
“Kapan sidang pertamanya?” Tanya Bhiyan.
“Minggu depan, pak.” Jawab Yohan.
“Kalian masih punya banyak waktu. Sebaiknya siapin mateng-mateng dari sekarang.” Usul Bhiyan.
“Di sini ada materi kasus tentang kakaknya korban gak?” Tanya Xennora tiba-tiba.
“Ada… Kasus nya gak dijadiin bahan praktek karena pelaku nya bahkan gak ditemukan sampai sekarang.” Jelas Bhiyan seraya membuka salah satu loker yang paling ujung. Ia membawa tumpukkan kertas di dalamnya menuju meja tempat Xennora duduk.
“Wow… Padahal ini termasuk kasus kontroversional…?” Gumam Yuna.
“Iya. Saya mau tanya. Di umur berapa kalian tau kalau di Indonesia pernah terjadi kasus kematian massal?”
“Emang ada ya kasus yang kayak gitu?”
“Di laman pencarian gak ada tuh?”
“Hoax kali pak, kalau kematian massal pasti beritanya mencuat ke mana-mana…”
“Ada… Kasus kematian massal 2007 di Bandung…” Gumam Julian membuat orang-orang di sekitanya terdiam.
“Nah… Seratus buat kamu.” Balas Bhiyan bangga.
“Hah? Emang iya?”
“Kamu tau gak Sen?” Tanya Bhiyan kepada Xennora yang masih duduk di sampingnya. Xennora memegang tangan Bhiyan karena kepalanya terasa pusing tiba-tiba.
“Bentar A… Kepalaku pusing… Apa tadi? Kematian massal tahun 2007?” Tanya Xennora yang membuat Julian menatapnya tidak percaya. Jangan bilang Xennora melupakan ini juga? Xennora selalu bertekad untuk membalaskan kematian saudari kembarnya, jangan sampai gadis itu malah melupakan semuanya…
“Iya. Kamu gak tau ya?”
“Kayak pernah denger…” Gumam Xennora membuat Bhiyan terkekeh.
“Julian, apa yang kamu tau?” Tanya Bhiyan membuat Julian menegakkan punggungnya.
“Banyak pak… Ceritanya bakalan… Lumayan panjang.”
“Oke, kamu bisa ceritain apa yang kamu tau itu. Karena informasi sekecil apapun bisa berguna buat tim mereka.” Ujar Bhiyan seraya menunjuk Xennora, Raditya, Yuna dan Yohan.
“Kasus itu terjadi pada 27 Februari 2007, yang memakan korban sebanyak 27 orang. Mereka semua dibunuh dengan cara diracun. Racunnya itu Antrovitoksin, tidak berwarna, agak kental, dan memiliki bau amis. Sekilas terlihat seperti minyak ikan yang di ekstrak. Ciri-ciri korban yang diracuni adalah keringat yang berlebih, dan mata yang berubah menjadi biru kehijauan. Sampai saat ini, ilmuwan belum mengetahui Bagaimana cara menciptakan, atau menyembuhkan dampak racun itu. Racun yang entah siapa penciptanya, entah apa saja bahan yang dia pakai sampai membuat ilmuwan pun sulit mengidentifikasi kandungan dari racun tersebut.” Jelas Julian.
“Kok serem? Kejadiannya tanggal 27 Februari 2007 dengan korban sebanyak 27 orang? Jadi 27 curse beneran ada…?” Gumam Risa tidak percaya.
“Ya, itu kenyataannya. Korban itu termasuk paman sama bibi ku… Dan saudari kembar seseorang. Cewek yang sayangnya gak inget sama kematian saudari kembarnya itu.” Ujar Julian dengan tatapan yang mengarah pada Xennora yang tengah membaca ringkasan kasus yang dibawakan Bhiyan tadi.
Bhiyan sadar, ‘cewek’ yang dimaksud Julian itu adalah gadis di sampingnya. Namun dia masih belum yakin Jika maksud Julian adalah seperti itu. Namun jika benar, Bhiyan tidak akan tega memberitahu Xennora jika gadis itu memiliki saudari kembar… Yang sudah meninggal…
__ADS_1
...❄️💙❄️...
“Kak… Boleh masuk?” Tanya Sofia di ambang pintu. Julian yang tengah sibuk menyusun skripsi nya hanya menoleh sebentar lalu menjawab.
“Masuk aja.”
Sofia pun masuk lalu duduk di salah satu sisi kasur Julian, memperhatikan pria itu yang tengah sibuk berkutat di meja belajarnya. Sofia selalu mengunjungi apartemen Julian jika ia pulang sore, karena kakaknya itu akan dengan senang hati mengantarnya pulang dengan membelikan beberapa kudapan manis seperti martabak atau cake yang juga dibagikan dengan orang tua mereka. Eireen belum pulang kuliah, jadi Sofia juga hitung-hitung menunggu gadis itu di apartemen ini.
“Ciee yang bentar lagi lulus…” Celetuk Sofia membuat Julian terkekeh.
“Mana pacar kamu? Katanya mau dikenalin.” Balas Julian.
“Weekend ini deh kak, dia orangnya pemalu.”
“Hahaha anak mana dia?”
“Anak Fakultas kedokteran kak, seumuran sama kakak hehe…”
“Siapa namanya?”
“Kepo.”
