The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
Deannisa


__ADS_3

"Jadi gimana?"


"Oh gitu? Syukur deh."


"Gak tau. Paling tiga sampai empat hari lagi."


"Iya, thanks bro."


"Haha, dia masih keliatan santai?"


"Serius?"


"Wahh...Kadang gue heran deh sama adik lo, Ed."


"Ya... Dia juga gak peka. Lo tau? Setiap ngobrolin tentang perasaan sama dia pastinya harus terus terang. Kalo gak gitu, gak akan peka dia nya."


"Do'a in aja ya..."


'Emang lo udah terus terang sama dia?'


"Udah... Malam itu. Sebelum gue pingsan."


'Xennora sampai nangis terus bilang 'jangan pergi kak...' mana pilu banget lagi kedengerannya. Percaya gak lo?'


"Wah... Serius?"


'Iya. Jangan ngefly dulu deh lo.'


"Hahaha iya deh iya."


'Dah ya gue tutup.'


"Hm..."


Julian menyimpan kembali handphone nya di nakas. Teman-teman nya yang lain telah pulang kemarin, dan kini hanya tersisa Kamila di ruangannya karena Azka harus pergi ke kantor. Sampai pagi ini Julian juga belum bertemu dengan Xennora.


"Ayo kak, keramas dulu. Kuat gak berdiri? Mau pake kursi roda?" Tanya Kamila.


Julian menggelengkan kepalanya lalu bersusah payah menginjakkan kakinya di lantai. Kamila pun segera membantu anak sulungnya itu. "Julian masih kuat kok Ma."


Biar bagaimanapun, Julian masih membutuhkan kursi roda untuk mencuci rambutnya di wastafel. Kamila yang membantunya. "Oh iya, kabar Xennora gimana kak?"


"Xennora gak apa-apa kok Ma, Polisi udah tau kalau itu cuma salah paham."


"Ohh... Alhamdulillah kalau begitu..."


"Kalau diliat-liat, Nak Xennora berani juga ya? Mama sempet liat sekilas, wajahnya itu gak kelihatan panik sama sekali. Kalau Mama mungkin udah nangis sambil mohon-mohon supaya gak dibawa ke penjara." Lanjut Kamila membuat Julian terkekeh.


"Aku juga gak ngerti sama jalan pikirannya Ma." Balas Julian.


Sekitar sepuluh menit akhirnya Julian selesai dengan kegiatan mencuci rambutnya. Ia berjalan tertatih-tatih saat keluar dari toilet, namun kemudian pergerakannya terhenti kala melihat seorang gadis dengan baret coklat, serta setelan rok over all dan kemeja berwarna senada dengan baret nya, sedang menyimpan nampan berisi makan siang Julian di nakas.


"Eh? Nak Xennora? Udah lama ya?" Sapa Kamila. Sedangkan Julian bersama tiang infusannya itu kembali melangkah mendekati ranjang lalu duduk di sana.


"Eh, belum kok Tante. Xennora baru aja sampe, terus barusan ada suster ngasih sarapan kak Julian." Gadis itu sepertinya terkejut. Jelas dari bagaimana caranya membalikkan tubuhnya dengan sedikit berjengit. Tapi dia terlihat berkali-kali lebih cantik saat menggunakan baret itu.


"Gimana kemarin? Kamu gak apa-apa kan?" Tanya Kamila seraya menyuruh Xennora untuk duduk di sampingnya. Xennora pun menurut.


"Enggak kok Tante, kesalah-pahamannya udah dilurusin."


"Syukur deh kalau gitu-- eh sebentar, Tante jawab telepon dulu ya! Julian, Mama jawab telepon dulu oke?!"


Xennora dan Julian lantas mengangguk seiring kepergian Kamila.


"Kak, maaf ya." Suara Xennora memecah keheningan selama beberapa menit itu.


Julian menoleh, mendapati Xennora yang tengah duduk di sofa yang jaraknya cukup jauh dengan brankar Julian. "Dari kemarin minta maaf mulu. Emang salah lo apa?" Tanya Julian seraya menyuruh Xennora untuk duduk di kursi yang lebih dekat dengannya.


Xennora menurut. Merasa sedikit canggung, Xennora berlari kecil lalu duduk di kursi yang terdapat di samping brankar. "Ya... Maaf aja. Gak tau pokoknya gue ngerasa gak tenang kalau belum lo maafin."

__ADS_1


"Gue maafin kok."


"Serius?"


"Iya."


"Ikhlas?"


"Iya Xennora..."


"Lo... Keliatan kepaksa."


"Enggak dih kata siapa?"


"Tapi gue masih ngerasa bersalah."


Julian menghela napas lelah. "Yaudah, kalau lo merasa bersalah, ambilin sarapan dong."


Xennora segera bangkit lalu mengambil nampan yang ada di nakas lalu memberikannya pada Julian. Namun bukannya dimakan, Julian malah menatap bubur polos itu malas.


"Kok gak dimakan?"


"Liat deh buburnya. Warna putihnya membutakan mata..."


"Ya.... Terus?"


"Ya kasih topping apa kek misalnya telur rebus."


"Nanti yang ada warnanya makin membutakan," Cibir Xennora.


"Yaudah bebas, terserah lo."


Xennora pun membawa nampan itu pergi ke kantin Rumah Sakit dan membawakan apa yang Julian mau. Hitung-hitung menebus rasa bersalah.


