
Entah pesona apa yang membuat mereka mengalihkan atensi nya pada seorang siswa, mereka berlima pun memperhatikan siswa berseragam lengkap dengan gaya rambut yang rapi. Bukan terkesan culun, melainkan sebaliknya. Keren, tinggi, tampan, maskulin, dengan sedikit aura jenius. Ia berdesak-desakan melewati kerumunan siswa yang penasaran sambil membawa botol minuman berisi green tea smoothie di tangan kanannya.
Siswa itu pun masuk ke kelas Xennora yang hanya berisikan tiga orang siswi, dan lima orang siswa. Setelah mengetahui siapa pria itu, Xennora menghela napas jengah lalu kembali melakukan aktivitas nya tadi, yaitu melamun, menatap mawar biru di tangannya.
Pria itu mendekati meja Xennora, derap langkah kakinya terdengar ditengah gumaman para siswa diluar. Pria itu langsung menaruh botol yang dibawanya di depan Xennora. Lalu dia meminta Leo untuk pindah ke kursi sebelahnya alias kursi yang berada di depan Antha. Pria itu pun duduk di depan Xennora yang kini tengah melihatnya bingung.
"Dari mas gebetan." Ucap Julian seakan tahu apa yang akan Xennora tanyakan.
"Siapa?" Tanya Xennora, masih dengan raut datarnya. Julian menghela napas seakan hal yang akan ia ucapkan adalah hal terberat dihidupnya.
"Fadhil Auliansyah." Jawab Julian dengan raut yang sama dengan Xennora, datar.
Dalam waktu singkat, raut wajah Xennora yang awalnya flat berubah menjadi berbinar membuat Julian mendengus-tertawa tak percaya.
"Kok lo Sempet-sempetnya disuruh ngasih nih botol ke makhluk gaje kayak Xennora?" Tanya Antha yang mendapat pukulan pelan di lengan kirinya dari Xennora.
"Ya... Disempet-sempetin." Jawab Julian yang terbilang gak niat. Tak lama, Julian menyadari seorang perempuan yang duduk di barisan sebelah kiri Xennora.
"Oh, gue Deandra Callena Pyralis. Kelas 12 Hukum Publik. Lo Julian Matteo Kayden kan? Anak kelas 12 Perdata 1?"
"Oh? Kelas buangan ya..." Bukannya menjawab pertanyaannya, Julian malah menggumam namun masih dapat didengar oleh mereka semua. Deandra tersenyum kikuk, Leo dan Edwin menahan tawa, Antha tersenyum miris, sedangkan Xennora tersenyum tipis. Ia tahu, Julian sengaja membuat Deandra malu. Entah alasannya apa yang jelas dapat Xennora lihat dari senyum Julian yang terkesan seperti tersenyum sinis.
"Lo tau gak Ju, ada apa di kelas sebelah?" Tanya Edwin mencairkan suasana.
"Katanya sih, ada darah di mejanya."
"Darah?!" Pekik Leo, Antha dan Edwin bersamaan. Xennora diam tak percaya. Jika mainnya darah sih, agak menakutkan juga. Siapapun pasti syok jika melihat darah di tempat yang tak seharusnya.
"Gue juga gak tahu itu darah beneran atau cuma iseng-iseng aja bikin darah palsu." Jelas Julian membuat mereka semua mengangguk paham.
"Lo tau dari siapa kak?" Tanya Antha.
"Sofia sama Eireen, barusan pas lewat."
__ADS_1
"Sofia... Raneysha?" Tanya Dea pelan, namun mereka masih dapat mendengarnya.
"Iya, lo kenal?" Tanya Julian basa basi.
"Hm? Ya... Dia jadi lumayan terkenal di kalangan anak Theater, karena dia ternyata sepupunya Eireen." Jawab Dea membuat mereka mengangguk.
Mereka semua diam melamun sebelum Leo menyadari sesuatu.
"Kok lo gak pergi? Kan minumannya udah sampai ke Xennora." Ucap Leo pada Julian di sampingnya.
"Ngusir?" Tanya Julian sewot ditambah dengan tatapan mengintimidasi miliknya.
"Nggak juga sih."
"Deandra juga masih disini jadi yaudah." Ucap Julian sambil melirik Deandra.
"Gak, lo pergi sana." Ucap Xennora setengah berteriak membuat Antha terkejut. Julian menatap Xennora aneh karena tiba-tiba meninggikan volume suaranya.
"Kakak kelas di kamus gue tuh yang jadi contoh baik buat adik adiknya, kayak kak Deandra Pyralis. Bukannya lo yang suka main-main sama perasaan cewek." Xennora menatap Julian yang kini juga menatapnya seakan mengatakan dih? . Sepertinya Xennora melupakan posisi Deandra sebagai siswa kelas buangan dan malah membandingkannya dengan siswa kelas unggulan seperti Julian.
