
Xennora mengangguk pelan. Lalu tanpa disuruh, Antha memberikan selembar kertas yang baru saja selesai di print kepada Xennora, membuatnya menatap kertas itu bingung, kemudian ia menatap Antha.
“Biodata Pak Ardian siapa tau penting.” Jelas antha sebelum Xennora bertanya.
Xennora mengangguk lagi lalu mulai memperhatikan kertas yang isinya biodata seseorang beserta semua informasi penting tentangnya. “Gue kira dia hidup sendiri…” Gumam Xennora membuat atensi Antha teralihkan. Xennora tahu jika Pak Ardian memiliki anak. Ia dan Julian telah berdiskusi tentang ini beberapa minggu yang lalu. Beberapa jam yang lalu ia juga telah membahas hal ini lagi dengan Julian. Dan anaknya itu tentu saja Reydevan, Kirania… dan Deandra. Tapi Xennora memerlukan banyak bukti, lagipula Antha belum mengetahui fakta lebih lanjut tentang Deandra. Jadi sebaiknya Xennora merahasiakan semuanya sampai fakta itu benar-benar akurat.
“Oh… soal itu sih gak banyak yang tau Sen. Bahkan jaksa Rafael gak nyinggung soal anaknya waktu sidang, kayaknya sih gak tau. Polisi juga gak ada yang tau, itu gue dapet dari pengacara Pak Ardian.”
“Really? Gue rasa jaksa Rafael tau, tapi gak ada bukti kuat. Lagipula, jaksa kan ada di pihak kontra, dengan adanya informasi tentang anak ini ya kemungkinan membuat pekerjaan jaksa jadi terhambat. Bay the way, emang gak ada bukti kayak akta kelahiran? Atau kartu keluarga?”
“Nope. Pak Ardian bilang semua dokumen itu disobek, terus dibakar sama istrinya sebelum bunuh diri.”
Mereka berdua terdiam. Xennora masih membaca beberapa kertas lainnya, sedangkan Antha memainkan handphone nya. Di salah satu kertas itu terdapat informasi mengenai apa saja bukti yang ada dalam keseluruhan kasus itu. Xennora pikir ini kasus yang biasa, tidak terlalu booming seperti kasus kematian masal. Tapi menariknya, kasus kematian massal itu mencuat setelah hasil persidangan kasus obat-obatan illegal ini. seakan kasus ini merupakan sebuah pemanasan, persiapan untuk menyambut kasus selanjutnya.
“Menurut lo… pak Ardian bersalah gak?” Tanya Antha tiba-tiba membuat lamunan Xennora buyar. Xennora berpikir sebentar, namun Antha yakin jika sahabatnya itu sepemikiran dengannya.
“Enggak.”
Hah?
“Wait, what? Maksud lo Sen? Jelas jelas dia terbukti bersalah… bahkan bokap lo yang ngebuktiin kalau dia bersalah…” Balas Antha tak terima.
“I don’t know, itu Cuma firasat gue. Justru karena dia jaksa Rafael…. Lo ngerti kan?
“Oke kalau masalah itu gue akui jaksa Rafael terlalu cerdas sampai bisa bikin opini tak beralasan yang sialnya masuk aja di akal. Tapi ini kasus obat-obatan illegal, Sen. Kasus yang serius. Gak ada yang tau kebenaran dibaliknya kecuali pelaku itu sendiri.”
“Gak, maksud gue gak gitu. I mean—“
“Yeah, I’m understand. I see that, gue tau apa masud lo tapi disini, lo yang gak tau maksud gue apa!” Pekik Antha membuat Xennora menatapnya penuh arti.
Setelah Antha sedikit tenang, Xennora pun membuka suara. “Okay so… what do you mean? Informasi apa yang lo tau?”
“lo tau anaknya siapa sen? Anak Pak Ardian?” Tanya Antha membuat Xennora menggeleng spontan. Sepertinya ia harus memulai sandiwaranya.
“Deandra Callena Phyralis."
Xennora yang awalnya menatap ke bawah dengan santai seketika terbelalak lalu mengangkat kepalanya menatap Antha. “That’s not possible…” Gumam xennora seraya tersenyum miring.
Yup, mari kita apresiasi bakat akting seorang Xennora Anesta Fachrunaldo.
