
Vinca, Sofia dan Eireen menatap sosok di depannya kagum bercampur Salting. Sedangkan Julian, Ervin, Leo dan Edwin menatap jengah mereka bertiga. Herina tidak terlihat begitu tertarik pada pria itu, begitupun Vina yang terlihat mengalihkan pandangan nya ke sembarang arah asalkan tidak melihat pria itu.
Dan Nazril, pria yang nyatanya sedang mereka perhatikan pun hanya dapat memberi tatapan canggung.
Saat mereka sedang bersantai di lab Perdata tadi, Vina datang dengan seorang pria disampingnya. Setelah mengetahui siapa pria itu, Leo dan Edwin segera melompat untuk memeluk Nazril tanpa mengatakan apapun dan hanya meneriakkan nama Nazril.
Setelah itu, mereka saling bertanya kabar dan akhirnya suasana berubah saat tim penyelidikan yang lain datang.
"Hai kakak... Siswa pindahan yaa? Hehe..." Tanya Sofia dengan hati yang berdegup membuat orang-orang yang ada disana menatapnya datar. Nazril pun hanya dapat tertawa canggung.
"Eum.... Kayaknya kita seumuran deh..." Balas Nazril membuat Julian dan Eireen hampir tertawa. Sofia tersenyum canggung campur malu lalu berdehem pelan.
Tak lama pintu terbuka menampilkan Xennora dengan dua kantong keresek besar di kedua tangannya.
"Untung gue beli lebih." Ucap Xennora setelah melihat Nazril lalu menaruh keresek tadi di meja.
Herina mendekat lalu membagikan kotak makanan itu satu persatu. "Tumben sisa, biasanya langsung habis." Ucapnya.
Xennora ikut membagikan di keresek yang satunya. "Banyak siswa yang gak ke kantin gara-gara nyiapin try out. Jadi kantin sepi." Jawab Xennora.
Mereka pun makan sambil diselingi diskusi maupun candaan. Duduk melingkar di karpet sambil makan bersama, saling membari cerita dan candaan.
"Jadi, pas gue meriksa data siswa yang pindah, ternyata Devan udah pindah sebelum masuk semester dua. Kayak... Dia ngambil rapor semester satu terus pindah gitu aja." Jelas Leo setelah menelan makanannya.
"Terus kenapa dia ngaku masih jadi murid Asasi 4?" Tanya Vinca. Nazril yang tidak tahu apa-apa hanya diam menyimak mereka.
"For some reason yang sayangnya gue gak tahu." Jawab Leo.
"Oh iya! Kan waktu itu Pak Jaka nelfon wali kelas Asasi 4. Kira kira apa reaksinya pas tahu kalau Devan udah gak sekolah disini lagi?" Tanya Edwin membuat Sofia dan Herina kembali berpikir.
__ADS_1
"Mereka mengalihkan nomor wali kelas ke telepon rumah mereka. Devan bebas." Ucap seseorang di depan pintu membuat nereka berjengit kaget. Bahkan Vina tersedak dan langsung diberi minum oleh Ervin.
"Lo... Delia?" Tanya Julian. Delia yang dipanggil langsung merubah raut wajah nya yang awalnya serius menjadi tampak bersalah dan terus menunduk. Nazril yang tak asing dengan siswa nerd di depannya hanya memandangnya heran. Ada hubungan apa dia dengan semua masalah ini?
"Masuk sini." Ucap Herina yang telah selesai dengan kegiatan makannya. Dengan ragu, Delia masuk lalu menutup pintu dan duduk di dekat Herina. Dilihat dari caranya duduknya pun, ia terlihat tidak nyaman.
Delia menunduk, menimang-nimang keputusannya. Sampai mereka semua selesai makan pun Delia belum membuka sepatah kata pun. Hal itu membuat Julian jengah.
"Lo bukan pelakunya 'kan?" Tanya Julian membuat Delia terkejut.
"Kok--" ucapan Delia dipotong oleh Julian yang sudah tahu arah pertanyaan gadis itu.
"Gue denger lah, masih punya telinga ini." Ujarnya membuat Delia menggigit bibirnya gugup. Sisanya hanya menatap satu sama lain dengan bingung karena belum dapat membaca situasi ini. Tiba-tiba saja Julian berkata jika Delia bukan pelakunya sedangkan jelas-jelas gadis itu mengaku sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Ayo Jelasin. Sesuai peraturan sekolah, lo harus jujur kalau mau masalahnya selesai." Ucap Julian. Cukup hening selama beberapa menit. Delia masih belum yakin dengan orang-orang di depannya.
