The Poison : Stories Of The Number 27

The Poison : Stories Of The Number 27
Terror?


__ADS_3

...5 Mei 2015...


"Julian Matteo Kayden brengsek!! Masa gue dibilang mirip bulan?!! "


Nah kan.... Pagi untuk kelas 11 Pidana 2 tuh memang mustahil jika suasananya kondusif. Contohnya sekarang. Bel akan berbunyi sepuluh menit lagi namun para siswa kelas Pidana yang lain masih sibuk mengisi perut di kantin. Hanya beberapa yang sudah duduk di bangkunya sambil mengerjakan PR yang deadline nya hari ini. Jangan ditiru.


Xennora melihat kolong meja nya. Bunga itu lagi. Mawar biru. Sudah terbilang dua sampai tiga tahun terakhir Xennora selalu mendapati bunga mawar biru di kolong mejanya. Walaupun saat Xennora sakit dan tidak masuk selama beberapa hari, bunga itu masih ada di sana, jumlahnya sesuai dengan jumlah hari yang Xennora jalani saat sakit.


Biasanya mood nya akan kembali naik setelah melihat bunga itu. Xennora dan Antha pernah, bahkan sering mencaritahu siapa pengirim bunga-bunga itu. Tapi nihil, pengagum rahasia Xennora terlalu profesional sampai tak meninggalkan jejak apapun.


"Dih? Aturan tuh senang dianggap jadi bulan. Berarti lo menerangi malamnya yang gelap. Menemani kesendirian nya yang sendu..." Ucap Antha, chairmate Xennora dengan dramatis.


"Ih ya gak suka lah! Bulan kan permukaannya tandus, gersang, kering, ada kawahnya, gelap lagi. Berarti cowok songong itu ngatain gue jelek dong, Tha..." Rengek Xennora.


"......... Hah...?" Antha tak habis pikir dengan jalan pikiran Xennora. Kok bisa bisanya kepikiran sampai sana?


Mencoba tak peduli dengan gadis di sampingnya yang sedang rusuh sendiri, Antha pun kembali mengerjakan PR kimia.


"Lagian kenapa gue peduli banget ya sama ucapan cowok nyebelin itu? Biasanya juga bodo amat. Tau ah!" Monolog Xennora yang masih dapat Antha dengar.


"Lagian lo baru masuk ke kelas udah ribut aja pakai teriak teriak segala." Balas Antha yang kemudian mendapat tatapan sinis dari Xennora.


"Dasi lo kemana lagi?" Tanya Antha basa basi sambil tetap menulis. Bagaimana tidak? Xennora nyaris tak pernah memakai dasi karena berjuta juta alasan setiap harinya, tapi Antha tetap menanyakannya lagi sekarang.


"Huh? Ohhh... Dipakai buat Setelannya Julio." Jawab Xennora santai, berbeda dengan Antha yang tiba-tiba berhenti menulis.


Setelannya Julio?


Suasana hening selama beberapa menit. Xennora yang sedang duduk di samping Antha pun kini tengah menatap bunga mawar biru kiriman sang pengagum rahasia.


"Jolio...? Kelinci lo itu?" Tanya Antha setelah keheningan tadi. Xennora mengangguk memberikan jawaban, namun Antha malah mendengus-tertawa- tak percaya.

__ADS_1


"Serius lah Ra, kelinci lo itu dikasih setelan?"


Xennora mengangguk.


"Setelan jas?"


Xennora masih mengangguk membuat Antha mengerjap tak percaya.


"Hahaha... Yaampun bisa gila gue lama-lama..." Monolog Antha sambil mengipasi dirinya dengan  kedua tangan. Xennora memang memiliki seekor kelinci sebagai peliharaannya. Rambutnya putih, sangat putih bahkan Antha selalu berusaha menjauhkan kelinci kesayangan Xennora itu dari tempat kotor. Karena sayang jika rambutnya terkena noda walau sedikit.


Begitupun Xennora. Jika gadis itu sedang berjalan jalan keliling komplek untuk sekedar mencari makanan, ia pasti membawa Julio. Entah dibawa menggunakan tas jinjing, tas gendong, maupun langsung ia gendong. Sesayang itu Xennora dengan Julio sampai sampai sekarang pun diberi setelan jas.


