
"*Kiw cewek..."
"Apaan sih lo? Genit amat!"
"Dih kok ngegas?!"
"Makan mulu lo. Gak takut gendut?"
"Terserah gue dong! Makan itu kan hak!"
"......"
"Tumben bolos. Gak inget status? Anak... Teladan."
Tidak, Xennora bukan anak teladan. Dia anak pembuat masalah.
"Tumben sendirian. Gak inget status?.... Player...." Balas Xennora lalu pergi. Dia bukan bolos, hanya saja ia selesai paling pertama saat ulangan harian Kewarganegaraan. Jadi guru menyuruhnya untuk menunggu di luar kelas.
"Ey yo twin's sister! Mau kemana lo?"
Xennora tidak menjawab. Ia hanya melirik Julian sekilas lalu kembali melanjutkan langkahnya. Julian yang mengerti kemana tujuan Xennora hanya menunjukkan senyum sinis nya lalu menunduk dan bergumam.
"Oh... Ngebucin ya?" Xennora masih dapat mendengarnya. Tentu. Di koridor itu hanya ada mereka berdua. Saat Xennora membalikkan tubuhnya, Julian sudah pergi entah kemana.
"Sinis banget sih..."
Karena Xennora tidak mendapati Fadhil, ia pun pergi ke kelasnya lagi. Letak kelas Pidana 2 dan 1 bersebelahan. Jadi Xennora masih dapat mendengar apa yang tengah Julian ucapkan pada temannya.
"Gue gak suka Xennora... Gua gak suka dia." Langkah Xennora terhenti sejenak di ambang pintu kelas. Ia tersenyum remeh lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Siapa juga yang suka sama lo*?
...❄❄❄💙❄❄❄...
"A--a--a--a--AAKH!!! Shhh..." Dia terdiam, menatap luka pada kakinya dengan tatapan horor. Ekspresi Nazril pun tak jauh berbeda. Ia mematung sambil membawa kapas dan mangkuk berisi air hangat di kedua tangannya. Kini mereka semua ada di UKS lantai 3. Istilahnya sih, di karantina.
Herina dan Antha yang tengah bernapas dengan bantuan tabung Oksigen berukuran kecil hanya dapat memandang dengan ekspresi kesakitan, padahal bukan mereka yang merasakannya, hanya saja mereka dapat membayangkan rasa sakit yang Edwin rasakan. Kerasa aja gitu ngilu nya. Bahkan luka di tangan dan kaki mereka pun jadi terasa sakit padahal awalnya biasa saja.
"Bay the way Fi, kok lo bisa tau password pintu tadi?" Tanya Edwin yang kakinya mulai dibersihkan kembali oleh Nazril. Hmm calon dokter.
Herina, Antha, Vinca, Ervin dan Vina diam sambil berpikir pintu apa yang dimaksud Edwin karena memang mereka tidak ada di aula tempat kejadian itu berlangsung. Sofia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, tak lama ia berhenti sambil menunjuk lima foto yang terpajang di dinding. Ada keterangan nama di bawah foto itu.
Syarif Muhammad,
Andi Rachman,
Daniel Bond,
Zhang Zhao Yang, dan
Cheongsam Lee.
"Ya... Terus...?"
Sofia menghela napas lelah, "password nya diambil dari huruf pertama pendiri sekolah ini. Sesuai urutan alfabet."
"Ohh... 19, 1, 4, 26, Sama 3.... Bener juga... Kok lo kepikiran sih?"
Sofia tersenyum bangga sambil menunjuk kepalanya. "Otak aku berfungsi dua kali lebih cepat saat panik."
__ADS_1
"Oh jadi tadi itu suara ledakan dari aula?" Tanya Herina yang mulai mengerti.
"Iya."
"Terus keadaan aula gimana?" Tanya Vina panik.
"Ya... Hancur. Walaupun dari luar keliatan baik-baik aja, tapi di dalemnya udah gak berbentuk." Jawab Nazril.
Mereka tak dapat membayangkan bagaimana bentuk aula yang mereka bangga banggakan saat ini. Mendengar deskripsi singkat dari Nazril pun sepertinya itu bukan kerusakan biasa.
"Perasaan gue aja atau emang bener? Kayaknya ada yang kurang." Celetuk Leo membuat mereka saling bertatapan namun kemudian terhenti karena kedatangan Pak Hasan.
"Kalian semua sudah lengkap kan? Lain kali jangan melakukan hal-hal berbahaya seperti ini tanpa memberitahu pihak sekolah." Ujar Pak Hasan yang tengah menyiapkan kotak P3K untuk Edwin.
"Maaf, Pak..." Herina mewakilkan.
"Tapi..." Antha menginterupsi sambil melihat sekeliling diantara kekacauan ruang UKS ini. Para anggota PMR tak hentinya berkeliling untuk memeriksa kondisi para siswa yang menjadi korban bom di aula, termasuk para anggota penyelidikan yang memang dikumpulkan oleh Leo. "Xennora sama kak Julian... Dimana?"
