
Saat ini Herina, Edwin, Julian, Leo, Ervin, Eireen, Sofia, dan Vinca sedang duduk di taman yang ada di depan ruang konseling. Tatapan mereka tertuju pada pintu ruangan itu yang masih tertutup rapat. Tak lama, pintu terbuka menampilkan siswi berkacamata tebal dengan rambut yang di kuncir tak terlalu rapi. Julian pikir, dia bahkan lebih pendek dari Xennora yang tingginya pas dengan hidung Julian. Mungkin siswi itu setara dengan bahu nya.
"Loh bukan Devan?!" Tanya Edwin terkejut. Eireen, Sofia dan Vinca menatap sekitarnya asal. Mereka bertiga memang tak memberitahu para seniornya jika pelakunya seorang perempuan.
"Kok cewek?!" Pekik Leo.
"Emang cewek kak. Kata Pak Rafi, dia tiba-tiba datang ke ruang guru tadi pagi terus ngaku kalau dia yang udah ngelempar bola basket ke Sofia." Jelas Eireen.
"Ngaku?" Tanya Herina berniat memperjelas pendengarannya. Eireen, Sofia dan Vinca mengangguk. Mereka melihat siswi yang bisa dibilang nerd itu membelakangi mereka dan sedang berpapasan dengan seorang pria yang memakai kemeja hitam dan jeans hitam dengan map ditangannya. Pria itu tersenyum lalu mengambil satu langkah ke kanan, begitupun siswi tadi. Terlihat pria itu tersenyum canggung lalu mengambil selangkah ke kiri yang sialnya bersamaan dengan siswi di depannya.
"Kita tanya langsung aja gimana?" Tanya Ervin yang mereka angguki bersamaan. Lalu mereka mendekati siswi tadi yang masih berurusan dengan pria di depannya.
Tapi ditengah jalan, ada seorang anggota OSIS yang mendekati Leo untuk menanyakan perihal barang-barang yang disita para anggota OSIS. Leo pun menyuruh mereka untuk pergi duluan. Selain itu, Edwin juga pamit duluan untuk menerima telfon dari pelatih basket nya. Jadi, sekarang tersisa Herina, Vinca, Sofia, Eireen, Ervin dan Julian.
Terlihat, pria itu tersenyum lalu mempersilahkan siswi di depannya untuk pergi lebih dulu. Sang siswi pergi yang tak lama disusul oleh para tim penyelidikan.
"Weh ganteng cuy..." Bisik Vinca yang berjalan bersama Eireen dan Sofia yang cekikikan mendengar ucapan Vinca di barisan paling depan. Pria itu memang sempat tersenyum pada mereka sebelum menyadari sesuatu.
"Eh tunggu, maaf permisi..." Panggil pria tadi. Julian yang berjalan di barisan terakhir membalikkan tubuhnya karena menyadari seseorang menepuk pundaknya.
"Ya?" Tanya Julian.
"Emm... Ruang Tata Usaha dimana ya?" Tanya pria itu.
"Ruang TU? Ada di gedung satu. Disana... Ada ruang guru juga. Nah, itu kelas 9J, di depannya ruang TU." Jelas Julian membuat pria itu mengangguk sambil memperhatikan kelas 9J yang dapat dilihat dari tempat mereka berdiri sekarang.
"Oh.. Ok, thanks ya Julian...." Ucapnya setelah melihat nametag di almamater Julian. Pria bermarga Kayden itu tersenyum lalu pamit untuk menyusul teman-temannya.
Dapat ia tebak jika siswi tadi masih enggan membuka suaranya. Julian pun mendekati teman-temannya yang sedikit menatap sebal pada siswi itu.
"Ayolah... Lo ngomong juga gak akan kita ketawain kok." Ucap Sofia gemas. Tapi siswi didepannya masih menunduk membuat mereka menghela napas sabar.
__ADS_1
"Yaudah, kalau ada yang mau lo omongin, dateng ke lab Perdata di lantai dua." Final Herina lalu pergi diikuti yang lain.
"Bukan aku pelakunya..." Lirih gadis itu setelah mereka meninggalkannya. Sebagai orang yang berjalan di barisan paling belakang, Julian masih bisa mendengar gumaman gadis itu karena ia berada satu langkah di dekatnya.
Julian membalikkan tubuhnya menatap siswi tadi, "apa?" Tanyanya memastikan membuat siswi ber nametag Delia itu terkejut lalu mendongak untuk melihat siapa yang bertanya padanya.