"I-iya, aku... Disuruh nyerahin diri ke kepala sekolah. Dan dia... Dia bakalan bayarin SPP setahun penuh." Ungkap Delia membuat mereka menatapnya tak percaya.
"Dan lo nerima kesepakatan itu?!" Bentak Herina.
Delia mulai menangis, "iya! Karena itu satu-satunya cara buat nerusin pendidikan aku! Papa udah meninggal, dan mama sakit! Aku harus cari uang buat beliin mama sama adek makanan! Gak ada keputusan yang lebih baik lagi selain nerima kesepakatan dia!! Kalian pikir dunia ini adil?! Hidup itu gampang?!" Bentak Delia yang masih menangis. Napasnya naik turun.
Herina, Vina dan Sofia terkejut mendengar kesulitan yang dialami Delia. Bukankah masalah hidup itu hal yang umum dialami semua orang? Orang lain hanya mendapat tipe yang berbeda saja, bukan berarti hidup mereka lebih baik dari kita, lebih bahagia dari kita. Orang hanya menilai dari apa yang mereka lihat, itu saja.
"Hidup kan bagaikan roda. Roda yang berputar dimana lo bisa aja ada di atas atau bahkan di bawah." Ucap Edwin.
"Tapi kenapa posisi aku selalu dibawah?" Tanya Delia kesal dengan wajah penuh air mata. Edwin tak bisa menjawab pertanyaan Delia.
"Aku udah capek menyimpan semuanya sendiri. Makasih, dan maaf karena aku marah marah disini." Ucapnya lalu berdiri, berniat untuk keluar. Namun saat ia masih memegang kenop pintu, Xennora membuka suaranya.
__ADS_1
"Roda yang berputar punya banyak tempo. Dari yang temponya sehari, dan bahkan sampai seumur hidup. Cerita hidup kayak lo biasanya dengan tempo seumur hidup. Ngerti?" Tanya Xennora. Delia masih terdiam tak merespon perkataan gadis itu.
"Tenang aja, gak semua harus ada jawabannya sekarang." Lanjut Xennora. Delia langsung pergi begitu saja tanpa merespon ucapan Xennora. Ia juga sadar, seharusnya ia lebih bersabar.
Vinca masih memikirkan perkataan Xennora. Sepertinya hidupnya juga memerlukan tempo seumur hidup. Yang artinya, ia akan merasakan apa yang sudah ia perjuangkan ini nanti, saat ia sudah benar-benar menjalani hidupnya. Saat ia sudah benar-benar dewasa.
Xennora mendengus-tertawa melihat kepergian Delia. Ia tidak akan menyebutkan jika masalah hidupnya lebih berat, tidak. Itu terlalu kejam.
"Tadi apa katanya? Mengalihkan nomor?" Tanya Ervin menginterupsi lamunan mereka.
"Iya, tapi... Maksudnya?" Tanya Sofia.
"Kalian pernah nonton home alone 3 gak?" Tanya Xennora.
"Kevin?" Tanya Julian.
Xennora menggeleng, "bukan, tapi Alex." Jawabnya.
"Oh aku tahu! Yang penjahatnya berempat kan? Cewek satu?" Tanya Vina membuat Xennora mengangguk.
"Ada satu adegan dimana penjahat nya 'mencuri' telefon, atau yang kalian sebut mengalihkan nomor tadi." Jelas Xennora lalu ia terdiam sebentar seakan sedang memikirkan sesuatu.
"Tapi itu rumit banget. Sedikit mustahil kalau pelakunya siswa SMA." Lanjut Xennora membuat Herina menatapnya kagum namun sedikit heran.
"Kadang gue aneh sama lo. Setiap informasi dan ucapan dari lo, it sounds like... You're a criminal." Ucap Herina membuat Xennora tersenyum.
"Ya... Gimana ya. Jadi penjahat tuh kayak... Impian gue waktu masih kecil. Tapi bukan penjahat ecek-ecek yang kerjaannya malak atau ngebully doang. Ya, kurang lebih kayak mencuri lukisan Mona Lisa, Nyulik presiden, Ratu, atau bahkan...." Xennora menatap teman-temannya satu persatu yang raut wajahnya nyaris sama, kesatuan dari takut, ngeri, gak percaya dan mikir kalau Xennora hanya bercanda.
"Pembunuh masal?"
__ADS_1