The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
Carnival


__ADS_3

"Mau makan dulu?" Tanya Julian pada gadis disampingnya. Kini mereka sedang ada di mobil Julian bersama Eireen, Vina, dan Sofia. Sedangkan di mobil kedua, yaitu mobil milik Edwin yang ada di belakang Julian, diisi oleh Edwin, Leo, Herina, Ervin dan Vinca.


"Nanya ke kita tapi ngeliriknya ke Xennora doang." Cibir Sofia.


"Boleh deh, di Mall aja nanti." Jawab Xennora sambil mengirimi Leo pesan untuk mengikuti mobil Julian.


"Oke."


Sebenarnya Eireen yang mengajak pergi ke Mall untuk berbelanja keperluan pentas besok. Namun tiba-tiba Vina juga mengajak untuk pergi ke karnaval dan bersenang-senang. Hitung-hitung menghilangkan rasa gugup Eireen dan rasa syok-nya karena pengakuan Rani. Akhirnya usul Vina pun disetujui sehingga disinilah mereka berada, restoran bergaya Jepang di lantai tiga Mall Pusat Kota.


"Gimana Vin?" Tanya Vinca. 


"Bentar kak, dia lagi ngetik." Jawab Vina sambil memperhatikan handphone nya. "Nah..." Lanjut nya setelah menerima pesan dari seseorang.


"Apa katanya?"bTanya Leo.


"Dia bakal bantu kita. Tapi dengan satu syarat, jangan kasih tahu Deandra kalau dia yang ngebocorin rencananya." Jawab Vina.


 


"Gampang itu. Terus rencana nya gimana?" Tanya Ervin.


"Dia belum di kasih tahu..." Jawaban Vina membuat kesembilan orang disekitarnya menghela nafas kecewa.


"Yaudah kita makan dulu. Habis itu baru jalan-jalan. Refreshing sebelum menjalankan misi." Usul Julian yang mereka angguki kecuali Xennora yang hanya diam saja menatap makanannya.


"Sen, gak laper?" Tanya Edwin.


Xennora menggeleng lesu, "enggak." Ucapnya sambil memandang jendela.


Julian yang duduk di samping Xennora diam-diam memperhatikan gerak-gerik gadis itu. Setelah beberapa menit, mereka selesai dengan makanannya kecuali Julian, Vina dan Xennora.


"Kak Herina, Reen, Ca, Vin, Sen, girls time yuk!" Ajak Sofia yang diangguki antusias oleh Herina, Eireen dan Vinca. Sedangkan Vina masih terlihat ragu.


"Enggak deh, kalian aja. Ada yang mau gue beli habis ini." Tolak Xennora.


"Vin?" Tanya Herina.


"Aku... Kayaknya gak akan ikutan deh kak hehe."


"Udah... Ayo ah." Ucap Vinca sambil menarik lengan Vina yang baru saja minum. Sedangkan para lelaki berpandangan, mencoba berdiskusi apa yang akan mereka lakukan setelah ini.


"Nge-game aja lah kuy di Rooftop. Wifi nya kenceng." Usul Ervin seraya beranjak diikuti Leo dan Edwin.


"Ju, gak akan ikutan?" Tanya Leo.


"Duluan aja, ntar mungkin gue nyusul." Jawab Julian dengan tatapan yang fokus ke handphone nya entah sedang mengetik apa.


Leo, Edwin dan Ervin mengangguk lalu pergi. Kini hanya tersisa Xennora dan Julian. Diam-diam, Xennora mengamati sekitar membuat tatapan Julian teralihkan.


Sepersekian detik kemudian tatapan mereka bertemu. Xennora berpikir, mungkin jika hanya Julian yang melihatnya tak akan terjadi hal yang sangat memalukan. Ia pun menatap beberapa potong sushi di depannya. Tanpa ba bi bu, Xennora melahap sepotong sushi menggunakan tangannya. Mengabaikan Julian yang masih menatapnya intens.


"Gue gak bisa pakai sumpit." Jelas Xennora dengan mulut penuh, namun tatapan Julian masih sama seperti tadi. Saat tangan Xennora akan meraih beberapa sushi lagi, Julian menahannya.

__ADS_1


"Lo belum cuci tangan Xennora..."


Xennora terdiam sebentar lalu beranjak untuk mencuci tangan namun Julian kembali menahannya dan menarik lengan Xennora agar kembali duduk.


"Lihat ke luar." Ucap Julian, dagu nya menunjuk sebuah papan iklan di luar restoran. Gambarnya hanya sebuah tangan yang memegang sumpit dengan beberapa santapan di depannya. Xennora tidak mengerti maksud Julian apa. Namun tiba-tiba sepotong sushi ada tepat di depan wajah Xennora membuat gadis itu sedikit memundurkan wajahnya.


Xennora menatap Julian tak mengerti namun Julian tetap tersenyum, "ayo makan." Ucapnya sambil mengacungkan sushi yang masih ada di depan wajah Xennora.


