The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
Plot Twist


__ADS_3

"Kiw cewek..."


Saat acara penyambutan hari Kartini tahun 2014, itu keempat kalinya Julian melihat Xennora memakai kebaya. And she look really lovely. Dia benar-benar... Membuat Julian tidak bisa mengelak bahwa Julian telah jatuh semakin dalam.


"Apaan sih lo? Genit amat!"


"Dih kok ngegas?!"


"Makan mulu lo. Gak takut gendut?"


"Terserah gue dong! Makan itu kan hak!"


Julian terdiam. Ia rasa jika Xennora bertemu dan mengobrol dengannya selalu diakhiri dengan tanda seru di belakang kalimatnya alias ngegas teroos.


"Tumben bolos. Gak inget status? Anak... Teladan..." Sindir Julian halus yang niatnya memang untuk mencairkan suasana karena untuk pertama kalinya mereka bertemu di Rooftop, berdua. Julian yang niatnya ingin bolos satu jam pelajaran di atap seketika mematung saat melihat Xennora yang tengah berdiri memunggungi nya.


"Tumben sendirian. Gak inget status?.... Player..."


Setelah mengatakan kalimat dark tersebut, Xennora pergi meninggalkan Julian yang masih mematung, kehilangan kata-kata.


"Buset damage nya..."


"Ey yo twin's sister, mau kemana lo?"


Xennora sempat diam sebentar lalu meliriknya sekilas dan kembali berjalan menuju tempat tujuannya. Julian memperhatikan arah tujuan Xennora yang kira-kira masih di daerah koridor itu. Ah... Ternyata kelas 12 Perdata 3. Kelasnya Fadhil Auliansyah.


Julian tersenyum miring, ia kembali mengalihkan pandangannya ke depan dan menunduk, "Oh... Ngebucin ya?" Gumam Julian kesal lalu pergi tanpa menyadari bahwa Xennora masih mendengar gumamannya.


Jelas Julian tidak menyukai bagaimana perbedaan saat Xennora memperlakukan Fadhil dan memperlakukan dirinya. Itu tidak adil. Dia berusaha menjadi konsisten. Julian telah memberikan segalanya pada Xennora... Termasuk waktu yang ia gunakan untuk membeli bunga mawar biru dan menyimpannya di meja Xennora pagi-pagi sekali sampai merelakan waktu sarapan gratis nya di rumah.


Langkah Julian terhenti di depan kelas Eireen dan Sofia saat melihat dua saudarinya itu sedang mengobrol dengan Ervin dan Vinca. Julian mendekati mereka. Walaupun terlihat seperti orang yang tengah bergabung dalam obrolan, nyatanya tidak. Pikiran Julian melayang kemana-mana membuat Ervin merasa aneh lalu menanyakan keadaannya. Dan hal itu nyatanya membuat Julian meracau. Itu kebiasaannya saat sedang banyak pikiran.


"Gue gak suka Xennora... Gua gak suka dia..." Kalimat yang diucapkannya terdengar datar dan menggantung. Ia menghela nafas berat. "Gue gak suka... Kalau dia lebih deket sama cowok itu..."


***


Julian membuka matanya perlahan. Ingatan itu terlintas dipikiran nya. Setelah melamun beberapa saat, barulah ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ruangan yang di dominasi warna putih, infusan, sebuah jendela, bau obat-obatan dan beberapa peralatan kesehatan lainnya. Sudah pasti ini di rumah sakit. Ah iya, tadi pagi dia sempat sadar saat Xennora menangis lalu mengeluarkan unek-unek nya, namun kemudian Julian terlalu lemas sehingga sepertinya ia tertidur lagi, atau sepertinya pingsan.


Tak lama seseorang membuka pintu ruangannya membuat Julian menoleh. Dilihat Ibu nya segera menghampiri Julian dengan wajah panik. Ayahnya kemudian menyusul di belakang Ibu


"Kak? Udah sadar? Perut kamu kerasa sakit gak? Duh... Kakak harusnya bilang sama Ibu atau Ayah kalau mau melakukan hal berbahaya..." Omel Kamila. Julian segera mengubah posisinya menjadi duduk dengan bantuan Azka dan Kamila.


"Hal berbahaya apanya sih Ma? Haha, ini karena Julian gak hati-hati aja..."


"Tapi Papa bangga sama kamu. Udah bisa memimpin ya hmm?"


"Enggak kok Pa, emang dasarnya aja mereka udah dewasa, bisa memposisikan dirinya masing-masing. Julian cuma menyediakan peralatannya aja..."


"Perut kamu... Gak sakit?" Tanya Kamila yang masih mengkhawatirkan putra sulungnya itu.


