
Xennora memasuki ruangan favoritnya di sekolah ini. Bukan Rooftop, perpustakaan, UKS, lab apalagi toilet. Ruangan ini bahkan ia cap sebagai ruangan miliknya. Tak heran sih, hanya Xennora yang sering mengunjungi ruangan ini selain anak band. Ya, ruang musik, ruangan favorit Xennora saat pertama kali menjadi murid baru disini. Kira-kira lima tahun yang lalu, saat kelas satu SMP.
Walaupun jarang dikunjungi oleh siswa-siswa lain, alat musik disini lumayan lengkap dan terawat. Jika bukan Xennora dan anak band yang merawatnya, tentu cleaning service sekolah.
Ruangannya menenangkan. Temboknya berwarna soft, gitar dan biola berjejer rapi, begitupun dengan alat tiup seperti terompet, saxophone, clarinet, tuba, suling dan yang lainnya. Dua buah harpha juga bersandar rapi disamping biola. Pianika, harmonika dan angklung tersusun rapi dalam rak. Di sudut ruangan terdapat drum, dan keyboard disebelahnya. Dan beberapa alat musik baik tradisional maupun modern lainnya ikut menghiasi ruangan impian para pecinta musik itu.
Dan yang paling mencolok, di tengah tengah ruangan tersebut terdapat piano berwarna hitam berkilau yang tepat menyampingi jendela besar yang hampir memenuhi satu sisi ruangan. Pemandangan yang dapat dilihat dibalik jendela itu sangat indah, yaitu taman belakang sekolah yang juga memiliki kolam ikan dan air mancur di tengahnya.
Walaupun namanya taman belakang sekokah, suasananya tidak se-sepi dan se-menakutkan seperti di cerita-cerita horror. Justru suasananya hangat, banyak siswa yang berlalu lalang untuk sekedar menenangkan pikiran sambil mengerjakan tugas. Dan taman belakang pula, yang dijadikan jalan pintas menuju mushola oleh para warga sekolah yang akan melaksanakan sholat dzuhur.
Selain untuk menyuplai cahaya yang cukup bagi ruang musik, jendala tersebut juga berfungsi sebagai tempat mencari inspirasi bagi para anak band. Begitupun Xennora, jika ia diberi tugas membuat karangan, maka tempat ini juga yang memberikan inspirasi untuknya.
Xennora meminum green tea smoothie yang ia bawa. Saat itu pula, ia mengingat sesuatu. Yang sebenarnya tidak terlalu penting.
"Yah... Gue lupa ngucapin terima kasih." Gumam Xennora. Walaupun Xennora dan Julian sering bertengkar, bukan berarti Xennora tak harus berterima kasih dengan hal kecil ini. Lagipula Julian baik juga, telah mengantar ini pada Xennora yang bahkan jarak kelas mereka pun terbilang lumayan jauh. Xennora sendiri sering malas jika Edwin atau Leo menyuruhnya pergi ke kelas mereka.
"Nanti juga ketemu lagi... Buat berantem.." Gumam Xennora lagi seraya terkekeh. Ia mendekati piano yang berada tepat di tengah ruangan tersebut.
Xennora duduk di kursi. Ia menyimpan minumannya di bawah. Setelah menarik napas, ia memulai lagunya dengan menekan tuts piano sehingga membuat suatu irama yang indah. Lagu yang sepertinya akan mengekspresikan perasaannya kini. Lagu untuk seseorang yang bahkan tak ia sangka akan berada dalam pikirannya selama ini. Tangannya seakan menari dia atas piano itu, di sampingnya jendela besar itu seakan menjadi latar yang pas bagi mereka yang melihatnya di jendela sebelah pintu masuk. Jendela besar itu memang tepat menghadap ke arah pintu masuk, begitupun letak piano yang otomatis menyampingi pintu masuk juga.
Des yeux qui font baiser les miens,
Un rire qui se perd sur sa bouche,
__ADS_1
Voila le portrait sans retouche
De l'homme auquel j'appartiens
Quand il me prend dans ses bras
Il me parle tout bas,
Je vois la vie en rose.
Permainan nya terhenti, Xennora terdiam. Sepertinya lagu ini terlalu berlebihan untuk seseorang yang baru saja ia cap sebagai orang yang lumayan baik lima menit yang lalu. Apalagi dia adalah lawan adu debatnya selama lima tahun. Mencoba untuk tak memperdulikan hal itu lagi, Xennora kembali melanjutkan lagunya.
Gadis itu tak sadar, pria pencetus keinginannya untuk menyanyikan lagu ini tengah memperhatikan nya lewat pintu yang sedikit terbuka tadi.
Il me dit des mots d'amour,
Et ca me fait quelque chose.
Il est entre dans mon coeur
Une part de bonheur
Don't je connais la cause.
__ADS_1
Hening selama beberapa saat. Xennora melamun, di dalam hati ia menertawakan dirinya sendiri. Kenapa harus lagu ini? Ah, bukan. Kenapa yang ia pikirkan hanya Julian? Jika dikatakan suka pun tak mungkin secepat ini kan? Kurang dari dua jam ia menyukai pria yang selalu bertentangan dengannya? Kenapa ini terdengar lucu?
Baiklah, lupakan. Ia harus menyelesaikan baris terakhir lagu ini.
'Ayolah Xennora, pikirin cowok lain, kak Fadhil contohnya...' batin Xennora yang sedang berusaha keras untuk menghilangkan oknum bernama Julian dari pikirannya.
C'est lui pour moi. Moi pour lui
Dans la vie,
Il me l'a dit, l'a jure pour la vie.
"Waaah... Suara lo bagus banget! Gak nyangka gue!" Ujar seorang pria di pintu masuk. Xennora menoleh hati-hati, takut jika pria itu adalah pemeran utama dalam lagu yang ia nyanyikan lima menit yang lalu. Dan ya....
Untungnya bukan...
"Eh kak Fadhil..." Sapa Xennora lalu berdiri. Fadhil tersenyum seakan membalas sapaan Xennora.
"Oh iya, lo bisa lagu für elise? Itu lagu favorit gue."
"Eung... Belum lancar." Ucap Xennora gugup. Fadhil langsung berdiri dibelakang Xennora lalu sedikit menunduk karena Xennora sedang duduk. Jika dilihat dari manapun, Fadhil seakan tengah memeluk Xennora dari belakang. Lalu, Fadhil memegang tangan Xennora untuk menuntunnya menekan tuts.
Satu hal yang lagi-lagi tak Xennora sadari, seorang pria melihat kedekatan mereka di jendela pintu masuk dan kemudian tersenyum pasrah lalu menghela napas dan pergi dari sana dengan perasaan yang tak dapat ia mengerti.
__ADS_1
Jujur, Julian belum pernah merasakan perasaan yang seperti ini dalam hidupnya. Perasaannya bercampur, marah, sedih, aneh, dan beberapa perasaan lainnya yang tak dapat ia deskripsi kan. Dan lebih anehnya, ia merasakan sesak, seakan ia ingin menangis namun tertahan. Padahal Julian tak merasa sesedih itu.
Julian bersandar di samping ruang laboratorium yang memang biasanya sepi karena terletak di ujung gedung. Ia menetralkan napasnya lalu tubuhnya merosot. Jika ini benar, jika perasaannya benar, maka haruskan Julian merasa aneh dan bahkan menertawakan dirinya sendiri? Ayolah, mereka hanya mengobrol ringan dan bermain piano namun reaksi Julian berlebihan seperti ini. Bagaimana jika Julian melihat Xennora berpelukan atau bahkan berpacaran dengan pria lain? Apa Julian akan mati seketika?