
“Pilih coba, yang mau nonton ikut tim Fikri.”
“Nonton apaan?”
“Horror aja, film The Haunted. siapa yang ikut?” Tanya Cathleen membuat hampir semua temannya
mengangkat tangan.
“Yahh kakak gak ikut?” Vinca terlihat kecewa saat Xennora tidak mengangkat tangannya.
“Kakak apaan, kan aku udah bilang kita seumuran Ca.” Balas Xennora seraya terkekeh, membuat Julian
tersadar kalau gadis itu juga ikut melupakan seluruh problematikanya akibat oknum bernama Vinca empat
tahun yang lalu. “Lagi gak mood nonton aja sih.” Lanjut Xennora.
“Ya udah ayo, yang ikut sini. Film nya bentar lagi mulai, kita beli tiket dulu.” Ajak Fikri, membuat Vinca, Yuna,
Radit, Angelyna, Cathleen dan Risa memasuki area bioskop. Xennora tersenyum memberi semangat kepada
Vinca yang masih terlihat sedih karena ia tidak ikut. Angelyna awalnya tidak enak, namun setelah Cathleen dan
Fikri berulang kali mengatakan tidak apa-apa, akhirnya gadis itu ikut pergi.
“Kak Yoyo! Mau ke mana?!” Pekik Xennora ketika menyadari Yohan yang pergi berlawanan dengan arah ke
Bioskop. Xennora sudah bersiap untuk mengikutinya sebelum—,
“Toko buku.”
Sebelum mendengar jawaban Yohan. Malas mengikuti pria kutu buku itu, Xennora pun duduk di kursi yang
ditempati Julian juga karena pria itu tidak ikut menonton. Kalau seperti ini, apa yang dia traktir coba?
“Kak… Daripada diem-dieman gini, mending main aja gimana?” Tanya Xennora semangat membuat Julian
menatapnya tidak terlalu tertarik.
“Kamu aja.” Balas Julian setengah-setengah.
“Gak seru tau…!” Kesal Xennora namun Julian memilih tidak peduli dan fokus ke handphone nya saja.
Melihat sesuatu yang lumayan menarik perhatian, Xennora mendekati seorang anak perempuan yang tertabrak
oleh seorang pria dewasa. Xennora berjongkok di depan anak yang terjatuh itu, mencoba membersihkan rambut
anak itu karena pria yang menabraknya tengah membawa makanan ringan. Bumbu makanan ringan yang
dibawanya memenuhi rambut gadis itu.
“Maaf mas, kalau mas belum tau, orang Indonesia punya kata yang sering diucapkan ketika merasa bersalah,
yaitu maaf.” Interupsi Xennora. Pria itu berbalik, merasa dialah yang tengah dibicarakan. Karena memang
hampir seluruh atensi di area sana tertuju pada mereka bertiga.
“Terus kenapa emang? Saya juga tau.” Balasnya tanpa rasa bersalah.
Julian penasaran dengan kerumunan di dekatnya itu. Setelah melihat sekitarnya, Julian tidak menemukan
kehadiran Xennora. Dengan langkah santai, pria itu mendekati kerumunan lalu melihat Xennora yang tengah
berjongkok di depan seorang gadis yang terlihat terluka. Seorang pria pun berdiri dengan angkuh di dekat
mereka.
Xennora menghela napas lelah menghadapi orang-orang seperti ini. “Kalau anda sudah dewasa, saya yakin anda
dapat memikirkan perkataan saya dengan sangat baik.” Ujar Xennora masih belum berniat berbalik, ia masih
__ADS_1
menunduk melihat bagaimana gadis itu terlihat kesakitan karena lututnya lecet.
“Kalau anda punya manner, saya yakin anda tidak akan terlihat pengecut seperti ini.” Pria itu ikut menyindir
Xennora tentang tata karma di mana ketika berbicara harus melihat ke mata lawan bicara. Lantas Xennora
membalikkan wajahnya melihat di mana pria itu berdiri dengan angkuh, namun tak lama pria itu terlihat
terkejut dan gagap. Begitupun orang-orang di sekitarnya yang juga baru melihat wajah sang penolong itu.
“Maaf ya dek, kakak gak sengaja.” Tiba-tiba pria itu meminta maaf tanpa Xennora minta lagi. Hal itu membuat
Xennora sedikit aneh, kenapa tiba-tiba mudah sekali membuatnya meminta maaf? Bahkan satu menit yang lalu
dia baru saja berbicara tentang tata karma.
Pria itu memberikan sejumlah uang kepada gadis itu, lalu pergi setelah pamit secara terburu-buru.
“Kenapa sih?” Gumam Xennora aneh, namun gumaman orang-orang di sekitarnya membuat Xennora sadar
kenapa pria itu tiba-tiba terlihat terburu-buru.
“Iya, Jaksa yang terkenal itu.”
“Kasus ini sih yang sebenernya bikin dia sama temen-temennya terkenal, selain karena mereka emang kelihatan
cantik dan ganteng sih.”