Spontan, Nazril bangkit lalu menatap sekeliling. Wajahnya panik, begitupun para anggota penyelidikan yang lain, kecuali Vinca.
"Bapak akan lapor polisi." Final Pak Hasan lalu menyambar ponsel nya.
"Pak, tapi bukannya--" Ucapan Leo terpotong saat mereka mendengar suara tangisan. Terdengar sayup-sayup apalagi mengingat di ruangan ini lumayan ramai.
"Bapak denger gak?" Tanya Leo.
Pak Hasan terdiam lalu menyuruh anak-anak untuk diam. Kini tangisan itu terdengar lumayan jelas. Tangisan seorang perempuan, terdengar tepat di atas ruangan yang mereka tempati.
Leo terkesiap, segera ia berlari keluar diikuti Nazril yang telah selesai mengobati Edwin. Ervin yang masih belum mendapatkan poin keadaan hanya dapat terdiam.
"Kalian semua ayo ikut Bapak, kecuali Edwin. Herina sama Vinca, kalian jaga Edwin ya. Jangan kemana-mana." Perintah Pak Hasan lalu pergi keluar diikuti Ervin, Vina, Antha dan Eireen.
...❄❄❄💙❄❄❄...
Saat berbelok diantara koridor, tidak sengaja Vina menabrak loker karena saking paniknya saat berlari. "Aduh!" Pekiknya sambil memegangi dahi. Maklum koridor gelap, jadi lupa kalau di sana ada barisan loker.
Namun kemudian, sesuatu terjatuh dari loker itu, Sebuah kunci. Vina mengambil kunci itu dengan kebingungan. Saat mendengar suara dobrakan pintu, ia tersenyum kecil lalu mengikuti Eireen dan Sofia yang telah sampai di pintu Rooftop.
"Pak, Vina punya kunci Rooftop!"
Segera, Nazril menerima kunci itu dan berhasil membuka pintunya. Nazril salah, ia kira sesuatu terjadi pada Xennora, ternyata Julian. Nazril tidak sejahat itu sampai tersenyum bahagia atas terlukanya Julian.
Tidak sampai ia melihat Xennora tersenyum.
Tak lama, terdengar suara sirine memasuki area sekolah. Sofia, Eireen dan Vina menghela napas lega lalu mereka berpelukan. Vina yakin, semua hal ini akan memiliki akhir yang baik. Julian akan selamat. Dan mereka dapat bersekolah seperti biasa.
Ya... Walaupun belum memiliki aula.
...❄❄❄💙❄❄❄...
"Kak Polisi datang." Ucap Devan pada Deandra yang masih memantau monitor kamera pengawas.
Deandra menatap Devan tidak percaya, wajahnya terlihat geram. "Kok bisa sih?! Gimana cara mereka lapor?"
"Itu gak penting, kak. Pokoknya kita harus cari cara supaya gak tertangkap. Karena kalau kabur sekarang juga percuma, polisi-polisi itu udah ngepung sekolah."
Deandra memikirkan cara untuk keluar dari tuduhan yang bisa saja dibuat ini. Ia terlihat gugup, namun juga santai disaat bersamaan. Sejenak, atensi nya teralih pada adiknya, Rani. Hal itu memberikan ide bagi Deandra.
Segera, ia memakaikan masker hitam pada adiknya yang sedang tertidur itu. Deandra menukarkan pakaiannya dengan pakaian yang dipakai Rani. Lalu dengan bantuan Devan, Deandra mengatur posisi Rani seakan gadis itu jatuh pingsan.
__ADS_1
"Udah..." Gumam Deandra pada Devan yang kemudian mengangguk. Terdengar langkah kaki di luar ruangan itu, dan Deandra bersiap membuka pintu. Sandiwara dimulai.
Ia membuka pintu dengan tergesa-gesa. Setelah pintu itu terbuka, napasnya terengah namun juga lega disaat bersamaan. Beberapa Polisi yang melihatnya sedikit terkejut karena keadaan Deandra yang acak-acakan.
"Pak, tolong saya... Penjahatnya ada di dalam, tadi saya disuruh minun obat tidur..." Lirihnya membuat Polisi-polisi itu segera memasuki ruangan untuk mengecek.
"Bagaimana bisa dia pingsan?" Tanya salah satu Polisi yang tidak ikut mengecek ke dalam. Polisi itu terlihat masih muda, walaupun Deandra tidak dapat melihat nya dengan begitu jelas karena keadaan koridor yang hanya memiliki sedikit pencahayaan.
"Saat dia berusaha untuk membuat saya memakan obat tidur itu, teman saya memukul kepalanya sampai dia pingsan." Jawab Deandra sambil menunjuk Devan.
"Terimakasih atas informasi nya. Kami akan mengamankan pelaku."
"Tidak masalah, kami yang harusnya berterimakasih."
"Kalian mungkin sedikit trauma. Mau pergi ke rumah sakit?"
