The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
Attack


__ADS_3

"Kakak ngapain disini? "Tanya Xennora. Dan sepertinya orang yang ia panggil 'kakak' terkejut lalu menatap Xennora ramah.


"Tadinya mau ambil buku yang ketinggalan. Tapi ngeliat cuacanya lagi pas dan gak terlalu panas, jadi kesini dulu deh biar lebih rileks soalnya tugas udah numpuk hehe.." Jawab Deandra ramah sambil berdiri membuat Xennora mengangguk. Berbeda dengan Julian yang sepertinya tak mempercayai ucapan Deandra, dan Xennora menyadari hal itu.


Sepertinya dari saat pertama kali Julian bertemu Deandra, tatapannya gak nyantai. Xennora tak tahu alasannya yang pasti akan Xennora tanyakan nanti. Julian pun berjalan mendekati Deandra dan Xennora dengan langkah santai namun keringatnya masih terlihat jelas di pelipis.


"Kok lo bisa masuk ke sekolah?" Tanya Julian mengintimidasi.


"Hm?... Tadi gerbangnya gak dikunci kok." Jawab Deandra sedikit gugup melihat tatapan Julian yang sepertinya membencinya. Julian pun mengangguk, tentu ia tidak percaya dengan alasan yang dibuat Deandra.


Tak lama, ponsel Julian berbunyi terpandang ada pesan masuk yang ternyata dari Herina.


HerinaZhuanshi


Lo cepet ke lantai dasar. Leo, Edwin, sama Ervin udah kewalahan ngejar si pelaku.


Segera, Julian berlari menuju tangga dan pergi ke lantai dasar yaitu tempat parkir bawah tanah. Membuat Xennora terkejut dan hanya bisa memandangi kepergian Julian. Xennora pun melirik Deandra yang kini juga tengah melihat kearahnya.


"Ada apa?!" Tanya Deandra panik yang Xennora jawab dengan gelengan.


"Mending kita ikutin deh kak... Deandra Callena." Ujar Xennora. Setelah mendapat anggukan setuju dari Deandra, mereka pun berlari menuju lantai tiga, namun tak ada apa-apa. Mendengar sesuatu dari lantai dasar, Deandra mengajak Xennora pergi ke sana dan benar saja. Kini Julian tengah bertengkar dengan si pelaku atau bisa saja disebut 'tersangka'.


Mereka saling memukul dan menghindar, ada kalanya Julian yang terdorong jatuh ke belakang, tak lama kemudian si tersangka mundur beberapa langkah sambil memegang perutnya karena Julian berhasil menendangnya.


Dapat dilihat Leo, Edwin dan Ervin di seberang mereka sedang terduduk dengan keringat bercucuran dan luka ringan di wajah mereka. Sepertinya pria yang sedang Julian lawan bukan orang biasa. Maksudnya, si tersangka itu pasti lumayan handal dalam berkelahi. Hal ini membuat Xennora khawatir dengan Julian yang masih menghindari pukulan bertubi-tubi dari lawannya.


Kedua pria yang sedang berkelahi itu sama-sama kelelahan. Mereka terdiam sebentar dengan mata yang masih menatap tajam lawannya lalu mengelap keringat di pelipis. Membicarakan si tersangka, Xennora tidak mengenalnya. Ia bahkan tidak tahu pria itu angkatan berapa, atau bahkan mungkin sudah jadi alumni.

__ADS_1


Tidak ada siapapun disana yang berani memisahkan pertengkaran Julian dan si tersangka karena para laki-laki masih kecapekan. Jika perempuan yang memisahkannya pasti akan sangat berisiko, apalagi mereka bertengkar dengan sungguh-sungguh sampai pelipis Julian berdarah dan Xennora melihatnya walaupun sedikit terhalang oleh rambut pria itu.


Sebagai gerakan akhir, Julian membanting tubuh lawannya menandakan jika perlawanan berakhir dan pemenangnya adalah Julian. Semua orang disana menghela napas lega.


Beberapa detik kemudian dua orang security datang bersama Herina dan Sofia lalu mendekati Julian yang masih menahan si tersangka agar tidak kabur. Kedua security itu pun mengambil alih pria dengan hoodie hitam tersebut sehingga Julian meregangkan beberapa ototnya dan juga sendi di bahu kanannya yang pegal-pegal.


"Kami akan proses dulu anak ini. Kamu baik-baik saja 'kan?" Tanya salah satu security kepada Julian.


"Saya baik-baik saja, pak." Jawab Julian membuat kedua security itu mengangguk lalu pamit untuk membawa pria hoodie itu pergi ke ruang security.


Xennora mendekati Julian yang sepertinya sangat kelelahan. Ia sedikit meringis melihat beberapa luka di wajah dan tangan Julian, sepertinya sakit.


"Lo gak kenapa-napa?" Tanya Xennora sedikit panik campur khawatir. Sofia dan Vinca pergi, berniat membelikan minum untuk para kakak kelasnya yang sudah berusaha melawan tersangka.


Julian diam, tak menjawab pertanyaan Xennora membuat gadis itu makin khawatir. Pasalnya, Julian terlihat sangat lelah, ia memejamkan matanya dengan napas yang tak beraturan. Xennora mendekat untuk memastikan keadaan Julian.


