The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
It Will Start


__ADS_3

"Jadi, apa yang akan kakak lakukan?" Tanya Rey saat ia dan kakaknya tengah berkumpul siang ini.


"Ya... Berhubung mereka udah tahu, mau gimana lagi? Kita rahasiakan aja jati diri di depan orang-orang, kecuali mereka."


"Lagian kok bisa bisanya Xennora ada disana. Padahal gue mau langsung bunuh aja mereka bertiga." Lanjut kakaknya.


"Whooa santai... Ngomong-ngomong, Rani gimana? Udah lama dia gak ngumpul bareng."


"Gak tahu dia kemana. Sebenarnya tuh anak berpihak sama kita gak sih?" Tanya nya kesal.


"Deandra Callena... Gimana? Informasi dari gue itu, valid kan?" Tanya Rey mengalihkan pembicaraan.


"Gak sopan lo, Reydevan." Balas Deandra kesal. "Iya sih. Gue masih gak nyangka sebenernya, tapi ini juga bikin rencana kita lebih mudah."


"Oke, jadi gimana rencana buat besok?" Tanya Rey.


"Semuanya bergantung sama lo dan Rani sih. Nanti kasih tahu dia. Jadi, ada tiga kali jeda drama. Durasi nya sepuluh menit, dan empat kali penayangan, satu stage durasi nya dua puluh lima menitan. Totalnya, dua jam sepuluh menit. Di jeda drama pertama, lo harus bawa yang gak terlalu penting dulu. Biar sekolah gak heboh terus penampilan perdana gue gak kacau. Bawa ke Aula belakang, gue udah atur alat-alatnya. Nah, di jeda kedua... Lo bawa si pemeran utama itu. Dan di jeda terakhir... Lo baru boleh alihin perhatian dia dan buat dia keluar dari gedung teater. Selanjutnya, bawa dia ke aula belakang juga. Terus bawa anak yang satu lagi. Berani-berani nya mereka ngambil Antrovitoxin gue. Dan di puncak acara.... You know what I mean." Ucap Deandra tersenyum sinis yang dibalas anggukan dari Rey.


...❄❄❄💙❄❄❄...


Xennora berjalan dengan langkah cepat menyusuri koridor lantai tiga yang biasanya sepi setelah bel pulang sekolah. Tak lama, ia menemukan Cathleen dan kedua rekannya sedang mengelap jendela kelas 10 Pidana 4 dengan kesal. Xennora mendekati mereka lalu membalikkan tubuh Cathleen dengan kasar sehingga mereka kini berhadapan.


Cathleen terlihat terkejut lalu mendengus tak percaya. "Maksudnya apa?" Kaina dan Raina juga tak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya memandang Xennora dan Cathleen cemas.


"Lo yang maksudnya apa! Udah muak sekolah ini punya pembully sekaligus pembuat teror. Kenapa lo juga ikutan ngebully Deandra?" Ujar Xennora sambil mendorong bahu Cathleen kasar.


"Lo gak ada sopan-sopannya ya sama kakak kelas?"


"Kenapa? Gue masuk akselerasi sekaligus lompat kelas, jadi kita bisa aja sederajat atau bahkan gue bisa aja jadi kakak kelas lo. Itu kan yang lo maksud sederajat sama Deandra? Lo gak mandang umur, maka dari itu juga gue gak akan mandang umur. Lo mandangnya derajat, dan gue juga bisa gitu."


Cathleen kehabisan kata-kata membuat Xennora tersenyum miring. "Heh, ngaca! Lo juga kemarin bentak-bentak Deandra terus milih buat bantuin gue." Cathleen mengalihkan pembicaraan.


"Gue kemarin panik ngeliat darah dan itu refleks. Maka dari itu, gue kesini untuk melakukan apa yang seharusnya kemarin gue lakukan." Jawab Xennora santai membuat Cathleen makin terpojok.


"Y-yaudah, lo mau ngapain?" Tanya Cathleen berusaha santai.


