
“Jadi mereka bayar banyak channel untuk memberitakan itu, kalau emang sebenernya gak ada, supaya mereka bisa
menyalip rumor buruk perusahaan mereka? Dan itu yang menyebabkan orang-orang membahas kasus lo, bukan kasus
buruk di FX Movie sendiri?”
“Itu yang gue maksud. Pengalihan isu…”
“Bentar Ju, gue juga penasaran sama satu hal. Lo… Udah nyerah nih ceritanya?” Tanya Cathleen yang juga menarik
perhatian Vinca. Ia juga penasaran kenapa pria itu terlihat menjauh dari Xennora.
Julian menghela napas berat. “Kenapa jadi bahas ini…?”
“Gue penasaran Ju… Lo keliatan kayak menjauh gitu. Kalau lo mau, gue bisa deketin kalian kok."
“Gue gak menjauh… Tapi gue juga gak bisa nyangkal sih kalau emang udah nyerah.”
“Lah… Kenapa anjir?!”
“Santai buset… Ya lo pikir aja nunggu selama sepuluh tahun itu capek apa enggak?”
“Oke gue paham sekarang. Tapi emang lo mau, selama sepuluh tahun lo nunggu itu gak ada hasil apa-apa?”
“Dibilang gue udah capek Kate…” Balas Julian lelah.
“Gini deh… Kalau misalkan sekarang keadaannya dibalik gimana? Xennora yang deketin lo duluan, dia yang nyapa lo
duluan, dia yang senyumin lo duluan, dia yang bilang suka sama lo duluan… Apa reaksi lo?”
“Ya… Biasa aja sih…” Balas Julian seraya terkekeh. Karena ia tidak bisa membayangkan hal itu terjadi. Rasanya sedikit
mustahil. “Gue akan menghargai kalau dia melakukan itu semua. Tapi kalau maksud lo reaksi lebih… Gue kurang tau.”
Cathleen mengangguk, mencoba memposisikan dirinya sebagai seorang Julian yang telah menunggu selama sepuluh
tahun. “Lo gak pernah liat ke belakang gitu? Liat seberapa besar usaha lo dulu? Liat seberapa besar kebahagiaan lo waktu
sama dia dulu? Liat perjuangan sama tantangan yang lo lewati?”
“Hampir setiap saat. Tapi gue sadar diri aja kalau itu cuma kesempatan dari Tuhan buat deket sama dia, cuma sebentar…
Sementara.”
“Ya udah kalau itu yang ada di mindset lo. Gue dukung aja apapun keputusan lo. Tapi—” Ucapan Cathleen terpotong ketika mendengar suara pintu yang di buka.
“Aku udah bilang ya kalau di sini banyak orang!” Ujar Radit sedikit berteriak lalu duduk di kursi yang kosong.
“Enggak! Kamu cuma bilang kita mau ke ruang diskusi! Ya aku gak tau kalau ruang diskusi itu ada banyak orang. Malu
tau?!” Balas gadis di belakangnya, Angelyna. Xennora yang datang terakhir langsung menutup pintu dan duduk di kursi
yang kosong, diikuti Angelyna.
“Siang semua…” Sapa Xennora lalu mengeluarkan laptopnya.
“Kamu sabar banget Sen…” Puji Yuna saat memperhatikan Radit dan Angelyna yang masih adu mulut.
“Tapi gue akan lebih mendukung lo kalau lo ubah mindset lo itu. Good luck with that!” Lanjut Cathleen yang tadi sempat terpotong, dengan suara pelan tentunya. Gadis itu melihat ke arah Xennora membuat Julian juga ikut menatapnya, setelah
itu Cathleen mengambil makan siangnya yang sempat tertunda.
“Gimana interogasi nya?” Tanya Yohan.
“Malah bikin pusing tau gak kak.” Balas Xennora.
“Pusing gimana?”
“Kesaksian mereka beda-beda… Kita gak tau harus percaya sama siapa…” Balas Radit setelah mengalah dari Angelyna.
“Ya kalian harus cari tahu siapa yang jujur dan siapa yang bohong.” Balas Fikri santai.
__ADS_1
“Olah TKP?” Saran Yuna.
“Atau liat bukti kamera pengawas dan penduduk sekitar.” Balas Risa.
“Udah kemarin, dan warga sekitar bilang kalau mereka gak liat orang yang mencurigakan. Kamera pengawas pun gak
nangkap apapun selain kak Jina yang nyoba buat ngehancurin obat yang diduga racun itu.” Lanjut Radit membuat
suasana di sana makin membingungkan.
“Menurut gue kalian harus nyatain aja ini kasus bunuh diri.” Celetuk Cathleen di seberang sana, membuat atensi tim 7
teralihkan. Tidak sengaja, Xennora beradu pandang dengan Julian karena pria itu memang duduk di dekat Cathleen.
Sama seperti kejadian beberapa jam yang lalu, kepala Xennora terasa berat. Lantas ia pun menunduk, orang-orang di
sekitarnya tidak sadar jika gadis itu tengah menahan sakit.
“Gak bisa lah, kita tau kalau korban itu diracun, masa kita harus tutup mata? Ngebiarin pembunuh berkeliaran gitu aja?
