
“Tapi… Kamu tidak bisa datang setiap hari untuk mendonorkan darahmu, nak. Bisa-bisa kamu kekurangan darah dan berakhir cepat lemas lalu sakit. Datanglah bulan depan ketika tubuhmu telah benar-benar pulih.” Ucap salah satu suster ketika seorang remaja berjalan melewati meja resepsionis seraya menahan lengan remaja itu yang terlihat sangat pucat.
“Tidak apa-apa suster, saya akan kembali lagi lusa atau minggu depan saja. Adik saya sepertinya mengalami anemia, jadi tidak bisa ikut mendonorkan darahnya.”
“Tidak apa-apa nak, Rumah Sakit telah menerima donor darah yang dikumpulkan PMI tadi pagi. Jadi sebaiknya kamu istirahat bulan ini. Khawatirkan juga kondisi tubuhmu.”
“Oh? Begitu ya, suster? Kalau begitu saya sangat berterimakasih, saya akan—“
“Tidak perlu berusaha mencari uang dengan kerja sampingan lagi, seorang donatur telah membayar semua tanggungan administrasi Rumah Sakit ini, hanya untuk orang-orang terpilih. Dan syukurlah, kamu terpilih!”
Remaja di depannya terdiam, tidak percaya dengan jenis keajaiban yang tengah ia dapat ini.
“Se-Serius? Jadi… Biaya pengobatan Ayah gratis?!”
“Eits, hanya untuk satu tahun ini yaa!” Jawab sang Suster, ikut bahagia saat menceritakan kabar baik ini.
“Sebenarnya Suster Anne yang mengajukan kamu jadi kandidat, tau?” Ujar Suster lainnya yang berumur lebih muda dari Suster Anne.
“Suster! Terimakasih banyak! Aku dan adikku sangat berhutang padamu!”
“Bukan masalah besar, nak. Semoga ayahmu lekas sembuh dan mendapat pendonor ginjal yang cocok.”
“Aamiin… terimakasih banyak Suster. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi kalau tidak ada Suster…”
“Kamu bekerja keras selama ini… Jadi kamu pantas mendapatkannya.”
Setelah berpamitan, remaja itu segera berjalan menuju pintu keluar Rumah Sakit dengan hati yang lega. Ia mengapresiasi kerja kerasnya selama ini. Akhirnya itu semua tidak menjadi sia-sia. Saat ia baru saja menginjakkan kakinya di trotoar halaman Rumah Sakit, seseorang memanggilnya dari belakang. Ia membalikkan tubuhnya dan mendapati Leo, Sofia, Eireen, dan Herina yang sepertinya baru keluar dari Rumah Sakit juga. Ah bahkan ia lupa untuk menjenguk sahabatnya karena terlalu senang mendapat kabar baik dari Suster Anne tadi.
“Oy Vin! Ngapain di Rumah Sakit?” Tanya Leo.
“Gue kan pernah bilang kalau bokap gue sakit.”
“Ohh… Dirawat di Rumah Sakit ini juga kak?” Tanya Eireen, Ervin mengangguk sebagai jawaban.
“Kok kak Ervin pucat banget gitu sih?” Tanya Sofia.
“Lah iya, lo sakit Vin?” Kini Herina yang bertanya.
“Enggak enggak, gue abis donor darah.”
“Wah… Keren kak…” Puji Sofia.
“Lo jadi pendonor tetap?” Tanya Leo.
“Untuk saat ini iya. Rumah Sakit kekurangan golongan darah AB Negatif. Dan bokap harus cuci darah rutin sebulan sekali.”
“Ah… I see…” Gumam Sofia.
“Lo donor darah sampe pucat gitu duh… Yok kita makan! Tambah tenaga Vin…” Omel Herina.
“Nanti aja deh di rumah. Gue gak bawa uang banyak.”
“Gue bawa. Udah ayo ikut aja! Gue traktir. Biasanya juga lo mandiri banget minta di traktir.” Seru Leo sambil menggiring Leo menuju Rumah Makan Tradisional yang letaknya tidak terlalu jauh dari Rumah Sakit.