Xennora tersenyum miring, "gue cuma mau bilang... Hati-hati." Setelah itu, Xennora pergi meninggalkan mereka bertiga yang tak mengerti maksud perkataan Xennora.


...❄❄❄💙❄❄❄...


Sore ini, para anggota teater sedang melakukan gladi bersih di panggung pementasan indoor. Meskipun matahari sudah agak condong ke barat, namun para Poison Hunter pun sepertinya enggan untuk pulang. Mereka memutuskan untuk menunggu Eireen selesai dengan gladi bersih nya.


Saat yang lain sibuk dengan penataan panggung, Rani menghampiri Deandra yang tengah membaca dialog. "Kak..." Panggil nya namun Deandra hanya bergumam malas.


"Kakak gak usah nargetin Xennora deh." Bujuk Rani membuat Deandra menurunkan kertas dialog nya.


"Maksud lo?"


"Xennora tadi udah ngelabrak kak Cathleen. Terus dia sempat bilang refleks kerena ngebentak kakak."


"Really? Kata siapa?"

__ADS_1


"Vina, kak."


"Oh... Temen lo itu... Ya udah sih, gue gak terlalu yakin." Deandra menatap Rani yang tampak berharap. "Lihat nanti aja."


Rani tersenyum kecil lalu pergi. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, Deandra kembali berucap membuat langkahnya terhenti.


"Dia target utama gue. Mana mungkin gue lepasin gitu aja."


...❄❄❄💙❄❄❄...


Edwin, Leo, Xennora, Julian, Sofia, Herina, Vinca, Vina dan Ervin tengah duduk salah satu kursi teater sambil menunggu Eireen selesai dengan latihannya. Nazril ada pertemuan dengan teman-temannya di Doctor School sehingga dia pulang duluan.


"Kira-kira... Ada adegan romance nya gak ya?" Sofia bergumam namun Julian dan Vinca dapat mendengarnya.


"Kalau ada juga gak akan sampai kiss," Komentar Julian membuat Sofia terkejut beberapa detik.


"Yakali ada kiss scene. Nanti diamuk kepala sekolah sama guru kesiswaan," Balas Sofia.


"Kayaknya gak ada. Liat aja, gak ada yang lagi ngafalin dialog berdua." Komentar Vinca.


"Dih, gak ngaruh. Siapa tahu di Backstage banyak." Balas Sofia.


Tak lama, Eireen mendekati mereka disusul Deandra di belakangnya. Tubuh mereka langsung kaku dan tegang. Hal ini tentu tak akan terjadi jika mereka tak mencurigai Deandra sebagai pelakunya. Namun kini, mereka mulai mempercayai itu.


Deandra tampak tersenyum lalu mendekati Xennora. "Sen, maaf ya yang kemarin. Kayaknya gue tertekan jadi meluapkan emosi gue sama lo."


Xennora masih terlihat santai berbanding terbalik dengan teman-temannya yang terlihat sangat tegang. "Gak apa-apa. Gue juga refleks. Maaf ya, gue gak ngerti kalau lo lagi kacau."


"Ya?" Deandra dan bahkan teman-teman Xennora tak mengerti dengan pertanyaan gadis itu.


"Gimana rasanya dibully kak?" Lanjut Xennora.


"Ah... Rasanya... Gue kayak orang yang lemah, gak bisa apa-apa dan cuma pasrah. It felt like... I'm not proper to be here." Jawab Deandra sedikit ragu.


Xennora mengangguk, tatapannya masih lurus ke panggung. "Rasanya campur aduk ya... Gue bahkan bingung kenapa mereka terus ngebully padahal belum pernah ngerasain. Atau.... Baru ngerasain?"


Julian dan Herina paham betul jika Xennora tengah menyinggung Deandra. Namun mereka tak bisa berbuat lebih, biarkan Xennora bermain dengan dialog dan sandiwara nya.


Terlepas dari itu semua, Deandra tertawa canggung mendengar ucaoan Xennora, "hahaha... Mungkin itu suatu kebahagiaan dan pencapaian tersendiri bagi mereka." as Xennora's expect, jawaban itu keluar dari hatinya.