Xennora gengsi dong, tapi dia juga lapar. Mau menolak tapi rasanya lidahnya kelu akibat senyuman dari seorang Julian Matteo Kayden. Akhirnya setelah bertarung dengan pikirannya selama setengah menit, Xennora menerima suapan Julian dengan sedikit canggung.


Julian tersenyum lalu kembali berkutat dengan beberapa jenis makanan yang masih ada di depan mereka. "Itu caranya pegang sumpit, biar kalau gue ngajak lo ke resto Jepang lagi, gak perlu disuapin."


Maksudnya apa nih? Papan iklan tadi? Tapi apa katanya? Julian akan mengajak Xennora makan lagi? Memikirkannya, membuat Xennora segera memalingkan wajahnya dari Julian. 


"Habis ini kita kemana ya?" Tanya Julian bersamaan dengan suapan yang Xennora terima masih dengan rasa canggung dan hampir tersedak. Apa katanya? Kita?


"Terserah."


"Cewek mah gitu, terserah mulu."


Xennora terdiam sebentar, lalu menatap Julian. "Lo... Sundanese?"


"Mama gue asli Bandung. Kenapa? Mau ketemu?" Tanya Julian yang dibalas gelengan kaku oleh Xennora seraya memalingkan wajahnya membuat Julian terkekeh pelan.


"Mama gue suka sama cewek yang bisa main piano loh..." Celetuk Julian yang entah manfaatnya untuk apa. Membuat Xennora tak merespon perkataan pria di sampingnya itu.


Julian melanjutkan ucapannya karena tak melihat reaksi apapun dari Xennora, "Gue sebenarnya pengen ngenalin lo ke Mama. Soalnya Mama suka bawel nanya siapa sih cewek yang gue suka selama lima tahun."


Faedah nya ngomong gitu untuk apa ya Tuan Muda Kayden?


"Serius Sen?"


"Haha, bercanda."


Julian mendesah kecewa lalu tak lama ia tersenyum. Karena makanan mereka sudah habis beberapa menit yang lalu, ia berniat jalan-jalan di Mall ini bersama Xennora. Julian bangkit lalu menggenggam tangan kiri Xennora yang masih duduk menjadi berdiri karena Julian menariknya pelan.


"Pokoknya hari ini, kita harus bersenang-senang." Ucap Julian menatap Xennora dengan senyumnya.


Hari ini, mungkin hanya hari ini saja.


...❄❄❄💙❄❄❄...


"Mau naik apa dulu nih?" Tanya Edwin. Setelah selesai berbelanja tadi, mereka memutuskan untuk pergi ke karnaval daerah Bekasi walaupun sudah pukul setengah enam sore. Mereka juga mengganti baju dengan setelah yang sudah dibeli di Mall tadi.


"Roller Coaster!" Jawab Vina semangat yang langsung mereka setujui. Baru saja mereka akan berjalan menuju wahana histeria, Vinca menghadang.


"Foto dulu dong..." Ucap Vinca sambil mengeluarkan kamera Polaroid miliknya. Dia pun meminta tolong pada seorang pengunjung yang lewat untuk memfoto mereka. Setelah itu mereka berbaris dengan gaya masing-masing, dengan latar bianglala dan senja yang terlihat indah.


"Nah selesai. Terimakasih kak, fotonya bagus." Ucap Vinca pada pengunjung tadi.


"Yaudah yuk!" Ajak Sofia.


Dengan semangat, mereka menaiki wahana yang terbilang ekstrim tersebut. Diluar Ekspektasi, Xennora terus menutup matanya dan memelas minta turun pada Leo, Edwin, bahkan Julian yang duduk di sampingnya. Jangankan menenangkan adiknya, Leo dan Edwin bahkan sibuk berteriak sambil sesekali mengumpat. Unexpected thing from Fachrunaldo.

__ADS_1


Herina dan Eireen masih sedikit ketakutan, namun juga menikmati. Tidak seperti Fachrunaldo bersaudara. Setelah selesai berurusan dengan Roller Coaster, mereka beristirahat sebentar apalagi Xennora, Leo dan Edwin.


Selepas menenangkan diri, mereka memutuskan untuk bermain panahan walaupun hari mulai gelap. Dua orang dengan skor tertinggi akan memakai mahkota. Dan pemenangnya tentu Leo dan Eireen disusul Xennora dan Julian, lalu Ervin, Edwin, Herina dan Vinca dengan skor sama. Yang paling payah, ada Vina dan Sofia dengan skor terendah. Jadi, Eireen dan Leo akan memakai mahkota yang mereka beli, sedangkan delapan orang lainnya harus memakai bando. Karena skor Xennora dan Julian sama, maka mereka juga harus memakai bando yang sama, begitulah peraturannya. Alhasil, mereka berdua memilih bando telinga kelinci.


Dengan senang hati, Xennora memakaikan bando itu di kepala Julian yang tengah pasrah. Xennora tersenyum puas, Julian terlihat lucu memakai bando itu. Cocok sekali. Lain kali, ia akan sering-sering menyuruh Julian memakai bando.