Rumah Makan Tradisional, which is Rumah Makan Padang atau bahkan Warteg.
...❄❄❄💙❄❄❄...
Rafael akhirnya pergi dari ruangan itu setelah mendapat telepon kedua, dari asistennya. Xennora tebak, ayahnya itu berangkat ke kantornya lagi. Akhirnya, Xennora dapat bernapas dengan lega sekarang. Bertepatan dengan itu, Leo dan Edwin telah kembali dari Rumah Sakit.
“Nih dek, HP lo.” Ujar Edwin seraya menyodorkan handphone Xennora yang ia tinggalkan tadi hanya untuk memberikan bukti mengenai umur Kirania Phyralis.
Xennora mengambil handphone nya membuat kedua kakaknya itu kembali melanjutkan langkah mereka ke lantai dua. Xennora sedikit ragu dengan tindakan yang akan ia lakukan. Tapi menyembunyikan semua hal tentangnya juga bukan hal yang baik untuk dilakukan. Biar bagaimanapun mereka saudara. Seorang saudara yang baik, tidak akan pernah menyembunyikan apapun.
"Privasi itu berlaku buat semua orang, Xennora. Mereka kakak lo, gue yakin mereka bakalan ngerti."
Baiklah, semoga ucapan seorang Nazril Arkatama itu benar.
“Emm… Bang,”
“Hm?”, “Apa dek?” Respon mereka bersamaan seraya membalikkan tubuhnya menghadap Xennora. Handphone yang Leo mainkan dari awal masuk ke rumah pun telah ia simpan di saku nya.
Baiklah, Xennora semakin gugup sekarang.
“Eung… Kalian ada waktu gak?”
Yap, ucapan orang yang sedang sakit ternyata memang cepat dikabulkan. Leo dan Edwin akan berterimakasih kepada Julian setelah ini.
...❄❄❄💙❄❄❄...
Memasuki minggu kedua sebelum Ujian Nasional, hari ini sekolah sudah dibuka kembali setelah sepuluh hari diliburkan, dengan penjagaan beberapa Polisi dan security tambahan. Julian sudah keluar dari rumah sakit empat hari yang lalu karena Kamila kukuh untuk menyuruh Julian beristirahat selama seminggu full. Edwin juga sudah bisa berjalan tanpa tongkat walaupun cara berjalannya masih sedikit terseok-seok. Semua orang menganggap Deandra dan Reydevan telah tiada. Mereka berspekulasi bahwa tubuh mereka hancur setelah ledakan lalu tenggelam dan hanyut di sungai lalu dimakan hewan-hewan buas seperti buaya maupun ikan-ikan berukuran sedang.
__ADS_1
Oh dan mengenai acara kejujuran hari itu, selain Xennora yang melakukan pengakuan, ternyata Edwin pun mempunyai hal yang ia rahasiakan dari Xennora. Bukan rahasia sih, karena setiap Edwin ingin memberitahu Xennora, pasti ada saja halangannya.
Edwin dan Herina telah resmi menjalin hubungan bahkan sebelum tim penyelidikan dibentuk. Xennora tentu saja terkejut, apalagi mengetahui fakta bahwa hanya dia yang belum mengetahui kabar ini. Ia ingat, saat Edwin memanggilnya untuk mengobrol atau bahkan sekedar menonton TV bersama, ia selalu menolaknya karena berbagai alasan. Yang paling klasik adalah mengerjakan tugas.
Xennora sedikit menyesalinya.
Dan kini, untuk pertama kalinya, tiga Fachrunaldo bersaudara berangkat bersama menggunakan mobil yang biasanya dipakai si kembar saja karena Xennora selalu berangkat lebih pagi untuk naik bus.
“Belajar yang rajin ya, dek. Katanya lo ikut program lompat kelas kan?” Tanya Edwin saat Leo tengah sibuk memarkirkan mobil.
“Iya, bang.”
Leo menghampiri mereka seraya melemparkan sesuatu ke arah Xennora. Refleks, Xennora pun menangkap benda yang ternyata susu kotak dingin, dengan rasa green tea.
