The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
Nearly


__ADS_3

Seorang gadis dengan rambut brunette sepundak ditambah poni dan setelan formal hitam tengah duduk di salah satu kursi kafe. Di sebelahnya ada seorang perempuan dengan rambut hitam pendek yang hanya setelinga ditambah poni juga dan menggunakan setelan yang hampir sama dengan gadis tadi. Beberapa menit kemudian seorang perempuan lainnya muncul dengan pakaian santai dan rambut yang diikat. Dia langsung duduk di depan mereka berdua tanpa permisi terlebih dahulu.


“Ada apa?” Tanya dia tanpa basa basi.


“Begini… Apa benar hari Rabu tanggal 27 Februari, kamu jenguk Clarissa Amanda bersama Choi Hana dan Angelyna Anugralia sekitar jam 9 malam?” Tanya Xennora, sedangkan gadis di sampingnya yang tak lain adalah Ayuna sedang bersiap mengetikkan jawaban saksi dan juga menyiapkan perekam suara.


“Iya, itu benar.”


“Bisakah kamu menceritakan detail kejadian saat kalian pergi ke Rumah Sakit sekaligus saat kalian ‘berpesta’ di apartemen Choi Hana?”


“Saya dan Angelyna udah ada di Rumah Sakit dari jam 7 malam karena kakaknya Amanda minta kami untuk menjaga adiknya sampai dia pulang. Terus gak lama, Choi Hana datang. Akhirnya, kita ngobrol agak lama sampai kakaknya Amanda pulang. Kita pulang dari Rumah Sakit sekitar jam… Setengah sebelas malem. Kita niatnya langsung pulang aja masing-masing, tapi ternyata Hana nawarin buat nginap di rumahnya. Karena lagi gak pada sibuk, akhirnya kita setuju. Kita naik taksi tapi di tengah jalan, Hana minta buat berhenti sebentar karena dia mau beliin Kirania obat pereda demam. Lalu kita bertiga akhirnya sampai di apartemen Hana sama Kira. Kita sempet liat keadaan Kira sebentar sambil ngobrol dan ngasihin obat tadi. Angelyna juga sempet bikini Kira bubur. Setelah itu kita pergi ke kamar apartemennya Hana yang letaknya sampingan sama kamar apartemen Kira…”


“Di sana… Karena kita tau kalau apartemen Hana pakai peredam suara, jadi kita bergadang sambil karaokean. Tapi jam 12 malam lebih kita udah ketiduran karena capek. Tapi sekitar jam 2 lebih, ada suara orang nangis disusul suara ngeongan kucing yang kayaknya punya Kirania… Waktu saya bangun, Hana udah bersiap mau ngecek ke luar ruangan dia, dan akhirnya saya dan Angelyna ikut. Kita sempet keliling koridor sampai nyadar kalau suaranya deket sama kamar apartemen Hana sendiri. Saya coba mengecek kamar apartemen Hana, sedangkan Hana dan Angelyna mengecek apartemen nya Kira. Waktu saya cek-cek semua ruangan di kamar apartemen Hana, saya denger teriakannya Angelyna, lalu saya samperin. Dan yang kelihatan cuma tubuh Kira yang udah gak bernyawa dan tangan kanannya yang luka karena pisau…”


Xennora dan Yuna mengangguk. Ceritanya sama persis dengan materi kasus yang diberikan oleh pihak kepolisian. Namun ada hal mendetail yang ingin mereka tanyakan mumpung saksi mata berada tepat di depan mereka.


“Baik terimakasih penjelasannya, tapi saya ingin bertanya satu hal… Obat yang digunakan itu, obat jenis apa?” Tanya Xennora membuat Emily mengerling melihat gelas kopi yang ada di sebelah kiri nya.


“Saya tidak terlalu ingat… Yang jelas cairannya terlihat sangat bening seperti lem bening."


“Botol? Obat pereda demam sirup?”


“Iya.”


“Cuma itu yang dia beli?” Tanya Ayuna meyakinkan yang dibalas anggukan pasti dari Emily.


“Kamu tau? Kamu bisa aja ditahan karena melindungi pelaku.” Ujar Xennora santai lalu persandar di punggung kursi.


Emily terkekeh kaku, wajahnya terlihat sangat menyebalkan. “Pelaku apanya? Ini kan kasus bunuh diri?”


“Kamu bilang itu botol obat sirup untuk Kirania, sedangkan orang dewasa kan sudah dianjurkan untuk meminum obat tablet.” Xennora kini mencondongkan tubuhnya ke depan dan berhasil membuat Emily merasa terintimidasi.


