The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
Real Face


__ADS_3

Hari demi hari para Tim penyelidikan berduka atas kematian Delia yang telah ditetapkan sebagai kasus bunuh diri. Tak ada murid yang dapat menyangkal atau memprotes, karena Delia memang dikenal dengan kepribadian nya yang pendiam dan selalu sungkan. Bahkan kesepuluh anggota penyelidikan pun hanya dapat pasrah saat mengunjungi makam Delia. Para siswa yang mendapat pesan terakhir dari Delia pun dimintai keterangan termasuk para anggota penyelidikan yang telah Ervin tetapkan dengan nama The Poison Hunter karena dugaan sementara kematian Delia itu karena racun yang disuntikkan secara paksa. Bukan bunuh diri.


Sebenarnya Ervin dan Vina telah mengajukan hipotesis kepada ayahnya yang seorang Polisi. Namun ayahnya tidak percaya. Jaksa Rafael? Sudahlah, Xennora bahkan tidak berniat menceritakan semua masalah ini pada ayahnya itu. Azka, ayah Julian yang menjabat sebagai CEO KayChief Group, perusahaan yang berjalan di bidang per-film-an juga sempat diberitahu tentang hipotesis mereka.


But no one believe.


Tidak semua siswa SAN berkabung karena kematian Delia. Tentu saja karena gadis malang itu tidak memiliki teman satupun. Tidak ada yang benar-benar dekat dengannya. Tidak ada yang peduli padanya. Bahkan dihari kematiannya, mereka hanya menyebarkan rumor yang aneh. Delia, selamat jalan. Kematian itu bukan kehendakmu. Bukan juga kehendak Tuhan. Siapapun yang telah menghilangkan nyawa mu, kami akan berusaha membalasnya.


Nazril telah resmi menjadi murid SAN High School, tepatnya murid 11 Pidana 1. Namun agak disibukkan oleh Try Out susulan untuk proyek lompat kelasnya sehingga jarang berkumpul dengan Xennora dan teman-temannya.


Dan mengenai foto itu, Xennora dan Vinca pergi untuk memperbaikinya saat pulang sekolah. Tapi pemiliknya bilang, komputernya sedang rusak jadi mereka harus menunggu beberapa hari. Xennora tak terlalu mempermasalahkan hal itu karena tak terlalu penting. Xennora hanya ingin memperbaiki foto itu karena ia yakin foto tersebut milik Deandra yang terjatuh di depan rumahnya. Jadi, Xennora berniat mengembalikan foto itu dalam keadaan baik-baik saja.


Sesuai perjanjian, Sofia akhirnya mengajari Eireen beberapa teknik mengatur pernapasan dan teknik bernyanyi agar suaranya tidak crack. Hampir setiap hari juga orang-orang di lab mendengarkan suara lembut milik Sofia. Dan mereka sungguh menikmatinya. Lucunya, tidak ada yang tahu jika Xennora Anesta Fachrunaldo juga sangat ahli dalam hal bernyanyi, hanya Julian yang mengetahui itu. Bahkan jika boleh jujur, suara Xennora lebih stabil dan lembut daripada milik Sofia. Tentu saja karena Xennora memiliki bakat, Sofia hanya belajar dan mengembangkan, bukan bakat.


"Enggak enggak, nada nya harus semakin tinggi. Oh bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam... Hatiku..." Jelas Sofia sambil menyanyikan beberapa baris.


Eireen mengangguk, sedikit tidak fokus karena mendengar high note Sofia yang lembut. Tidak menyangka jika sepupunya itu benar-benar bisa bernyanyi. Sungguh sempurna. "Oh bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam... Hatiku..." Eireen mulai bernyanyi membuat Vinca yang sedang membaca novel teralihkan lalu memuji nya diam-diam.


"Perfect. Lo tinggal jaga aja suara lo biar gak voice crack." Ucap Sofia yang dibalas anggukan oleh Eireen.


"Pentas nya dua hari lagi. Ada yang masih belum lo kuasai gak? Di lagu kedua?" Tanya Sofia.