“See? Itu yang bikin gue yakin kalau pak Ardian 100 persen bersalah. Buah jatuh gak jauh dari pohonnya Sen… lo harus percaya.”
Seketika kepala Xennora terasa pusing, semua ini memang berubungan sepertinya. Just like a puzzle. Tapi puzzle yang belum lengkap tersusun. Dia sendiri belum mengetahui hubungan kasus obat-obatan illegal, dengan kasus kematian masal. Tapi satu yang Xennora dapat. Opini nya dan Julian mengenai anak-anak Professor Ardian benar adanya.
“Lo dapat informasi ini dari mana? Pengecara Pak Ardian?”
“Ya… Siapa lagi?”
“Bentar….. Deandra Callena anak tunggal?”
“Definitely not. Mereka tiga bersaudara. Deandra, Kirania, sama Reydevan.”
Sudah Xennora duga. Tapi maaf Antha, Xennora sudah lebih dulu mengetahuinya. Ia hanya ingin memastikan.
“Bertiga?”
__ADS_1
“Iya… emang ada siapa lagi?”
“Deannisa…?”
“Deannisa siapa lagi?”
“Pelaku kematian masal 2007…” Gumam Xennora.
“2007 apa?” Tanya Antha memastikan, namun Xennora segera menggeleng lalu berdiri dan mengambil tasnya dengan tergesa.
“Tha, gue pulang awal ya… Makasih informasinya…” Pamit Xennora lalu pergi sebelum Antha bertanya dan mencegahnya.
...❄❄❄💙❄❄❄...
Xennora pulang ke rumah dengan tergesa. Sepertinya Leo dan Edwin belum pulang, baguslah. Ia kemudian memasuki ruang kerja ayahnya lalu mencari beberapa berkas di rak buku milik ayahnya. Ruangan ini nyaris seperti perpustakaan pribadi. Namun, bukan buku yang tertata rapi, melainkan kumpulan materi kasus yang pernah dipelajari oleh Rafael. Tidak lama di rak ketiga dia menemukan kumpulan kasus yang terjadi tahun 2007, dan materi kasus pengedaran obat obatan illegal ada di rak bagian paling bawah. Xennora segera membawa ratusan kertas HVS yang dibukukan itu ke meja kerja ayahnya. Lalu ia mulai membuka lembar per lembar dengan tergesa. Di halaman kelima terdapat biodata umum milik Professor Ardian. Ternyata memang benar, ayahnya tahu jika Professor Ardian Memliki tiga orang anak.
“Jaksa tau kalau Professor itu punya anak….” Gumam Xennora. Saat ia membalikkan halaman, sebuah catatan jatuh. Xennora pun segera memungutnya.
“Ardian punya tiga anak. Salah satu diantara tiga anak itu mirip dengan seorang anak yang dikenalkan oleh Xennora dan Zenara kemarin. Anak itu bernama Deannisa, sedangkan anak sulung Ardian bernama Deandra. Aku tidak tahu mereka kembar atau bagaimana, yang jelas tidak ada informasi yang menyatakan Ardian memiliki empat anak.”
“Jadi… jaksa juga sadar ya…” Gumam Xennora. Ia membalik catatan itu kemudian menemukan catatan lain.
Mereka bukan anak kembar.
“Mereka… siapa? Deandra sama Deannisa?”
Xennora membandingkan dua catatan itu. Ia terus membolak baliknya. Sepertinya catatan kedua ditulis dengan terburu buru. Dan itu ditulis dengan pena yang berbeda dari yang sebelumnya. Dapat xennora simpulkan jika catatan kedua ditulis tidak lama setelah catatan yang pertama. Xennora diam diam mengambil lembar biodata pak Ardian beserta catatan ayahnya itu. Lagi lagi saat ia akan menyobek halaman tentang biodata, satu lembar kertas yang sepertinya tidak ikut dibukukan terjatuh. Saat xennora mengambilnya, ia melihat bayangan sepasang kaki di sela sela pintu. Xennora terbelalak. Astaga, itu ayahnya. Ia segera mengambil materi kasus di atas meja tadi lalu sembunyi di rak paling ujung dan menyimpan materi kasus tadi secara acak.
