
Xennora dan Julian kini tengah berada di ruang CCTV, lagi. Dengan posisi yang sama dengan tadi pagi, Julian mulai mengetikkan sesuatu, lalu tertera satu video yang langsung Julian klik. Mereka berdua tersenyum puas saat video tidak cacat di menit ke 27. Kendala nya hanya satu, letak CCTV ada di belakang, sehingga hanya menampilkan punggung Eireen, Sofia, bahkan si pelaku.
Terlihat siswi yang mereka curigai keluar dari ruang kesenian dengan jaket yang terikat di pinggangnya, lalu segera masuk ke ruang musik. Sekarang Julian sadar, gadis itu bukan Xennora karena warna rambutnya hitam lurus sedangkan Xennora sedikit brunette dan agak bergelombang. Tetapi mereka mengernyit bingung setelah melihat sesuatu. Bola itu muncul dari belakang, tempat yang tak dapat dijangkau oleh kamera, bukan dari ruang kesenian atau bahkan dari gadis berambut hitam tersebut.
"Berarti... Bukan cewek itu ya. Kenapa harus diluar jangkauan kamera sih?" Gumam Julian kesal. Xennora menatap pria itu malas lalu kembali memperhatikan rekaman yang Julian ulangi lagi.
"Tapi, dia harusnya sadar kan ada orang yang pingsan di belakangnya. Kenapa dia gak notice?" Tanya Xennora lebih ke dirinya sendiri. Julian melirik Xennora yang masih berdiri itu, kemudian kembali memperhatikan layar.
"Iya juga, ya. Kalau pakai earphone juga pasti masih kedengeran." Gumam Julian sambil mencoba mengulang kembali menit ke 27 tersebut.
"Eh, stop." Ucap Xennora tiba-tiba membuat Julian refleks menghentikan videonya.
"Itu... Warna rok seragamnya... Biru tua?" Tanya Xennora sambil menunjukkan sedikit bagian dari rok yang tidak tertutupi jaket. Tersingkap, hanya beberapa detik. Jika Xennora tidak jeli mungkin tak akan pernah Julian sadari.
Julian memperbesar gambarnya, dan benar saja. Warna rok nya jelas biru tua yang artinya gadis itu merupakan siswi SMP.
"Berarti bukan kakak kelas kayak yang Eireen kira. Menurut lo, dia ada hubungannya gak sama si pelaku?" Tanya Julian sambil menatap Xennora di sampingnya yang masih terdiam untuk berpikir.
"Emm... Bisa jadi. Tapi--" Ucapan Xennora terpotong oleh suara ribut di luar. Segera mereka menghadap ke belakang untuk melihat lewat jendela. Mereka terkesiap melihat Pak Lukman, salah satu penjaga sekolah yang sedang sibuk disapa oleh para murid.
Segera, Xennora menghubungkan USB dengan komputer lalu Julian menyalin video dari CCTV yang baru saja diperbaiki tersebut. Bukan apa-apa, namun siswa tidak boleh menyalin video dari kamera keamanan di sekolah ini. Pihak sekolah takut, jika ada aib sekolah yang terekam oleh kamera, lalu dikirim ke sosial media. Itu akan menurunkan reputasi sekolah.
Salinannya baru 70 persen, namun Pak Lukman sudah sangat dekat dengan pintu masuk. Xennora dan Julian sudah berkeringat dingin, karena penjaga sekolah yang satu itu dikenal dengan sifatnya yang pemarah. 85 persen dan Pak Lukman akan menarik knop pintu.
"Sedang apa kalian?!"
Pak Lukman pun melihat ke arah sekitar, tak ada yang aneh, semua komputer mati dan ruangan masih rapi. Pak Lukman pun melihat dua orang siswa dan siswi di depannya yang tengah tersenyum sebelum mereka menjawab pertanyaannya.
"Pak Hasan menyuruh kami mencarikan klip dasi yang beliau hilangkan di ruang keamanan. Tapi ternyata tidak ada." Bohong Julian dengan senyum yang masih terpampang jelas di wajahnya namun malah membuat Pak Lukman semakin curiga.
"Maaf Pak, selamat pagi..." Tegur seseorang di belakang Pak Lukman.
__ADS_1
"Ah, iya?"
"Bapak memanggil saya?" Tanya siswi itu.
"Kak Deandra Callena..." Gumam Xennora.
"Oh iya. Nak Deandra, Bapak minta berikan ini kepada pelatih seni teater ya." Saat Pak Lukman sibuk mencari dokumen, Deandra menyuruh Xennora dan Julian untuk segera pergi.
"Eumm... Kalau begitu kami izin pamit, Pak." Ujar Julian.
"Yasudah, kalian pergi saja." Ujar Pak Lukman membuat mereka bernapas lega.
"Baik pak, terimakasih. Kami permisi." Izin Julian yang diangguki oleh Pak Lukman. Melody mengucapkan terimakasih pada Deandra tanpa suara yang dibalas acungkan jempol.
Mereka pun pergi dengan langkah cepat dari sana dan tentu dengan napas lega.
Belum terlalu jauh dari ruangan yang membuat jantung mereka berdetak cepat tersebut, Xennora dengan napas tersengal menarik lengan Julian untuk duduk sebentar.
"Bentar, biarin gue bernapas dulu." Ujar Xennora yang masih memegang lengan Julian, tanpa sadar. Bukannya ikut duduk, Julian malah berdiri di depan Xennora dengan napas yang juga tak beraturan. Ia melihat lengannya yang Xennora pegang, berusaha menetralkan detak jantungnya yang bukannya mereda, malah semakin menjadi-jadi.