"Eh, enggak. Gapapa." Ucapnya lalu kembali menunduk.
Julian menatapnya lamat, lalu berusaha acuh dan kembali mengikuti Herina dan yang lain. Jelas gadis bernama Delia itu menyembunyikan sesuatu. Jika Julian bertanya 'apa?' kan harusnya menjawab 'apanya?'. Sedangkan dia terlihat terkejut dan malah menjawab 'gapapa' seakan ia memang telah menyebutkan sesuatu.
Bahkan Julian tidak merasa marah saat mengetahui gadis itu pelakunya. Ya, perasaan seperti memang bukan dia orang yang Julian cari. Julian bahkan lebih merasa marah pada Devan yang datang ke sekolah dengan alasan laptop nya tertinggal.
Feelings will not be wrong. Or even lie.
But feelings are also difficult to understand.
...❄❄❄💙❄❄❄...
Tak sengaja, Xennora menabrak seorang laki-laki yang sedikit lebih tinggi darinya saat mulai memasuki kawasan kantin. Entah apa alasannya, padahal Xennora jelas-jelas tidak sedang melamun. Beruntung saja mereka tak sampai terjatuh.
"Eh, sorry." Ucap Xennora yang dengan segera mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah pria yang memakai kemeja hitam tersebut. Xennora sendiri sedikit aneh karena biasanya orang jika ada yang menabrak pasti marah marah tak jelas. Tapi ini? Mengucapkan sepatah katapun tidak. Bahkan Vina sudah was-was saja jika dua orang di depannya akan bertengkar.
"Rara?" Tanya lelaki itu memastikan. Xennora yang dipanggil lebih terkejut lagi. Sampai-sampai ia tak sadar jika ucapannya setengah berteriak.
"Eh? Nana?!" Teriak Xennora refleks. Pria dengan kemeja hitam itu segera menutup mulut Xennora dengan tangannya.
"Sst! Jangan manggil gue sama sebutan itu di sini Xennora Anesta." Ucapnya meringis sambil memperhatikan sekitar yang sepertinya sedikit acuh dengan interaksi mereka.
"Hahahaha maaf, tadi gue kaget, jadi refleks. Maaf ya, Nazril?" Ujar Xennora sedikit tak enak dengan pria di depannya.
"Gapapa." Balas Nazril lalu melirik gadis di samping Xennora yang terlihat kebingungan.
__ADS_1
"Hai, gue Nazril Arkatama. Lo?" Tanya Nazril pada Vina yang masih kebingungan. Jika dilihat dari interaksi mereka, sepertinya Nazril dan Xennora seumuran.
"Aku... Revanea Emilio kak. Panggil aja Vina hehe..." Ucap Vina sedikit gugup. Nazril tersenyum lalu mengangguk.
"Eh iya, ruang kepala sekolah dimana?" Tanya Nazril.
"Di sana. Lo... Pindah sekolah?" Tanya Xennora ketika melihat map di tangan Nazril.
"Iya hehe..." Jawab Nazril.
"Kenapa?" Tanya Xennora tak habis pikir dengan keputusan Nazril.
"Mau lompat kelas gue. Bosen SMA mulu." Curhat Nazril.
"Gak bersyukur banget lo." Cibir Xennora. Padahal dia sendiri juga lompat kelas.
"Hehe, abisnya di sana gak bisa lompat kelas. Yaudah gue over ke SAN aja." Jelas Nazril membuat Xennora mengangguk paham.
"Harus banget ya sore kesini nya?" Sindir Xennora.
"Dih, orang gue disuruh nya jam segini." Balas Nazril tak terima membuat Xennora terkekeh karena tadi ia hanya bercanda.
"Anter dong ke ruang kepala sekolah." Pinta Nazril.
"Yaelah deket itu... Kelihatan dari sini juga." Ucap Xennora sebal. Namun Nazril malah menatap harap padanya membuat Xennora mendelik. Nazril mengucapkan kata 'please' tanpa suara.
"Yaudah, sama Vina aja gimana?" Usul Xennora.
"Eh?!" Pekik Vina dan Nazril bersamaan. Xennora tersenyum lalu mendorong Nazril dan Vina pelan agar mereka pergi.
"Nanti gue ambilin makanan kok Vin, tenang aja!" Teriak Xennora saat mereka sudah agak menjauh.
__ADS_1