"Kak?" Tanya Xennora, namun tiba-tiba Julian memegang lengannya lalu duduk terjatuh. Kakinya sungguh sudah tak kuat memikul beban. Apalagi tadi ia sempat terjatuh beberapa kali, pasti rasanya sakit dan pegal. Xennora bahkan tak dapat membayangkan rasa sakitnya.


"Sebentar... Sebentar aja, gue mohon..." Bisik Julian dengan suara lemah dan pelan sekali membuat Xennora mau tak mau mengurungkan niatnya untuk protes.


Xennora sedikit melihat ke samping, tempat dimana Julian bersandar di bahunya. Rambut pria itu sedikit basah karena keringat. Sekitar lima menit, Xennora merasa diperhatikan jauh di sudut ruangan dan ia yakin itu oknum seperti Edwin, Leo, Ervin, Vina, Eireen, Vinca, Herina, Sofia, dan bahkan Deandra. Xennora menghela napas lalu mencoba membangunkan Julian yang sepertinya tertidur karena kelelahan.


"Kak... Kak?" Panggil Xennora. Tanpa perlu dibangunkan lebih jauh lagi, Julian sudah bangkit untuk memperbaiki posisi duduknya sambil sedikit bergumam.


"Nih, minum dulu." Ucap Xennora lalu memberikan botol minum yang sudah ia buka tadi. Julian menerimanya lalu meminumnya sampai habis, sepertinya tenaganya sudah lumayan pulih.


"Thanks." Ucap Julian setelah menghabiskan minumnya. Xennora tersenyum tipis lalu mengangguk.

__ADS_1


Bisa dipastikan jika Xennora merasa sedikit canggung, namun sepertinya Julian biasa saja. Hal itu membuat Xennora menatap gelang di lengan kanannya dengan tatapan miris.


...❄❄❄💙❄❄❄...


"Jangan gerak-gerak terus kak!" Ucap Xennora tegas karena setiap dia menempelkan kapas berisi alkohol di luka Julian, pria itu pasti segera menghindarinya. Julian tak merespon lalu kembali ke posisi semula.


Setelah menempelkan plester di luka lebam yang ada di tulang pipinya, Xennora beralih ke dahi Julian. Karena kedua tangannya memegang kapas dan plester, Xennora menyuruh Julian untuk menyingkirkan rambutnya.


"Kak, rambutnya pegangin dulu deh." Ucap Xennora. Julian menurut lalu menyisir rambutnya dengan tangan kiri ke belakang. Dengan itu, Xennora melihat ruas-ruas jari Julian terluka. Setelah diingat-ingat, Julian sempat memukul tembok karena si pelaku menghindar. Melupakan luka di tangan pria itu, Xennora memilih membersihkan darah di dahi Julian dulu, setelah itu mengoleskan salep namun Julian malah menghindar.


"Diem dong, kak..." Ucap Xennora berusaha sabar.


"Sakit! Udah sini sama gue aja." Julian berusaha mengambil salep di genggaman Xennora lalu dengan kekuatan insting, Julian berusaha keras mengoleskan salep itu di dahinya yang terdapat luka.


Gemas sendiri karena Julian tak mengoleskan nya dengan benar, Xennora merebut kembali salep di genggaman Julian membuat pria itu menoleh ke arahnya.


"Ribet amat." Komentar Xennora sambil mengoleskan salep nya di luka Julian.


"Lo gak santai sih ngolesinnya. Mending sama Sofia." Jawab Julian jengah.


"Terus tahu gitu kenapa gak sama adik lo aja? Ini malah sok-sokan ngobatin sendiri. Yaudah karena gue baik gue bantu!" Ucap Xennora agak nyolot sambil menempelkan plester di luka yang telah diolesi salep tadi. Membicarakan teman-temannya yang lain, Edwin, Herina, Sofia dan Leo pergi ke ruang security karena dimintai penjelasan. Ervin dan Vina pulang sebentar karena mendapat kabar jika ayah mereka dilarikan ke rumah sakit --Julian dan Xennora tak tahu alasannya--. Sedangkan Eireen dan Vinca pergi ke perpustakaan, dan Deandra telah pulang.


"Terserah gue dong. Mau nolong tapi ngomel-ngomel gitu bilang aja gak ikhlas!" Jawab Julian tak kalah menyebalkan lalu berdiri dan bersiap untuk pergi.


"Dih?" Xennora berusaha sabar dan tak berniat menjawab ucapan Julian lagi lalu menarik lengan jaket Julian seakan menyuruh duduk kembali.


Xennora menarik tangan Julian yang terdapat luka lalu mengompres nya perlahan dengan handuk berisi air hangat. Julian sedikit meringis, setelah selesai Xennora mengelapnya dengan tisu lalu diberi olesan salep dan terakhir dilapisi perban sampai lukanya benar-benar tertutup.

__ADS_1


"Selesai! Nanti malam jangan lupa perbannya diganti." Ucap Xennora sambil membereskan kotak P3K. Julian masih setia memperhatikan Xennora lalu menatap tangannya yang telah dibalut perban, Julian tersenyum kecil.


Sepertinya ucapan Vina di kantin tempo hari akan menjadi kenyataan.


__ADS_2