The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
Catcher


__ADS_3

"Gimana sama Alvin, Tha?" Tanya Herina seraya melepaskan headphone nya.


"Dia ikut nonton sih, kak. So, everything's ok."


"Hmm, bagus."


Antha mengedarkan tatapannya pada deretan komputer di ruangan itu. Lalu terpaku pada rekaman CCTV di depan aula. "Kak... Mereka mau kemana? Itu bukan arah ke toilet atau bahkan ke gerbang 'kan?"


Herina juga kini ikut memperhatikan monitor di depan Antha. "Iya. Itu arah ke... Belakang aula." Mendengar informasi tersebut, Antha kemudian mengganti monitor menjadi rekaman CCTV di belakang aula.


Kedua siswi itu terlihat diam selama beberapa menit seraya memainkan handphone mereka. Lalu kemudian, mereka pergi ke arah aula belakang yang hanya memiliki satu CCTV. Herina dan Antha berdecak karena kedua siswi itu berada di tempat yang ada di luar jangkauan kamera pengawas. Tak sengaja, tatapan Antha jatuh pada monitor di depan Herina. "Eh, itu kak Julian, kak!"


Herina menoleh, "ngapain tuh anak keluar? Jeda kan masih lima menit lagi."


"Kita minta tolong sama kak Julian aja gimana? Buat ngecek aula belakang." Antha memberi saran.


"Ide bagus sih, tapi masa sendirian?"


"Gak apa-apa lah, kak. Ngecek doang."


"Oke deh." Herina menyetujui lalu mengambil walkie talkie. Semoga saja walkie talkie milik Tim 2 dipegang oleh Julian. "Ju! Julian?!" Panggil Herina. Sedikit berbisik karena terlihat Julian masih memberikan alasan logis pada dua security di depan pintu aula tersebut.


Julian terlihat terkejut dan mundur beberapa langkah dengan harapan dua security itu tidak mendengar panggilan Herina barusan. Setelah mendapat izin, ia pun berjalan ke arah toilet lalu mengambil walkie talkie di saku jas bagian dalam. "Ah? Iya?"


"Tolong cek dong, aula belakang sekolah. Tadi ada dua siswi yang kesana. Apalagi disana kan gak ada lampu."


"Belakang sekolah? Oke. Kasih tahu Tim 1 juga ya." setelah itu Julian pergi dari toilet.


"Gue denger kok." tiba-tiba Leo menyahut. Ia dan ketiga rekannya menuju rooftop bagian belakang sekolah. Memperhatikan halaman belakang yang dinaungi kegelapan. Saat itu pula, Julian sampai dengan senter kecil lalu menyusuri seluruh bagian halaman belakang, namun tak ada siapapun di sana. Tak ada yang aneh. Julian mendekati aula lalu mencoba membuka pintunya, tapi ternyata dikunci. Lebih parahnya, ini kunci ganda. Satu kunci dari pintunya, satu lagi kunci gembok. Julian yakin, membutuhkan waktu beberapa menit untuk membukanya. Ia juga yakin, tak mungkin ada seorang pun di dalam ruangan ini sekarang. Selain karena terkunci, faktor utamanya adalah gelap. Ya, tak ada lampu satupun di area ini, apalagi di dalam ruangan sana.


Julian pun mendekatkan walkie talkie ke arah wajahnya. "Tim dua, ngeliat sesuatu gak?"


Setelah mendengar pertanyaan Julian, barulah Leo dan Ervin menyalakan senter mereka lalu menelusuri area yang tak terlalu luas tersebut dari atas. "Gak ada, lo yakin ngeliat sesuatu Rin?"


"Yakin... Tadi ada dua orang cewek kok ke sana. Iya kan Tha?"


"Iya, kak. Mereka kayak kembar gitu." Antha menambahkan.


"Kamera pengawas yang ini gak berfungsi Rin?" Tanya Julian seraya menatap kamera pengawas yang dimanfaatkan Deandra untuk balik menyerang Cathleen.


"Hah yang mana Ju?"


"Aula belakang, ada kamera pengawas satu."


"Ish kan gak keliatan. Bukan kamera infra merah soalnya."


Ervin mengambil alih walkie talkie dari tangan Leo, "Terus kok mereka tiba-tiba gak ada? Jangan-jangan, itu--"


"Jangan nakut-nakutin gue ah." potong Julian sengit membuat mereka kembali ingat akan posisi Julian saat ini.

__ADS_1


"Yaudah lo balik lagi deh Ju. Udah waktunya jeda, Edwin sama Sofia nyariin lo tuh di depan aula." Herina menengahi membuat Julian segera pergi dari area halaman belakang itu.


...❄❄❄💙❄❄❄...


Kini, Eireen tengah menghapus make up nya di depan cermin. Stage selanjutnya adalah scene dimana Ratna menyesali perbuatannya pada orang tuanya di alam ghaib. Jadi, Eireen harus tampil pucat. Tak lama, Deandra datang bersama Nara, salah satu anggota teater.


"Reen, Pak Rafi nyuruh lo sama Deandra ngambil naskah di atas."


"Oh? Iya kak." Balas Eireen tanpa ragu. Ia dan Deandra bertukar senyum sebentar lalu pergi dari sana bersama Deandra.


Nara tersenyum kecut, "Sorry, Reen..." Gumamnya.


...❄❄❄💙❄❄❄...


"If you could see that I'm the one who understand you..." Nyanyiannya tersengal karena sedikit kelelahan.


"Been here all along so why can't you see...?" Sungguh, bernyanyi sambil terus berjalan sedikit melelahkan.


