The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
Epiphany


__ADS_3

Xennora tersadar ketika mendengar suara berat khas pria dewasa yang keluar dari speaker ruangan. Ia memandang sosok pria yang berwibawa itu di layar tancap. Penampilannya formal sekali, ia keluar dari kamarnya ketika mendengar langkah kaki seseorang.


Pria itu lalu mendekati orang yang memang ia cari. Dia melayangkan tamparannya kepada anak perempuan di depannya itu. Diluar ekspektasi, bukannya menangis, gadis itu hanya menatapnya santai seakan tamparan tadi adalah hal yang sudah biasa ia dapat. Atau mungkin itu hanya kelihatannya.


“Kamu bisa aja jadi seorang hakim, tapi kenapa?! Kenapa kamu mau jadi Jaksa?!”


“Daripada jadi penyanyi kan?” Gadis itu tersenyum miring.


“Dasar gak tahu diri—”


“Kenapa? Papa marah kalau aku jadi jaksa cuma karena Papa merasa bersalah sama Zenara? Atau Papa lebih marah lagi kalau aku jadi penyanyi hanya karena Bunda? Papa sadar gak? Kalau aku pergi Papa akan lebih kacau dari sekarang. Bunda dan bahkan Zenara, udah gak ada di sisi Papa lagi. Pertama bunda dan kedua Zenara. Atau... Haha... Kayaknya Papa lebih mengharapkan aku jadi yang ketiga?”


Zenara? Sepertinya Xennora pernah mendengar nama itu. Cara pengucapannya hampir sama dengan nama Xennora, mungkin itu yang membuatnya familiar.


Tapi entahlah, mendengar nama itu membuat rasa sakit kembali menyeruak di kepalanya. Semua mimpinya terputar jelas seakan itu adalah adegan-adegan film yang pernah ia tonton. Begitu lengkap, begitu komplit, begitu complicated, begitu jelas, dan begitu tersusun untuk sebuat mimpi.


Xennora merasa ia seperti sudah berkeliling ke museum atau seperti membaca buku tentang pengalaman pribadi seseorang dengan ratusan halaman. Tentang seseorang bernama Zenara Annisa Fachrunaldo, Deandra Callena Pyralis, Kirania Aliya Pyralis, Reydevan Arga Pyralis, Leo Ellery Fachrunaldo, Nazril Arkatama, Edwin Dery Facrunaldo, Julian Matteo Kayden, Antha Ayslyn, Carissa Putri, Rafael Haidar Fachrunaldo, Herina Zuanshi Annora, Sofia Raneysha Kayden, Eireen Hera Delvina, Vinca Ismene Haiqa, Ervin Ghazi Emilio, Revanea Emilio, Fadhil Auliansyah, dan Narissa Agnella Arkatama yang berubah menjadi Fachrunaldo.


Tubuh Xennora ambruk di lantai, ia lemas sekali. Tapi Xennora ingat semuanya sekarang. Zenara, ya... Juga kejadian setengah jam yang lalu. Itu reka adegan saat Xennora menemukan Zenara ada di kamarnya, lalu tubuh gadis itu ambruk setelah tersenyum menatap Xennora. Senyuman terakhir yang ia dapat dari saudara kembarnya. Xennora pun berdiri, ia menepuk pelan celana putihnya yang sedikit kotor, hatinya lega sekarang. Ternyata ini alasan kenapa Xennora selalu merasa bersalah yang bahkan ia tidak tahu untuk siapa ia merasa bersalah.


Dan jawabannya adalah Zenara. Xennora bertahan untuk membalaskan kematian Zenara, ia membangun benteng yang tinggi untuk fokus meneruskan kehidupannya hanya untuk membuat Zenara tenang di sana. Ia hidup sampai saat ini untuk membalaskan apa yang belum terbalaskan. Delia, Xennora kembali mengingatnya. Ada efeknya juga setiap bulan terapi di rumah sakit.


