The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
Couple?


__ADS_3

Di sisi lain, Eireen tengah berada di perpustakaan saat ini. Niat awal untuk menyiapkan Ulangan Kenaikan Kelas minggu depan, namun ternyata ia menemukan seseorang yang ia kenal sedang mencari-cari buku di barisan rak buku tentang Ilmu Pengetahuan seperti Ensiklopedia atau buku tebal lain.


‘Tumben banget.’ Ucap Eireen dalam hati. Ia mendekati pria itu dengan langkah ragu karena takut penglihatannya salah.


“Kak Leo…?” Panggil Sofia sambil memegang pundaknya membuat pria itu ahmpir melompat kaget.


“An-…astaghfirullah… Ya ampun kaget…” Latahnya hampir saja berbicara kasar.


“Hehe, maaf kak, kirain salah orang.”


“Eh? Eireen, tumben lo di sini.” Celetuk Leo menormalkan ekspresinya.


“Hah? Tumben? Kakak kali yang tumben, aku ke perpustakaan ini hampir Setiap hari kok.”


“Oh iya kah? Ya… Emang sih, ini pertama kalinya gue ke sini…” Akhirnya Leo mau mengaku, gak ngaku-ngaku lagi.


“Hahaha pantesan kayak yang bingung mau nyari buku apa… Emangnya kakak lagi nyari buku apaan?”


“Buku tentang sel sama DNA gitu. Ada gak?”


“Ohh… Ada dong kak. Tapi bukan di sini. Sitologi sama genetika punya rak khusus…” Jelas Eireen lalu menyuruh Leo untuk mengikutinya.


“Nah ini barisan Biologi kak. Ada Sitologi, Genetika, Anatomi, Mikrobiologi, Taksonomi, Neurologi, dan yang lainnya. Di sebelahnya ada barisan rak lain tentang ilmu Astronomi, Fisika, sama Kimia. Sen—“


“Loh? Gue kayaknya pernah ngeliat buku ini di rumah…” Ujar Leo mengambil sebuah buku di barisan Psikologi.


“Iya, Xennora juga sering ke sini. Aku sering ketemu dia beberapa tahun terakhir.” Ucap Eireen membuat Leo mengangguk mengerti.


“Gue mau pinjem buku ini sama… Beberapa buku genetika dan neurologi. Mungkin minggu ini segitu dulu.” Gumam Leo.


“Ngomong-ngomong, kakak kok tiba-tiba ke sini? Maksudnya, kelas 12 di SAN kan udah bebas ya? UN juga udah selesai.” Tanya Eireen.


“Gue mau nyoba ngambil beasiswa Cambridge nih haha, semoga aja berhasil…”


“Wahhh aamiin semoga diterima ya kak!”


“Iya, aamiin… Kalau lo? Mau nyiapin Ujian Kenaikan ya?” Tanya Leo seraya berjalan menyusuri barisan rak buku sambil melihat-lihat.


“Iya kak. Minggu depan udah Ujian Kenaikan lagi… Gak nyangka ya, udah mau kelas akhir. Perasaan baru kemarin kak Leo nyuruh kak Julian ngambil Jurnal sekolah di perpustakaan Hahaha…” Eireen mengikuti langkah Leo yang membawa mereka menuju tangga menuju ke lantai dasar.


“Yaa… Emang gak kerasa. Gue juga gak sadar selama masa jabatan ketua OSIS gue pernah ngapain aja…” Lirih Leo dengan nada kecewa.


“Umm… Kakak mau tau?” Tanya Eireen membuat atensi Leo teralih untuk menatapnya. “Kakak pernah mengembalikan julukan sekolah ‘Dewi Themis’ yang sebelumnya diambil selama lima tahun oleh SMA Hukum Yogyakarta, kakak juga pernah bantu Pak Andri buat mengkondisikan Siswa siswi yang susah di atur, kakak sama semua anggota OSIS berhasil mempromosikan band sekolah SAN yang sebelumnya dianggap gak punya bakat, kakak pernah bikin satu tahun itu penuh event-event yang seru dan gak bosenin, Sekolah ter-disiplin, Sekolah paling terstruktur, dan Sekolah paling dinamis se-Indonesia… Untuk yang pertama kalinya dalam sejarah SAN High School kak… Dan yang paling penting, kakak punya skor sempurna untuk tes kepemimpinan. Kurang keren apa coba?!”


Leo terkekeh seraya terus berjalan menuruni tangga. “Semua piala itu berkat bantuan guru-guru juga sih…”

__ADS_1


“I know… But you know what? Bahkan di tahun lalu sebelum kakak jadi ketua OSIS pun semua guru udah berusaha keras. Tapi hasilnya? Karena ketua OSIS nya lebih mementingkan event sekolah, semua usaha yang dilakukan guru-guru jadi sia-sia."


“Gue Cuma menjalankan tugas aja, Reen. Jangan terlalu berlabihan Hahaha…” Ucap Leo yang tengah memberikan buku-bukunya ke petugas perpustakaan untuk ditanda tangan.


Ingat kan? Leo kalau sudah berhubungan dengan jabatan dan karir, akan menjaga image nya.


...***...


“Kenapa gak ajak yang lain aja sih kak? Biar lebih rame.”


“Sst… Kasian Sofia, Eireen, apalagi Vina. Mereka lagi nyiapin ujian.”


“Terus lo pikir gue gak ada ujian gitu?”


Julian menatap Xennora panik, salah bicara bisa-bisa batal hang out nya. “Siapa bilang? Jangan suudzon jadi orang.”


“Ck, terserah.” Sebal Xennora sambil melihat pemandangan di luar jendela mobil. Julian terkekeh, menahan diri untuk tidak mengacak-acak rambut Xennora.