"You belong with me... Hihihi... Ahaha..."


Nazril menatap horor sepupunya. Ayolah, mereka tengah berada di lantai tiga yang pastinya sangat sepi dan gelap saat ini. Bisakah gadis ini tak berlagak seperti orang yang ketempelan?


"Sepupu siapa sih..." Ratap Nazril pasrah. "Ra, jangan bikin takut dong..."


"Enggak heh, lo nya aja yang penakut."


"Dih, ya wajar dong. Gue kan baru pertama kali ke lantai tiga. Emang di sini ada apa aja?"


Sontak, Nazril yang berdiri di samping tembok pembatas langsung berdiri di sisi Xennora yang lainnya, yang dekat dengan ruangan kelas. Hal itu kontan mengundang tawa dari Xennora.


"Ketawain aja terus. Jangan keras-keras tapi." Interupsi Nazril datar.


Tiba-tiba, ada sebuah suara yang lumayan nyaring. Seperti suara pintu yang di buka. Berbarengan dengan senter Xennora yang mati. Refleks, Nazril mencengkram pundak Xennora yang tengah berusaha memukul-mukul pelan senternya. Badannya bergetar, Xennora dapat merasakannya.


"Rara, apaan itu??" Tanya Nazril dengan suara bergetar.


"Dih penakut." Cibir Xennora lalu tak lama senternya kembali menyala setelah di ketuk-ketuk pelan. Xennora merasa handphone nya bergetar beberapa kali. Dan setelah di cek, ternyata itu pesan dari Herina. Xennora mengernyit pelan, mengapa tidak lewat walkie talkie saja?


HerinaZhuanshi


Sen, arah jam 1, lab komputer. Gue liat seseorang di sana. Gue gak bisa pakai walkie talkie, takut dia denger.


^^^XennoraAnesta^^^


^^^? ^^^


^^^Brrti dia tau gw ad dsn dng?^^^


HerinaZhuanshi

__ADS_1


Kayaknya, makanya dia buru-buru pergi


^^^XennoraAnesta^^^


^^^Deandra?^^^


HerinaZhuanshi


Bukan, cowok.


"Na, Na..." Xennora menarik Nazril yang masih setia bersembunyi di belakangnya. "Di depan ada cowok. Samperin?"


Nazril terlihat seperti biasa kembali lalu melihat koridor depan yang gelap. "Ayo, samperin."


Mereka pun perlahan berjalan mendekat. Senter dimatikan sementara membuat area sekitar benar-benar gelap. Suasana semakin mencekam mengingat hanya ada mereka dan satu orang tak di kenal di lantai ini.


Dukk


Nazril terjatuh ke arah depan, sepertinya pingsan. Xennora segera menyalakan senternya lalu berbalik. Seorang pria dengan hoodie hitam dan masker hitam serta--


"Hallo Alfanisa... "


Wait--Alfanisa???


Dukk


--serta pemukul baseball di tangannya.


Xennora terjatuh --terlempar lebih tepatnya--. Kepalanya benar-benar pusing dan sakit luar biasa. Oh, tolong. Siapa pria yang berani-berani nya memukul seorang wanita dengan kekuatan yang sepertinya maksimal?


Hal terakhir yang Xennora ingat adalah pria kurang ajar ini membawanya entah kemana, meninggalkan Nazril yang masih pingsan. Setelah itu, ia tak mengingat apapun.


...❄❄❄💙❄❄❄...


"Xennora! Nazril!"


Herina dan Antha panik. Xennora dan Nazril tak merespon panggilan mereka sama sekali. Semua itu terjadi diluar jangkauan kamera pengawas, Herina dan Antha tidak mengetahui apa yang tengah terjadi pada kedua rekan mereka. Tapi perasaan mereka tidak enak, untuk itu Herina segera mengabari Leo dan Julian.


"Leo, Julian, kalian ada di mana?"


"Gue masih di rooftop. Kenapa emang Rin? Kok panik?" Tanya Leo.


"Gue di deket aula." Balas Julian.


"Umm... Bisa kalian cek lantai 3 gak? Xennora sama Nazril gak respon dari tadi. Gue takut mereka kenapa-napa..."


Mendengar itu, Leo dan Julian segera berlari menuju lantai 3. Julian meminta Edwin menjaga Sofia sebelumnya, ia merasa sangat panik saat ini. Entah memikirkan hal terburuk, atau mengutamakan gagasan bahwa Xennora yang ia khawatirkan, sedang berada di lantai 3.


Leo sampai terlebih dahulu. Ia mengelilingi lantai 3, lalu menemukan Nazril tengah berusaha bangkit sambil memegangi kepalanya. Leo pun segera menghampiri sepupu nya itu. Pantas saja Tim Monitoring tak mengetahui apa yang terjadi pada Nazril dan Xennora. Selain gelap, tempat ini juga berada di luar jangkauan kamera pengawas. Sudah dipastikan, pelaku itu mengetahui seluk beluk bangunan sekolah.

__ADS_1


Tak lama Julian sampai, tak perlu berputar-putar lagi karena ia mendengar obrolan Leo dan Nazril. "Xennora dimana Naz?" Tanya Julian to the point.


Nazril terlihat menghela napas kasar, ia masih beruntung tulang tengkoraknya tak retak sampai mengakibatkan hilang ingatan. Tapi yang ia khawatirkan saat ini adalah sepupunya. "Kayaknya..... Xennora dibawa deh..." Opini Nazril dengan napas terengah.


__ADS_2