Apa kata Dewi Themis? Mana keadilan yang diseru-seruin tiap masuk kelas?” Balas Raditya membuat orang-orang di
sana berseru menggodanya. Tidak percaya bahwa ‘mahasiswa terburuk’ itu bisa berucap sedemikian bijaknya.
Namun dalam pendengaran Xennora, mereka semua terasa jauh. Entah mungkin karena jiwa nya yang kini telah di bawa
ke tempat yang jauh.
“Gak usah ngeliatin, gue gak akan berterimakasih sama lo.” Itu suara Xennora. Tapi ia sendiri tidak ingat ini terjadi kapan.
“Sama-sama.”
“Kalau kalian punya masalah, bagi aja sama orang-orang yang kalian percaya. Walaupun mereka gak keliatan peduli,
intinya ya diri kalian. Itu artinya kalian udah nganggap mereka orang kepercayaan kalian. Itu awalan yang bagus buat
berteman.”
aja, kalau yang ingin kalian sampaikan itu bakalan berdampak baik buat mereka.”
“Gue tau lo masuk ekskul public speaking karena ada gue.”
“Perhatian? Peduli nih? Suka lo sama gue?”
“Iya iya… Lo bahagia, gue juga bahagia ya…”
“Lo tadi ngapain di ruang musik?”
“Jelasin dulu ke gue, JK itu inisial nama gue kan?”
"Sen, gue minta maaf... Beneran. Buat kejadian-kejadian sebelumnya juga.... Maafin gue karena sering bikin lo
kesel..."
“Gue… Suka sama lo.”
Xennora kembali memaksakan kesadarannya untuk kembali ke keadaan sekarang. Ia masih tidak mengerti apa
maksud itu semua. Ah, kalau tidak salah Sofia pernah menyebutkan nama laki-laki itu, laki-laki yang menurut
Xennora agak mirip dengan kliennya tim Cathleen. Julian Kayden.
“Ya udah yuk.” Ajak Risa sambil berdiri, diikuti yang lain termasuk Julian dan Angelyna. Xennora yang baru
tersadar hanya menatap mereka aneh.
“Mau ke mana?” Tanya Xennora yang masih duduk.
“Ke Mall kan? Ayo ikut!” Ajak Yuna semangat.
“Hah… Oke…” Balas Xennora lalu bersiap untuk pergi juga.
__ADS_1
Sepertinya saat Xennora sibuk dengan pikirannya, yang lain berencana untuk menjernihkan pikiran mereka.
Tapi kenapa Julian itu ikut juga? Hal ini yang akan ia tanyakan di mobil Radit. Di mobil ini isinya tim Xennora,
sedangkan di mobil Julian isinya tim Cathleen.
“Kak, kenapa kak Julian ikut juga?” Tanya Xennora.
“Kamu ngelamun ya tadi? Karena kasus mereka udah terpecahkan, Fikri sama Julian mau traktir kita di Mall,
mau nonton, main, belanja, atau apapun itu.” Balas Yuna.
“Wahh… Cepet banget?”
“Masih perlu nyari bukti konkrit sih, tapi yang jelas kasus itu udah nemu pencerahan.”
...***...
“Oh iya...? Bagaimana keadaannya?”
“Tulang rusuknya hampir patah, dan tempurung kepalanya retak.” Balas seseorang di seberang telepon yang
membuat Edwin mengernyitkan dahi nya ngilu.
“Pelakunya?”
“Belum ditemukan, pak.”
Edwin memijat pelipisnya lelah. “Tapi dia masih hidup kan?”
“Keadaannya lebih baik dari sebelumnya."
“Bagus lah, kamu yang urus dulu, saya akan cek nanti sore setelah semua urusan saya selesai.”
“Siap baik, pak.”
“Sudah ada wartawan?”
Sesaat sebelum pertanyaannya di jawab, Edwin memperhatikan berita di televisi. Berisikan tentang
penyerangan terhadap salah satu karyawan FX Movie yang disertai opini untuk menyudutkan pihak yang lain,
KayChief Group.
“Ah, iya. Saya baru saja lihat beritanya. Kalau begitu terimakasih atas laporannya.”
Setelah Edwin mematikan sambungan telepon, sang nyonya rumah datang beserta minuman dalam nampan
yang ia bawa.
“Gimana nih Ed? Kamu setuju gak yang tadi itu?”
“Gimana baiknya Bunda aja, aku sama Leo pasti ikut.”
“Tenang aja, Bunda gak akan egois sekarang. Kalian juga boleh tinggal di sini.”
“Siap Bunda, tapi… Aku bentar lagi juga mau berumah tangga sih, hahaha…”
“Oh ya? Sama siapa? Ya ampun kok cepet banget…”
“Namanya Herina Bun.”
“Wahh selamat ya! Mau bikin party? Kapan-kapan ajak ke sini dong calonnya.”
“Kayaknya gak akan yang mewah banget deh Bun, iya kapan-kapan aku ajak main deh.”
“Secepatnya ya…!”
“Pasti Bun. Um… Tapi kalau Xennora nya gak mau di ajak gimana? Kalau Xennora nya gak percaya gimana
Bun?”
__ADS_1
“Udah kamu tenang aja. Bunda bisa pastiin Xennora inget sama kita.”