
Vina menatap ponselnya aneh. Ia kembali membaca pesan-pesan dari sahabatnya yang di kirimkan tadi sore kemudian membaca pesan pesan sebelumnya. Ya, semuanya jelas aneh. Apa dalam waktu satu hari Rani mengubah kosa katanya menjadi lo-gue? Vina rasa, sahabatnya itu bukan tipikal orang yang dapat berubah dalam waktu singkat.
Mau disangkal ribuan kali pun tak bisa. Jelas-jelas Rani tak akan pernah menyebut nama Alvin atau Cleine tanpa embel-embel kak. Rani juga bukan tipe orang yang bisa mencampur bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Jadi, jika bukan Rani, siapa yang membalas pesannya?
"Vin? Ada masalah? Dari tadi ngeliat handphone mulu." Interupsi Ervin membuat Vina sedikit terlonjak. Leo dan Vinca pun mengalihkan perhatian mereka pada Vina membuat seseorang berpakaian hitam yang memakai topi di bawah sana melanjutkan misinya dengan mudah. Pria itu tersenyum miring lalu menggunakan masker hitamnya. Di halaman sekolah yang gelap dan sepi itu, dia menyekap korbannya lalu membawanya ke aula belalang sekolah lewat parkiran bawah tanah, sehingga kemungkinan ada orang yang melihatnya kecil sekali. CCTV? Persetan dengan alat itu. Dia sudah cukup hapal dimana letak-letak kamera pengawas di sekolah ini.
Sang korban tak sempat berteriak karena mulutnya dibekap seiring tubuhnya yang ditarik paksa oleh seorang pria kurus tinggi, namun tenaganya tidak bisa diremehkan.
"Eung... Enggak kok, aku cuma baru inget ada tugas hehe..."
Leo menggeleng pelan, tidak percaya dengan apa yang tengah Vina pikirkan. "Di saat kayak gini lo masih inget tugas?"
Senyum Vina tertahan, ia masih memikirkan perihal pesan dari Rani. Mereka berempat pun kembali memperhatikan gerbang masuk di bawah. Semoga saja pengirim pesan itu benar-benar Rani. Hanya itu yang Vina harapkan sekarang.
...❄❄❄💙❄❄❄...
Menjelang lima menit sebelum pementasan, seorang security datang lalu berjaga di pintu masuk aula. Satu orang lagi masuk untuk berjaga di dalam membuat Julian, Sofia dan Edwin masuk lalu duduk di salah satu bangku yang ada di barisan tengah, barisan ke tujuh. Julian tak bisa memilih apa ia harus menikmati acara sepupunya atau terus mengkhawatirkan gas yang dapat memenuhi ruangan ini kapan saja.
Saat acara akan dimulai, dapat Julian lihat Xennora dan Nazril baru saja datang dan duduk barisan ke tiga tepat di depannya sehingga Julian dapat memperhatikan mereka.
__ADS_1
Setelah pidato penyambutan dari ketua teater, seluruh lampu aula mati kecuali beberapa lampu remang-remang di panggung. Tirai pun terbuka menampilkan latar panggung seperti rumah tradisional Jawa. Di halaman rumah, terdapat kandang ayam dan banyak pepohonan, diam-diam Julian mengapresiasi tim properti yang membuat latar panggung yang terasa sangat nyata itu.
Saat bagian Eireen bercengkerama dengan Deandra di halaman rumah itu sebagai bagian dari cerita, Julian dan Sofia menahan napas mereka seraya menatap Deandra dan Eireen dengan perasaan waswas.
Berbeda dengan Julian, Edwin dan Sofia yang sedikit menikmati acara, Xennora masih setia berkutat dengan pikirannya. Alvin dan Cleine. Sebenarnya tujuan Deandra menyekap mereka apa? Alvin bukan tipe orang yang memiliki musuh. Tentu saja sebagai ketua OSIS, ia harus mendekatkan diri pada seluruh siswa. Tapi Cleine... Entahlah. Gadis itu mendekati tipe orang menyebalkan. Sombong, angkuh, kecentilan, sok polos dan kepedean. Benar-benar tipe yang sempurna untuk dijadikan bahan gibah. Ah! Atau jangan jangan...?
"Eh lo dapat chat dari Cathleen?" Tanya seorang gadis di samping Xennora kepada temannya. Suaranya yang agak keras membuat lamunan Xennora buyar lalu memperhatikan gadis di sampingnya itu.
"Iya, Cate bilang ke aula belakang sekolah ya pas jeda nanti?" Sahut temannya. Ternyata mereka Kaina dan Raina, si kembar kroni Cathleen Falvia. Tumben mereka hanya berdua, bos nya dimana?
"Heem. Kira-kira dia duduk di mana ya? Kok gak nyamperin kita?"
"Bisa diam gak? Kalian terlalu berisik," potong Xennora membuat kedia gadis itu menoleh dengan cepat lalu bungkam setelah mengetahui siapa yang berucap.