"Xennora! Yuhuuu!! Adikku yang paling cantik, kakakmu yang paling tampan is here!!" Teriak seorang laki-laki yang baru saja memasuki kelasnya, lalu duduk didepan Xennora. Satu laki-laki lagi datang lalu duduk di meja barisan sebelah kanan Antha.


"Hey, sepuluh menit lagi bel masuk tapi kalian malah nyasar kesini ck ck ck..." Ucap Antha sambil menggelengkan kepalanya.


"Gue sih diajak sama dia." Ucap siswa yang duduk di meja tadi. Edwin, kakak pertama Xennora.


Tiba-tiba, sebuah jeritan terdengar ditengah suasana yang sedang ramai. Dilanjutkan dengan tangisan dan gumaman penasaran dari para siswa. Bahkan Xennora dan Edwin sampai berdiri tegak karena terkejut dan penasaran.


Beberapa siswa berkumpul di kelasnya. Ah... Bukan, tapi di kelas sebelah, tepatnya kelas 11 Pidana 3. Mereka berempat saling berpandangan. Penasaran, namun juga malas keluar kelas karena sudah dipastikan harus berdesak-desakan. Jadi mereka memilih mencari informasi dari siswa lain.


"Ekhm, boleh ikut sini dulu gak? Males soalnya mau lewat tapi penuh banget. "Tanya siswi yang sepertinya kakak kelas Xennora. Sontak, keempat orang itu mengalihkan atensi nya ke depan kelas.


"Emm ya..... Boleh kok." Ucap Xennora mengangguk sambil memperhatikan nametag siswi itu. Tertulis Deandra Callena P.


Yang dia tahu, Deandra itu bahasa Yunani dari bunga. Sedangkan Callena artinya pandai bicara. Jadi kesimpulannya, Deandra Callena itu Bunga yang pandai berbicara...?


"Oh iya, Kenalin. Gue Deandra Callena Pyralis. Kelas 12, Hukum Publik." Ucapnya lalu duduk di barisan sebelah kiri Xennora.


Waduuh, kelas buangan.

__ADS_1


Pyralis ya... Pyralis dalam bahasa Yunani berarti api. Bunga yang pandai berbicara api? Maksudnya perkataannya savage dan menusuk hati?


Xennora memang senang sekali menerjemahkan nama. Selain mengasah kemampuan bahasanya, hal tersebut juga membantu Xennora menentukan sifat asli pemilik nama tersebut. Ya walaupun tak selalu benar, tapi siapa tahu 'kan?


"Yeuuu malah bengong." Kata Leo. Detik berikutnya mereka tertawa ringan membuat Xennora tersadar.


"Ha? Kenapa?" Tanya Xennora linglung.


"Gak ada niat buat kenalan gitu?" Tanya Edwin jengah.


"Oh? Ah... Gue Xennora kak, adik Edwin sama Leo." Ucap Xennora yang kemudian dibalas senyuman dan anggukan dari Deandra.


"Pakai abang dong cantik..." Ucap Leo sambil tersenyum paksa. Xennora diam, tak berniat untuk merespon kakaknya itu.


"Bay the way, ada apa di kelas 11 Pidana 3 kak?" Tanya Antha.


"Oh? Itu... Katanya ada yang di terror." Jawab Deandra santai.


"Di terror?"


"Di terror gimana kak?"


"Kok serem sih?"


Sedangkan Xennora diam, tak merespon. Selama lima tahun dia sekolah di SAN Multi Law (School of Attitude, Norm) setiap tahunnya pasti ada berita seperti ini. Tahun-tahun sebelumnya tak se-ekstrim sekarang dan memang tidak dinamakan terror melainkan pembullyan. Itu sebabnya, Edwin, Leo, dan Antha tidak sadar. Namun jika kasusnya sama, mungkin kejadian kali ini juga bisa saja disebut pembullyan. Tinggal melihat apa yang dialami si korban saja.


"Gak tahu banyak sih gue juga, tapi tadi sempat denger ada anak perempuan di kelas itu yang suka dapat hal-hal aneh tiap harinya. Terus kemarin juga katanya ada yang ngeretas HP nya, jadi kayak yang di bajak gitu. Kalau kejadian barusan sih gue belum tau." Jelas Deandra.


Ya, jika hal seperti itu yang korban dapat, maka ini memang sebuah terror.


......❄💙❄The Poison❄💙❄......

__ADS_1


__ADS_2