“Apoteker manapun… Gak akan ngasih obat pereda demam sirup untuk Pasien dewasa…” Ujar Xennora tenang namun tubuh Emily terlihat sedikit bergetar takut, bibirnya terkatup rapat, matanya mencoba menatap langsung netra coklat Xennora dengan tatapan takut.

__ADS_1


“Itu aja yang mau ditanyakan? Kalau gitu saya pergi dulu, sibuk. Sampai jumpa…” Ujar Emily tergesa saat melihat Xennora yang tengah meminum kopi pesanannya.


“Iya… Terimakasih atas waktunya…” Balas Yuna termenung melihat Emily yang terlihat terburu-buru keluar dari kafe ini.


Xennora menguap lelah, ia melemaskan punggugnya yang terasa kaku itu. Rasanya semua ini juga sudah membuatnya kelelahan tanpa sebab, apalagi di Pengadilan nanti?


“Eh, kak… Punya nomor kak Julian gak?” Tanya Xennora antusias. Rasa lelahnya hilang seketika saat dirinya mengingat sesuatu. Yuna merespon dengan tatapan menggoda nya yang membuat Xennora menyesal telah mengatakan hal itu dalam waktu dekat.


“Ohh? Kamu udah ikutin saranku? Bagus-bagus. Nih, aku kasih kontaknya sekarang yaa…”


“Yep, thanks kak. Ya semoga aja perkiraan kakak bener.”


“Aamiin… Oh iya, kamu masih sering mimpi?”


“Masih… Tapi udah agak jarang. Terakhir kali aku mimpi tuh hari sabtu kemarin. Tapi mimpi nya itu kayak di ulang, aku udah pernah mimpi itu, dan sekarang aku mimpi itu lagi…”


“Liat notebook kamu.”


Xennora membuka tas nya, lalu menemukan sebuah buku berukuran seperti sebuah handphone dengan cover gambar lukisan langit. Ia segera memberikan buku catatan itu kepada Yuna yang langsung mengecek tulisan terakhir yang Xennora tulis.


“Iya, aku gak tau gimana nulis Anta itu. Jadi menurut kakak gimana?”


“Kemungkinan besar mereka teman atau keluarga kamu dulu deh…”


“Keluarga ya…”


“Iya, nona Xennora Anesta F.” Balas Yuna namun Xennora malah melamun. Bahasan keluarga sepertinya terlalu berat untuk gadis itu sekalipun ia menganggap orang ternyaman baginya adalah keluarga. Itu karena ia tidak tahu siapa keluarganya yang sebenarnya. Menjadikan Xennora memiliki prinsip ‘siapapun yang membuatnya nyaman akan ia anggap sebagai keluarga.’


Karena ia tidak mempunyai keluarga sekarang ini…


“Sebenernya F di nama kamu itu apa sih? Kok misterius banget?” Ujar Yuna mengalihkan pembicaraan. Menjadi teman kelompok Xennora selama empat tahun sudah cukup membuatnya mengerti bagaimana reaksi Xennora ketika seseorang membahas tentang keluarga.


“Aku aja gak tau. Paling… Farasya? Atau Fazzahra? Farannisa? Fadhila? Fatimah?” Xennora terkekeh setelah mengatakannya. Xennora Anesta Fatimah, terdengar sangat lucu baginya. Xennora memang selalu bersemangat ketika membahas nama belakangnya ini. Ia ingin memecahkan perkara nama belakangnya yang misterius itu.

__ADS_1


Rasanya Yuna ikut merasa senang ketika melihat gadis itu tersenyum. Ia sudah menganggap Xennora adiknya sendiri. Adik perempuan yang harus ia jaga, seperti prinsipnya dengan Radit saat mereka mengetahui kebenaran kalau Xennora kehilangan ingatannya. Radit juga telah berjanji akan selalu menjaga Xennora seperti adik perempuannya sendiri. Tidak boleh ada siapapun yang membuat gadis itu kesal, tersinggung, marah, bahkan menangis, kecuali dirinya.


“Gimana kalau Fachrunaldo, Sen?” Tebak Yuna ikut terkekeh ketika mengingat pertanyaannya yang tidak masuk akal.


“Anaknya Jaksa Rafael dong? Hahahaha…”


“Plot twist aja ternyata kamu anaknya Jaksa Rafael sama Carissa Putri hahaha.”


“Oh iya… Aku kan kuliah hukum… Tapi aku ahli dalam bernyanyi. Wahh… Hilal kah? Ahahaha…”


“Tapi kalau misalkan bener, gimana perasaanmu Sen?”