"Enggak Ma... Biasa aja. Tapi kayaknya kalau Julian gerak-gerak, bakalan kerasa sakit."


"Yaudah kamu istirahat dulu aja, seminggu ya!"

__ADS_1


"Ma, gak usah berlebihan." Ujar Julian melas. Lagi pula ia hanya memerlukan waktu setidaknya tiga hari saja untuk kembali pulih.


"Yang lain... Gak datang? Atau udah pulang?" Tanya Julian.


"Ada kok di luar. Mau Papa panggil semuanya?"


"Boleh sih Pa, tapi kalau ada Xennora panggil aja Xennora dulu. Julian cuma mau ngobrol sebentar aja. Ada hal yang mau Julian bahas."


"Xennora...? Kayak pernah denger namanya..." Gumam Azka seraya pergi dari ruangan itu.


"Ada yang namanya Xennora gak?" Tanya Azka pada teman-teman Julian yang kebanyakan dengan muka bantal itu.


"Hah...?" Gumam Leo sambil menatap teman-teman nya satu persatu. "Kayaknya lagi keluar deh Om." Jawab Leo dengan muka bantal nya. Rambut yang acak-acakan, mata yang di sipit kan, dan suara khas orang yang baru bangun tidur.


"Umm bisa tolong panggilkan?"


"Biar saya aja om." Ujar Nazril. Maka dari itu, ia segera bangkit, merapikan diri, lalu mencari sepupunya.


Seiring dengan kepergian Nazril, mereka mulai mengumpulkan nyawa, Vinca juga sudah sampai di Rumah Sakit. Herina, Edwin dan Ervin pun ikut datang. Azka diam-diam tersenyum melihat solidaritas mereka, walaupun ia juga menerka-nerka apakah mereka tidak di marahi oleh orang tuanya?


"Kalian belum sarapan kan? Ayo masuk dulu temenin Julian, biar saya yang beli sarapan."


"Eh, makasih Om. Hati-hati ya..." Ujar Ervin saat Azka mulai menjauh.


"Kamu ini, cuma ke depan kok." Balas Azka sambil terkekeh.


"Masuk nih?" Tanya Leo sambil memegang knop pintu ruangan Julian.


"Ya iya, kan disuruh sama bokap nya." Jawab Edwin.


"Ish geser deh..." Ujar Herina tidak sabar sambil mendorong Leo yang menghalangi pintu masuk. Ia perlahan membuka pintu itu lalu mendapati Julian yang tengah mengobrol dengan Ibu nya.


"Permisi Tante... Maaf mengganggu hehe..."


"Eh tidak apa-apa kok, ayo sini masuk. Kalian pasti pegel kan tidur sambil duduk?"


"Gapapa kok Tante, Julian bahkan lebih parah. Jadi sebagai teman yang baik, setidaknya kita ikut merasakan walaupun sedikit hehe." Bual Ervin.


"Halah..." Julian terkekeh mendengar ucapan Ervin, begitupun Kamila.


Beberapa menit mereka membicarakan tentang hal yang terjadi kemarin malam, mimpi buruk semua murid SAN High School. Namun Vinca terlihat tidak nyaman saat membicarakan Deandra dan Reydevan. Tak lama, Azka pun datang dengan satu kantung keresek besar berisi tiga belas porsi lontong sayur.


"Ayo ayo sini kumpul, sarapan dulu." Ucap Azka membuat mereka semua kecuali Julian duduk melingkar. Julian menatap mereka penuh harap, kelihatannya enak. Ia juga belum makan dari kemarin sore.


"Pa, Julian pengen dong..."


"Hm?" Saut Azka dengan mulut penuh. "Kamu hari ini puasa dulu."


"Hah?"


"Iya, kata Dokter kamu belum boleh makan sampai besok."


"Papa, telan dulu makanannya..." Omel Kamila membuat Azka terkekeh, sedangkan Julian merengut.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian pintu terbuka, "Assalamualaikum..." Ucap Xennora dan Nazril bersamaan.


"Wa'alaikumsalam..."


Baru saja masuk, tapi tatapan Xennora langsung terpaku pada Julian yang juga tengah menatapnya. Tatapan mereka terputus saat Edwin menarik Xennora untuk duduk dan ikut sarapan.


"Kak Julian gak ikut sarapan?" Tanya Nazril.


"Enggak Nak, dia belum dibolehin makan sampai besok." Jawab Kamila membuat Nazril mengangguk.


"Ayah masih gak paham, sebenarnya kalian melakukan ini untuk apa?" Tanya Azka tiba-tiba saat sarapannya telah habis.