“Kata mama, kasus ini ada hubungannya sama kasus terkenal beberapa tahun yang lalu. Jadi mamaku bilang
kalau mereka bisa nangkap pelakunya, maka itu bikin seluruh dendam bertahan-tahun yang lalu terbalaskan,
keadilan baru aja ditegakkan setelah bertahun-tahun lamanya.”
“Lah, bukannya ini kasus bunuh diri? Dulu juga ada kasus bunuh diri yang terkenal banget kan?!”
“Bukan… Ada yang bilang sebenernya ini kasus pembunuhan, bukan bunuh diri biasa…”
“Ugh… Kayaknya aku terkenal belakangan ini…” Gumam Xennora lemas. Gadis di depannya sudah terlihat
tenang, lantas Xennora membantunya berdiri.
“Lutut kamu sakit?” Tanya Xennora yang masih berjongkok, menatap wajah gadis yang sedikit lebih tinggi
darinya itu.
“Enggak kok kak, udah mendingan.”
“Such a strong girl… Tapi ingat, nanti lukanya harus di cuci, jangan didiemin. Ngerti?”
“Ngerti kak, makasih sebelumnya…”
“Anytime. Nama kamu siapa?”
“Hanelle!!” Terdengar teriakan di belakang Xennora, membuat gadis itu langsung berlari ke arah sana. Xennora
pun berdiri lalu berbalik menatap orang yang sepertinya ibu atau paling tidak kakak gadis bernama Hanelle itu,
kalau tidak salah dengar. Tapi tiba-tiba, kedua orang yang memanggil Hanelle itu terlihat terkejut ketika melihat wajah Xennora.
‘Kayaknya aku harus membiasakan diri jadi orang terkenal…’ Ujar Xennora dalam hati, sambil terus mencoba
mempertahankan senyumannya.
“Bye Hanelle! Lain kali hati-hati. Lukanya dibersihin yaa!” Seru Xennora menyemangati disertai ekspresi yang
menggemaskan. Xennora hampir menabrak seseorang saat berbalik, pria yang tingginya sekitar sepuluh
sentimeter lebih tinggi dari Xennora.
__ADS_1
“Mau ngajak aku main kak? Ayo!” Ujar Xennora semangat ketika tahu jika pria itu adalah Julian. Xennora
langsung memegang tangan Julian lalu mengajaknya ke area permainan. Itu membuat dua orang yang
memanggil Hanelle lebih heboh lagi.
“Hehh??"
“Ya ampun shok…”
Tentu saja, itu Edwin dan Herina. Kalau saja Herina tidak mencubit pinggang Edwin tadi, mungkin saja dia
sudah memeluk gadis itu erat. Yang membuat mereka lebih terkejut lagi adalah, bagaimana hubungan Xennora
dan Julian bisa membaik dengan begitu cepat? Ya setidaknya itulah yang mereka lihat.
“Kakak kenal sama kakak tadi?” Tanya Hanelle melihat ekspresi Herina yang masih terlihat tidak percaya.
...***...
Sekitar setengah jam Xennora menghabiskan waktunya di area permainan bersama Julian yang hanya ikut
bermain beberapa permainan saja. Sekarang mereka tengah menyeka keringat sambil duduk di bangku dekat
bioskop tadi karena habis bermain game dance revolution.
“Kak, pengen beli minuman…” Ujar Xennora. Terlihat, keringat mengucur di pelipis dan lehernya, Julian juga. Tentu saja itu karena mereka memainkan permainan itu sebanyak tiga kali.
“Ya udah sana.”
“Anter lah… Makanan sama minuman cuma ada di lantai bawah…"
Julian terdiam, sepertinya pria itu tengah berpikir. “Ayo.” Ujar Julian tiba-tiba sambil beranjak dari duduknya
membuat mata Xennora berbinar senang.
“Yes, ayo!”
Mereka turun satu lantai lalu mulai mencari penjual minuman. Awalnya Xennora mengajak Julian untuk
membeli penjual yang berdagang di sekitaran lorong saja, namun Julian langsung menarik tangannya menuju
kafe dekat sana. Bahkan setelah memesan minumannya, Xennora sedikit protes karena minumannya agak
mahal.
“Kenapa gak yang di depan aja?” Tanya Xennora penasaran.
“Ada banyak orang, risih.”
“Ohh iya… Kan kakak lagi terkenal akhir-akhir ini…” Xennora meng iya kan. Wajar sih, minum ditemani
tatapan orang-orang tidak dikenal pastinya membuat tidak nyaman. Apalagi jika tatapan yang mereka berikan adalah tatapan menghakimi. “Tapi kakak yang traktir ya?” Lanjut Xennora sambil tersenyum manis, berharap
Julian akan meng-iya-kan permintaannya yang ini juga.
“Hmm…"
“Uuu baik banget…” Puji Xennora.
Setelah minuman mereka siap, Julian mengajak Xennora untuk kembali ke lantai tempat bioskop tadi. Julian
memang memesan minuman cup agar bisa keluar dari sini secepatnya. Xennora memesan green tea latte tadi,
dia memang tidak berubah.
“Kakak suka sama aku gak?” Tanya Xennora tiba-tiba saat mulai memasuki area permainan tadi.
“Enggak.”
__ADS_1
“Masa? Tapi aku suka sama kakak…”