Tunggu sebentar, Edwin. Ya... Polisi tadi bernama Edwin bukan? Bagaimana jika dia adalah kakak Xennora? Maka jelaslah sudah niat Edwin mengajaknya ke sini. Karena semua ini direncanakan untuk membuat ingatan Xennora kembali. Menggunakan reka adegan secara nyata, dan melalui film dokumenter. Jangan lupakan piano tadi.


Tiba-tiba, lampu mati, semuanya gelap total, membuat Xennora tersenyum samar. Memang benar, semua ini sudah direncanakan. Berita baiknya, ia sudah tidak takut dengan kegelapan karena satu ruangan bersama Silvana yang sangat tidak ingin lampu kamarnya menyala saat tidur. “Kak... Edwin?” Panggil Xennora lirih, ia berusaha untuk pergi dari deretan kursi itu. Saat dia sudah berada di tangga teater, lampu di depan sana menyala, memperlihatkan seorang laki-laki yang tengah tersenyum menatapnya di atas panggung.


Xennora menatapnya tanpa ekspresi, rasanya Xennora yang dulu telah kembali., ia kemudian menuruni satu anak tangga, dan lampu kembali menyala menyoroti seorang laki-laki dengan wajah mirip seperti Edwin. Pria itu juga tersenyum menatapnya,


Leo Ellery Fachrunaldo.


Satu langkah lagi ia turun, lampu kemudian menyoroti seorang pria berjas putih rapi, seseorang yang sudah ia kenal sebelumnya.


Nazril Arkatama.

__ADS_1


Xennora menuruni satu anak tangga lagi, lampu yang menyorot kembali menyala. Seorang perempuan dengan rambut silver berkilau terkena cahaya lampu itu dengan aesthetic nya.


Herina Zuanshi Annora.


Xennora yakin kakak kelasnya yang satu ini sudah melanjutkan hubungannya dengan Edwin ke jenjang yang lebih serius. Atau mungkin baru akan. Satu langkah lagi, lampu di sisi lain kembali menyala, seorang perempuan lagi. Perempuan berambut hitam lurus sepunggung dengan senyum khasnya.


Eireen Hera Delvina.


Entah apa hubungannya Eireen ada di sini, mungkin nanti akan ada Sofia dan Julian. Langkah keenam, seorang wanita yang sudah terlihat dewasa dan elegan.


Carissa Putri.


Xennora kini tersenyum getir, kini hanya tertinggal langkah terakhir membuat Xennora sedikit merasa heran. Bukankah masih ada Sofia? Lalu akankah ada yang tidak hadir sekarang? Xennora pikir orang terakhir ini antara Julian, Sofia, atau Antha. Baiklah, langkah terakhir, ternyata tidak sesuai dengan ekspektasinya. Seorang pria setengah paruh baya yang berdiri di sana.


Irfan Jiro.


Suami Carissa Putri yang baru. Tapi fakta itu anehnya tidak membuat Xennora mengurungkan niatnya untuk naik ke atas panggung. Gadis itu mendekati Edwin yang berada paling dekat dengannya, Xennora yang lama memang telah kembali, namun itu tidak menutup kemungkinan jika Xennora yang baru juga bersatu dengannya.


“You miss me huh?” Tanya Edwin pelan. Xennora hanya membalasnya dengan anggukan, mengingat kejadian tadi siang saat Xennora hanya memanggil Julian membuat gadis itu meringis, merasa bersalah.


“Sorry...”


“For what?”


“Everything.”


“It doesn’t matter. The most important thing is that I found you, we found you...”


“Ra... Kakak minta maaf...” Ujar Leo dengan wajah sendu nya membuat Xennora melepaskan pelukan Edwin. Xennora menatap kakak keduanya itu datar, tapi kemudian dia tersenyum lalu merentangkan tangannya. Leo mendekat lalu memeluk gadis itu penuh rasa bersalah.