“Ya pasti senang lah… Bukan mereka juga gapapa, siapa aja… Keluarga kandungku yang bisa aku temuin… Aku bakalan sangat bersyukur kalau ketemu sama mereka. Siapa aja…”


...❄️💙❄️...


“Gimana kedua tim? Apa sudah ada kemajuan kasusnya?” Tanya Bhiyan yang berdiri mengelilingi meja yang diduduki oleh para mahasiswa Hukum.


“Siap sudah pak!” Seru mereka bersamaan. Ini adalah hari kedua mereka melakukan penelitian. Hari selasa minggu depan mereka akan melaksanakan sidang pertama. Jika dilihat dari kasusnya, pastinya tim Cathleen yang sangat terancam mengerjakan skripsi karena pihak lain memiliki Jaksa yang sudah sangat profesional. Sedangkan tim Xennora hanya bertugas mengidentifikasi secara rinci dan jelas karena kasus ini merupakan misteri besar di tahun ini. Terlalu banyak kejanggalan, terlalu banyak konspirasi dan terlalu banyak ‘bukti’.


“Di mulai dari tim Cathleen, apa yang kalian ketahui setelah mengadakan semua kegiatan untuk kemarin?”


“Kami sudah berbicara dengan kepala tim IT di perusahaan KayChief Group, dan mereka membuktikan jika seluruh komputer mereka tidak pernah digunakan untuk meretas. Dan juga, saudara Julian Kayden belum sepenuhnya menjabat sebagai direktur perusahaan, kewenangannya belum sebanyak itu sampai dapat memerintahkan karyawan-karyawannya untuk meretas.” Jelas Cathleen membuat Bhiyan mengangguk bangga.


“Maka dari itu, para karyawan masih sangat tunduk patuh terhadap perintah bapak Azkari Kayden. Inisial JK di dalam komputer mereka pastinya adalah inisial nama lain yang bisa saja masih ada hubungannya dengan perusahaan FX Movie dan KayChief Group, dan kami punya contohnya.” Lanjut Risa lalu layar proyektor menampilkan biodata seseorang.


“Tersangka pertama, Julia Kanindya. Beliau merupakan aktris dengan banyak pesuruh yang memiliki kontrak dengan FX Movie. Seperti yang sudah kalian ketahui, FX Movie terbukti memperlakukan artis-artisnya dengan sangat buruk. Ada kemungkinan jika saudari Julia Kanindya ingin balas dendam kepada FX Movie dengan cara menghilangkan beberapa script film yang malah ikut menghilangkan banyak dokumen penting, dan di tempat yang sangat dekat dengan perusahaan KayChief Grup, atau bahkan—” Penjelasan Risa terpotong karena Bhiyan tiba-tiba menyela.


“Sebenarnya… Kalian tidak perlu meneliti ini… Ini tugas Jaksa. Tugas kalian… Hanya mencari bukti yang dapat membebaskan saudara Julian Kayden dari segala tuduhan. Semua cerita dan opini ini bisa saja tidak diterima di Pengadilan nanti. Kalian fokus saja mencari bukti nya…” Jelas Bhiyan membuat mereka mengangguk patuh. “Lalu bagaimana dengan tim Yohan di sini? Kemajuan? Eh, Raditya dan Xennora mana?”


“Menemui saksi, pak. Dan ya… Kami pastinya punya kemajuan dong.” Balas Yuna.


“Oh ya? Apa itu?”

__ADS_1


“Kecurigaan kami jika korban meminum racun sudah tiga puluh persen terbukti, pak. Saudari Emily bilang jika Choi Hana membeli obat pereda demam sirup untuk korban, apoteker kan tidak memberikan obat pereda demam sirup untuk pasien dewasa. Padahal waktu saya cek ke TKP, ada banyak wadah tablet kaplet di nakas sebelah kasurnya, bahkan di tempat sampah kami menemukan bungkus yang sudah habis. Itu artinya korban bisa meminum obat tablet. Lagipula… Kami tidak menemukan botol obat yang Emily maksud. Sepertinya botol itu berisi racun yang langsung diambil kembali oleh si pelaku, kan?” Jelas Yuna disertai pertanyaan retoris di akhir kalimatnya.


“Dan menurut laporan otopsi, luka pada tangan kanan korban dibuat beberapa menit setelah korban meninggal di tempat. Saya sudah mempelajari lebih dalam tentang kasus kematian massal yang anda berikan kemarin. Hasilnya, korban memiliki karakteristik yang sama. Keringat yang mengucur, dan mata yang berwarna biru kehijauan…”


__ADS_2