"Ah tidak perlu, kami hanya butuh waktu untuk menenangkan diri. Kalau begitu, kami pamit--" Ucapan dan pergerakan Deandra yang awalnya hendak berbalik untuk pergi, terhenti. Dilihatnya polisi tadi mencengkram tangan kanannya.
"Kamu pikir saya tidak mengenalimu... Deandra?" Ucapnya seraya membuka masker yang dipakai Deandra. Deandra panik, dalam cahaya remang-remang ia baru saja menyadari sesuatu. Polisi di depannya ini, dia temannya dulu saat masih di Bandung. Ikhsan Maulana Tariq.
"Anda ditangkap atas tuduhan percobaan pembunuhan, serta pelaku manipulasi data-data sekolah, bersama saudaramu, Reydevan. Kalian memiliki hak untuk tetap diam. Berbicara di sini hanya akan memberatkanmu di pengadilan nanti." Ucapnya seraya memborgol lengan Deandra. Sedangkan Devan di urus oleh Polisi yang lain.
Napas Deandra tak beraturan. Ia sangat marah sekarang, namun saat di seret ke mobil Polisi, ia tersenyum miring.
...❄❄❄💙❄❄❄...
Kini para anggota penyelidikan dan Pak Hasan sedang berada di depan ruang operasi. Meski hanya membutuhkan jahitan pada lukanya, Julian kehilangan banyak darah karena luka tusuknya lumayan dalam. Eireen dan Sofia pun dengan senang hati mendonorkan darah mereka karena satu golongan. Sampai saat ini, belum diketahui siapa yang melapor Polisi.
Leo dan Nazril yang duduk di kedua sisi Xennora hanya bisa mengusap pundaknya yang masih bertengger jas milik Julian. Xennora telah berhenti menangis saat dalam perjalanan tadi, namun tatapan matanya kosong, rambutnya acak-acakan, dan tangan serta gaunnya penuh darah. Walaupun gaun hitam, bercak darah masih dapat dilihat dengan jelas. Edwin juga telah selesai di operasi. Kini ia berada di kamar inap di lantai 10, ditemani Herina dan Ervin karena Edwin menolak keramaian.
Di hadapan Xennora, Vinca menatapnya tajam. Ia yakin Julian terluka karena Xennora, lalu gadis itu berpura-pura menangis histeris. So dramatic. Ia benci Xennora. Akan selalu seperti itu sampai Xennora mengakui perbuatannya.
Pukul 11 malam operasi selesai membuat mereka bernapas lega. Julian dipindahkan ke ruang rawat VIP yang entah dipesan oleh siapa. Namun Eireen dan Sofia dapat menebak jika itu dari Azka. Pak Hasan pun pamit untuk pergi ke Kantor Polisi.
"Kalau gitu gue pulang duluan ya Fi... Mom udah nyariin. Besok pagi gue kesini lagi." Pamit Vinca hanya kepada Sofia karena yang lain sudah terlelap dalam posisi duduk.
"Udah malem, lo dijemput?"
"Gapapa, gue naik taksi."
"Yaudah kalau gitu hati-hati ya... Maaf gue gak bisa nganter ke luar."
"Santai aja kali." Balas Vinca lalu pergi meninggalkan teman-temannya. FYI, ruang rawat Julian ada di lantai paling atas. Lantai 12, dilantai itu hanya terdapat kamar-kamar dan pelayanan VIP. Sehingga tempat mereka tertidur bukanlah kursi, melainkan sofa yang empuk. Di dalam kamar ada sofa yang lebih empuk lagi, tapi tidak akan cukup untuk mereka semua, jadi demi solidaritas mereka tidur di luar bersama.
...❄❄❄💙❄❄❄...
Rombongan mobil polisi menyusuri jalanan. Tiba saat mereka berada di tengah-tengah jembatan, sesuatu meledak membuat beberapa mobil terlempar ke sungai, termasuk mobil yang di tumpangi Deandra dan Devan.
Pemadam kebakaran beserta polisi lainnya sampai beberapa menit kemudian. Tim SAR pun di kerahkan demi mengevakuasi para korban. Namun, hal yang tidak diinginkan pun terjadi.
...❄❄❄💙❄❄❄...
"Dengar Pak, kami minta maaf... Tapi, mereka menghilang."
"Bagaimana bisa?!"
"Saat dalam perjalanan, terjadi ledakan yang cukup besar sehingga mobil jatuh ke sungai. Sayangnya, saat evakuasi mereka berdua menghilang. Entah itu terlempar dari mobil, entah mereka hanyut dan menghilang, entah menyelamatkan diri dan kabur. Tapi kami masih terus melakukan pencarian di sekitar TKP. Cukup sulit karena itu daerah semak belukar dan arus sungainya pun lumayan deras."
"Lalu bagaimana dengan adik mereka?"
__ADS_1
"Dia sekarang ada di Rumah Sakit Daerah. Bersama korban-korban yang lainnya. Polisi menjaga kamar rawat nya dengan ketat, ditakutkan jika kakaknya menggunakan gadis itu sebagai korban lagi."