Semuanya sudah jelas, pemilik rokok itu adalah salah satu sopir pribadi Rafael, ia menjatuhkannya ketika mengetahui jika Rafael sudah pulang. Rafael memang membenci rokok, entah apa alasannya. Makanya semua pekerja keluarga Fachrunaldo tidak ada yang berani membawa rokok ke rumah itu.


“Aku terima permintaan maaf kakak.” Ujar Xennora lengkap dengan senyumannya setelah melepaskan pelukan Leo. Sepertinya mereka harus mulai terbiasa dengan Xennora yang ramah. Siapapun yang mengajarkan Xennora untuk sikapnya ini, Edwin dan Leo harus berterimakasih nanti.

__ADS_1


Xennora sedikit terkesiap ketika melihat Carissa yang berdiri di belakang Leo. Penyanyi terkenal Carissa Putri adalah ibu kandungnya? Ini sedikit mengejutkan karena apa yang Yuna ucapkan beberapa hari yang lalu ternyata benar adanya. “I-ini... Serius? Ibu... kandung aku...?” Tanya Xennora ragu. Kalau ternyata salah kan malu.


Carissa yang sadari tadi tersenyum pun menganggukkan kepalanya seraya mendekat lalu mendekap Xennora erat. Untuk pertama kalinya setelah dua puluh tahun, akhirnya Carissa bisa memeluk putrinya lagi. Setelah empat tahun, Carissa bisa melihat putrinya lagi. Alasan Rafael dan Carissa cerai adalah karena Carissa seorang publik figur, sehingga kehidupannya tidak akan lepas dari kamera.


Rafael tidak mau anak-anaknya merasa tidak nyaman. Jadi suatu hari, dia meminta Carissa untuk berhenti di dunia hiburan, tapi Carissa tidak mau melepas karirnya yang kian gemilang. Akhirnya mereka cerai, dan karena kehadiran anak-anak mereka tidak terekspos media, hak asuh diambil seluruhnya oleh Rafael. Namun tetap saja, Zenara ingin tinggal bersama ibunya, menunggu waktu untuk media mengetahui keberadaannya.


Dan sekarang, giliran Xennora yang ingin ia ambil alih hak asuhnya. Carissa berjanji untuk berhenti di dunia hiburan, ya walaupun sepertinya tidak sepenuhnya. Tapi ia berjanji untuk menghilangkan sifat egoisnya kali ini. Bagaimanapun, Xennora adalah anak kandungnya, ia masih bertanggung jawab untuk kelangsungan hidup gadis itu.


“Maaf—”


“Stop, tolong jangan ada permintaan maaf lagi setelah ini... Aku bosen...”


“Hahaha, okay... Oh iya, kenalin Ra, ini—”


Sekali lagi, Xennora memotong kalimat ibunya. Sungguh anak yang sangat berbakti.


“Paman Irfan Jiro, pemilik stasiun televisi JCBA. Aku tau.” Ujar Xennora membalas senyuman suami Carissa. “Ngomong-ngomong... Kak Julian gak datang?”


...***...


“Ada apa Ra?”


“Waktu ke TKP tadi sore, ada perempuan yang ngembaliin pisau punya korban, tapi kamu tau gak?” Tanya Xennora sambil membuka gagang pisau itu dengan mudah karena sebelumnya ia sudah membongkarnya.


“Darah?” Nazril terkejut. Ada bercak darah di sela-sela gagang pisau yang terbelah itu.


“Aku mau minta tolong buat cek apakah darah ini darah hewan atau darah manusia... Dan kalau lebih spesifik lagi, darah ini milik siapa? Apa ini darah korban?”


“Oke, aku ambil ya? Besok pagi kayaknya udah beres.”


“Makasih Na, kamu mau pulang?”


“Enggak, aku harus ke rumah sakit lagi, ada tugas.”

__ADS_1


__ADS_2