“Dih…”
“Hehe… Namanya kak Yohan.” Jawaban Sofia membuat Julian terdiam karena ia seperti mengingat sesuatu. Melihat itu, Sofia segera mengalihkan topik karena ia yakin Julian pernah bertemu dengan Yohan. “Kak… Kakak beneran nyerah sama Xennora? Nyerah gitu aja?”
Berhasil. Kini Julian tengah melamun. Astaga, kini Sofia merasa bersalah terhadap kakaknya itu.
“Hal yang seharusnya dilakukan? Lupain Xennora?”
“Lebih tepatnya beradaptasi tanpa kehadiran dia sepenuhnya.”
“Lebih gampang disebut ngelupain Xennora.” Ledek gadis itu membuat Julian menghela napas lelah. Karena memang itulah intinya. Sofia benar. Bahkan Edwin yang meminta Julian untuk melakukannya.
“Ed? Lo sibuk?”
“Enggak tuh. Eh gue punya kabar baik Ju, beberapa hari lagi gue bakalan pindah ke Bandung. Gue ditugaskan buat nyari tau kasus nya… Kirania…”
Julian menghela napas saat Edwin menyebut nama itu. Julian telah berusaha semaksimal mungkin untuk membujuk Rani memberitahunya semua hal tentang Deandra. Namun ternyata beberapa bulan kemudian Julian mendapat kabar kalau gadis itu bunuh diri. Julian khawatir… Kalau semua pertanyaannya membuat gadis itu merasa tidak nyaman dan terintimidasi. Sehingga memilih untuk mengakhiri nyawanya sendiri.
“Selamat ya. Nanti kita bisa reunian. Herina juga kerja di sini kan?"
“Iya, pasti. Kalau kasusnya udah selesai, gue janji bakalan traktir kalian.”
“Halah sok sokan mau traktir. Waktu lo janji traktir sebagai perayaan diterima di kepolisian pun belum terealisasikan ya.”
“Sstt, iya iya ntar sekalian dah. Gak usah mengungkit yang itu sahabat, gue lagi sibuk sibuknya.”
__ADS_1
“Iya iya…”
“Lo sebenernya nelepon gue buat apaan dah? Gue gak terima alasan kangen, jauh-jauh lo. Gue udah punya Herina.”
“Pede banget lo. Ada hal serius yang mau gue omongin…”
“Ya udah apa?"
“Jaksa yang meriksa kasus ini… Lo tau?”
“Iya iya tau. Tapi bukan Jaksa, Ju. Katanya mereka mahasiswa Fakultas Hukum dari UN.”
“Iya, emang. Gue tau salah satu dari mereka…”
“Ya elah, nanti juga kenalan kali. Sok spesial banget lo.”
“Gue lagi serius please…”
“Oh… Oke-oke. Emang siapa Julian Matteo Kayden?”
“Adik lo, Xennora.”
Setelah itu Julian tidak mendapat balasan lagi selama beberapa menit. Entah Edwin sedang pingsan atau apa, Julian tidak tahu. Mungkin pria itu tengah menahan tangis haru nya. Matanya berkaca-kaca dan napasnya tidak teratur. Dia tidak bisa menyembunyikan senyum bahagia nya walaupun sepertinya ia masih terlihat sangat terkejut.
“Lo… Serius Ju?”
“Gue belum pernah seserius ini."
“Dia… Dia sehat kan Ju? Dia keliatan bahagia kah? Please bilang ke gue kalau selama ini dia hidup tanpa rasa bersalah ataupun kesulitan lainnya…”
“Dia… Baik-baik aja. Tapi kayaknya… Dia lupa sama kita.”
“Maksud lo?”
“Dia hilang ingatan Ed…”
Hening lagi. Edwin benar-benar tidak bisa menahan tangisannya sekarang. Ia masih belum dapat membayangkan jika Melody yang selalu bersamanya, meminta maaf dengan nada datar, adik bungsu yang kadang membuat Edwin kesal saat dia mengatakan sibuk padahal kerjaannya bermain dengan Julio, sekaligus membuatnya tertawa saat gadis itu meminta tolong dengan malu-malu, adik bungsu nya yang selalu melengkapi hari-hari yang Edwin lewati, yang membuat mereka terkenal dengan julukan Trio Fachrunaldo itu akan melupakannya…
Yang terlihat sangat khawatir saat Edwin atau Leo jatuh sakit, yang paling peduli jika Edwin atau Leo terluka. Dia melupakan semuanya?
“Bagus… Bagus deh kalau gitu… Dia gak akan ngerasa bersalah lagi sama kematian saudari kembarnya. Gapapa, Ju… Xennora udah hidup tenang selama ini. Gue bahagia dia bisa ngelupain hal terburuk di hidupnya. Termasuk semua perlakuan Papa. Dan ya… itu masih gak menutup kemungkinan kalau gue juga ngerasa bersalah sama lo…” Balas Edwin yang jauh dari dugaan Julian.
Julian terkekeh pahit. Baiklah, Edwin benar. Xennora terlihat bahagia dengan melupakan semuanya. Harusnya Julian senang akan hal itu.
“Ju…”
“Hm?”
__ADS_1
“Kalau keadaan Xennora ini bikin lo kecewa… Kalau keadaan sekarang ini membebani lo… Lo boleh nyerah kok. Gak ada cowok sekuat lo. Lo cowok paling bertanggung jawab yang pernah gue kenal. Gue senang adik perempuan gue satu-satunya disukai sama cowok kayak lo. Tapi lo harus inget, Ju… Lo diperbolehkan kok buat nyerah…”
“Iya… Gue bakalan coba…”