"Enggak Fi. Tapi, tadi pagi baru ada pengumuman kalau gue juga kebagian lagu ke-lima, buat duet ending." Jawab Eireen, "gak banyak kok. Cuma dua bait aja, tapi masalahnya.... Ini lagu Korea..." Lanjut Eireen pelan.


"Pfft..." Julian menahan tawanya. Ia tahu betul jika sepupunya itu paling tak bisa jika harus berhubungan dengan bahasa Korea, apalagi lagunya. Julian yakin itu akan terdengar awkward.


"Mana sini, gue liat liriknya." Ucap Sofia, lalu Eireen pun memberikan lirik romanization dengan tangga nada nya. "Hmm, Yah... Gue gak bisa baca tangga nada nya. Gue juga gak tau lagu ini."


"Coba dulu Fi, gue mau denger." Ucap Herina, spesialis dunia permusikan Korea.


"Ya udah... Percobaan ya... Duh mana tangga nadanya agak tinggi..." Sofia pun mulai mengatur pernapasannya.


"yoU'rE my onLY one WAY... OjiK nEoRe-- eh apaan sih ini?"


Semua orang tertawa karena nada yang dinyanyikan Sofia agak aneh. Nada rendah dan nada tingginya seakan diletakkan secara acak.


"Kok jadi gitu woy?! Hahahaha..." Kritik Julian.


"Ish kalau gitu gue tantang ya kalian satu satu. Siapa yang berhasil nyanyi dengan sempurna, gue janji bakalan mulai belajar Matematika." Tantang Sofia yang membuat Julian langsung terdiam.


"Guys! Ayo keluarkan suara kalian! Mari kita buat Sofia Raneysha kobam matematika!" Seru Eireen bersemangat seraya memberikan kertas berisi lirik lagu tadi kepada Vinca yang duduk paling dekat dengannya.


Vinca seketika berhenti tertawa lalu menerima kertas itu dengan malas. "Reen, lo tau kan alasan gue nyuruh Sofia ngajarin lo nyanyi?" Tanya nya malas.


"Tau lah. Kalau lo yang ngajarin kan gak akan bener."


"Nah itu tau..."


"Gapapa lah coba dulu." Ujar Sofia.


"You're my only one way, Ojik neo.... Reul? Ojik neoreul won hae. Na ega--"


"Shht shtt ssst! Malah makin parah buset gak ada yang bener." Komentar Edwin.


Bukan apa-apa. Masalahnya adalah Vinca yang membaca lirik nya. Tidak dinyanyikan, apalagi nada suaranya sangat datar. Emang gak niat nyanyi sih.


Vinca pun tersenyum meledek lalu memberikan kertas itu pada Herina yang duduk di sampingnya.


"Ekhm... Suara gue agak gimana ya... Coba dulu deh..." Gumam Herina. "You're my only one way... Ojik neoreul wonhae... Naega ni gyeote-- ah gue gak bisa! Nada nya terlalu tinggi!!" Ratap Herina lalu memberikan kertas itu pada Edwin di sampingnya.

__ADS_1


"Loh, aku ikutan?" Tanya Edwin.


"Ya iyalah. Seengaknya harus coba!" Balas Herina.


Edwin menatap Julian, Ervin dan Leo untuk meminta bantuan. Namun ketiga pria itu malah menatap ke arah lain seakan tidak ingin ikut campur.


"Heish... Gue nonton aja lah ya?" Pinta Edwin.


"Tapi nanti traktir makan yaa!" Seru Sofia. Edwin pun mengangguk pasrah. Mendengar jawaban Sofia, trio JEL yaitu Julian, Ervin dan Leo pun tergiur.


"Kita juga ya Fi!" Seru mereka kompak. Edwin hanya dapat menatap datar trio itu.


"Iya iya, tapi traktornya harus makanan enak!"


"Sip gampang itu." Jawab Leo.


Kertas pun di estafet kan lagi dan berakhir di tangan Vina yang sedari tadi sibuk mengingat nada lagu yang Herina nyanyikan.


"You're my only one way.... Ojik neoreul wonhae... Naega ni gyeote isseume gamsahae-- ah udah ya! Malu tau!" Seru Vina. Namun para Poison Hunter itu terdiam, tidak bereaksi apapun.


