The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
Lucky


__ADS_3

“Kalau Emily?”


“Dia berbicara dengan sedikit ragu tapi masih terlihat angkuh, dan juga beberapa ucapannya berbeda dengan Choi Hana yang menjawab dengan tegas dan rinci. Jadi saya sedikit bingung pernyataan mana yang benar.” Jelas Edwin lalu meneguk Americano nya.


Xennora mengangguk mengerti, karena dia juga merasakan hal yang sama. Lagipula saksi di sini hanya ada tiga orang itu, kalau saja lebih banyak, maka ia akan mencocokkannya dan melihat pernyataan mana yang paling banyak. Sepertinya sidang pertama hanya akan membuktikan jika kasus itu bukanlah kasus bunuh diri, melainkan kasus pembunuhan berencana.


Tak lama, mereka sampai di apartemen mendiang Kirania, perjalanan singkat itu hanya membutuhkan waktu lima menit karena jalanan sedang tidak macet. Mereka bertiga memasuki apartemen lalu pergi ke lantai sepuluh di mana kamar mendiang Kirania ada di sana. Sebelum memasuki ruangan 1027 itu, mereka memakai pelindung tangan dan sepatu agar tidak ada jejak yang tertinggal di sana. Setelah Edwin melepas garis polisi dan membuka gembok pintu itu, segala macam bau yang aneh mulai menyeruak. Bau amis, bau apek, bahkan bau obat-obatan bercampur menjadi satu. Edwin menekan saklar lampu membuat keadaan ruangan itu semakin terlihat jelas. Semuanya memang terlihat rapi, hanya saja bau-bau aneh itu membuat tidak nyaman berada lama-lama di ruangan ini.


“Oh? Korban memelihara kucing?” Tanya Xennora ketika melihat bak pasir di lantai dekat dinding yang di sebelahnya merupakan ruangan Hana.


“Iya, dan kucing itu juga ditemukan mati di dekat toilet.” Jawab Edwin.


“Mati kenapa?” Tanya Yohan.


“Entahlah, tidak ada otopsi untuk kucing.” Balas Edwin seraya terkekeh pelan. “Menurut kalian... Apa mungkin seorang kakak membunuh adik kandungnya sendiri?” Kini Edwin yang bertanya.


“Mungkin aja, zaman sekarang kan aneh.” Balas Xennora seraya terus memperhatikan dapur apartemen Kirania yang seakan menyatu dengan ruang tengah.


“Status gak akan berpengaruh untuk seorang penjahat.” Lanjut Yohan menyetujui pendapat Xennora.


“Um... Maaf, berapa pisau yang dibawa oleh polisi sebagai barang bukti?” Tanya Xennora memperhatikan tempat pisau yang harusnya diisi oleh lima buah pisau, tapi ini hanya ada tiga buah.


“Satu, memangnya kenapa?” Tanya Edwin mendekati Xennora, diikuti Yohan yang kebetulan sedang membawa kamera.


“Kenapa hanya ada tiga pisau di sini?”


Mereka sibuk dengan pikiran dan spekulasi masing-masing, sampai seseorang datang lalu menyodorkan sebuah pisau daging dengan pegangan yang persis sama dengan set pisau di dapur Kirania.


“Mencari ini?”


...***...


“Kak Juan udah sadar...?” Gumam seorang wanita yang tengah mengandung. Julian hanya menatap dokter dan keluarganya itu tidak peduli, lalu kembali menatap handphone nya yang menunjukkan ruang obrolan pribadi nya dengan seseorang.


...Leo Ellery...

__ADS_1


|Gue hari ini pulang, abis itu besoknya balik lagi ke sana


^^^Buat?|^^^


|Ada dehh wkwk


^^^Lo mau bikin surprise? Ultah lo sama Edwin masih lama, setahun lagi|^^^


|Bukan ultah, liat aja, kalau besok gak ada efeknya, gue berani traktir lo di Cambridge


^^^Iya deh, terserah lo|^^^


“Julian.” Panggil Kamila membuat Julian mendongak dan menyadari bahwa seluruh atensi keluarga terfokus ke arahnya. Julian menatap Ibu nya penuh tanya, ia bahkan melihat Adel, istri Juan yang tengah mengandung kembali duduk di kursinya setelah memasuki ruangan Juan.


“Juan nyariin kamu.” Jelas Kamila mengerti akan tatapan Julian. Pria itu pun mengangguk setelah mendapat jawaban dari Ibu nya. Dengan santai, Julian bangkit lalu berjalan menuju ruangan Juan dengan handphone yang bergetar beberapa kali di genggamannya. Sayang sekali Julian tidak menyadari itu dan tetap fokus berjalan.


New message!


Leo Ellery : Gue udah merasa bersalah selama ini karena bikin lo sama Xennora makin jauh, jadi gue sama Bunda Carissa sebenernya udah ngerencanain ini dari dulu, dengan landasan penyesalan Bunda Carissa juga. Lo pasti suka


New message!


Leo Ellery : This message was deleted


Julian memasuki ruangan itu, matanya berpapasan dengan mata milik Juan yang sedikit terhalangi oleh perban di kepalanya. “Ada masalah?” Tanya Julian tanpa ekspresi.


“Gak begitu penting, tapi gue sadar kalau gue gak bisa terus-terusan hidup kayak gini...” Ujar Juan lirih. “Gue minta maaf...”