Tak lama, terdengar suara pintu terbuka. Xennora menutup matanya, dada nya bergemuruh. Ia menghela napas pelan saat ayahnya duduk di kursi kerjanya. Astaga, ini pasti akan memakan waktu lama. Tiba tiba sebuah ringtone terdengar membuat Xennora melotot, ia mengecek handphone di saku nya namun ringtone itu ternyata bukan berasal dari handphone nya. Itu berasal dari handphone Rafael. Lagipula ia lupa, jika handphone nya masih berada di tangan Leo tadi.
“Semua ancaman darimu tidak akan berpengaruh apa-apa padaku.”
“Terserah. Jika kau terus bersikap seperti ini, mungkin saja….. ayahmu akan dihukum mati…. Karena anaknya yang tidak tahu diri ini terus mengganggu jaksa alih alih mencari uang tebusan.”
“Haha… kenapa? Kau pikir aku tidak tahu kalau kau anaknya Ardian?”
“Mendengarmu terdiam seperti ini membuatku ingin membongkar semua informasi tentangmu.”
“Kau menantangku? Kau tahu di dunia ini ada jaksa yang sangat berbahaya? Salah satunya... Aku?”
“Baiklah kalau kau memaksa… ngomong ngomong sedang apa kau disana? Memiliki niat untuk trainee idol kah?”
“Ahahaha tenang saja… tidak ada siapa siapa di ruanganku. Ah… tapi akan lebih bagus jika seseorang mendengar ini.”
“Apa? Kau masih meragukanku? Baiklah kalau begitu…”
“Kau… pelaku kematian masal 2007…. Iya kan?”
...❄❄❄💙❄❄❄...
"Julian….” Panggil Edwin ketika mereka sedang sibuk dengan handphone nya masing-masing kecuali Julian yang sedang menyantap buah-buahan. Julian mendongak, terasa aneh ketika salah satu dari si kembar memanggilnya dengan nada serius. Namun bukan hanya Julian yang mendongak dan menatap Edwin. Herina, Sofia, Eireen, bahkan Leo pun memandang Edwin penasaran.
“Kalian kenapa sih? Gue manggil Julian…!” Mereka pun segera fokus ke handphone nya lagi kecuali Julian. Saat Edwin akan membuka mulutnya, Leo tiba-tiba berdiri.
“Laper nih, kalian mau ke kafe? Gue traktir!” Seru Leo yang niatnya hanya mengajak para perempuan karena ia yakin jika nada suara Edwin sudah seperti itu, maka pembicaraan selanjutnya akan serius.
__ADS_1
“Idih katanya laper, kafe doang gak akan kenyang!” Balas Sofia membuat Leo menatapnya datar.
“Yaudah ayo ke restoran! Atau mau ke rumah makan Padang?”
“Bebas deh yang penting kenyang!” Seru Sofia lalu berdiri diikuti Eireen, Herina, dan Leo sendiri.
“Mau nitip?” Tawar Leo pada Edwin. Edwin pun menggeleng dan membiarkan mereka pergi. Julian yang belum mengerti hanya menatap Edwin penasaran.
"Kenapa Ed?” Tanya Julian setelah yang lain pergi.
Edwin terdiam sejenak. “Lo udah lumayan deket ya sama Xennora?”
Kini giliran Julian yang terdiam karena pertayaan Edwin. Kenapa tiba-tiba bertanya tentang Xennora? Julian ingin balik mempertanyakan itu namun Ia urungkan dan lebih memilih menjawab pertanyaan Edwin. “Ya… hubungan kami mendingan daripada tahun-tahun kemarin sih. Kenapa emang?”
“Gue gak tau Ju… rasanya semua hal tentang Xennora itu kayak… rahasia. Yang bahkan gue sebagai abangnya pun gak boleh tau….”
Kini Julian mengerti alur pembicaraan ini. ia memaklumi Edwin dan leo. Karena menurutnya pun, Xennora merupakan sebuah rahasia besar. Wajar jika orang-orang terdekatnya pun tak mengetahui apa-apa. Edwin bertanya pada Julian hanya untuk mengetahui apakah Xennora menceritakan sesuatu tentang kesulitan atau apapun tentang kehidupannya pada Julian. Karena nyatanya, Xennora tidak pernah bercerita apapun kepada Edwin maupun Leo.