"Sorry," lirih Kaina dan Raina bersamaan seraya kembali menatap panggung. Tak lama, handphone yang mereka pegang berbunyi secara bersamaan. Mereka terlihat saling berbisik lalu pergi meninggalkan teater walaupun jeda drama masih sepuluh menit lagi. Xennora masih belum menyadari kepergian si kembar karena kembali terbawa pikiran dan opini nya mengenai apa yang sebenarnya harus mereka lakukan untuk menghentikan Deandra.
Jika benar, apa motif Deandra membawa dua anak kebanggaan SAN? Jika Deandra memang menargetkan anak-anak populer, bagaimana dengan Herina, Julian, dan bahkan... Dirinya sendiri? Tentu mereka juga akan menjadi target, tapi kenapa hanya Alvin dan Cleine? Bahkan Xennora rasa, Herina dengan kecerdasannya lebih populer daripada Cleine dengan kecantikannya.
Dan juga... Jika Deandra sibuk memainkan perannya, siapa yang akan menjalankan rencana itu? Tak mungkin kan jika Rani yang melanjutkan misi kakaknya? Itu sebuah penghianatan --walaupun Xennora mengingat fakta bahwa Rani menghianati Deandra karena memberitahu mereka rencananya-- tapi memang iya kan? Rani harus memilih akan memihak pada siapa. Jika dia benar-benar memihak mereka, Rani tak akan sudi menjalankan rencana jahat kakaknya.
Atau mungkin? Gadis itu berbohong? Dia mengaku memihak mereka tapi ternyata dia yang akan menjalankan rencana Deandra. Biar bagaimanapun Deandra adalah kakak kandungnya. Besar kemungkinan jika Rani benar-benar telah membohongi mereka. Ditambah, mereka benar-benar belum pernah bertemu langsung dengan Rani untuk membicarakan rencana milik Deandra.
__ADS_1
Saat Xennora menoleh ke samping, tempat dimana si kembar duduk, ternyata bangku itu telah kosong. Xennora terkesiap sejenak kemudian meyakinkan dirinya sendiri jika mereka pergi ke toilet atau semacamnya.
"Drama di SAN bagus juga. Mereka membuat alurnya tak terduga. Tapi aku bisa tebak kalau Ratih bakalan meninggal dengan penyesalan. Dan Ratna akan terus hidup dengan rasa bersalah," Nazril mengajak Xennora berdiskusi. Xennora sedikit tidak mengerti dengan ucapan sepupunya itu karena memang dari tadi ia tak memperhatikan.
Namun Xennora tahu jika Ratna adalah tokoh yang diperankan oleh Eireen dan Ratih adalah tokoh yang diperankan oleh Deandra, sekaligus kakak perempuan Ratna.
"Uhm, ya... Alurnya bagus," balas Xennora sedikit gugup, tapi Nazril menyadarinya.
"Kenapa hm?"
Xennora menggeleng ragu, semua hal tentang Rani hanyalah opininya. Belum ada bukti untuk membenarkan spekulasinya. "Nothing, I'm just feel dizzy."
Nazril tersenyum, ia tahu Xennora memiliki jawaban lain, jawaban yang lebih jujur. "Everything's gonna be fine, don't worry", Setelah mengatakan kalimat menenangkan tersebut, Nazril mendekat untuk mencium dahi Xennora singkat, Xennora masih menatap pria di depannya haru. Merasa lebih baik karena ucapan Nazril.
Di belakang sana, Julian menatap mereka tajam. Sebenarnya hubungan antara Xennora dan Nazril itu apa? Tidak ada Fadhil, kini Nazril, menyebalkan sekali. Ah, seharusnya Julian mengatur ulang agar Xennora satu tim dengannya. Julian bego, makinya di dalam hati secara berulang-ulang.
"Akting Deandra bagus juga. Iya kan... Ju?" Pertanyaan Edwin sedikit terhenti karena Julian terlihat sangat fokus menonton. Uhm, tapi tatapannya tidak seperti sedang menatap panggung, lebih cenderung menatap ke arah deretan bangku di bawah.
"Hmm," namun Julian membalas pertanyaan Edwin walau hanya gumaman, berarti pria di sampingnya ini tak sedang melamun. Edwin pun kembali menatap panggung. Sungguh, tatapan Julian sedikit mengerikan tadi, Edwin curiga jika pria itu dirasuki makhluk.
Tak lama Julian keluar, meninggalkan Sofia dan Edwin yang masih fokus menonton. Adegan yang cukup menyedihkan dengan meninggalnya sang tokoh utama, Ratih. Dan bunuh diri kakaknya, Ratna. Seorang tokoh pun menyanyi lagu sedih, suaranya bagus namun menurut Sofia, tak sebagus milik Xennora. Walaupun begitu, Sofia tetap menitikkan air mata yang langsung di seka nya. Beberapa guru dan siswa lain pun tak jarang terisak karena akting seorang Eireen yang menjanjikan.
__ADS_1