"Kok pada diem sih? Jelek ya suara aku?!"


"Vin... Abang gak nyangka suara lo sebagus itu...." Puji Ervin membuat yang lainnya mengangguk. Vina hanya bisa tersenyum malu sekarang.


"Oke! Fiks lo menang Vin! Tagih gue di hasil ulangan kenaikan kelas matematika bulan depan ya!" Janji Sofia.


"Hehe... Kak Herina, emang nadanya bener ya gitu?" Tanya Vina.


"Eeemm... Ada yang kurang pas sih. Tapi buat orang yang baru nge denger lagunya terus disuruh nyanyi, lo udah bagus banget." Ujar Herina jujur.


"Oke, kita udah punya siapa pemenangnya. Tapi... Gue penasaran banget sama suara ice queen kita. Apakah cara nyanyi nya sama kayak Vinca?" Tanya Eireen dengan nada khas seorang MC.


"Yak kalau begitu... Mari kita dengarkan sama-sama." Lanjut Leo seraya memberikan kertas itu pada Xennora yang kini telah menyimpan handphone nya.


"You're my only one way


(Kamu satu-satunya caraku)


Ojik neoreul wonhae


(Aku hanya menginginkanmu)


Naega ni gyeote isseume gamsahae


(Terimakasih telah berada di sisiku)


You're the only one babe


(Kamu satu-satunya sayang)


Himdeun sesang soge sarangeul alge haejun


(Kamu membuatku mengenal cinta di dunia yang sulit)


Neo Hanaro naneun haengbokhae..."


(Bersamamu aku bahagia)


Semuanya terdiam, mematung. Julian mengangguk kecil, sudah lumayan lama ia tak mendengar suara lembut ini.

__ADS_1


Eireen terdiam, rasa-rasanya suara Xennora tadi tidak untuk ditiru keindahannya. Hanya ada satu di sekolah ini. Mesti dilestarikan.


Tak lama terdengar suara ketukan pintu yang menginterupsi mereka.


"Masuk." Ucap Edwin. Tak lama, seseorang yang ternyata perempuan itu masuk namun hanya diam di depan pintu.


"Rani?" Tanya Vina membuat Rani tersenyum canggung padanya.


"Kak Xennora, kakak dipanggil ke belakang sekolah." Ucap Rani.


Xennora mengernyit, "siapa yang nyuruh?"


"Gak tahu kak, aku gak kenal. Kakak kelas pokoknya."


Xennora terdiam sebentar lalu melirik Julian yang juga tengah menatapnya. Setelah itu, Xennora bangkit lalu pergi menuju belakang sekolah diikuti Julian yang berjalan dengan jarak yang cukup jauh dari Xennora.


'Ok, dalam pengawasan gue tapi... '


...❄❄❄💙❄❄❄...


"Deandra... Callena Pyralis..." Seorang perempuan berucap di belakang Deandra membuat gadis itu berbalik menatap tiga orang siswi dengan tangan yang dilipat di depan dada. "Nama lo... Terlalu aneh untuk orang asli Bandung." Lanjut siswi yang berada di tengah dengan nametag Cathleen.


Deandra menatap mereka resah campur kesal. "Jaga mulut lo, gue lebih senior daripada kalian!"


Cathleen tertawa, "hahaha lo lupa? Sekarang kita satu tingkatan. Gue gak nyangka yang awalnya kita beda delapan tingkatan, jadi setingkat, haha."


"Apa yang kalian mau? "


Mereka berjalan mendekati Deandra, "gue cuma mau tahu, alasan lo gak naik kelas berkali-kali. Tapi sekarang gue tahu. Lo... Itu... Bodoh." Ucap Cathleen sambil mendorong kepala Deandra dengan telunjuk nya membuat Deandra kehilangan keseimbangan lalu melangkah ke belakang. Entah sejak kapan, dua rekan Cathleen ada di belakang Deandra dan mengacungkan kaki kanan mereka membuat Deandra benar-benar terjerembap ke belakang.