“Gue Cuma mau nanya sama lo, siapa tau Xennora ada bilang sesuatu tentang kehidupnnya, atau masa lalunya. Karena sebenernya… Gue sama Leo ketemu dia tuh waktu umur gue dua belas tahun. Dia bukan anak kandung mama—“
“Gue tau.” Potong Julian membuat Edwin yang awalnya menunduk, mendongakkan kepalanya.
“Itu yang Xennora ceritain sama gue. Tentang kalian yang bukan saudara kandung, dan…. Mama kandungnya…”
“Lo tau siapa mama kandungnya?”
“Iya, tapi gue gak berhak ngasih tau itu sama lo, maaf, itu pesan Xennora.”
Edwin terlihat kecewa. Namun Julian sudah berjanji untuk tidak membocorkan rahasia itu pada siapapun kecuali jika xennora memperbolehkannya. “Oke. Gue ngerti. Itu pasti salah satu rahasia terbesarnya.”
Ada jeda sebentar sebelum Edwin melanjutkan kalimatnya. “Gue Cuma sedih, Ju. Setiap malam Leo selalu nanya, kenapa Xennora jutek banget ke orang-orang? Kata Nazril dulu dia ceria. Kenapa Xennora berubah? Setiap ada masalah pun dia gak pernah cerita sama kita… Dan gue sebagai kakak tertua Cuma jawab gak tau. Leo ceria, tapi gak ada yang tau kalau setiap malam dia tertekan. Tugasnya sebagai ketua osis, dan bahkan ucapan Nazril tentang kepribadian Xennora yang dulu. Sedangkan Xennora, dia keliatan jutek, dingin, dan gak berperasaan, tapi orang-orang gak ada yang tau kenapa sikapnya gitu….” Ucapan Edwin terhenti. Julian yakin jika pria itu sedang mencoba menahan tangisnya.
“Dan lo… lo keliatan berwibawa, cerdas, dan percaya diri. Tapi gak ada yang tau kalau sebenarnya… lo kecewa sama diri lo sendiri karena gak bisa ngasih jawaban atas pertanyaan adik-adik lo…?”
Edwin terkekeh seraya mengangguk pelan, membenarkan ucapan Julian.
“Lo khawatir sama mereka, Ed. Itu lebih dari cukup untuk nunjukkin rasa sayang lo terhadap saudara-saudara lo… Menurut gue, gak perlu ngasih Leo jawaban atas pertanyaannya tiap malam, lo cukup bilang… ‘kalau Xennora mau, dia yang bakalan datang langsung.’ Gue yakin Leo ngerti. Dia cuma butuh pendapat lo. Dan Xennora… dia gak sampai ngediemin kalian. Itu seharusnya udah cukup bagi seorang kakak yang punya adik dengan kepribadian kayak Xennora. Kalau dia siap… dia pasti bakalan nyeritain seluruh rahasianya sama kalian.”
“Lo bener Ju. Tapi gue lebih khawatir kalau misalkan Xennora lagi ada masalah, tapi dia gak mau cerita apa-apa, yang bikin gue gak sadar dia punya masalah. Dia… bakalan ngerasa terpuruk kan…?”
“Sejauh ini, Xennora udah mengalami banyak hal, banyak keterpurukkan. Ambil contoh dari kasus kematian saudara kembarnya. Xennora udah bertahan sejauh ini. Artinya dia cewek kuat, Ed. Lo gak perlu raguin dia. Kalau dia ngerasa butuh seseorang, dia pasti bakalan datang. Entah itu ke Leo, gue, Herina, Sofia, Eireen, Nazril, dan bahkan ke lo.”
“Haha… kayaknya lo tau banyak ya tentang Xennora?”
“Gak sebanyak orang yang baru datang itu.” Balas Julian lalu menunjuk pintu ruangan yang terdapat Nazril disana membawa sebuket bunga Aster.
Ia lalu menyimpan bunga itu di nakas samping brangkar Julian lalu duduk di samping Edwin.
“Gue alergi aster bay the way.” Celetuk Julian.
Nazril mengangkat bahu acuh. “Gue beli itu bukan buat lo ciumin wanginya tiap detik.”
“Lah terus buat apa? Hambur-hamburin uang aja.” Cibir Julian.
“Buat formalitas.”
__ADS_1
“Hahaha…. Keseringan bergaul sama Xennora jadi gini nih…” Celetuk Edwin.