“Thanks, bang. Duluan yaa, have a nice day!” Pamit Xennora lalu berlari ke arah kelasnya.
“Iya, hati-hati ya!” Jawab mereka bersamaan lalu melangkah menuju kelas mereka yang letaknya berlawanan dengan arah kelas Xennora.
Jadwal Xennora minggu ini cukup padat. Ada Try Out kedua dan ketiga yang harusnya dilakukan minggu kemarin. Dan juga sepertinya akan ada kuis dadakan hari ini. Memikirkannya membuat pikirannya penat seketika. Yang ia butuhkan saat ini adalah mawar biru yang biasanya ia temukan di kolong meja nya.
Masih pagi, hanya ada Xennora di kelas. Ia segera mengecek kolong mejanya namun tidak ada apapun di sana. Ini cukup aneh karena biasanya bunga itu ada bahkan sebelum siswa lain memasukki kelasnya.
Xennora menghela napas bingung. Ia pun meminum susu yang Leo berikan tadi seraya keluar dari kelasnya untuk berjalan-jalan. Para anggota OSIS sudah berjaga di gerbang depan untuk mengecek kelengkapan atribut yang dipakai siswa.
Ada Vina juga di sana, yang tengah melakukan pendisiplinan atribut dan seragam. Xennora berniat untuk mendekati gadis itu sebelum netra nya melihat seorang pria yang berlari menuju gerbang dengan napas tersengal.
Tumben berangkat siang. Biasanya satpam baru buka gerbang dia udah sampe di sekolah...
Saat Julian sudah lolos melewati barisan anak-anak OSIS, Xennora berniat menegur nya.
"Luka lo gak sakit dibawa lari-lari gitu?"
Julian pun menoleh dan menjawab dengan napas tersengal. "Udah mendingan sih... Anter ke kantin Sen, gue belum sarapan." Jawabnya sambil menarik lengan Xennora menuju kantin.
"Gila? Lima menit lagi bel, bodoh."
"Harsh word. Lo kan ikutan Try Out hari ini. Dan Try Out mulainya jam setengah sembilan! Masih ada setengah jam."
"Ya tapi--"
"Lo belum belajar? Gak percaya gue."
...❄❄❄💙❄❄❄...
"Lo mau ikut pesan makan? Biar sekalian."
"Gak, gue gak lapar."
"Oh yaudah, tunggu di sini lo. Jangan kabur."
"Berisik, udah sana."
Xennora duduk seraya memainkan handphone nya. Sepertinya Julian tidak sepenuhnya salah mengajak Xennora kesini. Karena nyatanya, banyak kakak kelas yang notabene nya akan mengikuti Try Out sedang mengobrol di kantin ini.
"Xennora ya?" Tanya salah satu kakak kelas membuat atensi Xennora teralih.
"Iya. Ada apa? Kak?"
"Di panggil Pak Hasan di ruang Tata Usaha."
"Oh oke. Makasih kak."
Xennora melirik tempat Julian mengantri. Sepertinya masih lama. Ia pun melangkah menuju ruang Tata Usaha yang letaknya tidak terlalu jauh dari kantin.
"Pagi, pak. Bapak panggil saya?"
"Iya, ini kartu peserta Ujian kamu. Nanti kamu ikut kelas 12 Pidana 1 aja. Di ruangan 1, sesi pertama yang dimulai pukul 08.30 sampai jam 12.00, kalau kamu lulus Try Out terakhir ini... Kamu dapat mengikuti Ujian Nasional tanggal 13 sampai 15 Mei nanti. Ada yang mau ditanyakan?"
"Syarat atau KKM untuk program ini masih 85 pak?"
"Umm... Maaf tapi untuk tahun ini diubah menjadi 90."
"Baik pak kalau begitu. Terimakasih atas informasinya."
Xennora pun pergi ke kantin. Dilihatnya, Julian tengah duduk, memainkan handphone nya di hadapan sepiring nasi goreng.
"Main hp mulu, tapi makanan dianggurin." Cibir Xennora sambil duduk di depan Julian yang langsung menyimpan handphone nya.