Terdengar, mereka tertawa puas lalu menjambak rambutnya membuat Deandra mendongak dengan ringisan dari mulutnya. Sepersekian detik kemudian, Cathleen menamparnya. Hanya sekali tapi lumayan perih. Tapi ia tak boleh menangis untuk saat ini, dan sampai kapanpun.


Rani, yang tak sengaja melihat kakaknya terlihat kacau pun mencoba mencari bantuan. Maka dari itu, ia teringat Vina lalu berlari menuju lab Perdata dan mencari orang paling berpengaruh di sana. Xennora.


Deandra kemudian berdiri. Tiba-tiba, ia menendang si kembar Kaina dan Raina membuat mereka tersungkur dengan luka goresan di lutut dan telapak tangan karena Deandra menyerang secara tiba-tiba. Cathleen yang tengah terkejut itu menatap Deandra ketakutan, sedangkan Deandra menatapnya marah. Ia menarik jepit rambut Cathleen kasar membuat gadis itu memekik sakit. Perlahan Deandra mendekati Cathleen membuat gadis itu mundur.


"Udah gue bilangin gue lebih senior dari kalian semua sialan! Masih bocah aja udah sok. Dan dengerin gue, Cathleen Falvia... Sombong boleh bego jangan." Ucap Deandra telak lalu mendorong Cathleen sampai terjatuh. Sialnya, telapak tangan kanannya tak sengaja menekan pecahan kaca yang memang sering disimpan disana. Hal itu tentu membuat telapak tangannya berdarah dan juga membuatnya menangis histeris. Kaina dan Raina tak bisa berbuat apa-apa selain memegangi perut mereka yang sakit.


Deandra tak terlihat terkejut melihat hal itu, namun juga tak terlihat begitu senang. Tepat saat itu pula, Xennora sampai di belakang sekolah dan begitu terkejut nya dia saat melihat apa yang telah terjadi di sana.


Ia tahu hal ini akan terjadi, tapi tidak menyangka akan secepat ini.


"Kak?!" Pekik Xennora membuat Deandra menatanya terkejut, sedangkan ketiga orang yang terduduk sambil menangis kembali mengeraskan tangisan mereka.


"Tolong jangan bilang mereka terluka karena lo?!" Tanya Xennora. Deandra tak bisa menyangkal pertanyaan Xennora, ia sudah menganggap Xennora orang baik. Jadi Deandra tak dapat berbohong pada gadis itu. Namun tentu saja dia tidak akan melupakan siapa sang target.


"Kak apa-apaan sih?" Ucap Xennora tak percaya lalu mendekati Cathleen dan membalut luka goresan yang mengeluarkan darah lumayan banyak itu dengan sapu tangan di saku almamater nya. Sedangkan Deandra masih mematung dengan napas memburu. Dan Julian, masih memantau dari kejauhan.


"Bisa gak sih? Sebesar apapun masalahnya, jangan sampai melibatkan fisik?" Xennora kembali berdiri di depan Deandra yang tingginya setara dengan Xennora.


"Lo gak ngerti--"


"Iya, gue gak ngerti apa-apa di sini tapi gue bisa menyimpulkan kalau ternyata lo bukan orang yang bisa gue percaya."


"Lo sama aja ya sama papa lo. Haha, keluarga Fachrunaldo emang gak aneh lagi kalau sifatnya buruk. Menyimpulkan apapun sesuai dengan apa yang mereka lihat. Mengomentari apapun, sesuai dengan apa yang mereka dengar. Dan berpikir kalau mereka gak akan salah, gak akan... Pernah salah. Muak gue." Ucap Deandra lalu pergi meninggalkan mereka. Xennora terdiam, ucapan Deandra membuat ia mengingat kembali hal yang hampir ia lupakan,


Tentang Deannisa.


"... Berpikir kalau kalian gak akan salah, gak akan... Pernah salah. Aku muak."

__ADS_1


Xennora terkesiap saat mengingatnya, namun tak lama Julian datang bersama beberapa siswa untuk membantu mengantar Cathleen, Kaina dan Raina ke UKS.


"Jangan mikir yang aneh-aneh Ra, lupain aja apa kata cewek aneh itu." Julian memegang kedua pundaknya membuat Xennora mengangguk dengan ragu.


__ADS_2