"Yaelah bukan faktor akademik juga. Gini gini Gue kelas Perdata 1 loh... Kelas unggulan." Ucap Julian bangga.
Antha menghela napas lelah, begitupun dengan Edwin dan Leo. Dea terkekeh lalu menggeleng pelan.
"Mereka mulai lagi..." Gumam Antha sambil memijat pelipisnya.
"Berantem Terusss sampai gak inget dunia." Sindir Edwin yang tak digubris oleh Julian dan Xennora.
"Berantem mulu. Besok besok gak akan aneh gue kalo denger kabar mereka jadian." Gumam Leo.
"Nilai akademik lo bagus gak sih hah gue tanya." Tantang Xennora. Ternyata perdebatan mereka masih berlanjut.
"Bagus lah. Ranking satu ini." Ucap Julian yakin yang selanjutnya mendapat lemparan pensil yang entah milik siapa dari Edwin.
__ADS_1
"Heh itu posisinya Herina!" Ucap Edwin setengah berteriak.
"Iya satu, tapi lo kelupaan angka dua nya." Celetuk Leo.
"Ranking 12? Masih mending sih..." Komentar Antha.
"Bukan, enak aja siswa yang jarang ngerjain tugas kayak dia rangking nya ke-12" Ucap Edwin. Xennora diam, beberapa detik kemudian gadis itu membelalakkan matanya lalu menatap Julian.
"Lo ranking 21?! Ranking ke empat dari bawah dong?!" Pekik Xennora tepat di hadapan Julian.
"Eh gitu gitu nilai gue di atas rata-rata semua ya!"
"Ya sama aja! Lo harusnya berusaha buat masuk sepuluh besar! Walaupun jika dibandingkan, nilai lo masih lebih tinggi dari tujuh puluh lima persen murid kelas dua belas Perdata, lo juga harusnya berubah! Udah kelas 12 ini. Pasti karena males kerja kelompok! Lo tuh ya sebenernya bisa jadi siswa unggulan murni, bukannya siswa kelas unggulan palsu kayak yang dibicarain orang-orang! Nilai lo juga bisa... Lebih tinggi dari sembilan puluh delapan persen siswa kelas dua belas..." Teriakan Xennora berubah menjadi lirih pada kalimat terakhirnya. Bukan apa-apa, Xennora hanya baru sadar dengan apa yang sedang ia lakukan. Apa yang baru saja ia katakan? Oh.. Sungguh, Xennora benar-benar tidak sadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Itu keluar begitu saja.
'Jangan kayak gini, Ra...' Ucap Julian seraya menatap Xennora dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Sayangnya, kalimat itu hanya dapat Julian katakan di dalam hatinya.
Antha yang sedang menulis, Leo yang sedang menggambar di buku Antha, dan Edwin yang tengah melamun pun menyadari kejanggalan pada rangkaian kalimat yang Xennora ucapkan. Deandra diam. Dia tahu apa yang sedang terjadi, dia mengerti keadaan ini. Karena sejak awal ia memperhatikan mereka berdua. Mulai dari tatapan yang berbeda dari keduanya, sampai gerakan tubuh yang membuat Deandra mengangguk paham.
"Perhatian? Peduli nih? Suka lo sama gue?" Tanya Julian santai yang dapat Deandra tebak hanya untuk mencairkan suasana.
"Iya!" Teriak Xennora, namun wajahnya masih sedikit santai. Jawaban Xennora tentu membuat mereka terkejut, termasuk Julian dan beberapa siswa yang mulai memasuki kelas.
"Di mimpi lo!" Lanjut Xennora lalu membawa minuman yang katanya dari Fadhil kemudian pergi entah kemana.
Sebelum Xennora benar-benar pergi, Antha berteriak, "mau kemana lo?! Udah bel woy!!"
"Liat papan tulis!" Teriak Xennora di luar kelas sampai beberapa siswa yang lewat menatapnya aneh.
Menurut, Antha pun mengalihkan atensi nya ke depan, dimana sang ketua kelas telah selesai menulis pengumuman yang menyatakan free class untuk semua kelas sebelas dan dua belas. Guru-guru kelas dua belas melaksanakan rapat mengenai Try Out dan serangkaian ulangan lainnya yang akan dilaksanakan oleh para siswanya dalam waktu dekat. Sedangkan guru kelas sebelas sedang berunding mengenai kejadian yang menimpa murid kelas Pidana 3.
Antha ingin menanyakan kemana Xennora akan pergi namun gadis itu sudah tak ada dalam pandangannya. Lagipula, ada yang lebih menarik disini. Julian terdiam. Antha dapat melihat pria itu tersenyum miris, entah ditujukan pada siapa karena Julian sedikit menunduk. Satu yang dapat Antha simpulkan,
Julian menertawakan dirinya sendiri.
__ADS_1