekat dengan posisi Sofia dan Edwin. Beberapa orang yang posisinya dekat dengan area itu pun hanya dapat bergumam tidak mengerti. Begitupun Sofia dan Edwin.


Dorr!


Semua orang terpekik kaget. Beberapa menunduk ketakutan. Ini bukan suara yang Deandra keluarkan dari mulutnya seperti yang ada di kalimat terakhirnya tadi. Tapi ini suara revolver betulan. Tatapan mereka teralih pada Deandra, ia memegang revolver yang masih mengeluarkan sedikit asap. Lukisan yang tadi ditunjuk Deandra pun terjatuh memperlihatkan sesuatu yang awalnya tertutupi lukisan tadi. Syukurlah peluru itu tidak mengenai siapapun. Setidaknya untuk saat ini.

__ADS_1


"Jadi... Lebih baik jangan taruhkan nyawa kalian... Karena... Haha kalian akan tahu sendiri konsekuensi nya nanti. Good luck!"


Saat Deandra terus mengoceh, Vina, Xennora dan Eireen berjalan mengendap-endap melewati pintu belakang tempat mereka dibawa masuk tadi. Sayangnya Devan menyadarinya. Tanpa memberitahu Deandra, ia mengikuti ketiga gadis yang mulai berpencar itu.


__ADS_2