"Dih? Dikit banget sayur nya. Gak akan kenyang." Komentar Julian saat Xennora memberikan bubur yang sudah diberi sayur.


Dengan sabar, Xennora pergi lagi ke kantin. Membawakan apa yang Julian mau.


Untuk ketiga kalinya, Xennora pergi membawa nampan itu menuju kantin Rumah Sakit yang ada di lantai satu. Iya, lantai satu. Ngajak ribut emang.


"Nah ini baru pas. Eh tunggu tunggu, kasih kecap sama bawang goreng juga ya."


"Bukannya dari tadi." Keluh Xennora sambil membawa nampan.


"Ya gue kira udah lo ka--"


Brakk


Xennora membanting pintu membuat Julian berjengit. Namun setelahnya ia terkekeh, meminta maaf pada Xennora di dalam hati.


"Dih? Ini kecapnya kebanyak--"


"Mau lo apa sih?" tanya Xennora kesal seraya bersiap melemparkan mangkuk berisi bubur itu tepat di wajah Julian. Julian yang terkejut segera beranjak sedikit menjauh dari Xennora.


"Udah, lo makan aja. Ribet amat." Final Xennora lalu duduk lagi di sofa yang jauh dari brankar Julian dan memainkan handphone nya.


Julian memandang Xennora was was, lalu mulai memakan buburnya. Mamanya kemana sih? Ngangkat telepon kok lama banget.


Xennora membuka aplikasi chatting, ada banyak pesan dari akun media sosial sekolah. Tentang masalah malam itu tentunya. Banyak juga pesan dari grup obrolan kelas, bahkan angkatan. Dari ratusan pesan itu, ada satu pesan yang menarik perhatian Xennora. Beberapa panggilan tak terjawab pun Xennora dapat dari nomor yang sama.


+62xxxxxxxxxxx


...Yesterday...


|Xennora, kamu gak apa apa kan?


01.25


|Xennora...

__ADS_1


01.32


|Tolong bilang kamu gak apa-apa...


01.50


|Sen...


02.00


|Bunda denger gak ada korban, syukur deh...


05.37


|Kamu gak terluka kan?


07.08


|Semoga kamu gak apa-apa


07.10


Xennora menghela napas, kemudian mengetikkan balasan.


...Today...


^^^Aku gapapa|^^^


^^^08.22^^^


Xennora melihat pesan-pesan dari nomor itu. Hampir setiap hari ia menerima pesan yang isinya bermacam-macam, yang hanya Xennora balas 'iya', 'enggak', 'baik', 'hm', atau bahkan tak Xennora balas sama sekali. Bahkan Xennora tak menyimpan nomornya.


Meninggalkan roomchat itu, Xennora teringat dengan foto yang dikirimkan oleh pemilik tempat fotocopy yang Xennora minta untuk memperbaiki foto Deandra.


Saat membuka foto itu, Xennora terbelalak. Ia menutup mulutnya tidak percaya.


"Kenapa?" Tanya Julian ketika melihat wajah terkejut Xennora.


"Ah? Eh... Ini..." Xennora ragu untuk memberitahu Julian. Ia berpikir sejenak, lalu kemudian bangkit dan duduk di samping Julian seraya memperlihatkan foto di handphone nya.


Awalnya Julian terlihat biasa saja sebelum ia mengingat sesuatu. "Oh? Anaknya Professor itu? Lo dapet foto ini dari mana?"


"Ini... Foto punya Deandra Callena. Gue jumpa di depan rumah, kayaknya jatuh. Fotonya udah gak jelas lagi sih makanya gue minta perbaiki. Tapi ternyata hasilnya gini." Ucap Xennora lemas.


"Jadi Deandra emang punya motif ya? Ngelakuin semua ini? Balas dendam?" Gumam Julian. "Tapi lo udah tau gak motif Deandra jadi pembunuh masal?"


"Belum ada bukti lain sih kalau Deandra Callena pelaku kematian massal... Tapi bentar deh kak." Xennora mengeluarkan sesuatu dari tas selempangnya. Foto Deannisa yang selalu ia bawa.


"Menurut lo, mereka mirip gak sih?" Tanya Xennora.


"Dari segi ekspresi emang beda jauh sih, tapi tatapan mereka mirip. Ah enggak, ini sih mirip banget. Emang itu siapa?"


"Deannisa Helcia Ilianna. Namanya gak sebagus hatinya. Cahaya yang berkilau. Dia yang bikin satu-satunya orang yang gue sayang, pergi. Buat selama-lamanya."


"Orang yang lo... Sayang?"


"Zenara. Saudari kembar gue."


"Eh, maaf. Kembar?!"


"Iya. Lo sendiri tau kan kalau mama kandung gue itu Bunda Carissa? Dan gue nyatanya bukan anak tunggal."


"Aaah.... Gue ngerti. Jadi, si Deannisa ini 'ngebunuh' saudari kembar lo?"


Xennora mengangguk, wajahnya terlihat sedih.


"Gimana? Maksudnya, di usia yang terbilang muda ini... Dia jadi kriminal?"


"Antrovitoxin, kak. Zenara... Salah satu korban racun itu."

__ADS_1


"Hah? Terus Deannisa yang ngebunuhnya. Yang artinya... dia pelaku kematian massal itu?"


__ADS_2