"Darimana lo?"
"Ruang TU."
__ADS_1
Julian terlihat lega, tapi Xennora masih dapat melihat sedikit raut khawatir di wajahnya.
"Kak, kena--"
"Lo Try Out nya sesi satu kan?" Julian memotong pertanyaan Xennora.
"Iya, kelas Perdata sesi dua. Dan kelas Hukum Publik sesi terakhir... Kan?"
"Iya, bener."
"Lo kenapa sih, kak? Kok keliatan gelisah gitu?"
"Ada sedikit masalah, gosip. Tapi gak penting sih..."
"Ya lo nya aneh, gosip dipermasalahkan."
"*Iya, katanya sih. Gue juga gak terlalu percaya."
"Tapi bukannya mereka tetanggaan dari lama ya?"
"Ya justru itu, kan jadinya cinlok hahaha."
"Kalian ngomongin apa sih? Sumpah gue gak ngerti coy!"
"Yeuu lo sih kesiangan mulu. Jadi ketinggalan kan."
"Itu, salah satu most wanted kita, pacaran sama adik kelas."
"Most wanted yang mana? Gue gak bohong ya kalau sekolah kita punya banyak cogan."
"Ish, ya Fadhil lah. Katanya dia udah*--"
"Woi Agatha!" Panggil Julian kepada sekumpulan siswi yang duduk tak jauh dengan meja mereka berdua.
Gadis yang Julian panggil dengan Agatha menoleh. "Eh calon direktur. Kenapa?"
"Diem gak lo. Pusing gue denger gosip dari lo tiap hari." Yap, Agatha. Salah satu teman sekelas Julian. Ketua geng penyebar gosip di sekolah ini sekaligus admin form gosip sekolah.
"Ya elah, gue juga pusing tau denger lo ngomel tiap hari! Eh bay the way... Siapa dia? Kok gue baru nyadar sih lo gak sendiri..."
"Dia emang ghaib orangnya." Jawab Julian ngaco yang dihadiahi tatapan tidak terima dari Xennora.
"Sampe cinta gue pun nembus aja ngelewatin hatinya..." Celetuk Julian.
Agatha menampilkan raut terkejut. "Wahh! Seriusan?! Gengs kita punya sadboy di kelas!" Heboh Agatha.
"Itu mah emang lo nya aja yang ghaib di mata dia HAHAHAHA." Ujar salah satu teman Agatha yang berwajah seperti preman. Bahkan tingkah laku nya pun begitu. Tomboy.
"Lo... Eh?! Lo Xennora kan???"
Xennora mendongak saat mendengar namanya di sebut oleh salah satu kakak kelas dengan rambut pendek yang diikat.
"Lo kenal sis?" Tanya Agatha.
"Dia most wanted nya kelas Pidana woy. Ah masa lo gak tau, resign aja sono dari jabatan admin gosip."
"Hah? Serius? Yang katanya anak Jaksa itu?"
"Iya bener. Se kurang update apapun lo, gue yakin lo tau dia siapa."
"Oiya gue inget.... Maklum dong gue kelas Perdata..."
"Nanti gue sekelas dong sama dia Try Out nya."
"Lah? Bukannya dia kelas 11 ya?"
"Jangan salah lo, pinter anaknya. Jadi dia ikut Program lompat kelas."
"Berisik banget cewek-cewek rempong." Gumam Julian seraya memakan suapan terakhirnya.
Xennora melihat jam tangannya. Sudah pukul delapan lebih dua puluh. Sebaiknya ia bersiap pergi ke ruangan Try Out.
"Udah kan makannya? Gue duluan ya." Pamit Xennora lalu pergi tanpa persetujuan Julian. Ia langsung pergi ke ruangan 1 karena alat-alat tulis seperti pulpen dan pensil selalu ada di dalam saku rok nya.
"*Hahaha congrats ya bro!"
"Iya. Gak sia-sia penantian sepuluh tahun itu."
"Emang siapa nama cewek lo?"
"Hahaha... Namanya Antha... Kelas 11 Pidana 2*."
__ADS_1