
"Kak..." Panggil Xennora.
"Hm..."
"Gudang biasanya gak dikunci... Mau cari kunci Rooftop cadangan?"
Julian menegakkan tubuhnya, ide Xennora tak pernah sekalipun terlintas dipikiran nya.
"Bener juga. Ayo."
Di gudang yang gelap itu mereka menggunakan senter pada handphone. Saat sibuk mencari kunci cadangan, rasa pusing kembali mendatangi Xennora. Mungkin akibat dari pukukan tongkat baseball tadi. Sejenak ia menghentikan aktivitas nya lalu menutup mata untuk menetralisir rasa pusing dan penglihatannya yang berkunang-kunang.
Hampir saja Xennora terjatuh jika Julian tak menahannya. Dingin, tangan Xennora benar-benar dingin. Apalagi ia memakai gaun dengan bahu terbuka.
"Sen? Kenapa? Capek ya? Yaudah lo duduk aja." Ujar Julian khawatir. Saat Julian menuntun Xennora untuk duduk, gadis itu berhenti dengan gerakan tangan yang juga menyuruh Julian untuk berhenti. Sepersekian detik kemudian ia membuka matanya lalu mengerjap beberapa kali.
"Gue... Gapapa, ayo lanjut nyari aja." Ucap Xennora sambil melanjutkan kegiatannya tadi. Julian terdiam sebentar memperhatikan Xennora yang tengah fokus mencari. Ia menghembuskan napas kesal lalu membuka Jas nya lalu menyampirkan jas itu di tubuh Xennora yang tengah menunduk untuk mencari kunci.
Xennora terdiam, menyadari sesuatu yang membuatnya tidak terlalu kedinginan. Ia melirik Jas di bahunya sekilas lalu beralih untuk memperhatikan Julian yang tengah fokus mencari kunci di samping Xennora.
Gadis itu kembali melihat ke bawah, salah satu rak berisi banyak obeng, palu dan beberapa pesawat sederhana lainnya. "Thanks." Ucap Xennora akhirnya lalu kembali mencari. Julian tersenyum kecil mendengar ucapan terimakasih Xennora yang terdengar ragu namun tulus disaat bersamaan.
Anytime.... Xennora.
...❄❄❄💙❄❄❄...
"Lorong rahasia...?"
Begitulah gumaman para murid setelah mendengar saran dari Pak Hasan. Beberapa kebingungan dan sisanya bersemangat karena mereka baru mengetahui sekolah ini memiliki tempat rahasia. Berekspektasi bagaimana bentuk dari lorong rahasia itu. Apakah itu seperti lorong rahasia di Hotel Transylvania yang memiliki banyak cabang? Atau mungkin lorong Misterius yang ada di dalam Piramida yang memiliki banyak ranjau? Atau bahkan... Gua bawah tanah yang sangat gelap?
"Pak... Ini namanya bukan lorong rahasia...?" Keluh Edwin seraya menatap tangga yang menurun itu.
Well yeah, itu hanya tangga biasa menuju parkiran di bawah gedung. Hanya saja letaknya yang memang ada di bawah salah satu kursi penonton sehingga tak banyak yang menyadari jika tangga diturunkan, maka itu bisa menjadi jalan pintas menuju parkiran.
"Sudahlah, yang terpenting kita bisa keluar," Sahut Pak Hasan.
"Tapi... Apakah itu aman Pak? Maksud saya... Di bawah gelap sekali. Siapa tahu mereka sedang mengintai atau menaruh perangkap." Tanya Bu Raya.
Sejenak, Pak Hasan terdiam. Ia belum memikirkan sisi negatifnya sejauh ini.
"Kita pakai lorong itu saja, Pak. Yang lebih aman, toh memang itu tak akan menjadi sebuah rahasia untuk selamanya 'kan?" Lanjut Bu Raya. Pak Hasan pun mengangguk beberapa kali lalu menutup kembali tangga itu. Ia pun kemudian berjalan menuju deretan kursi di aula lantai dua, diikuti Bu Raya dan seluruh siswa.