“Atas dasar?” Julian menanggapi dengan tidak peduli.


“Jadi penguntit, plagiator, peniru, dan bikin lo gak nyaman selama ini.”


“Saya masih berterima kasih kamu gak ikut sekolah di SAN Multi Law School... Dan menyukai perempuan yang sama...”


“Gila aja, gue masih tau kapasitas kemampuan otak gue.”

__ADS_1


“Ngomong-ngomong... Seseorang pernah bilang, apapun yang kamu lakukan, pasti ada alasannya. Sekarang saya mau tahu, apa itu?”


“Alasan? Simpel aja sih... Lo terlalu meluncur ke atas dan gue terlalu tenggelam ke bawah.” Balas Juan membuat Julian mengernyitkan dahi nya tidak mengerti. “Gue cuma heran aja, kenapa bisa oma sama opa begitu sayang sama lo?” Tanya Juan membuat Julian langsung menangkap apa yang pria itu maksud.


“Gue sewa orang buat nyakitin diri gue sendiri, yep, dugaan lo bener karena lo emang terlalu pinter. Dan gue terlalu bodoh sampai ngabisin uang buat nyakitin diri sendiri, bikin diri gue sendiri sekarat karena hanya dengan itu, panggung jadi milik gue, semua atensi penonton cuma buat gue, harimau sirkus yang lagi kesakitan di tengah panggung.”


“Gue gak nyangka, ternyata itu malah bikin gue sekarat beneran...” Lanjut Juan seraya terkekeh miris. Kini, Julian benar-benar tidak tahu harus merespon seperti apa. Ia sendiri baru menyadari jika saudaranya yang satu ini kurang mendapatkan ‘panggung’.


“Bukan cuma kamu yang sekarat, oma bahkan pingsan dengar kamu ke rumah sakit.” Akhirnya Julian mencoba merespon apapun yang ada di kepalanya.


“Tapi aneh, gimana caranya dua orang bisa bikin gue gini...? Padahal mereka gak ada pengalaman bela diri...”


“Dua orang? Yang polisi selidiki itu ada lima orang...” Balas Julian aneh. Juan langsung menatap Julian dengan raut terkejut dan penuh amarah.


“Sialan, pantesan gue sekarat gini. Dasar F Toxic Movie.” Gumam Juan kesal.


Julian menghela napas sabar mendengar umpatan sepupunya yang satu ini. “Kamu gak harus jadi orang lain biar disayang Juan... Kamu masih beruntung karena orang tua dan istri kamu sayang sama kamu...”


“Gue gak seberuntung itu kalau cuma disayang sama mereka. Gak dapet saham itu beruntung ya?” Juan terkekeh miris.


“Sampai sekarang bahkan saya ngejar orang yang gak sayang sama saya. Apa itu beruntung?” Tanya Julian lelah.


“Maksud lo?” Juan yang awalnya terkejut kemudian mendengus-tertawa tidak percaya setelah mengetahui maksud ucapan Julian. “Ya lagian kenapa lo ngejar orang yang gak sayang sama lo?”


“Saya juga gak ngerti. Mungkin ini yang namanya hidup itu adil.”


“Pantesan lo bilang kalau gue beruntung karena Adel sayang sama gue... Yaudah, kita setimpal sekarang.”


Julian mengangguk lalu pikirannya melayang mengingat ucapan Juan tadi. Julian memang selalu merasa begitu, ia merasa hidupnya sedikit lebih mudah daripada hidup orang kebanyakan. Ia hidup di dalam keluarga yang berkecukupan, otak yang sedikit lebih cerdas, dan visual yang tidak bisa diremehkan. Hanya satu yang kurang, seorang pasangan hidup yang bahkan belum bisa Julian kejar sampai sekarang. Ia sudah tidak terlalu peduli pada pekerjaan dan karir, toh pada akhirnya Julian akan ditunjuk untuk melanjutkan perusahaan keluarga, ia sudah tidak mengkhawatirkan hal itu. Masalah hidupnya hanya satu, kisah cinta.


Xennora adalah yang pertama bagi Julian, sehingga Julian ingin menjadikannya yang terakhir juga. Sampai kapanpun. Masalah yang ia punya dari dulu itu adalah menyangkal sesuatu.


Julian memang bisa saja menyangkal bahwa ia sudah lelah berjuang untuk Xennora. Jika Julian tidak menyangkal maka itu artinya...


Ia masih menyukai gadis itu, ia masih sangat mencintai gadis itu, rasanya Julian hampir gila empat tahun belakangan ini mengingat kabar jika Xennora menghilang. Ia bahkan meminta kepada ayahnya agar beasiswa Universitas Jepang itu dibatalkan. Dan memilih untuk kuliah di Universitas Nusantara.

__ADS_1


“Ju...” Interupsi Juan membuat Julian segera tersadar dari lamunannya. “Gue punya informasi menarik buat lo... Lo pasti tau kan stasiun televisi JCBA? Asal lo tau, stasiun TV ini bukan tanpa alasan gak ikut memberitakan kasus lo, tapi pihak mereka sangat kontra terhadap FX Movie. Lo bisa naikin lagi berita skandal FX yang sebelumnya terkubur di draft acara pemberitaan mereka. Good luck with that.”


__ADS_2