Mereka semua terdiam beberapa detik, menunduk dalam dan memikirkan alasan yang tepat, begitupun dengan Julian, Sofia dan Eireen. "Ya... Gak mungkin kan kita diem aja saat udah tau kalau beberapa nyawa terancam kemarin malam?" Julian membuka suara.


"Itu bagus, Julian. Tapi, bukankah setidaknya kalian harus melapor pada orang dewasa atau bahkan pihak berwenang? Atau paling tidak kalian memberitahukan pihak sekolah supaya acara itu di undur, lebih bagus lagi kalau dibatalkan. Kenapa kalian ingin sekali bertindak mandiri dan menanggung akibat yang fatal seperti ini? Lalu... Harusnya kalian memiliki rencana kan?"


Lagi-lagi mereka terdiam sebentar, bingung ingin menjawab seperti apa. Karena demi apapun mereka hanya berniat untuk mengungkap pelaku teror itu saja.


"Sepertinya tidak, karena saat itu kami merasa bahwa kami mampu mengatasi hal ini secara mandiri. Yang bahkan untuk hal ini saya akui harusnya memang kami bekerja sama dengan pihak berwenang. Namun sekali lagi, saat itu kami merasa mampu mengatasi rencana-rencana Deandra yang juga dibocorkan oleh adiknya sendiri, berpikir bahwa rencana jahat seorang anak SMA tidak akan seberapa, dan tanpa sadar ternyata itu hanyalah tipuan." Jawab Xennora memecah keheningan.


"Kalau kita ngasih tahu pihak sekolah yang berakibat pembatalan pertunjukkan, kita gak bisa. Karena pertunjukkan ini penting banget buat Eireen yang emang baru pertama kali dapat bagian jadi pemeran utama. Kita gak bisa ngeliat semua latihan, jerih payah, dan pengorbanan Eireen jadi sia-sia. Tapi sayangnya, ternyata semua ini berjalan di luar rencana, dan akhirnya ya... Gagal." Julian melanjutkan.


"Mungkin saya harus menggaris bawahi semua ini di luar rencana. Tindakan-tindakan Deandra ternyata lebih buruk dari apa yang kami ekspektasikan. Tadi Xennora sempat menyinggung mengenai pesan palsu yang isinya membeberkan rencana Deandra. Tapi itu palsu. Mungkin kami juga tidak menyadari hal ini karena terlalu bersemangat untuk mengungkap pelaku teror selama delapan tahun di SAN. Jadi... Kami lengah dan akhirnya membuat rencana yang... Sia-sia." Lanjut Herina.


"Untuk rencana, kami tentu memilikinya. Dan ya... Sekali lagi rencana itu hanya berupa ekspektasi karena akhirnya... Apa yang terjadi tidak sesuai ekspektasi." Sesi tanya jawab itu pun diakhiri oleh Nazril.


Diam-diam Eireen bertepuk tangan pelan sambil berbisik pada Sofia dan Antha. "Woow... Bau-bau Calon sarjana dengan gelar Cum Laude......"


***


"Aduhh... Kayaknya aku bakalan jadi mahasiswa terburuk sepanjang Sejarah Universitas Nusantara..."


"Salah siapa males-malesan? Ngelamuuun... Aja terus."


Gadis ini menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan temannya. "Masalahnya kak, belakangan ini aku sering mimpi aneh. Nyaris tiap hari!"


"Mimpi apaan tuh?"


Dia terdiam, berpikir seraya melihat sekeliling. Membuat temannya memandangnya ragu.


"Kamu.... Kamu jangan iseng lagi deh ya! Males aku."


"Enggak ih! Suudzon aja. Ini beneran tau? Mau denger gak?"


"Yaudah, cerita aja."


"Jadi, belakangan ini aku selalu mimpi. Mimpinya tuh kayak bersambung gitu, berhubungan jadinya tiap hari. Udah kayak nonton film."


"Heem... Ya... Terus?"


"Masalahnya ya... Aku gak kenal sama tokoh-tokoh di mimpi aku itu... Artis juga katanya bukan deh. Gak pernah liat muka mereka pokoknya!"


"Lah? Kok bisa?"

__ADS_1


"Makanya kak... Kakak kan anak psikologi nih... Tau gak arti dari mimpi aku tadi?"


"Eung... Kalau mimpinya beraturan gitu aku juga gak ngerti sih ya... Kecuali kalau misalkan kamu mimpi jatuh, dikejar, atau kehilangan keluarga, baru deh itu bisa diketahui alasannya. Mungkin.... Mungkin nih ya... Mereka itu keluarga kamu? Atau teman-teman kamu dulu?"


__ADS_2