__ADS_1
Sofia, Nazril dan Edwin sedikit ragu. Rasanya ada hal yang aneh di sini, mengapa rasanya seperti ada yang tidak mereka ketahui? Mereka bertiga saling pandang, menghiraukan teman-teman nya yang sudah berada di lantai dua bersama Pak Hasan dan Bu Raya.
"Kalian ngerasa ada yang aneh gak sih?" Tanya Edwin yang dibalas anggukan dari Nazril dan Sofia.
"Gue curiga sih, sampai ini semua berjalan mulus-mulus aja. Gak mungkin kan Deandra se-lengah itu?"
"Gue juga mikir nya gitu... Coba liat bom di sana," Nazril pun mengajak Edwin dan Sofia supaya mengikutinya menuju salah satu sudut ruangan.
"20.30? Kayaknya bom itu emang gak aktif deh. Gak ada hitung mundur," Ujar Sofia.
"Tapi... Lampu nya kedip-kedip. Biasanya itu yang jadi ciri kalau bom udah aktif," Balas Edwin.
Nazril terperangah, ia segera melihat jam tangannya. 20.25, tersisa lima menit untuk melarikan diri.
"Ayo lari!" Pekik Nazril seraya menarik tangan Edwin dan Sofia menuju lantai dua.
Edwin dan Sofia yang masih belum mengerti pun hanya dapat mengikuti Julian dengan panik. Sesampainya di lantai dua, mereka bertiga berdesakan melewati kumpulan siswa untuk mendekati Pak Hasan. Nazril tambah panik ketika pintu lorong rahasia yang kata Pak Hasan itu belum terbuka.
"Kenapa, Pak?"
Pak Hasan terdiam sejenak. "Sepertinya Bapak lupa password nya..."
"Coba tanggal ulang tahun sekolah, Pak." Usul Edwin namun saat dicoba pun pintu masih enggan terbuka.
Nazril semakin panik, ia terus memutar otaknya. Jika tanggal lahir sekolah pun tidak bisa, lalu apa lagi?
Jantung Sofia berdetak semakin cepat. Entah apa alasannya, namun ia merasa situasi ini sangat berbahaya. Ia mengedarkan pandangannya dan menemukan lima buah foto yang terpajang di belakang deretan kursi. Itu foto-foto para pendiri sekolah ini.
Sampai akhirnya, Sofia menyadari sesuatu. Ia memiliki ide untuk memecahkan password itu.
"Pak... Coba deh 1914263," Usul Sofia.
Kode itu berhasil. Mereka semua terperangah termasuk Nazril dan Pak Hasan. Tak menghiraukan bagaimana Sofia dapat memecahkan kode itu, Pak Hasan, Bu Raya, Nazril serta Edwin pun segera mengarahkan siswa siswi menuju lorong rahasia.
Saat mereka sedang melakukan evakuasi, dan hanya tersisa Nazril, Edwin, Sofia, Bu Raya serta Pak Hasan yang tengah memastikan semua siswa telah masuk, bom itu benar-benar meledak membuat semua orang memekik. Ledakannya tidak terlalu dahsyat, tidak bisa juga dikatakan ledakan kecil. Karena nyatanya, fondasi di lantai dua ini sudah mulai melemah.
"Kak Edwin! Ayo kak! Balkon nya hampir runtuh itu!" Teriak Sofia di ambang pintu ketika melihat lantai yang dipijaki Edwin mulai retak.
Edwin menurut, namun ketika ia melangkah, lantai yang dipijaki kaki kanan Edwin runtuh. Ia sedikit meringis kesakitan ketika potongan besi yang digunakan untuk fondasi beton itu menggores kaki kanannya dengan cukup dalam. Sofia serta Bu Raya memekik khawatir. Nazril dan Pak Hasan pun mendekat dengan hati-hati lalu membantu Edwin untuk kembali naik.
Walaupun Edwin harus di bopong, setidaknya ia selamat. Mereka selamat.
__ADS_1
...❄❄❄💙❄❄❄...
Pria dengan setelah hitam mencurigakan itu membuka pintu Rooftop dengan hati-hati. Setelah itu ia kembali menguncinya. Saat mengetahui dua orang yang tengah ia cari sedang berada di gudang, ia pun berjalan menuju tempat yang tersembunyi, dan strategis tentunya.