“Emang lo udah ada gambaran mau kuliah di mana?” Tanya Julian.


“Udah, gak akan jauh-jauh banget sih…”


“Gue… Terpaksa nurutin kemauan ayah buat kuliah di luar, gue harap lo mau nungguin gue…” Ucap Julian tiba-tiba. Ia merasa bersalah karena kemarin ia telah berjanji untuk tetap mendampingi gadis itu. Bukan, Maksudnya berjanji untuk tidak pergi kemana-mana. Tapi semalam ayahnya sudah mendaftarkannya ke salah satu Universitas di Jepang. Kecil kemungkinan Julian untuk menolak.


“Hah? Hahaha kalimat lo—“


“Gue gak mau bilang ini tapi… Gue paling benci melupakan.” Balas Xennora. Lagipula dia sendiri kan yang bilang jika Julian harus lebih mengutamakan keputusan orang tua nya?


“Gue tau.” Ucap Julian sambil tersenyum membuat Xennora menatap curiga.


“Oh jadi lo ngajak gue jalan-jalan gini biar gue gak bisa lupain kenang-kenangan sama lo?” Tuduh Xennora yang tujuh pulus persen benar.


“Gue terharu loh Sen lo nyebutnya ‘kenang-kenangan’… Tapi ya, lo bener. 70 persen tapi. Baru 252 derajat.”


“30 persennya lagi?”


“18 derajat buat refreshing, 18 derajat karena kangen, 36 derajat pengen quality time, dan 18 derajat lagi… Buat perpisahan, jaga-jaga…”


Melody mendengus-tertawa. “Mentang-mentang calon direktur, pake nya diagram lingkaran ya…”


“Just for fun… Lo… Ada masalah gak sih sama hubungan gak resmi…?” Tanya Julian hati-hati.


“Gak resmi? Pacaran maksudnya?”


“Bukan, tapi kayak… Hubungan tanpa status maybe? Gue lupa sebutannya apa.”

__ADS_1


“Lah, pacaran juga kan gak resmi…? But anyway, actually gue gak mempermasalahkan hubungan tanpa status, pacaran, komitmen atau apalah itu. Selama belum nikah, semua itu kedengeran kayak ‘main-main’ untuk gue."


“Haha… Iya… Lo bener…” Gumam Julian dengan tawa yang terdengar dibuat-buat.


Hening setelah itu, perlajanan ke karnaval juga masih jauh, apalagi karena jalanan sedang macet.


“Bay the way Sen… Lo gak kepikiran gitu hidup sama Bunda kandung lo?"


Xennora terdiam, ia juga belum pernah memikirkannya sampai saat ini. Kenapa Julian memiliki pertanyaan-pertanyaan yang belum pernah Xennora pikirkan sama sekali?


“Gue… Belum ada gambaran sih. Gue gak terlalu suka nama gue terkenal sana sini. Gue gak terlalu suka jadi pusat perhatian. Kalau gue hidup sama Bunda… Ada kemungkinan gue bakalan ketahuan secepatnya walaupun udah berusaha disembunyiin.”


Julian mengangguk mengerti. Alasan yang logis. “Lo tau Gak Sen? Gue selalu suka penjelasan dari lo. Cara lo menyampaikan Pikiran lo, cara lo menggunakan beberapa kosa kata yang khas, ekspresi dan nada suara lo… I’m obsessed…”


“Jangan gitu, gue merinding kak…” Balas Xennora membuat Julian terkekeh.


“Eh, lo tau gak kak? Kemarin kayaknya gue liat seseorang yang postur tubuh dan mukanya mirip banget sama Deandra dan Devan…” Kini Xennora yang memulai topik baru.


“Serius? Liat di mana?!”


“Di foto salah satu selebgram Korea… Kata Antha.”


“Terus? Lo yakin banget kalau itu Deandra sama Devan?”


“Kurang yakin sih, gue udah ngecek puluhan kali histori penerbangan di seluruh provinsi Bahkan pulau Jawa. Dan gak ada sama sekali tiket atas nama mereka berdua atau Bahkan Kirania.”


“Lagian… Wajahnya agak beda sih. Keliatan lebih imut gitu Hahaha…” Lanjut Xennora membuat Julian menatapnya datar.


“Malah bercanda.” Cibir Julian.


“Abisnya gue terlalu pusing mikirin semua kasus ini. Belum lagi kasus kematian masal 2007 yang masih bikin gue gila…”


“Itu sebabnya kita ke karnaval hari ini, Ra... Buat refreshing…”


Alih-alih mengacak-acak rambut Xennora seperti apa yang ia rencanakan tadi, Julian malah mengelus Kepala Xennora dengan tangan kiri nya. “Jangan kecapekan. Kalau tubuh lo butuh istirahat, then just do it. Istirahat sepuluh menit gak menyita setengah kehidupan lo.”


“Ngomong-ngomong, gue belum pernah denger kabar Nazril lagi, ke mana dia?” Tanya Julian.


“Ada… Tugas praktik buat masuk kedokteran cukup kompleks, jadi dia agak sibuk nyiapin penelitian sama laporannya.”


“Ah, iya… Dia masuk kedokteran ya… Keren.”


“Yep, keren.” Balas Xennora menatap jalanan yang sudah keluar dari kawasan macet tadi. “Tugas praktik lo apa, kak?”


“Cuma menghitung peluang, keuntungan, dan ramalan nasib perusahaan kalau gue punya modal segini. Ya… Pokoknya yang berbau perkantoran gitu deh.”

__ADS_1


“Oh… Kakak ambil Manajemen Bisnis… Make sense sih.” Xennora terdiam sebentar, menatap handphone di tangannya dengan tatapan ragu. “Gue… Udah tau Kirania tinggal di mana.”


__ADS_2