The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
Not Secret Anymore


__ADS_3

Xennora yang awalnya menunduk kemudian mendongak dan menatap Julian penuh harap. "Bener juga. Dan sekarang, Deandra pun jadi seorang kriminal which is... Deannisa udah lakukan delapan tahun sebelumnya."


"Kita perlu tau sih, hubungan mereka berdua apa."


"Kembaran? Atau... Adik kakak?"


"Bentar, kita lihat di foto Deandra. Yang cowok ini kan Reydevan. Cewek samping kiri itu pastinya Rani. Dan ini Deandra. Diliat dari fotonya sih, potongannya rapi, gak disobek. Mungkin mereka dipisahin sejak bayi?" Ujar Julian.


"Tapi, kalau dipisahkan sejak bayi, gak mungkin kan mereka punya barang yang sama? Kalung bintang mereka." Xennora menunjuk kalung yang dipakai Deandra dan Deannisa.


"Bener juga. Mereka pakai kalung yang sama. Hal yang ada di pikiran gue cuma satu."


"Mereka orang yang sama."


...❄❄❄💙❄❄❄...


"Gimana? Enak gak?"


"Pedes!"


"Masa iya? Y-yaudah nih, minum minum!"


Wajah Julian memerah, Xennora tidak tahu sepedas apa makanan yang Herina bawa. Ia memandang Julian kasihan.


"Mau lagi? Nih, aaaa!"


"Udah Rin, kasian anak orang hampir sekarat." Edwin pun turun tangan untuk membantu sahabatnya itu.


Beberapa menit setelah diskusi singkat antara Xennora dan Julian, Kamila datang bersama lima orang di belakangnya. Leo, Edwin, Herina, Eireen dan Sofia. Setelah itu, Kamila pun pamit untuk mengurus butik nya. Ia berjanji akan datang lagi nanti sore.


"Yah, sayang banget ini ayam balado nya masih banyak." Herina menatap kotak bekal yang ia bawa.


"Kalian mau?" Tawar Herina pada Leo dan Edwin.


"Eeenggak... Tadi aku udah makan hehe... Masih kenyang." Ucap Edwin. Sedangkan Leo hanya tersenyum lalu menggeleng.


"Aku mau dong kak!" Seru Sofia. Ya, biar bagaimanapun perempuan selalu mencintai makanan pedas. Dengan senang hati, Herina memberikan kotak bekalnya itu pada Sofia.


"Nih! Abisin yaa!"


Sofia pun menghabiskan ayam itu dibantu Eireen. "Sen! Mau?" Tawar Sofia. Sama dengan respon Leo tadi, Xennora tersenyum lalu menggeleng.


"Ngomong-ngomong... Kabar Vinca gimana?" Tanya Xennora membuat mereka mematung termasuk Sofia dan Eireen yang berhenti makan.


"Lo masih nanyain dia Sen?" Tanya Eireen dengan nada meremehkan.


"Loh kenapa?"


"Enggak, lupain aja." Ucap Eireen lalu melanjutkan aktivitas makannya.


"Dia... Pindah ke Bandung." Herina membuka suara.


"Haha pengecut." Komentar Eireen.


Sepertinya disini Eireen yang paling tidak menyukai Vinca. Padahal dulu mereka sangat dekat.


"Udah biarin aja dia. Sekarang yang harus dikhawatirkan tuh kriminal yang masih berkeliaran." Ujar Julian.

__ADS_1


"Polisi belum menemukan mereka?" Tanya Edwin.


"Kayaknya." Balas Xennora.


"Gue lebih kasian ke adiknya sih." Ucap Herina.


"Rani?" Sofia memastikan.


"Iya. Mau dijaga seketat apapun sama Polisi, dia pasti masih tetap ngerasa takut."


"Lo bener." Komentar Edwin.


"Kalau misalkan Deandra ditangkap, kira-kira dia bakalan dipenjara berapa tahun?" Tanya Sofia.