"Kak Julian, kak Sofia di kunci di lab biologi yang katanya angker itu. Belum ada yang bisa buka atau dobrak soalnya pakai password, dan bu Novi nggak ada di sekolah."
Well, yeah. Mereka juga harusnya sadar jika Sofia adalah korban selanjutnya.
...❄❄❄💙❄❄❄...
Sore ini, para anggota penyelidikan telah sampai di sekolah dengan pakaian santai. Mereka tidak membawa tas karena sudah disimpan di lab tadi pagi. Pulang sekolah, mereka memutuskan pulang sebentar untuk mandi dan meminta uang lebih. Dan pukul setengah lima sore, mereka kembali ke sekolah yang hanya ada beberapa guru dengan jadwal malam, anggota eskul cheerleader yang bersiap untuk pulang, serta security yang bekerja Sift malam.
Xennora duduk di depan Herina yang di notice gadis itu dengan senyuman. Xennora pun mengambil satu lembar kertas HVS berisi data murid yang pindah sekolah dengan alasan yang sedikit tidak masuk akal alias, terror.
"Belum nemu pencerahan, kak?" Tanya Xennora sambil membaca deretan nama murid yang ada di sana.
__ADS_1
"Belum nih Sen, masih pusing hubungannya apa." Jawab Herina membuat Xennora mengangguk.
Di murid nomor satu, ada Parsa Anugraha kelas 7E. Xennora pun mencari daftar absen kelas 7E di tumpukan kertas, lalu mencari seorang anak bernama Parsa Anugraha. Ya, hanya untuk memastikan jika murid bernama Parsa ini pernah bersekolah di SAN, dan juga untuk mempermudah pengelompokan bila nomor absen nya telah diketahui.
"Boleh aku bantu kak?" Tanya Xennora yang mendapat anggukan antusias dari Herina.
"Boleh banget Sen, hehe."
Xennora pun mengeluarkan buku catatannya lalu menuliskan nama Parsa Anugraha. Dengan space yang cukup lebar, Xennora juga menuliskan 7E dan nomor absen anak itu, 27. Jadi, terlihat seperti tabel, namun tanpa garis pemisah.
...
...
Selanjutnya, Xennora menyalin nama-nama siswa yang pindah dan juga kelasnya. Nomor absen akan ia cari satu persatu nanti.
Setelah selesai, ia pun mengambil setumpuk tipis kertas HVS teratas yang Xennora yakin adalah daftar absen kelas yang siswanya menjadi korban. Satu persatu Xennora cari nama siswanya lalu menuliskan nomor absen siswa tersebut di buku catatannya tadi.
Namun kegiatannya terhenti ketika ia menyadari sesuatu saat menuliskan nomor absen milik Kartika Dwi Aprilia kelas 8K.
'Kenapa nomor absen nya 27 semua?'
Di ruangan yang sama namun kubu yang berbeda, Leo, Edwin, Ervin, Sofia, Eireen, Julian, Vinca dan Vina sedang duduk melingkar di karpet. Sebelumnya Xennora duduk bersama mereka, namun lebih tertarik dengan Herina yang duduk di sofa dengan sangat fokus.
"Jadi tadi Sofia kenapa? Gue kaget dong lagi nge wawancara Pak Faris eh tiba-tiba Edwin ngirim pesan suruh ke lab biologi. Ya gue diemin lah, gak enak sama Pak Faris." Curhat Ervin menghiraukan keberadaan Xennora dan Herina yang duduk di sofa yang berada dibelakangnya.
"Jadi gini kak, kan aku udah selesai remedial. Terus kita niatnya mau langsung kesini. Tapi kita liat bu Raya keluar dari lab sambil bawa mikroskop yang kayaknya mau dipakai buat ngajar. Yaudah kita bantu dong, dan akhirnya bu Raya setuju. Sebelum pergi ke kelas 11 Pidana 4, bu Raya bilang, jangan sampai pintunya ke tutup, soalnya bu Novi udah pulang gara-gara urusan mendadak dan bu Raya gak sempet nanya password lab nya." Jelas Sofia lalu menarik napas sebelum meneruskan ceritanya.
"Eireen dulu yang masuk ngambil satu mikroskop terus pergi ke kelas ngikutin bu Raya --karena aku ngobrol dulu sama bu Raya sebelumnya--. Terus aku masuk kan tuh, eh waktu aku ngambil mikroskop, pintunya langsung ke tutup. Karena aku orangnya nething, aku mikir nya itu gara-gara hantu atau semacamnya. Gak kepikiran itu termasuk 'terror'. Ya udah, gak lama Eireen datang sama bu Raya terus panik dan bu Raya coba nelfon bu Novi berkali-kali. Sampai kak Julian sama Xennora datang dan nebak-nebak berapa password nya. Akhirnya, bu Novi jawab telfon terus aku bisa keluar deh, walaupun syok dikit." Jelas Sofia membuat Ervin mengangguk beberapa kali termasuk Vina di sampingnya.
__ADS_1
"Tapi gue gak kenal deh, sama adek kelas yang ngasih tahu kalau Sofia kekunci. Kalian ada yang kenal? Kayaknya seangkatan sama Vina." Ucap Julian membuat Eireen dan Sofia terdiam sambil berpikir terutama Vina.
"Loh, perasaan aku atau bu Raya gak nyuruh siswa ngasih tahu kak Julian deh. Aku kira kak Julian sama Xennora kebetulan lewat."