Ervin, Edwin, Herina dan Vinca memilih bando telinga Panda dan beruang coklat alias Greezly, sedangkan Sofia dan Vina dengan bando mata yang mencuat seperti siput dan akan bergerak jika mereka mengangguk atau berlari karena terbuat dari per. Tak lupa, mereka mengabadikan momen-momen tersebut dengan kamera milik Vinca.


Hampir semua wahana di karnaval mereka naiki. Dan yang terakhir adalah bianglala. Mereka tak cukup berani memasuki rumah hantu karena ini sudah malam juga. "Takut masuk mimpi," Kalau kata Leo.


"Siapa aja nih?"


"Hompimpa deh."


"Gak gak gak! Pokoknya cewek sama cewek, cowok sama cowok! Jangan ada yang couple. Nanti kalau ada yang kiss di dalam kan bahaya." Saran Ervin.


"Pikiran lo tuh bahaya." Semprot Julian.


"Yang ada kalau cowok sama cowok entar dikira yang aneh-aneh sama orang." Sambung Leo.


"Yaudah sih lagian satu ruangan berempat." Lerai Herina.


"Kan jadi ada yang berdua!!" Balas Ervin ngotot, jiwa jomblo nya mulai meronta-ronta.


"Masalah banget sih lo. Hompimpa dulu aja lah." Ujar Edwin menengahi. Mereka pun hompimpa dan hasilnya, Edwin, Eireen, Herina dan Leo dengan batu, Julian, Xennora dan Vina memilih kertas, serta Ervin, Vinca dan Sofia memilih gunting.


"Aku boleh ikut sama kak Sofia gak? Takut jadi nyamuk hehe..." Izin Vina yang di pelototi tak percaya oleh Xennora.


"Baru aja gue mau protes. Ayo lah Vin. Gue juga gak mau jadi nyamuk." Ajak Sofia semangat.


"Heh itu yang berdua! Jangan macam-macam ya awas aja!!--" Teriakan Ervin terpotong karena Vina, Leo dan Edwin segera menyeretnya ke bianglala.


"Biasanya kalau berduaan, yang ketiganya itu--"


"Berisik setan." Ucar Edwin sambil mendorong Ervin masuk ke bianglala.


"Heh gue bukan setan!!" Teriakan Ervin masih terdengar walau pintu ruangannya sudah ditutup. Xennora sedikit meringis jika membayangkan keadaan Sofia, Vinca dan Vina di dalam sana.


Setelah tim dua alias tim Edwin, Leo, Herina dan Eireen naik, Xennora dan Julian saling bertatapan lalu masuk dan duduk berhadapan.


"Dibawa kan?" Tanya Xennora antusias yang dibalas anggukan semangat dari Julian lalu mengeluarkan sesuatu dari jaketnya. Kamera Polaroid milik Vinca.


Saat membeli bando tadi, Vinca menitipkan kameranya pada Julian dan sepertinya gadis itu lupa untuk mengambilnya lagi. Setelah mengetahui Xennora akan masuk bersama Julian, ia melihat kamera Polaroid yang menggantung di leher pria itu sehingga Xennora menyarankan untuk tak memberitahu Vinca jika kameranya masih ada pada Julian.


Saat Julian sedang sibuk mengotak-atik kamera, Xennora mencoba bertanya tentang sesuatu yang sebenarnya membuatnya cukup penasaran. "Kak... Kok kakak bisa kenal Pak Irfan?"


Julian menghentikan kegiatannya lalu menatap Xennora. "Papa gue punya anak perusahaan yang kerja sama, sama perusahaan punya om Irfan. KNJ Entertainment."


Xennora terkesiap selama kurang dari dua detik, "KNJ Entertainment..." Gumamnya kagum. "Anak perusahaan KayChief Group dan JCBA." Lanjut nya membuat Julian tersenyum kecil. Jika dipikirkan memang aneh juga kalau Julian ada di gedung pernikahan Bunda Carissa dan Pak Irfan tanpa memiliki koneksi. Ternyata ayahnya pemilik KayChief Group. Impressive.


Saat Xennora sedang sibuk memikirkan KayChief Group dan KNJ Entertainment, berbanding terbalik dengan Julian yang tengah tersenyum memandangi beberapa foto yang ia ambil baru saja dengan kamera Polaroid Vinca. Tapi orang yang Julian foto benar-benar tak menyadari apapun. Ekspresinya menggemaskan membuat Julian tak berhenti tersenyum. Akhirnya di foto kelima yang Julian ambil, Xennora menyadarinya dan langsung memelototi Julian.


"Kak, ih!" Pekik Xennora berusaha mengambil kamera dari Julian namun tak berhasil.

__ADS_1


"Hahaha... Oke oke, kita foto aja ayo berdua."


Xennora pun menyetujui dan akhirnya mereka mengambil beberapa foto, masih menggunakan bando kelinci karena itulah peraturan yang mereka buat tadi.


__ADS_2