"Percobaan pembunuhan. Jika kejahatan diancam dengan pidana mati atau pidana seumur hidup, dijatuhkan pidana penjara paling lama lima belas tahun." Jelas Xennora tiba-tiba ketika mereka sedang sibuk mencari di internet. Xennora menatap mereka satu persatu seraya melanjutkan kalimatnya.


"Pasal 53 ayat (3) KUHP. Disini, gak ada korban yang kehilangan nyawa. Jadi bisa dianggap percobaan pembunuhan. Sedangkan kalau ada korban yang meninggal akibat ulah Deandra Callena atau Devan, baru bisa disebut pembunuhan berencana."


"Lah, gak adil. Mereka punya niat ngebunuh hampir dua ratus orang. Dan itu cuma disebut percobaan?" Kritik Leo.


"Itu sebabnya kita perlu beberapa bukti untuk ngehukum mereka, lebih dari tuntutan percobaan pembunuhan." Balas Xennora.


"Gimana caranya?" Tanya Julian membuat Xennora menatap pria itu dengan senyum remeh.


"Deannisa, dan Deandra. Mereka orang yang sama...kan?"


...❄❄❄💙❄❄❄...


"Pak, jika Anda ketahuan melakukan hal seperti ini, Anda bisa saja lengser dari jabatan Anda sebagai Kepala Kepolisian." Protes Sri Lestari pada atasannya itu.


"Saya tidak percaya Anda melakukannya. Ini kali pertama saya melihat Anda melakukan hal tidak terpuji seperti ini. Suap itu ilega--"


"Ini memang kali pertama saya melakukannya." Akhirnya pria itu menjawab.


"Gadis yang bernama Xennora itu... Dia bukan gadis biasa." Lanjutnya sambil menatap pigura yang selalu ada di meja kebesaran nya. Itu fotonya dengan sang adik.


Carissa Putri.


...❄❄❄💙❄❄❄...


"Yaudah! Ayo kita kasih foto ini ke Polisi!" Seru Eireen semangat.


Beberapa menit sebelumnya, Xennora menjelaskan kepada Edwin, Leo, Herina, Sofia dan Eireen tentang siapa itu Deannisa. Tentu disertai keterkejutan mereka saat mengetahui Xennora memiliki saudara kembar. Bahkan Leo sempat membentak adiknya itu karena tidak pernah memberitahunya yang berakhir Leo marah pada Xennora, sampai saat ini.


"Gak semudah itu. Mempertimbangkan Deandra yang juga belum tertangkap, kita juga masih memerlukan bukti konkret yang gak bisa terbantahkan." Jelas Xennora.


"Tapi bentar, yang gue masih gak ngerti tuh... Kenapa kalian yakin banget kalau Deannisa sama Deandra itu orang yang sama? Sedangkan Deandra kan masih seumuran kita. Sedangkan Deannisa... Kayaknya udah dua puluhan." Bingung Edwin sambil memperhatikan foto Deannisa dan Deandra yang diberikan Xennora.


"Lo lupa Ed, alasan dia masuk kelas buangan? Itu ya karena dia gak naik kelas bertahun-tahun. Enggak bertahun-tahun sih, tepatnya dua tahun. Dia gak naik kelas selama dua tahun berturut-turut." Jelas Julian.


"Itu artinya... Deandra kelahiran 95? Lebih tua dua tahun dari kita?" Tanya Herina yang diangguki Julian.


"Berarti usianya udah dua puluh tahun?" Tanya Sofia.


"Iya. Dan kalian tau fakta yang lebih mengejutkan lagi?" Tanya Xennora.


Mereka menatap Xennora penasaran. Bahkan sepertinya Leo melupakan fakta bahwa dia sedang marah pada Xennora.

__ADS_1


"Rani. Temen sekelasnya Vina itu, kalian tau kan?"


"Ck ya tau lah! Orang dia adiknya Deandra yang katanya mau bantu kita!" Leo yang duduk jauh dari tempat Xennora tiba-tiba on fire. Namun Xennora malah tersenyum penuh arti.