"Iya, mereka bahagia sedangkan korbannya tertekan. That isn't fair. Orang-orang menciptakan kebahagiaan dengan mudah tapi disisi lain, ada orang yang harus dikorbankan demi kebahagiaan itu. Ya, mau gimana lagi. Inilah hidup, dengan prinsip makan atau dimakan. Memperlakukan atau diperlakukan, memanfaatkan... Atau dimanfaatkan."


Mereka terdiam, meresapi perkataan berbobot dari seorang Xennora Anesta Fachrunaldo. Deandra menunduk, diam-diam tersenyum pilu.


'Lo benar Xennora, gue juga menerapkan prinsip itu... Membalas atau dibalas, membohongi.... Atau dibohongi.'


"You're actually right," Balas Deandra.


"Hidup kan pilihan hm? Sayangnya... Gue gak terlalu suka sama penjahat."


Bloody hell, Xennora.

__ADS_1


Napas Vina, Eireen dan Sofia semakin tak teratur. Mereka semua gugup, bahkan Leo dan Edwin merutuki Xennora yang terlalu blakblakan.


"Ini Xennora beneran tahu kalau Deandra dicurigai gak sih? Malah mancing-mancing gitu." Bisik Ervin pada Julian yang ada disampingnya.


"Entahlah..." Jawab Julian tak yakin.


"Haha... Gak ada yang suka penjahat kan?"


Xennora mengangguk, "tapi itu yang bikin gue heran, mereka tahu kalau mereka dibenci tapi mereka gak pernah menyesali atau menghentikan perbuatannya. Kenapa mereka gak merubah dirinya menjadi lebih baik supaya orang-orang menyukainya?"


Deandra terdiam, entahlah tapi rasanya perkataan Xennora cocok untuk dirinya. "Entahlah, gak semua orang ingin berubah demi disukai orang lain."


"Although they're lonely?"


"No, loneliness that made them bad. Not badness that made them lonely."


"Alright, i get it."


"Sen..." Interupsi Edwin dengan gerakan tubuhnya yang menunjuk pintu keluar. Xennora mengerti lalu kembali menatap Deandra.


"Seorang teman harus dicari. Mereka gak mencari. If you need a friend, then just call me, I'll be there. Gue pergi dulu." Ucap Xennora kemudian menyusul teman-temannya meninggalkan Deandra yang masih setia melamun.


...❄❄❄💙❄❄❄...


"Rani dari tadi telfon aku." Ucap Vina sambil mengotak-atik handphone nya.


"Halo, Ran. Ada apa?"


"Vin... Aku punya berita baik... Atau mungkin buruk."


"Berita...?"


"Kamu pasti udah tahu kalau pelaku terror itu kak Deandra... Murid kelas 12 Hukum Publik, kakak kandung aku..."


"Hah...? Lo... Bercanda?"


Tentu saja Vina tak akan percaya begitu saja mengingat perangai mereka saja jauh berbeda. Tak lama, ia mendengar tangisan Rani yang sepertinya coba gadis itu tahan. Dan satu lagi, Rani jarang sekali menggunakan kata ganti aku-kamu. Ini sedikit aneh.


"Maaf, Vin... Aku baru berani ngomong sekarang, saat keadaan udah bener-bener kacau. Aku... Minta maaf, tapi kak Deandra gak bisa aku nasihati. Dia... Punya rencana. Besok waktunya dia menjalankan rencana itu."


"... Dan aku akan bantu kalian."


"Haha... Ran lo serius? Lo..." Napas Vina tersengal, mau bagaimanapun Rani terdengar serius dengan ucapannya.


"Maaf Vina... nanti aku hubungi kamu kalau udah tahu rencananya apa."


Setelah selesai dengan kalimatnya, Rani memutuskan panggilan sepihak, mengabaikan Vina dengan keterkejutan nya. Xennora yang baru datang pun hanya diam, berusaha mencaritahu lewat ekspresi.


"Kenapa Vin...? "Tanya Ervin penasaran.


"Kak... Deandra... Akan mulai rencananya besok."

__ADS_1


__ADS_2