"Ketemu!" Ujar Julian semangat seraya memperlihatkan barang yang mereka cari pada Xennora.
Xennora tersenyum, matanya terlihat berbinar lalu ia pun mengambil alih kunci itu. Baru saja nereka keluar dari gudang, namun sebuah suara ledakan membuat mereka berhenti lalu saling berpandangan. Detik berikutnya Xennora dan Julian segera melihat Aula di bawah yang letaknya memang dikelilingi gedung ini.
"Suaranya... Dari Aula?" Gumam Xennora. "Apa mereka baik-baik aja?"
Julian tersenyum getir, ia juga mengkhawatirkan Sofia. "Gapapa, mungkin suara itu asalnya bukan dari Aula. Udah yuk, kita cari cara buat keluar dari sini aja. PR tuh buat lo, gue udah males duluan ngeliat puluhan kunci itu." Hibur Julian. Xennora mengangguk ragu lalu mendekati pintu Rooftop dengan langkah kecil diikuti Julian.
Sesampainya di depan pintu, Xennora mulai mencoba puluhan kunci itu satu persatu. Pergerakannya dapat dibilang tergesa-gesa. Julian yakin, Xennora masih memikirkan suara ledakan tadi.
Hening, walaupun Xennora sudah mencoba sepuluh kunci. Mereka larut dalam pikiran masing-masing hawa dingin mulai menyeruak membuat Julian yang hanya memakai kemeja putih tanpa jas itu mengusap tangannya. Mungkin Xennora lebih kedinginan karena memakai gaun dengan bahu terbuka, walaupun Julian telah memberi jas nya, tak menutup kemungkinan jika Xennora tidak merasakan dingin. Nyatanya, tubuhnya terlihat sedikit menggigil.
Julian kehilangan ide, ia tidak tega melihat Xennora menggigil. Dengan pergerakan canggung, Julian berniat memeluk Xennora dari belakang, namun niat itu tidak akan bisa terealisasikan.
Semua terjadi begitu cepat.
"Sen... Lo lagi suka sama siapa?" Tanya Julian random membuat Xennora mengerutkan kening nya tanpa menoleh.
"Gak ada tuh. Gue lagi gak suka sama siapa-siapa. Kalau konteks suka yang kakak maksud itu perasaan lebih."
Hening selama beberapa menit.
"Bay the way, lo cantik malam ini." Julian kembali bersuara dengan kalimat yang lebih random.
"Harus baget ya ngucapin sekarang. Nanti aja kak please."
"Jaga-jaga... Kalau gak ada kata nanti lagi di hidup gue..."
"Kak, apaan sih?!" Xennora mulai kesal dengan ucapan Julian yang semakin melantur.
"Sen... I still love you..."
Xennora terdiam, tak mampu membalas ucapan Julian yang entah masih melantur atau memang kalimat itu yang ingin Julian sampaikan selama ini. Xennora perlahan berbalik, ekspresinya yang gugup berubah sangat drastis menjadi panik. Ia terkejut melihat kemeja Julian yang awalnya putih bersih namun kini terdapat bercak darah di perut bagian kiri nya. Julian terlihat menahan sakit, tangan kanannya memegang bagian yang dipenuhi banyak darah.
Mata Xennora berkaca-kaca, ia benar-benar syok melihat pemandangan di depannya. Tak lama Julian terjatuh, ambruk di pelukan Xennora yang kemudian ikut terduduk. Xennora benar-benar panik saat ini. Ia tidak ingin kehilangan Julian. Sungguh, ia benar-benar tidak ingin kehilangan pria yang ada di pelukannya ini. Ia menangis, tangisan yang pilu terdengar sangat menyayat hati siapapun yang mendengarnya.
"Kak, jangan pergi, kak... Jangan pergi..." Ia terus mengulang kata-kata itu. Xennora bahkan tidak menghiraukan suara pintu yang terbuka, lalu tertutup lagi. Ia hanya mengkhawatirkan satu hal. Satu orang. Kakak kelasnya. Orang yang dulu ia benci. Julian Matteo Kayden.
__ADS_1