"Tau gak usia dia berapa?"


Kayaknya Xennora lagi memancing keributan.


"Ya namanya temen sekelas Vina pasti seumuran sama Vina lah gimana sih lo?! Kelas sembilan usianya lima belas tahun. Puas?!"


"Salah."


Leo yang awalnya menatap Xennora emosi justru sekarang menatap Xennora bingung, begitupun dengan yang lain termasuk Julian. Yang ini Xennora belum ngasih tau dia soalnya.


"Usia dia sembilan belas tahun. Mau apa lo?" Tantang Xennora pada Leo.


"Pfft--JHAHAHAHAHAHAHAHA! KAN UDAH ABANG BILANG JANGAN KEBANYAKAN NONTON FILM. JADI GINI KAN--AHAHAHAHAHA. Tapi gapapa. Biar ada hiburan dikit-hhhahaha." Leo ribut sendiri. Yang lain ngelamun, gak percaya. Xennora menatap Leo malas. Males ngomong sama orang yang gak percayaan.


Seraya menghela napas lelah, Xennora memberikan handphonenya pada Leo. "Gue pulang dulu. Ada urusan." Pamitnya. Lalu pergi keluar setelah mendapatkan persetujuan pemilik sementara ruangan ini.


Leo yang masih sedikit tertawa lantas terdiam setelah melihat gambar yang ada di galeri handphone Xennora. Gadis itu sendiri yang berniat memperlihatkan foto itu pada Leo.


"Wah.... Dia gak bercanda..." Gumam Edwin yang ikut mengintip foto itu.


Dokumen pasien atas nama Kirania Aliya Pyralis. Dengan biodata lengkap. Jelas tertera tanggal lahir pasien dalam dokumen itu.


13 April 1996.


...❄❄❄💙❄❄❄...


Xennora izin pulang, namun kini ia berada di depan rumah Antha, menunggu gadis itu membukakan rumahnya karena orangtua nya bekerja sampai sore. Tak lama, pintu terbuka. Hanya sedikit lalu sebuah kepala menyembul dari dalam sana. Xennora menjauhkan wajahnya. Terkejut, jelas. Apalagi melihat wajah Antha yang tengah tersenyum psycho padanya.


"Hehe, masuk Ra."


"Lo kebiasaan banget deh. Sok horror." Cibir Xennora saat gadis itu menelusuri rumah Antha.


"Lagian susah banget liat lo kaget, Ra." Balas Antha lalu memasuki kamarnya yang diikuti oleh Xennora. Mereka berdua duduk di meja diskusi yang ada di balkon kamar Antha.


"Mau liat gue kaget?"


"Hooh. Gimana?"


"Denger lo jadian. Hahahaha..."


Wajah Antha yang awalnya semangat kini menjadi malas. Gak ngaca.


"Apalagi jadian nya sama Kak Fadhil haha.." Xennora tertawa kecil lalu mulai fokus pada laptop di depannya. Tentu itu laptop milik Antha.


Namun setelahnya, Antha terlihat khawatir. Ia duduk di depan Xennora dengan tidak nyaman, padahal Xennora sendiri tengah fokus mengotak atik laptop sahabatnya itu. Antha mencoba menarik napas untuk menenangkan diri.


"Gue ada informasi tentang kejadian 2007 itu." Ucap Antha seraya memberikan beberapa lembar kertas HVS pada Xennora. Gadis itu pun menerimanya lalu mulai membaca singkat kertas-kertas itu.


"Kalau dalam segi peristiwa, pembunuhan masal 2007 terjadi setelah isu pengedaran obat-obatan illegal itu.” Jelas Antha seraya memperhatikan Xennora yang masih fokus terhadap kertas-kertas ditangannya.


“Oh? Kasusnya Professor Ardian?”


“Iya, kan bokap lo yang ambil kasusnya.”

__ADS_1


__ADS_2